Kamis, 13 Desember 2018 02:02:27 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 316
Total pengunjung : 449731
Hits hari ini : 1805
Total hits : 4146002
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Belajar dari Fundamentalisme






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 08 Februari 2008 00:00:00
Belajar dari Fundamentalisme
Belajar

dari Fundamentalisme

Oleh: Hizkia Y.S. Polimpung



Kompas edisi 23/10 lalu mengulas Pertemuan Nasional (Pernas)

VI Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) lewat tulisan ST Sularto, Jangan Terjebak “Rumusan Kaya, Kurang Aksi”!. Lewat

ulasan itu, FMKI menghadapkan kita pada dua pusaran fundamentalisme hebat.



Pusaran pertama adalah fundamentalisme

agama atau ‘Sektarianisme’, yang membuat agama menjadi –bukannya “faktor pemersatu dalam dimensi kebersamaan manusia”

melainkan– faktor pemisah. Pusaran kedua adalah fundamentalisme ekonomi kapitalis global atau ‘Neoliberalisme’, yang

“menurunkan derajat manusia karena sangat mengarusutamakan dimensi ekonomi manusia dan mengabaikan dimensi-dimensi lain

manusia”.

Akibat dari dua pusaran itu, sebagaimana diulas ST Sularto, adalah dehumanisasi tata kehidupan poleksosbud dan

meningkatnya proses marjinalisasi dan pemiskinan sebagian besar masyarakat. Namun ada satu pertanyaan penting yang, melihat

dari ulasan tadi, nampaknya belum disoroti oleh Pernas VI FMKI, yaitu: “bagaimana cara ‘fundamentalisme’ menjaring

ribuan–bahkan jutaan–pengikutnya sealisme yang tidak berbahaya (maliciodemikian rupa sehingga agama tidak mampu menjalankan

perannya yang semestinya?”.

Sebagai seorang aktivis keagamaan, penulis akan menjelaskan pertanyaan tersebut dengan

menyoroti peran agama yang malfunction sehingga harus bertekuk-lutut kepada kedua fundamentalisme tadi.



Iming-Iming

Fundamentalisme

Setiap bentuk fundamentalisme pasti mempengaruhi bawah sadar manusia. Bagaimana caranya? Dengan

meng-iming-imingi calon pengikutnya: “kalo kamu ikut aku, maka kamu akan dapat ..., atau bisa menjadi ..., dst.”. Tanpa

iming-iming mustahil “dagangan” fundamentalisme akan laku.

Sektarianisme meng-iming-imingi suatu ‘hadiah’ di kehidupan

nanti, sementara Neoliberalisme meng-iming-imingi suatu ‘hadiah’ di kehidupan sekarang. Hadiah yang pertama efeknya baru terasa

di masa yang akan datang sementara hadiah kedua efeknya bisa terasa dalam waktu dekat. Hal berikutnya yang harus dipertanyakan

untuk mengetahui cara keduanya menjaring pengikut adalah peran dari ‘hadiah-hadiah’ tersebut bagi si calon-pengikut. So what

gitu lho... sama hadiah-hadiah itu!

Kata kuncinya hanya satu yaitu–meminjam istilah Jacques Lacan– ‘kenyamanan

narsistik’ atau suatu kondisi dimana manusia mendapat rasa puas, aman, bangga, dan nyaman. Kenyamanan narsistik didapat dari

dua hal: ‘identitas’ dan ‘kepemilikan’.

Manusia menghasrati dirinya untuk: dikenal, sehingga ia diterima lingkungannya;

dikagumi, sehingga ia diidolakan; bahkan dicintai, sehingga ia diingini orang lain. ‘Identitas’ yang nyaman adalah yang mampu

membuat penyandangnya dikenal, dikagumi, bahkan dicintai. Dengan demikian keinginan-keinginan narsistik tadi terpenuhi. Manusia

juga berhasrat untuk memiliki sesuatu (bahkan segalanya) demi memuaskan hasratnya, ambisinya, bahkan libidonya. Dengan demikian

kepemilikan terhadap sesuatu (bahkan segala sesuatu) juga akan memberikan suatu kenyaman narsistik tersendiri.

Kedua

bentuk ‘kenyamanan narsistik’ ini saling berhubungan dan tak dapat dipisahkan, walau pada kenyataannya, identitas merupakan

imingi-iming yang lebih menentukan. Rene Girard menambahkan bahwa manusia sebenarnya tidak mengetahui apa yang harus

dihasratinya sehingga ia mencampur-adukkan hasratnya dengan hasrat orang lain. Dengan demikian hasrat akan ‘kenyamanan

narsistik’ ini memiliki karakter sosial–berkaitan dengan lingkungan sekitar.

Terjawab sudah pertanyaan awal kita. Kedua

fundamentalisme mampu meng-iming-imingi manusia dengan ‘kenyamanan narsistik’ versi masing-masing sehingga seseorang mau

menjadi pengikut setia.

Apa yang ditawarkan keduanya?

Sektarianisme menawarkan suatu ‘identitas’, yang dengannya

seseorang akan: diterima komunitasnya, dianggap lebih mulia dari identitas (agama) yang lainnya, dan dicintai oleh Tuhan.

Syaratnya: menjadi pengikut, menjalankan kredo-kredonya, dan setia sampai akhir hayat. Deal or no deal?

Neoliberalisme

lebih lihai; ia mampu benar-benar mengeksploitasi sifat sosial dari hasrat. Ia menawarkan suatu ‘kepemilikan’ materialistik,

yang dengannya seseorang akan: puas dengan menghabiskannya, aman dengan menyewanya, bangga dengan mengendarainya, dan nyaman

dengan mengenakannya.

Berkaitan dengan hubungannya dengan ‘identitas’, sebagaimana telah disinggung tentang keterhubungan

kedua hasrat, biasanya dengan status ‘kepemilikan’ terhadap sesuatu seseorang akan dianugerahi “identitas” tertentu oleh

masyarakat, yaitu dianggap: berkelas jika makan di restoran X, cantik jika pakai bedak merek X, berselera tinggi jika

mengendarai mobil bermerek X, gaul jika berpakaian merek X, dst.

Di sinilah lihainya Neoliberalisme menjadikan komoditas

segala hal yang bisa memberikan suatu ‘identitas’ tertentu–yang menjanjikan ‘kenyamanan narsistik’ bagi penyandangnya tentunya.

Alhasil pengikutnya pun akan setia mengikut (baca: membeli). Jadi, deal or no deal?



Agama yang Malfunction



Pada kasus Sektarianisme, agama jelas telah salah berfungsi (malfunction). Namun pada kasus Neoliberalisme, peran agama cukup

memprihatinkan. Agama malah menawarkan tempat pelarian bagi mereka yang tidak “mampu” memenuhi menjadi pengikut

Neoliberalisme–membeli dagangannya. Hal inilah yang memberi peluang tumbuhnya Sektarianisme. Tidak bisa dipuaskan

Neoliberalisme, orang akan mencari kepuasan pada Sektarianisme.

Sudah saatnya agama membuat umatnya mampu berpikir

kritis terhadap kehidupan dan tidak sembarangan menuruti nafsu kedagingan yang semu seperti yang ditawarkan

Neoliberalisme.

Saatnya agama menawarkan fundamentalisme dalam cinta dan kasih terhadap sesama dan Tuhan. Suatu

fundamentalisme yang tidak berbahaya (malicious) bagi kemajemukan.



Link:

ST SULARTO , Jangan Terjebak "Rumusan

Kaya, Kurang Aksi !"

http://kompas.com/kompas-cetak/0710/23/Politikhukum/3936360.htm



Hizkia y.s.

polimpung

Pustaka Lewi

dilihat : 259 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution