Rabu, 18 Juli 2018 13:34:53 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 136
Total pengunjung : 406530
Hits hari ini : 902
Total hits : 3705983
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kisahnya Atau Inti Pengajarannya?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 06 Juli 2007 00:00:00
Kisahnya Atau Inti Pengajarannya?

Mengapa rela setiap hari mengikuti serial

TV? Atau kaum Ibu menjadi akrab hanya karena kegemaran yang sama pada sebuah Sinetron. Mengapa cimena, entah yang fiksi,

triller, bahkan visualisasi tanpa rupa dengan bumbu action dan cenderung mistik ditunggu premire-nya? Juga buku-buku cerita

sejarah, novel, chicklit, biografi, kisah nyata, tetap laris di pasar?



Ada sesuatu yang sama. Orang menyukai

cerita, rangkaian alur peristiwa, entah yang nyata maupun yang diolah sepertinya nyata. Orang begitu mudah bercerita suatu

kejadian. Narasi kehidupan entah yang menyayat hati maupun yang heroik adalah ladang ekplorasi yang senantiasa menggugah orang

untuk menyelaminya, walaupun tidak jarang juga meninabobokan.



Namun, sepertihalnya menonton cerita Sinetron, atau

membaca sebuah Novel, banyak orang hanya mengenal alur ceritanya. Orang hanya mengenal kisah-kisah kehidupan entah yang

dibungkus potongan episode, bab, ataupun frame sebuah cinema. Belum banyak yang terkesan pada isi kata-kata yang diucapkannya.

Tidak banyak yang mengenal isi dialognya dibandingkan dengan alur ceritanya.



Kisah heroik Brotosena, sang Bima

yang perkasa, menumpas dua raksasa penunggu pegunungan Reksa Muko dan ular naga penguasah samudera, saat dia mencari ’air

kehidupan’, begitu mudah melekat, dibandingkan apa yang dialogkannya mengenai arti kasayektenan urip, dengan dirinya sendiri

melalui wujud Dewa Ruci yang kerdil.



Orang lebih cepat mengenal epos Mahabarata dan Ramayana, dibandingkan dialog

Arjuna dan Kresna yang disarikan dalam Bagawad Githa. Juga kisah Sidartha Gautama yang melakukan revolusi diri dari seorang

pangeran menjadi seorang Budha, dibandingkan wejangannya mengenai 4 pokok ajaran kebenaran dan 8 cabang cara mencapainya.





Juga, begitu banyak orang tersinggung dengan kemunculan Da Vinci Code yang mengkisah Yesus beristrikan Maria

Magdalena. Atau begitu banyak orang berdebat mengenai kisah misteri kain kafan Yesus dan kisah-kisah mengenai penemuan tempat

tinggal dan makam keluarga Yesus, dibandingkan bagaimana dialog pengajaran mengenai kasih, mengenai kesetiaan, mengenai

penderitaan dan pelayanan.



Lebih parahnya lagi, alur kisah ini oleh sebagian orang sering disejajarkan menjadi

kebenaran. Kisah dan cerita sejarah dipahami sebagai ajaran, dogma, dan teologis. Sehingga hanya karena perbedaan interpretasi

mengenai kisah, sejarah, orang bisa saling bermusuhan.



Kalau ini yang terjadi, ironis, mengapa kita mesti

bermusuhan hanya karena mendiskusikan kelanjutan cerita mengenai sinetron. Mengapa kita tidak santai saja membaca dan menikmati

suatu alur cerita, karena bagaimanapun alur ceritanya, yang terpenting adalah apa yang disampaikannya. Apa yang menjadi inti

pengajaran kawruh-nya.



Banyak orang lebih mengenal dedeg, penampilan, perbuatan, dan atribut seseorang dibandingkan

apa yang menjadi buah rasa, buah pikir yang dibabarkan melalui kata-katanya. Fenemona inilah yang menghambat proses ngunduh

kawruh. Banyak orang terjebak pada kisahnya, bukan pada esensi hasil olah cipta, olah pikir, dan olah

rasa-nya.



Sumber : http://pondokpersinggahan.wordpress.com/2007/07/06/kisahnya-atau-inti-pengajarannya/

dilihat : 295 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution