Sabtu, 07 Desember 2019 21:30:34 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 3
Total pengunjung : 520268
Hits hari ini : 3233
Total hits : 5140985
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Bunuh Diri Dan Dimensi Waktu Agama






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 30 Juni 2007 00:00:00
Bunuh Diri Dan Dimensi Waktu Agama
Kisah pilu tentang ibu yang bunuh diri bersama empat anaknya di Malang di awal

bulan ini sungguh membuat kita miris. Tekanan beban hidup yang sangat berat karena jauh dari suami dan rutinitas mengasuh empat

anak serta ditambah beban ekonomi yang tinggi membuat Ny Junania Mercy memilih jalan pintas mengakhiri hidup secara tragis.

Diberitakan di berbagai media massa, kondisi kesehatan putra ketiganya, Hendrison terus membebani pikirannya. Anak itu

menderita kelainan darah sehingga harus menjalani perawatan rutin di rumah sakit dengan biaya yang tidak

sedikit.



Kisah ini menjadi lebih dramatis saat beberapa barang bukti seperti kapsul, potas, surat wasiat dan pesan

singkat (SMS) untuk sang suami ditemukan. Juga respon orang-tua, kerabat dan tetangga yang tidak menduga kejadian ini. Berbagai

respon lantas bermunculan, seperti juga esai ini hendak “membaca” kasus ini dari sudut yang berbeda.



Sepenggal drama

kehidu-pan ini memaksa kita berkubang dalam banyak pemikiran. Mengapa bunuh diri menjadi pilihan terakhir bagi korban untuk

keluar dari masalah?. Jika keputusan ini melewati proses yang panjang dalam suasana depresi yang mahadahsyat, dimana peran

orangtua, kerabat dan para tetangga dalam proses itu? Jika ini adalah sebuah fenomena hidup, apa yang sebenarnya sedang terjadi

dengan masyarakat kita? Lalu, apa kaitan antara kasus ini dan dimensi waktu agama?



Dimensi Waktu

Agama



Setiap agama selalu mempunyai dimensi waktu yang panjang, jauh melewati waktu manusiawi yang dibatasi oleh

kematian. Titik akhir dari dimensi waktu itu adalah harapan. Dengan beragama berarti manusia berharap akan sesuatu. Kita

mengenalnya dengan istilah “kehidupan kekal dalam Kerajaan Allah”.



Sementara dimensi waktu manusia beragam. Ada yang

orientasi hidupnya pendek (sehingga muncul idiom carpe diem “rebutlah atau cecapilah hari ini”), namun ada juga yang terlalu

utopis sehingga sering merasa kesepian di tengah “hiruk-pikuk masyarakat”.



Sifat pertama dari dimensi waktu agama

yang panjang itu adalah optimis terhadap hidup. Seberat apapun beban hidup kita, agama menjanjikan ada “secercah cahaya di

ujung sana” yang membuat segala sesuatu indah pada akhirnya.



Panjangnya dimensi waktu itu memungkinkan agama sangat

percaya pada proses, bukan pada hasil. Hal itu (seharusnya) bisa membuat manusia menjadi “lebih sabar, tidak tergesa-gesa” dan

tidak pragmatis. Jaminan agama adalah janji eskatologisnya. Maka, optimisme agama seharusnya bisa menjadi pendorong (dan

pelengkap) setiap usaha manusia dalam menjawab tantangan jaman.



Disinilah peran agama yang aktif menjadi penting.

Sifat aktif agama (selain berupa ajaran dan doktrin) bisa berupa pengarahan dan petunjuk-petunjuk yang membuat manusia semakin

matang dan berani menatap masa depan. Sebaliknya, agama yang pasif cenderung reaktif dan akhirnya malah membuat banyak hukuman,

larangan dan bahkan ancaman yang justru menjerumuskan manusia pada orientasi hidup yang pendek.



Agama di era

globalisasi adalah agama yang “sedang ditantang” untuk mem-buktikan bahwa ia dicipta-kan untuk melakukan peru-bahan seiring

dengan berkembangnya peradaban manusia. Agama juga ditantang untuk membuktikan bahwa ia diciptakan untuk membantu manusia

memecahkan masalah-masalahnya.



Agama jaman sekarang harus up to date, kontekstual dengan masalah kongkret di

masyarakat seperti kemiskinan, pengangguran, wabah penyakit, kejahatan dan lain sebagainya. Agama yang tidak up to date hanya

akan menyeret umatnya pada ilusi-ilusi dan janji-janji surgawi yang pada akhirnya membuat manusia tercerabut dari hidup

sosialnya.



Masa prapaskah (masa puasa, pantang dan mati-raga) kiranya menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan

kembali perspektif waktu yang kita miliki serta sikap beragama yang perlu dikembangkan.



Sumber :

http://yudhitc.wordpress.com/tag/kumpulan-esai-ku/08-maret-2007/

dilihat : 452 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution