Senin, 20 Agustus 2018 02:41:03 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 194
Total pengunjung : 414535
Hits hari ini : 1575
Total hits : 3800190
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -King Dan Roh Antikekerasan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 16 Januari 2008 00:00:00
King Dan Roh Antikekerasan
Antonius Steven Un





Hari Selasa, 15 Januari ini merupakan peringatan

lahirnya Martin Luther King, Jr, pejuang hak asasi manusia (HAM) dan anti diskriminasi ras yang berhasil memenangkan kesetaraan

ras bagi kaum kulit hitam di Amerika Serikat. Untuk jerih lelah perjuangannya, King dihadiahi Nobel Perdamaian tahun 1964.





Komitmennya bagi penghapusan diskriminasi ras demikian besar sampai-sampai hadiah uang yang diterimanya dari Komite

Nobel sebesar $54.123 disumbangkan bagi kemajuan gerakan hak-hak sipil. Salah satu sumbangsih King bagi sejarah adalah roh

(baca: gerakan) anti-kekerasan.



King mengkritik pendekatan kekerasan yang digunakan kaum tertindas menghadapi

penindasan, sekalipun ia mengakui bahwa kekerasan kerap mendatangkan kemenangan. Namun demikian, meminjam ungkapan

filsuf-teolog Dr. Stephen Tong, side effects overcome original effects, maka efek samping kekerasan lebih mahal dan dominan

ketimbang efek aslinya. Efek samping kekerasan bahkan menciptakan masalah sosial baru dan mendatangkan kondisi yang lebih

chaos.



Menggunakan kekerasan sebagai pendekatan menuju keadilan rasial dianggap oleh King sebagai tidak praktis

dan tidak bermoral (Stride Toward Freedom (1958) dalam kumpulan tulisan suntingan editor Diane Revitch & Abigail Thernstrom,

2005, hal. 214-15). Dianggap tidak praktis karena akan berakhir dengan kehancuran bagi semua.



”Hukum lama mata

ganti mata akan membuat semua orang buta”, demikian keluhannya. Dianggap tidak bermoral karena menginjak-injak kemanusiaan,

menyuburkan kebencian, memustahilkan persaudaraan, membuat masyarakat bermonolog, menciptakan kepahitan dan kebengisan dan

warisannya adalah ”kerajaan kekacauan (chaos) yang tanpa makna dan tanpa akhir”.



Logika sesat kekerasan sebagaimana

dieksposisi oleh King seharusnya membuat kita menghapuskan pendekatan tersebut dari bumi Pertiwi ini. Regulasi bukanlah

satu-satunya solusi.



Sebaliknya pembangunan paradigma dan kultur baru sebagai antitesis kultur kekerasan yang

mendarah daging merupakan salah satu isu pergumulan sosial kekinian kita sebagai bangsa. IPDN, gang motor, KDRT, tawuran antar

pelajar dan sebagainya, masih harus menjadi pekerjaan rumah berat ke depan.







Pendekatan

Non-Violence



King menawarkan pendekatan non-violence (nir-kekerasan) sebagai jalan keluar dalam memperjuangkan

kebebasan. Pembelajaran bagi kita adalah dengan melakukan dereduksi makna yakni bahwa pendekatan nir-kekerasan bukan saja

digunakan dalam perjuangan kemanusiaan kaum tertindas tetapi menjadi pola pikir dan model relasi interpersonal, antar

kelembagaan dan organisasi, khususnya menghadapi konflik horizontal.



Pertama, pendekatan non-violence merupakan

upaya menjaga keseimbangan masyarakat yang sehat. Membalas kekerasan dengan kekerasan hanyalah akan menciptakan masyarakat

sakit dan timpang dengan aroma dan trauma balas dendam tidak habis-habisnya.



Motivasi perjuangan King jelas,

seperti yang dirumuskannya, ”Tuhan tidak sekedar berkepentingan akan pemerdekaan kaum hitam, kaum coklat dan kaum kuning; Tuhan

berkepentingan akan kebebasan seluruh umat manusia” (Stride Toward Freedom, hal. 211). Hal inilah yang harus menjadi motivasi

bersama seluruh bangsa, sebab dengan terciptanya masyarakat sakit, energi bangsa terkuras dalam menyelesaikan konflik

horizontal, sementara upaya mencapai visi bangsa sesuai amanat konstitusi menjadi terasa sangat amat berat.



Kedua,

pendekatan non-violence menunjukkan bahwa obyek perlawanan kita alias musuh bersama bukanlah sang kriminal melainkan

kriminalisme itu sendiri, bukan sang penjahat melainkan kejahatan itu sendiri, bukan sang penindas, melainkan penindasan itu

sendiri. King mengatakan ”Melalui perlawanan non-violence, kaum kulit hitam akan naik ke puncak kemuliaannya karena melawan

sistem yang tidak adil sementara mencintai para pelaku sistem itu” (Stride Toward Freedom, hal. 216).



Karena itu,

musuh kaum buruh bukanlah pengusaha, tetapi kiat berbisnis kotor yang memanipulasi dan mengeksploitasi buruh secara semena-mena

bagi kepentingan profit finansial.



Musuh kita dalam hal lingkungan bukan kaum kapital melainkan perilaku pembalakan

liar dan perilaku pembuangan limbah secara tidak bertanggung jawab, entah hal itu dilakukan oleh pemodal, atau regulator yang

berselingkuh jahat bagi kepentingan materialisme belaka.



Ketiga, pendekatan non-violence tidak berarti membuang

militansi. Militansi tidak boleh disempitkan dengan penggunaan kekerasan yang tidak terukur. King mengatakan, ”manakala gerakan

massa itu pantang memakai cara-cara kekerasan dan dengan teguh hati bergerak menuju sasarannya.. .maka dukungan publik secara

magnetis akan tertarik kepada kubu gerakan non-violence ini” (Stride Toward Freedom, hal. 217).



Berarti militansi

bukanlah berbicara pendekatan sebab komitmen nir-kekerasan sudah jelas. Sebaliknya, militansi berbicara keteguhan hati terhadap

visi dan prinsip perjuangan yang tidak boleh luntur sekalipun ditempa penderitaan. Justru daya tarik dari gerakan demokrasi

nir-kekerasan adalah militansinya. Hal ini berarti, gerakan dan masyarakat sipil harus menghapus kekerasan dari kamus mereka,

untuk kondisi apapun juga.



Keempat, pendekatan non-violence mempunyai kekuatan lain yang tidak dimiliki oleh

kekuatan hukum yuridis-formal. Jika hal yang terakhir ini berkekuatan koersif menuntut individu menjalankan amanahnya,

paling-paling yang terjadi adalah kemunafikan karena hukum dijalankan dari luar (legalisme) tetapi bukan dari kesadaran nurani.





Sebaliknya, pendekatan non-violence yang berbasiskan cinta kasih kepada musuh, mempunyai kekuatan menyentuh nurani

yang tertidur, hati yang keras untuk tergerak melihat dan mengkonsiderasi nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Dengan kata lain,

pendekatan nir-kekerasan adalah pendekatan sosial yang tidak kalah penting dalam penyelesaian konflik dengan pendekatan

yuridis-formal. Terhadap konflik-konlik horizontal yang kerap masih banyak terjadi, membangun relasi interpersonal perlu

dikemukakan dan diupayakan terus menerus.



Terakhir, pendekatan non-violence berarti kesediaan untuk menderita dan

berkorban. King bukan saja mengajarkan pendekatan ini tetapi melakoninya sendiri dan menjadi teladan. Ia melakukan perjalanan

lebih dari enam juta mil dan berpidato ratusan kali, ditangkap sebanyak dua puluh kali, diserang sebanyak empat kali dan

terakhir ditembak mati selagi ia berdiri di balkon ruang motelnya di Memphis, Tennesee, pada 4 April 1968.



Setiap

perjuangan bagi kebenaran dan keadilan tidak mungkin tanpa pengorbanan. Perjuangan melawan Orde Baru harus menghasilkan

kematian demikian banyak mahasiswa. Tinggal pertanyaannya, siapakah yang rela berkorban bagi kebenaran dan keadilan.





Setiap orang akan menjadi pahlawan bagi kebenaran keadilan tatkala memiliki kesediaan berkorban bagi orang lain,

bagi nilai kemanusiaan universal dan seterusnya. Inilah teladan King yang harus kita tiru. Semoga!









Antonius Steven Un, Peneliti pada Reformed Center for Religion and Society.



* SURYA, Selasa, 15 Januari

2008



dilihat : 238 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution