Selasa, 17 Juli 2018 05:23:13 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 176
Total pengunjung : 406112
Hits hari ini : 2341
Total hits : 3702011
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Wawasan Kristen Dalam Menghadapi Globalisasi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 03 November 2007 00:00:00
Wawasan Kristen Dalam Menghadapi Globalisasi
oleh : Pdt. Daniel Lucas Lukito,

Th.D.



"Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran

turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus." (Kolose 2:8)



"Janganlah kamu menjadi serupa dengan

dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik,

yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."

(Roma 12:2)



Pengertian yang sebenarnya dari worldview adalah

kerangka berpikir, persepsi, perspektif manusia, interpretasi manusia untuk melihat kehidupan ini, apakah hanya terbatas di

kosmos ini saja atau yang ada di luar kosmos? Apakah hanya terbatas pada kehidupan kebendaan saja ataukah juga meluas pada

kehidupan sesudah kematian? Untuk lebih mudahnya istilah worldview dapat diterjemahkan sebagai kerangka

berpikir.



Karakteristik kerangka berpikir manusia modern tidak lepas dari kerangka berpikir tertentu, demikian pula

dengan setiap orang yang terlibat dibidang theologi. Kalau kita berbicara tentang theologi yang bertanggung- jawab itu seperti

apa? Dapat kita mulai dari ciri-ciri kerangka berpikir manusia modern. Adapun ciri-cirinya dapat diringkas dalam point-point

berikut ini :



1. Penekanan yang radikal pada konsep imanensi



Di dalam theologi ada istilah transendensi,

Allah itu adalah Allah yang transenden, yang melampaui atau jauh melampaui kehidupan manusia. Theologi yang benar seharusnya

menekankan pada Allah yang transenden dan Allah yang imanen (artinya, Allah yang berdiam dihati manusia yang dekat dengan hati

manusia).



Di dalam Alkitab, Allah tidak dapat disamakan dengan apapun, jika kita hanya menekankan Allah pada satu

sisi transenden atau imanen saja, maka theologi yang demikian itu pincang atau radikal.



Kecenderungan theologi yang

ada sekarang ini, adalah mengasimilasikan Allah atau menyamakan Allah sama dengan manusia, atau bahkan sama dengan alam ini,

misalnya kalau kita suka berpikir saya suka begini, Tuhan pasti juga suka begini, maka kita telah mengasimilasikan Tuhan

seperti dengan manusia dan alam ini. Apakah Tuhan seperti itu?



Bahayanya orang yang menekankan secara radikal

konsep tentang imanensi, akan menyebabkan ruang berpikirnya sempit sekali. Di dalam agama tertentu Tuhan disamakan dengan alam

ini, kalau ada bencana alam, maka dikaitkan dengan Tuhan yang marah. Jelas, cara berpikir yang demikian ini keliru sama sekali.

Misalnya, konsep tentang mujizat tidak mudah diterima oleh orang yang hanya berpikiran sempit dan terbatas pada alam ini saja,

sebab mujizat bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan hukum alam, tetapi melampaui alam ini. Bagaimana kita bisa menjelaskan

Tuhan Yesus berjalan di atas air bila kerangka berpikir kita terbatas pada konsep radikal imanensi seperti ini? Air berubah

menjadi anggur. Tidak bisa dijelaskan dengan proses berpikir radikal imanensi. Apalagi konsep tentang wahyu, penebusan,

dll.



Sangat berbahaya bila kita terjebak dalam konsep radikal imanensi. Kita akan kehilangan konsep transendensi.

Kita dapat percaya Tuhan itu ada walaupun belum pernah melihatNya, kita percaya surga itu ada walaupun belum pernah melihat

(sebagaimana ditulis dalam Alkitab), ini menunjuk pada adanya konsep transendensi. Sebaliknya penekanan yang terlalu radikal

pada konsep transendensi (seperi theologi Barthian) juga berbahaya. Sebab, secara jelas Alkitab mengungkapkan adanya konsep

transendensi pada sisi yang satu dan imanensi pada sisi lainnya.



2. Berpijak terlalu kuat pada satu sisi

subyektifitas



Di dunia Barat, orang yang belajar theologi mau tidak mau harus membahas filsafat eksistensialisme,

salah satu ciri dari filsafat ini adalah manusia berupaya semaksimal mungkin untuk menjadi pembuat, pemikir bagi dirinya

sendiri, untuk segala sesuatu yang ada di dunia ini dan juga untuk dunia pemikiran. Manusia berusaha dari dirinya sendiri,

menjadi pembuat, penetap, penafsir dari segala sesuatu dan juga pemikiran. Di dalam eksistensialisme, manusia tidak mau menjadi

penonton, pengamat saja. Manusia ingin menjadi pembuat atau penetap dari satu konsep dan pemikiran.



Sebenarnya

eksistensialisme ini punya sisi yang baik, yaitu manusia berusaha lebih concern terhadap kehidupan di dunia ini, terhadap

manusia sendiri. Namun, eksistensialisme punya sisi negatif, karena manusia bisa menjadi penetap segala sesuatu, untuk urusan

manusia dan punya potensi atau kapasitas untuk menetapkan eksistensinya sendiri, manusia bisa menjadi pencipta, pemutus segala

sesuatu, eksistensi manusia ditentukan oleh diri sendiri. Kalau pemikiran ini terus berlanjut, manusia sepertinya hanya melihat

pada dirinya sendiri dalam menyelesaikan segala sesuatu.



Liberalisme juga punya tujuan baik, yaitu menjembatani

theologi dan agama supaya sesuai dengan jaman yang ada pada waktu itu, yaitu jaman pencerahan, tetapi libreralisme telah

mengorbankan butir-butir yang esensial dari iman Kristen.



Adanya masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat pada

masa kini, dapatkah Gereja hanya berdiam diri tanpa berurusan dengan problema-problema kemanusiaan itu? Saya kira tidak bisa.

Gereja harus punya kaitan dengan masalah-masalah yang ada.



Kalau kita melihat pada manusia modern sekarang ini sudah

lebih cenderung melihat dirinya sendiri, untuk menetapkan segala sesuatu. Ini akan mengakibatkan, manusia kehilangan sisi

obyektifitas.



Dimaksud dengan Firman Allah yang obyektif, di dalam Alkitab adalah terbuka untuk diteliti, untuk

diselidiki. Kalau kita berdiri pada sisi subyektifitas dari iman kita, maka kita pincang di dalam kepercayaan kita. Syukur kita

punya Firman Tuhan yang objektif, yang terbuka untuk kita selidiki, makin kita menyelidiki, makin kita tahu Firman Allah.





Aneh sekali bila makin membaca Firman Tuhan tapi makin tidak tahu kehendak Tuhan. Disetiap camp-camp remaja/pemuda

yang sering kita temui, selalu ada pertanyaan tentang kehendak Tuhan (terutama dalam karier, pekerjaan, teman hidup).

Sebenarnya kalau kita makin membaca Firman Allah yang objektif, yang terbuka untuk diselidiki, yang dapat dimengerti oleh alam

pikiran kita, yang sederhana, tetapi juga mendalam, maka kita semakin banyak menemukan jawaban mengenai kehendak Allah, karena

Firman Allah banyak menyediakan jawaban tentang kehendak Allah. Masalahnya, banyak orang Kristen yang mau praktis, tetapi tidak

mau belajar Firman Tuhan dengan baik. Ini sangat berbahaya.



Firman Allah adalah Firman Allah yang proposisional,

maksudnya Tuhan mengkomunikasikan kehendak-Nya kepada para penulis Alkitab dengan komunikasi yang jelas, rasional. Ada nubuat

yang tidak jelas, tetapi dapat dimengerti kemudian. Komunikasi yang Tuhan berikan adalah rasional, bukannya irasional, sangat

mengherankan justru sekarang banyak orang yang mencari fenomena-fenomena irasional (seperti tumbang dalam roh, tertawa dalam

roh, dan sejenisnya). Selain itu perkataan-perkataan yang diberikan Tuhan dalam Alkitab adalah perkataan yang meaningfull

(mempunyai arti), intelligible (dapat dimengerti). Walau Alkitab dibaca oleh orang yang paling sederhana, tetapi artinya tetap

dapat dimengerti.



Seseorang semakin lari dari Alkitab, maka dia semakin berpegang pada sisi subjektif. Semakin dia

berpegang pada sisi subjektif, maka dia makin terjebak dalam segala fenomena yang tidak jelas pegangannya. Jika, kita mengenal

Firman Allah dengan benar, maka kita tidak akan mudah terseret di dalam rupa-rupa angin pengajaran yang

menyesatkan.



3. Makin nyata kecenderungan untuk lari kepada prinsip naturalisme



Sebenarnya ini hampir

sama dengan yang no 1, tetapi naturalisme lebih menekankan pada alam, hanya alam ini saja tempat kita hidup, berpikir, dan

mencari pengalaman hidup untuk di sini dan sekarang. Sebenarnya pemikiran yang demikian tidak salah, tetapi jika kita hanya

menempatkan diri di sini dan sekarang saja, hanya terbatas pada nature ini saja, alam ini saja, maka kita terjebak kepada suatu

hal yang berbahaya, yaitu seolah-olah akhir kehidupan dari manusia hanya di alam ini saja.



Jika kita bertanya pada

orang yang memiliki kecenderungan hedonistis, apakah arti hidup ini? Mereka akan mengatakan, hidup ini hanya materi saja,

kesenangan saja. Dunia melihat ke arah ini, maka tidak heran kalau theologi yang menawarkan kecenderungan semacam ini laku

keras. Gereja-gereja yang menawarkan hal-hal semacam ini secara kuantitas akan berkembang cepat. Kalau kita hanya menekankan

hidup di sini saja, maka sebagai akibatnya manusia akan kehilangan relevansi dan konteks.



Mari kita coba pikirkan,

apa sebenarnya yang paling menyenangkan bagi kita? Alam ini atau kenikmatan dunia ini? Untuk apa kita berada di sini? Apakah

kaitannya keberadaan kita di sini dengan kehidupan kita, dan kita punya jiwa, tetapi kapan jiwa kita mendapatkan kebahagiaan

yang sejati? Apa kaitan atau konteks kita dengan hidup sesudah kematian? Bagi orang yang hanya menikmati kenikmatan dunia ini

saja, maka semakin sulit untuk menerima adanya kenyataan kematian, kesulitan, penyakit, dll.



Demikian juga dengan

orang Kristen yang hidup hanya mengandalkan dunia ini saja, berbahaya. Berapa banyak kita mengisi kebutuhan roh kita? Di tengah

keadaan yang tidak menentu apa yang dapat kita andalkan? Kalau kita hanya mengandalkan apa yang ada di dunia ini saja, juga

berbahaya.



Orang yang semakin dekat dengan Tuhan akan semakin mengerti, bahwa hidup di dunia ini hanya sementara.

Jadi kita jangan merusak kehidupan kita. Seberapa banyak orang Kristen telah mengisi kebutuhan rohnya? Jika kita hanya

mengandalkan kehidupan ini saja, itu sungguh berbahaya. Sebab, semua materi yang kita miliki tidak dapat memuaskan

kita.



4. Mengakomodasikan serta merelatifkan semua doktrin



Ada orang-orang yang mengatakan

doktrin-doktrin Kristen yang unik bisa menemukan padanannya dalam agama-agama lain. Di dalam perkembangan theologi sekarang

ini, banyak orang yang berusaha untuk ‘menyesuaikan’ dengan cara menafsir-ulangkan theologi-theologi Kristen. Apabila kita

tidak hati-hati terhadap hal ini, maka semakin hari kita akan makin mudah menerima pluralisme.



Pluralisme dapat

digambarkan, yaitu orang merasa pada agama-agama lain juga memberitakan kebenaran-kebenaran , maka kita jangan suka mengganggu

agama lain, karena semuanya sama saja. Tidak dapat kita pungkiri bahwa alam kita pluralistis, tetapi agama lain juga tidak malu

untuk mengungkapkan eksklusivisme agama masing-masing dan kenapa orang Kristen harus mengalah, harus mengorbankan kebenarannya

di dalam mendekati orang lain? Tuhan Yesus mendekati orang apa saja dan kita dipanggil bukan untuk menaklukkan orang lain, kita

dipanggil bukan untuk menaklukkan orang lain, tetapi untuk memberitakan, menyaksikan nama Tuhan Yesus, bukan untuk mengalah,

tetapi untuk memberitakan Firman Tuhan.



Orang Kristen yang semakin dekat dengan pluralisme akan semakin malas

menginjili orang lain. Justru, orang Kristen mengalami pengujian, mengalami pertumbuhan, di tengah-tengah penganiayaan. Tuhan

menguji iman orang Kristen pada masa penganiayaan. Orang Kristen justru makin dihambat makin merambat. Gereja semakin mengalami

kesulitan, maka iman Kristen semakin dimurnikan.



5. Mensintesiskan lingkup yang sakral dan yang

sekular



Ada orang yang berusaha unruk menggabungkan antara dunia ini (sekuler) dan yang tidak kelihatan (sakral)

dengan akibat tidak ada lagi perbedaan. Dalam theologi yang benar, sampai kapanpun kita harus tetap melihat adanya perbedaan

antara pencipta dan ciptaan, antara yang supranatural dan yang natural, yang tak terbatas dengan yang terbatas.



Kita

tidak dapat menurunkan Surga ke dalam dunia ini dan tidak dapat menggabungkan konsep keselamatan yang Tuhan ajarkan dengan

konsep kita tentang keselamatan. Manusia berusaha terus untuk menggabungkan itu, sehingga yang sakral yang harus mengalah, dan

akhirnya jatuh pada radikal imanensi. Akibatnya manusia benar-benar menjadi otonom, berdiri sendiri lepas dari yang lain, dia

tidak perlu Tuhan. Manusia mau berusaha menjadi seperti Allah.



Perlu diperhatikan oleh kita, yaitu di dalam kita

bertheologi, kita tidak pernah bisa menjadi seperti Allah. Mengerti tentang Allah pun kita tidak bisa tuntas atau komprehensif,

karena kita sangat terbatas. Kita yang tahu sedikit tentang theologi seharusnya makin rendah hati. Makin kita belajar

seharusnya kita tahu kalau kita sangat terbatas.



Sebagai kesimpulan, untuk menbangun suatu theologi yang benar, yang

konsisten haruslah :



1. Menyeimbangkan konsep transendensi dan konsep imanensi.



2. Menguatkan pijakan

pada sisi objektifitas dalam bertheologi agar sisi subjektifitas kita dapat terkendali. Semakin kita mengenal Firman Allah,

maka kita akan lebih mengenal Allah, kita semakin mengenal Allah, berarti kita lebih mengenal diri sendiri. Semakin kita tidak

mengenal diri sesungguhnya menunjukkan bahwa kita tidak mengenal Allah.



3. Berpegang pada prinsip theologi yang

supranatural dan natural secara Alkitabiah, sehingga kita dapat menghadirkan theologi yang relevan dan kontekstual.





4. Mengupayakan secara maksimal PI dan misi yang holistik (menyeluruh) , harus juga menyentuh kehidupan manusia.

Tidak hanya memberitakan kabar baik saja tapi juga harus memperhatikan kebutuhan manusia. Pekabaran Injil (PI) dan misi harus

tetap berpijak pada iman yang ortodoks dan eksklusif.



5. Seimbang dalam menekankan prinsip otonomi dan interelasi

dalam kehidupan iman. Kita boleh mengatakan ciptaan Tuhan yang unik, tapi kita juga tetap bergantung pada Pencipta, dan ada

kaitannya dengan orang lain.



Hal-hal ini harus benar-benar didalami, mengingat kita hidup di Indonesia, bukan hanya

menghadapi terpaan modernisasi dan globalisasi, tetapi juga kesulitan-kesulitan akan kita alami. Jikalau kita punya theologia

yang benar, seharusnya terbukti dalam kehidupan yang kuat. Walaupun kita mengalami kesulitan yang besar, kalau kita punya iman

yang benar akan semakin menguatkan semangat kita di dalam mengabarkan kebenaran Firman Tuhan.



Sumber :

Artikel

ini ditranskrip dari khotbah beliau pada seminar awal semester Sekolah Theologia Reformed Injili Surabaya (STRIS) ke

XXV



Disarikan dari : http://www.grii- andhika.org



Profil Pdt. Dr. Daniel Lucas Lukito :

Pdt. Daniel

Lucas Lukito, Th.D. adalah Rektor dan Dosen bidang Theologia Sistematika dan Kontemporer di Seminari Alkitab Asia Tenggara

(SAAT) Malang. Beliau adalah lulusan Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang yang meneruskan studi Master of Theology di

Calvin Theological Seminary, USA. Pendidikan theologia terakhir diraihnya di South East Asia Graduate School of Theology

(SEAGST), Filipina dengan gelar Doctor of Theology (Th.D.).

dilihat : 307 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution