Sabtu, 15 Desember 2018 12:40:28 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 137
Total pengunjung : 450740
Hits hari ini : 693
Total hits : 4152131
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -‘Allah’ Nama Siapa?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 28 Januari 2008 00:00:00
Bulan Desember 2007 dunia dikejutkan keputusan Pemerintah Malaysia yang tidak memperpanjang

izin terbit ‘The Herald,’ berita mingguan gereja Katolik, alasannya ‘The Herald’ menggunakan nama ‘Allah’ untuk menyebut Tuhan

dan nama itu dianggap nama tuhannya agama Islam. Pada akhir Desember izin itu kemudian diberikan, namun penggunaan nama Allah

tetap dilarang. Fanatisme kepemilikan nama ‘Allah’ juga pernah dilontarkan sekelompok kecil masyarakat di Indonesia namun

karena tokoh-tokoh muslim menyadari bahwa klaim itu tidak berdasar maka kemudian dilupakan.



Sungguh menarik untuk

dicermati, karena akhir-akhir ini, lagu ‘Rasa Sayange, Angklung, bahkan Reog Ponorogo’ dianggap milik Malaysia, dan kini nama

‘Allah’ bahasa Arab di klaim pula sebagai milik orang Malaysia, padahal orang Arab sendiri yang memiliki bahasa itu tidak

mempersoalkannya dan nama ‘Allah’ bersama digunakan baik oleh orang berbahasa Arab yang beragama Yahudi, Kristen, maupun Islam.

Injil pertama dalam bahasa Melayu (Corneliz Ruyl, 1629) sudah menulis nama ‘Allah’ didalamnya empat abad yang

lalu.



Nama ‘Allah’ adalah nama untuk menyebut Tuhan semitik dalam bahasa Arab, dan nama ini sudah disebut jauh

sebelum agama Islam hadir di abad-VII, sedini kehadiran bahasa Arab. Agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam) berasal dari rumpun

keturunan Sem. Arphaksad adalah putra Sem yang menurunkan bangsa Ibrani (dikaitkan nama Eber cucu Arphaksad), dan Aram putra

Sem menurunkan bangsa Aram dan Arab. Dalam hal bahasa, Aram lebih dahulu mengembangkan bahasanya dan nenek moyang bangsa Ibrani

mengembangkan bahasa Ibrani dengan berakulturisasi dengan bahasa Kanani dan Amorit dan menggunakan abjad Kanani kuno (Funisia)

yang kemudian berkembang dalam bentuk bulat karena pengaruh bahasa Aram.



Abraham berasal dari Mesopotamia dan

berbahasa Aram, setelah hijrah ke Palestina, Ishak anaknya mengawini iparnya Ribka, saudara Laban yang tinggal di Mesopotamia,

Laban dicatat Alkitab sebagai orang Aram berbahasa Aram (Kejadian 31:20,47). Yakub, putra Ishak dan Ribka, mengawini Lea dan

Rachel anak-anak Laban yang berbahasa Aram juga. Jadi orang Israel (keturunan Yakub) mengikuti bahasa Aram bahasa nenek dan ibu

mereka. Alkitab menyebut orang Israel adalah keturunan Aram (Kejadian 25:5).



Ensiklopedia Islam (Cyrill Glasse,

hlm.49-50) menyebut bangsa Arab adalah masyarakat Semit keturunan Quathan (Joktan, anak Eber) dan juga Adnan (hlm.12-13) yang

menurunkan keturunan Ismael (putra Abraham), jadi bangsa Arab merupakan keturunan Semitik, Ibranik dan Abrahamik juga. Bahasa

Arab berasal bahasa kuno Aram dan aksaranya merupakan perkembangan dari aksara Nabatea Aram.



Nama Tuhan ‘El’ (Il)

sudah lama dikenal di Mesopotamia, dan dalam dialek Aram nama itu disebut ‘Elah/Elaha (atau Alah/Alaha),’ di Israel disebut

‘El/Elohim/Eloah,’ dan dalam bahasa Arab disebut ‘Ilah/Allah.’ Kata sandang difinitif dalam bahasa Aram adalah ‘Ha’ yang

diletakkan di belakang kata, dalam bahasa Ibrani diletakkan di depan (Ha Elohim), sedangkan dalam bahasa Arab kata sandang

ditulis ‘Al’ diletakkan di depan (Al-Ilah). Jadi baik El/Elohim/Eloah, Elah/Elaha, dan Ilah/Allah menunjuk kepada Tuhan

Monotheisme Abraham yang sama, baik sebagai nama pribadi maupun sebutan untuk ketuhanan.



Di Israel, nama

‘El/Elohim’ adalah nama Tuhan sebelum nama ‘Yahweh’ diperkenalkan kepada Musa (Keluaran 6:1-2), itulah sebabnya sebelum

Keluaran tidak ada nama orang yang diberi identitas nama ‘Yahweh’ (seperti Eli’yah’) tetapi nama ‘El’ (a.l. Metusael, Ismael,

Israel), dan sekalipun nama Yahweh sudah diperkenalkan, nama El tetap digunakan sebagai nama diri Tuhan. ‘El, elohe Yisrael’

(Kejadian 33:20;46:3) disetarakan dengan ‘Yahweh, elohe Yisrael’ (Keluaran 32:27; Yoshua 8:30). Dalam Perjanjian Lama, nama

Elah/Elaha sudah ada dan ditulis pada abad-VI sM dalam kitab Esra yang ditulis dalam bahasa Aram dengan aksara Ibrani ‘Elah

Yisrael’ (Allah Israel, 5:1; 6:14). Dalam Alkitab Aram Siria (Peshita) digunakan nama Elah/Elaha juga.



Setelah

berkembangnya bahasa Arab, nama itu menjadi Ilah/Allah, dan orang-orang Yahudi yang berbahasa Arab dan orang Arab yang

mengikuti kepercayaan Yahudi juga menggunakan nama Allah itu. Pada jemaat Kristen pertama sudah ada orang Arab yang percaya dan

menyebut nama Tuhan dalam bahasa mereka sendiri (Kisah 2:8-11, yang tentunya ‘Allah’), dan rasul Paulus menyebut “Hagar adalah

gunung Sinai di tanah Arab’ yang melahirkan anak darah daging Abraham (Galatia 4:21-31).



Pada masa jahiliah

pra-Islam, sebutan ‘Allah’ pernah merosot dan juga ditujukan kepada Dewa Bulan/Air (di kalangan Ibrani, nama ‘Yahweh’ dan

‘Elohim’ juga pernah merosot digunakan untuk menyebut berhala Anak Lembu Emas; Keluaran 32:1-5;1Raja 12:28), namun Arab Hanif

termasuk suku Ibrahimiyah dan Ismaeliyah tetap mempertahankan nama Allah sebagai nama diri Tuhan Abraham. Bahkan sebelum

kelahiran agama Islam, nama Allah digunakan dalam pengertian nama diri Tuhan. Ensiklopedia Islam

menyebutkan:



“Gagasan tentang Tuhan Yang Mahaesa yang disebut dengan nama Allah, sudah dikenal oleh bangsa Arab

kuno, Ajaran Kristen dan Yudaisme dipraktekkan di seluruh jazirah.” (hlm.50).



“Nama “Allah” telah dikenal dan

dipakai sebelum Alquran diwahyukan; misalnya nama Abd. Al-Allah (hamba Allah), nama ayah Nabi Muhammad. Kata ini tidak hanya

khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang oleh umat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur,

digunakan untuk memanggil Tuhan.” (hlm.23)



Dalam Al-Quran beberapa kali disebutkan bahwa nama Allah digunakan

bersama oleh Umat Yahudi, Kristen dan Islam. Nabi Muhammad mengakui pada masa hidupnya sudah ada orang Yahudi dan Kristen yang

menggunakan nama Allah. Dalam Al-Quran tertulis:



“(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran,

melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah, Jikalau tiadalah pertahanan Allah terhadap manusia, sebagian mereka

terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak

disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.”

(Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, QS.22:40).



Menarik untuk diketahui bahwa pada abad yang sama kelahiran agama

Islam, terjemahan ‘Injil Muqqadas’ dalam bahasa Arab (643) sudah memuat nama ‘Allah.’ Pada abad sebelum Islam, inskripsi

kalangan Kristen ‘Umm al-Jimmal’ menulis ‘Allahu Ghafran’ (Allah yang mengampuni) dan ‘Inskripsi Zabad’ (512) diawali ucapan

‘Bism al-ilah’ (Dengan Nama Allah, dalam kitab Esra 5:1 tertulis ‘Beshum Elah’ Yisrael). Satu abad sebelum ayah Nabi Muhammad

lahir, dalam Konsili Efesus (431) hadir uskup Arab Haritz bernama ‘Abd Al-Allah.’



Dalam penemuan arkaeologis tua

lebih dari satu milenium sebelum kelahiran Islam ternyata ‘nama Allah’ sudah disebutkan sebagai nama diri dalam beberapa

inskripsi yang ditemukan. Artikel ‘Allah Before Islam’ dalam ‘The Muslim World’ (Vol.38, 1938, hlm. 239-248) mencatat bahwa

suku-suku Arab kuno ‘Lihyan’ dan ‘Thamudic’ yang bermukim di Jazirah Arab bagian Utara, meninggalkan inskripsi bertuliskan

banyak nama ‘Allah’ sebagai nama diri. Pendahulu suku ‘Lihyan’ adalah suku ‘Dedan’ yang dalam Alkitab disebutkan sebagai

keturunan Ketura, isteri Abraham (Kejadian 25:1-3). Kita mengetahui bahwa bahasa Arab diturunkan dari bahasa Nabatea Aram

dimana nama Tuhan disebut ‘Allaha.’ Maka konsekwensinya, nama ‘Allah’ tertuju pada ‘Allah’ Abraham yang cikal-bakalnya adalah

EL (el – ela – elah) atau IL (il – ila – ilah) semitik.



Dapat dimengerti mengapa agama-agama semitik sebelum Islam

di kalangan berbahasa Arab sudah lama menggunakan nama ‘Allah.’ Jadi, nama Allah bukan nama Islam tetapi nama Arab untuk

menyebut Tuhan Abraham dan El/Il semitik. Kini di negara-negara Arab, baik orang Yahudi, Kristen maupun Islam yang berbahasa

Arab, semuanya menggunakan nama Allah tanpa masalah. Bambang Noorsena yang fasih berbahasa Arab dan pernah belajar selama dua

tahun di Kairo menyebutkan bahwa di Kairo kota lama, dipintu gereja Al Mu’alaqqah ditulis ‘Allah Mahabah’ (Allah itu kasih) dan

di pintu lainnya ‘Ra’isu al-Hikmata Makhaafatu Ilah’ (Permulaan Hikmat adalah Takut kepada Allah). Sinagoga ‘Ben Ezra’ menyebut

bahwa dahulu disitu Rabbi ‘Moshe ben Ma’imun’ menulis buku ‘Al Misnah’ dan ‘Dalilat el-Hairin’ dalam bahasa Ibrani dan Arab

dimana ‘El/Elohim’ diterjemahkan ‘Allah.’



Kini ada 29 juta orang berbahasa Arab yang beragama Kristen dan semuanya

menyebut nama ‘Allah,’ dan di kalangan ini beredar empat versi Alkitab berbahasa Arab yang menggunakan nama ‘Allah.’ Maka dari

sini jelas bahwa bagi orang-orang Arab penganut Yahudi, Kristen, dan Islam, nama Allah digunakan bersama tanpa rasa curiga

sebab mereka menyadari bahwa semua mempercayai Allah Abraham yang sama, sekalipun tidak disangkal adanya perbedaan aqidah yang

dipercayai oleh masing-masing mengingat ketiganya memiliki kitab suci yang berbeda. Olaf Schuman teolog Kristen yang tiga tahun

mengajar dan belajar di Universitas Al Ashar, Mesir, mengemukakan bahwa:



“Memang tidak dapat disangkal adanya suatu

masalah. Namun yang menjadi masalah ialah soal dogmatika atau ‘aqidah,’ sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham dogmatis

yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakekatnya maupun pula mengenai cara pernyataannya dan tindakan-tindakanny a.”

(Keluar Dari Benteng Pertahanan, hlm. 175).



Dalam terjemahan Alkitab ke bahasa Melayu, sejak awal nama Allah sudah

digunakan. Daud Susilo, konsultan United Bible Societes, menulis:



“Dalam terjemahan bahasa Melayu dan Indonesia,

kata ‘Allah’ sudah digunakan terus menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama (terjemahan Albert

Corneliz Ruyl, 1629). Begitu juga dalam terjemahan Alkitab Melayu yang pertama (terjemahan Melchior Leijdekker, 1733) dan

Alkitab Melayu yang kedua (terjemahan Hillebrandus Corneliz Klinkert, 1879) sampai saat ini.” (Forum Biblika, LAI, No.8/1998,

hlm. 102)



Alkitab berbahasa Melayu di Malaysia terbitan The Bible Society of Malaysia juga menggunakan nama ‘Allah.’

(Hal seperti itu dilakukan dalam penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Inggeris dimana nama Arab ‘Allah’ diterjemahkan ‘God’

dalam bahasa Inggeris). Dalam Alkitab dalam bahasa Indonesia, nama ‘Allah’ tetap digunakan melanjutkan Alkitab Melayu itu,

karena di Indonesia, kata ‘Allah’ sudah lama menjadi bagian kosa kata bahasa Indonesia, karena itu di Indonesia penggunaannya

sebagai nama ‘Tuhan Yang Mahaesa’ agama-agama Abraham/Ibrahim adalah umum.



Bila bangsa Arab pemilik bahasa Arab

tidak mempermasalahkan penggunaan nama ‘Allah’ oleh agama-agama semitik, maka seyogyanya bangsa-bangsa non-Arab juga tidak

mempermasalahkannya karena bukan bahasa mereka. Kesamaan nama ‘Allah’ yang disembah ketiga agama Semitik bisa menjadi perekat

bahwa ketiganya sebenarnya bersaudara. Yang perlu disadari adalah bagaimana dalam keeksklusifan iman sesuai ajaran kitab suci

masing-masing, agama bisa diamalkan dengan damai dan toleransi. Amin!





-- herlianto@yabina.org

dilihat : 270 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution