Kamis, 18 Oktober 2018 14:21:55 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 197
Total pengunjung : 430508
Hits hari ini : 1093
Total hits : 3971488
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Don Quixote : Kelatahan, Kepicikan, dan ... Kedunguan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 24 April 2007 00:00:00
Don Quixote : Kelatahan, Kepicikan, dan ... Kedunguan
Refleksi Hari Buku Internasional



Don

Quixote : Kelatahan, Kepicikan, dan ... Kedunguan





Selamat hari buku internasional! Tanggal 23 April merupakan

hari dimana “buku” dirayakan oleh dunia – kita juga kah? Semoga. Pemilihan tanggal 23 sebagai hari dimana “jendela dunia”

dirayakan tentunya bukan tanpa alasan. Pertimbangannya adalah karena tanggal tersebut merupakan tanggal saat Miguel de

Cervantes Saavedra dikuburkan (23 April 1616). Siapa dia? Kenapa dia? Dan apa yang menjadikannya menarik dibahas akan menjadi

topik oret-oretan ini. Sebenarnya ada pertimbangan lain (pemilihan tanggal 23 sebagai hari buku), yaitu waktu dimana William

Shakespeare, sang legendaris sastra, dibaptiskan (23 April 1564). Namun ada hal menarik yang bisa kita pelajari dari karya

Saavedra, yang sekiranya (agak) cocok dengan fenomena kemahasiswaan dewasa ini. Dengan demikian kisah Shakespeare kita

kesampingkan untuk sementara.



Saavedra adalah seorang novelis Spanyol, ialah yang menulis salah satu masterpiece

novel di dunia sastra, Bangsawan Berbakat Don Quixote dari El Mancha atau dalam bahasa aslinya El ingenioso hidalgo Don Quixote

de la Mancha (Bagian I, 1605; Bagian II, 1615). Yang membuat tulisan ini disanjung para sastrawan dunia, bahkan oleh karena

tulisan ini Saavedra disebut-sebut sebagai ”bapak sastra Amerika Latin”, adalah keberanian Saavedra untuk mengkritik, dengan

parodi satir, arus pemikiran yang saat itu menjadi konteks dunia (Eropa, khususnya Spanyol) – Modernitas dan Rasionalisme

Pencerahan (Rennaisance).



Novel ini bercerita tentang pengembaraan menggelikan seorang kakek miskin dari Spanyol,

Alonzo Quixano, dalam mewujudkan angan-angannya menjadi seorang ksatria abad pertengahan (Medieval Knight). Ia menjadi

”terobsesi” setelah membaca buku-buku yang mengisahkan tentang petualangan dan pertempuran ksatria-ksatria gagah berani dalam

menyelamatkan gadis cantik dari cengkeraman bandit-bandit. Berikutnya ia bertekad untuk menjadi ”ksatria” seperti imaji atau

bayangan yang telah menguasai alam bawah sadarnya akibat buku-buku tadi. Ia mendandani dirinya dengan baju zirah tua, karatan,

dan lusuh; Ia menobatkan gelar Don (gelar kehormatan ala Spanyol) kepada dirinya sendiri – Don Quixote; Ia menyesuaikan suara,

mimik, dan gerakan tubuhnya agar menyerupai bangsawan – suara berat, senyum kaku, dagu lurus ke depan, dst; Ia berangkat

menyusuri lembaran kisah petualangannya yang di cari-cari sendiri. Don Quixote menganggap dirinya seorang ksatria yang musti

memerangi kejahatan dan menegakan keadilan. Ia terobsesi untuk mengayomi anak yatim-piatu, melindungi dara dan janda, menolong

yang lemah, menjadi garda depan dalam mewujudkan kebenaran di dunia, dan ... ... mencari gadis impian tentunya.





Ironis, imajinasi berlebihannya membuat segala sesuatu yang dilihatnya sebagai hal-hal yang membuatnya harus

menghunuskan pedang dari sarungnya. Sekawanan domba ia lihat sebagai iring-iringan pasukan musuh, dan rumah penginapan sebagai

sebuah kastil. Pernah ia melihat kincir angin sebagai sebuah raksasa yang dianggap mengancamnya, bisa ditebak, ia segera

meluncur bersama kuda tuanya dengan tombak diacungkan kedepan kearah ”raksasa” kincir angin tersebut ...



Sembari

kita tertawa kecut membayangkan kisah Don Quixote, ada hal ”lucu” lain yang patut kita tertawakan. Kisah Don Quixote merupakan

alegori (kiasan) pengembaraan abadi manusia dalam menggapai kebaikan dan kebenaran yang dianggapnya sejati. Sayang kesejatian

itu ternyata tidak benar-benar sejati1, saat itu kebenaran merupakan konstruksi rasionalisme pencerahan saat itu. Ke-ksatria-an

(Chivalry), yang merupakan lambang rasionalitas modern saat itu, telah membius Don Quixote sekaligus menyihirnya menjadi ”Don

Quixote modern” – melakukan hal-hal heroik yang dielu-elukan saat itu. Hyper-idealisme-nya membuat kisahnya tragis, memilukan;

bayangkan saat ia tersentak dan menyadari kegilaan yang telah diobsesikannya, direncanakannya, diperjuangkannya, dan

dikelanakannya.



Don Quixote membayangkan dirinya sebagai seorang ksatria berbaju zirah yang penuh heroisme. Imaji

ini didapatnya dari membaca! Membaca bukan berarti membawa kita kepada suatu kegilaan, namun Don Quixote memperingatkan kita

akan ”kelatahan”. SEGERA setelah ia membaca kisah-kisah tadi, imajinasi dan khayalan menculiknya dari kesadarannya. SEGERA

setelah ia menutup buku ceritanya, ia membayangkan dirinya menunggangi kuda putih mengacungkan tombaknya ke arah seratus

pasukan musuh didepannya. SEGERA setelah ia meletakan buku ceritanya, ia memodifikasi kelakuan, identitas, dan personalitasnya.

Ya...kelatahannya berbuah kepicikan; kepicikan bahwa interpretasi (dunia, kebenaran, modernitas) hanyalah milik buku-buku yang

baru saja kita mamah. Kepicikan telah mengenakan pada Don Quixote kaca mata kuda dengan lensa ”keksatrian” (chivalry). Dunia

pun dilihatnya dalam wawasan keksatriaan: bandit, kawanan perampok, konvoy pasukan, kastil, menara, putri yang disekap,

pertempuran, kuda putih, panji-panji, baju zirah, ketopong perang, dst. Dan akhirnya, dunia pun melihat Don Quixote sebagai

lambang kedunguan.



Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga latah seperti Don Quixote? – Responsif dan reaktif

terhadap informasi (atau apapun) yang baru saja kita dapatkan. Apakah kita juga picik? – menganggap kaca mata kita lah yang

paling ”tajam” dalam melihat dunia. Apakah dunia pun ikut-ikutan mencap kita dungu? Jawaban semuanya berpulang kepada para

pembaca budiman sekalian. Yang pasti perlakuan Don Quixote terhadap ”bacaannya” merupakan salah satu sumber (utama) petaka

tragis tadi. Selamat membaca dengan cerdas, selamat merayakan hari buku internasional.



Inspirasi dari :



Dahlan, Muhidin M. ”Ibu, Bumi, dan Buku”. Jawa Pos 22 April 2007



Sumber :

Cervantes Saavedra, Miguel de.

”Don Quixote”. Translated by Ormsby, John. Jones, Joseph R. and Douglas, Kenneth, eds. New York: W. W. Norton & Company,

1981.

"Cervantes, Miguel de." Encyclopędia Britannica from Encyclopędia Britannica 2007 Ultimate Reference Suite.

(2007).





Hizkia Y. S. Polimpung

Pustaka Lewi

dilihat : 701 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution