Jum'at, 17 Agustus 2018 21:04:49 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 118
Total pengunjung : 414104
Hits hari ini : 2301
Total hits : 3795135
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Perbedaan Ironis antara Kristus dengan Kristiani Masa Kini






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 26 Desember 2007 00:00:00
Perbedaan Ironis antara Kristus dengan Kristiani Masa Kini
Esei Natal



Perbedaan Ironis antara Kristus dengan Kristiani Masa

Kini

(Tinjauan Kritis Kehidupan Kristen)





Terlepas dari segala perdebatan tak bermakna seputar lokasi atau

waktu kelahiran Kristus Yesus yang sebenarnya (Titus 3:9), ada pesan dari Natal itu sendiri yang seharusnya menjadi suatu

koreksi bagi kehidupan Kristiani, para pengikut Kristus. Ada fenomena menarik, unik, sekaligus menyedihkan apabila kita melihat

diri kita sendiri, para pengikut Kristus. Ada perbedaan-perbedaan ironis antara kita, dengan Dia yang kita ”ikuti”, terutama

apabila kita melihatnya dengan menggunakan paradigma ”Natal” yang sejati. Natal, yaitu merupakan momen kedatangan Kristus Yesus

kedunia dengan mengemban misi-misi penyelamatan.



Natal merupakan realisasi dari Firman Allah bahwa Ia mengasihi

manusia berdosa (Yoh 3:16). Untuk itulah ia rela turun ”derajat” menjadi ”Manusia” hina (penurunan ini jika dianalogikan,

manusia menjadi binatang). Allah tidak hanya bisa beretorika dan gembar-gembor dengan firman-firmannya dari sorga bahwa ia

mengasihi kita - manusia berdosa- namun Ia merealisasikannya. Rasul Lukas mengutip “..Anak Manusia datang untuk mencari dan

menyelamatkan yang hilang.” (Luk 19:10). Lantas bagaimana dengan Kristiani? Kristiani hanya mampu berdoa, berdoa dan berdoa.

Doanya bervariasi mulai lompat-lompat, nangis-nangis, sampai berbahasa roh yang aneh-aneh. Pendeta-pendeta hanya bisa

berkhotbah dari mimbar, tanpa pernah tahu ia sendiri mampu melakukannya atau tidak. Aktivis Kristen hanya bisa

mengkambing-hitamkan orang lain atas kemalangan mereka. Menuduh, meneriaki, mengkritik orang lain. Apa kontribusi (baca:kerja)

Kristiani terkait dengan ungkapan - ungkapan keprihatinannya? Inilah perbedaan pertama, antara Kristus- yang konsisten dengan

perkataannya, dengan Kristiani- yang NATO (No Actions Talks Only).



Natal merupakan realisasi dari Firman Allah bahwa

Ia mengasihi manusia berdosa. Demikianlah dalam Lukas 5:32, Rasul Lukas mengutip lagi maksud kedatangan Kristus Yesus, yaitu

untuk orang berdosa, bukannya orang benar (yang sudah menjadi ”Kristiani”). Kristus datang untuk menyampaikan kabar sukacita

tentang keselamatan pada mereka yang belum mendengarnya, walaupun pada akhirnya ia sendiri ditolak. Kabar itu disampaikannya

kepada penjahat yang disalib disebelahnya, kepada orang-orang yang termarjinalisasi secara sosial, orang-orang yang dinajiskan,

dan bukan kepada mereka yang sudah merasa ”tahu” dan ”benar”, sudah merasa menguasai Firman Allah seperti ahli-ahli taurat dan

Farisi (dan Kristiani?)– padahal seharusnya mereka memberi diri dikuasai Firman Allah. Lantas bagaimana dengan Kristiani?

Sudahkah kabar itu disampaikan kepada mereka yang ”pantas” mendapatkannya-orang berdosa? Kecenderungan yang terjadi, Kristiani

memanipulasi kabar gembira itu sebagai opium (meminjam istilah Karl Marx). Opium untuk menenangkan Kristiani dari segala

himpitan, tekanan, dari kehidupan dunia yang keras. Salah satunya adalah ”Teologi Kemakmuran” yang telah membius banyak

Kristiani untuk tidak sadar dengan kondisi-kondisi sekelilingnya yang memprihatinkan. Dengan demikian, Kristiani menutup diri

(mulut, mata, telinga, hati), dan sebaliknya semakin ”mempererat” hubungannya intimnya dengan Kristus. Prof. Dr. Hotman

Siahaan, dekan FISIP Unair, berpendapat serupa, ”Gereja (Kristiani, pen) terjebak pada urusan-urusan ritualnya sehingga ia

hanya menjadi institusi ritual semata”. Uniknya Opium itu laku keras! Inilah perbedaan kedua, antara Kristus- yang

berkeprihatinan dan berkepedulian, dengan Kristiani-yang memprihatinkan dan tak berkepedulian bahkan terhadap

sesamanya.



Natal merupakan realisasi dari Firman Allah bahwa Ia mengasihi manusia berdosa. Ia dengan rela melayani

manusia yang hina (Matius 20:28), padahal ialah yang seharusnya dilayani. Ia adalah Raja Semesta, empunya semua yang ada di

jagat raya. Sama dengan Kristiani, yaitu melayani. Namun, apabila Kristus melayani ”yang lain”, maka Kristiani melayani dirinya

sendiri. Kristiani cenderung melayani kepuasannya sendiri. Pelayanan-pelayanan yang mereka lakukan bermotifkan kepentingan

diri, aktualisasi diri, dan kesemuanya yang mencuri kemuliaan ”Ia yang seharusnya dilayani”. Bisa dicoba, maukah Sidney Mohede

(penyanyi rohani yang terkenal) manggung di pedesaan terpencil? Atau Gilbert Lumoindong (pendeta terkenal) berkhotbah di dusun

reyot? Dengan catatan keduanya tanpa diliput SCTV atau Metro TV atau Kompas. Beberapa kesaksian yang sampai ke telinga penulis

menjawab: ”Tidak mau”. Semoga saja kesaksian itu salah. Melayani diri sendiri juga bisa berarti hanya berusaha memenuhi

kebutuhan rohaninya untuk ”dekat” dengan Kristus, yang konon merupakan syarat supaya setiap doanya (baca: keinginan) dikabulkan

(Yoh 15:17). Inilah perbedaan ketiga, antara Kristus-yang rindu melayani, dengan Kristiani- yang selalu melayani

kerinduannya.



Natal merupakan realisasi dari Firman Allah bahwa Ia mengasihi manusia berdosa. Ia mau memberikan

hidupnya bagi manusia berdosa sebagai tebusan dosa-dosa mereka. ”Memberi hidup” disini bermakna dalam dan sangat menggetirkan

hati. Salib merupakan simbol pemberian hidup itu. Kristus datang untuk disalib (mati dengan cara yang paling hina), dan Ia tahu

itu! Tidak langsung Ia mati di salib, Ia harus menjalani pengadilan yang sama sekali tdak adil, hukuman cambuk diluar aturan

yang berlaku (Cambuk duri dan cambukan lebih dari 40x adalah diluar aturan Romawi saat itu), dan memikul salibnya melewati via

dolorosa. Lantas bagaimana dengan Kristiani? Jangan bercanda, bahkan yang dilakukan Kristiani tidak ada 1% yang dilakukan

Kristus. Jangankan nyawa, memberikan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengemban misi penebusan Kristus saja komitmen Kristiani,

melihat kecenderungan yang ada, patut dipertanyakan. Bahkan ”salib” (baca: beban pelayanan) yang sudah diberikan Kristus bagi

Kristiani saja agaknya tidak dipikul sepenuh hati. Kristiani hanya mau melayani kalau ada insentifnya, kalau ada fasilitasnya,

dan yang terpenting diliput media massa. Inilah perbedaan keempat, antara Kristus- yang memberi tanpa pamrih, dengan Kristiani

yang penuh perhitungan benefit. Sungguh Ironis.



Seperti yang nge-trend disampaikan artis-artis Kristen, bahwa Natal

merupakan momen refleksi. Baiklah Kristiani merefleksikan ulang makna kedatangan Kristus, dan mewujud-nyatakannya dalam

kehidupan mereka. Prof Hotman Siahaan berpendapat bahwa seharusnya Kristiani mengimplementasikan ”Penebusan Kristus” sesuai

kiprah masing-masing. Dengan demikian, Kristiani akan turun tangan, keluar dari gerejanya, dan berkontribusi untuk mengatasi

keprihatinan sosial disekelilingnya, sesuai bidangnya masing-masing: dokter, psikiatri, apoteker, politikus, linguist, ekonom,

pengacara, dst.



If Christmas means only glitters, Santa Clause, bells or feasts for you, just oust Joseph and

Marie, shut your door, and concentrate to your Christmas tree - forgetting the baby Jesus.



--- Happy Christmas and

Merry New Year ---



Hizkia Y.S. Polimpung

Pustaka Lewi

dilihat : 252 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution