Sabtu, 21 Juli 2018 08:47:53 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 30
Total pengunjung : 407255
Hits hari ini : 190
Total hits : 3713129
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Tekad Biksu Myanmar: Terus Berdemo Sampai Junta Militer Jatuh






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 21 September 2007 00:00:00
Tekad Biksu Myanmar: Terus Berdemo Sampai Junta Militer Jatuh
[YANGON] Aksi unjuk rasa ribuan

biksu selama beberapa hari terakhir di berbagai kota di Myanmar telah mengirimkan pesan keras kepada penguasa Myanmar yang

otoriter dan menindas rakyatnya sendiri. Kaum biksu bertekad untuk melancarkan demonstrasi damai sampai junta militer jatuh.





Penegasan itu disampaikan oleh Aliansi Biksu Buddha Seluruh Burma. Mereka menegaskan bahwa pemerintahan militer

sebagai musuh rakyat. "Karena itu kami akan tetap melancarkan protes sampai diktator militer bersih dari tanah Myanmar," tandas

Aliansi Biksu yang diikuti 1.500 biksu di Kota Yangon. Ini merupakan sikap menantang yang terang-terangan terhadap pemerintahan

militer.



Dalam perjuangan damai menentang kesewenang-wenangan penguasa, para biksu juga meminta setiap orang di

seluruh Myanmar untuk berdoa di pintu rumah masing-masing pada hari Minggu (23/9) pukul 20.00 selama 15 menit.



"Kami

meminta setiap warga memanjatkan doa serentak selama tiga hari berturut-turut dimulai hari Minggu," ucap seorang biksu yang

tidak menyebutkan namanya, Sabtu (22/9).





Aksi ini untuk meminta kekuatan dan kedamaian dari sang

Buddha.



Sebelumnya kemarahan para biksu diwujudkan dengan menolak sedekah atau kontribusi uang dan barang apa pun

dari jenderal dan keluarganya. Mereka juga tidak mau berdoa untuk keluarga para tentara ini.



Kemarin para biksu

berjalan puluhan kilometer dari biara-biara di kaki gunung menyusuri jalan memasuki tengah kota. Mereka menembus hujan deras

tanpa alas kaki. Aksi biksu mendongkrak semangat rakyat Myanmar yang tanpa takut mengiringi barisan unjuk rasa. Sekitar 1.000

warga dan mahasiswa mendampingi para biksu.



Jumlah biksu yang mengikuti aksi protes di Yangon kemarin merupakan yang

terbanyak. Protes kemarin merupakan aksi hari keempat untuk menentang perilaku pemerintah yang bertindak seenaknya terhadap

rakyat.



Kendati Aliansi Biksu tidak menyatakan kebangkitan seluruh rakyat tetapi sikap seperti itulah yang sangat

ditakuti oleh kaum jenderal.



Kalau pada aksi-aksi sebelumnya mereka basah kuyub diguyur hujan, kini kaum biksu lebih

bersiap diri dengan membawa mantel hujan walau tetap tanpa alas kaki. Di tengah derai air hujan, mereka membacakan doa dan

berkhotbah di Pagoda Shwedagon, yang menjadi markas protes-protes rakyat pada beberapa waktu belakangan

ini.



Serangkaian aksi protes yang kian membesar hari demi hari ini merupakan aksi terbesar dalam sepuluh tahun

terakhir. Biksu merupakan sosok yang disegani oleh siapa pun di negeri mayoritas Buddha ini. Ada 500.000 biksu yang hidup di

biara-biara di seluruh Myanmar.



Aksi protes yang terus menerus dalam sebulan terakhir ini dipicu oleh kenaikan harga

bahan bakar minyak (BBM) yang sangat tinggi. Kenaikan harga BBM yang akan mendorong kenaikan harga bahan-bahan pokok lainnya

dinilai akan semakin menekan rakyat yang selama ini pun sudah susah.



Protes-protes jalanan menentang kebijakan

pemerintah adalah pemandangan yang sangat langka di Myanmar. Keberanian rakyat Myanmar untuk melancarkan demonstrasi

terus-menerus ini mencerminkan kemarahan yang mendalam dan kesulitan ekonomi yang semakin menjerat rakyat

kecil.



Biksu memainkan peran kunci dalam gerakan protes yang mulai semarak sejak bulan lalu. Para jenderal Myanmar

sebetulnya tidak pernah mentolerir sedikit pun protes masyarakat. Tetapi junta militer tidak berani gegabah memberangus mereka.

Aparat keamanan yang mengenakan pakaian sipil tidak berani membubarkan aksi.



Sejak protes berlangsung bulan lalu

sudah 150 pengunjuk rasa ditangkap.



Jenderal-jenderal tidak berani menindak para biksu karena masyarakat bisa marah

dan berbalik menyerang pemerintah. Pengalaman menunjukkan, kaum biksu berperan besar membantu protes prodemokrasi besar-besaran

tahun 1988.



Apalagi dua pekan lalu, ketika beberapa tentara memukuli biksu-biksu yang berdemonstrasi di Pakokku, tak

jauh dari Mandalay, aksi itu dibalas. Biksu-biksu muda melawan dengan menyandera sejumlah tentara. [AFP/BBC/AP/ Y-2]

dilihat : 222 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution