Sabtu, 24 Agustus 2019 18:35:09 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520083
Hits hari ini : 1781
Total hits : 4897891
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pemimpin Agama






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 06 Desember 2007 00:00:00
Pemimpin Agama
Dalam kehidupan kerukunan umat beragama di Indonesia,

yang menjadi sorotan kita adalah pola pikir kita termasuk para elite politik maupun para pemimpin agama-agama—yang sadar atau

tidak sadar—sering kita menginternalisasikan memori kolektif kita untuk membenci orang lain. Jadi kita memiliki ingatan-ingatan

tentang luka, kebencian, rasa permusuhan kepada kelompok agama yang lain atau kepada paham yang lain.



Luka-luka,

kebencian itu kita internalisasikan ke dalam sistem teologi, keagamaan dan ajaran-ajaran kita. Kita sudah biasa berpandangan

stereotip, melihat orang lain itu sebagai pihak yang salah. Itu terjadi karena pengalaman pahit pemeluk agama itu sebelumnya

yang menimbulkan luka-luka bathin.



Belanda itu kan agama Kristen yang menjajah Indonesia. Nah, semua agama Kristen

itu adalah musuh dan harus dicurigai. Pandangan itu tertanam dalam masyarakat kebanyakan umat Islam di Indonesia. Akhirnya

mereka berkesimpulan bahwa semua pemeluk agama Kristen adalah musuh.



Demikian juga pihak Kristen akhir-akhir ini

yang mengalami tindakan diskrimimasi merasakan luka-luka bathin atas tindakan sekelompok orang yang mengatakan dirinya pembela

Islam.



Dalam menyembuhkan luka-luka bathin ini diperlukan ketulusan untuk berdialog antar umat beragama. Juga perlu

suatu reinterpretasi baru terhadap gagasan-gagasan teologi kita. Sepertinya para pemuka agama sepakat kalau dialog-dialog itu

lebih sering dilakukan dan tidak usah formal. Jadi kita harus membuang gambaran negatif terhadap agama lain.



Belajar

dari orang lain justru memperkaya iman kita. Agar kerukunan umat beragama tercapai perlu kita sama-sama berkomitmen bahwa

sekalipun agama dan iman kita berbeda, kita sepakat mengembangkan budaya non kekerasan dan cinta damai. Membela semua bentuk

kehidupan dari penindasan, penyiksaan, pembunuhan dan menentang semua sikap yang tidak menghargai kehidupan yang sangat

berharga ini.



Kita juga menciptakan budaya solidaritas keadilan. Setiap orang berhak untuk mendapatkan mata

pencaharian. Kita tentu menentang mentalitas materialistik dan sikap rakus.



Kita juga mengembangkan budaya

kesejajaran antara orangtua-anak, suami-isteri, pria-wanita membangun kehangatan kehidupan berkeluarga. Kerukunan di dalam

keluarga merupakan modal utama untuk menghadapi krisis gejolak yang mungkin akan muncul. Hidup bersama saling menopang dalam

suasana yang dinamis, menghilangkan prasangka buruk, permusuhan, kebohongan.



Idealnya memang jangan membenci. Tapi

karena kita belum mencapai kesempurnaan, kekotoran bathin itu bisa saja timbul, tapi jangan karena marah dan membenci,

mengharap orang lain celaka. Marah dan benci itu tidak bisa dilenyapkan, tapi coba kita menjaga agar dalam suasana marah itu

tidak mengharapkan orang lain celaka. Rasanya ini juga menjadi salah satu pilar yang baik untuk kerukunan, dapat mencegah

kebrutalan, kekerasan dan sebagainya.



Kita tentu mendambakan ketulusan, karena kalau tidak ada ketulusan, semuanya

menjadi rancu dan serba formalisme. Banyak juga saudara-saudara kita yang beragama tanpa ketulusan, sehingga beragama itu hanya

formalitas belaka. Formalisme agama yang mengeksploitir simbol-simboll agama mudah sekali ditunggangi oleh keserakahan dan

kebencian. Bahaya laten itu masih ada dalam diri kita. Di dalam kekhusukan beragama bisa timbul kedangkalan agama, kalau agama

dihayati tanpa ketulusan. Sehingga ada anekdot "dia beragama, tapi beragama yang tidak bermoral"



Alangkah baiknya

untuk menghadapi era globalisasi. Agama ini kembali kepada ketulusan ajaran di dalam memuliakan martabat manusia. Dengan

demikian agama akan memberikan kontribusinya dalam meningkatkan spiritualitas, kesejahteraan, kebenaran dan

kedamaian.



Walsinur Silalahi.

dilihat : 442 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution