Senin, 17 Desember 2018 09:50:26 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 124
Total pengunjung : 451290
Hits hari ini : 1102
Total hits : 4156426
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Setahun Pascagempa, Ibadah Masih di Bawah Tenda






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 02 Juli 2007 00:00:00
Setahun Pascagempa, Ibadah Masih di Bawah Tenda
Gereja di Pesu, Klaten



Setahun Pascagempa, Ibadah Masih

di Bawah Tenda



Oleh : Purnawan Kristanto



Angin semilir dari persawahan mengembusi jemaat Kristen di Desa

Pesu, Wedi, Klaten. Sudah lebih dari setahun mereka beribadah di bawah tenda darurat. Gedung gereja mereka roboh digoyang

gempa, tanggal 27 Mei 2007. Hingga kini, izin untuk membangun gedung gereja belum dikeluarkan oleh pemerintah Kabupaten Klaten.

Desa Pesu termasuk di dalam wilayah kerusakan terparah akibat gempa di Kabupaten Klaten. Di desa ini saja, ada 36 orang yang

meninggal dunia dan ratusan luka-luka parah. Lebih dari 90 persen rumah roboh atau harus dirobohkan karena rusak parah.





Sumanto (52 tahun) dan keluarganya merasa beruntung tidak menjadi korban gempa. Saat itu istrinya sedang tergolek lemah

di rumah usai menjalani operasi batu ginjal. Ketika goncangan terjadi, Sumanto harus memilih antara menyelamatkan diri atau

menemani istrinya, sementara putri bungsunya, Oki Devi (14 tahun) sedang memberi makan ayam di luar rumah.



"Saya

memanggil Oki masuk ke dalam kamar," kenang Sumanto. Pikirnya, jika memang harus mati, biarlah mereka mati bersama-sama. "Tanah

bergoyang-goyang keras sekali. Kami bertiga hanya bisa berdoa sekuat tenaga, 'Tuhan jika Engkau berkehendak memanggil kami

saat ini, kami sudah siap. Tapi kalau boleh, selamatkanlah kami." Lalu terdengar gemuruh bangunan-bangunan yang

roboh.



Rumah Sumanto tidak roboh, tapi retak-retak parah. Begitu goncangan berhenti, Sumanto bergegas membopong

istrinya keluar dan membaringkannya di bawah pohon. Setelah itu, ia membantu tetangga-tetanggany a yang terjepit balok kayu dan

potongan tembok. "Saya ikut menggendong para korban ke pinggir jalan supaya bisa diangkut ke rumah sakit," papar tukang kayu

ini. Menjelang siang, warga berkumpul di sebidang tanah kosong. Mereka masih terkesima dan belum tahu harus berbuat apa.

Sumanto lantas mengambil inisiatif membuka dapur umum.



Dia mengumpulkan bahan makanan yang tersisa dan dimasak

untuk makan siang. Pukul satu siang, untunglah bantuan dari Gerakan Kemanusiaan Indonesia yang berbasis di Gereja Kristen

Indonesia (GKI) Klaten menyalurkan bantuan logistik, tenda, dan lampu.



Gereja Roboh



Gereja GKI Klaten

bakal jemaat Pesu, tempat Sumanto beribadah juga roboh, tapi setelah puing-puing dibersihkan, keesokan hari sudah dapat dipakai

untuk kebaktian hari Minggu. Suasana ibadah sangat mengharukan karena jemaat beribadah dengan hanya beralaskan tikar dan

beratap langit. Di luar hari Minggu, lokasi gereja itu digunakan sebagai klinik kesehatan darurat dan posko penyaluran

logistik.



Pihak gereja memutuskan tidak akan buru-buru membangun kembali gedung gereja yang roboh. Dana bantuan yang

mengalir melalui gereja digunakan untuk membantu warga sekitar membangun kembali rumah-rumah yang roboh dan rusak parah.





Memanfaatkan sisa-sisa bangunan gereja, warga bersama-sama membangun rumah inti (core house) berukuran 21 m2.

Hingga bulan Juni 2007, gereja kini sudah membangun lebih dari 1.600 rumah inti.



Sumanto juga mendapatkan bantuan

untuk memperbaiki rumahnya. Meskipun tidak roboh, tapi akhirnya rumah harus dirobohkan juga karena tidak memenuhi syarat

keamanan. "Selama setahun saya tidak bisa bekerja. Saya harus membangun rumah kami lagi," kata ayah tiga anak perempuan ini.

Lalu dari mana ia mendapatkan uang? "Saya mengandalkan bantuan dari pemerintah, dermawan, dan kiriman anak saya yang bekerja di

Malaysia. Saya juga pinjam uang dari sana-sini," kata Sumanto. "Saya yakin ini adalah campur tangan dari Tuhan. Kalau bukan

karya Tuhan, mana mungkin ada orang yang mau memberi pinjaman kepada pengangguran, " jelas Sumanto dengan suara bergetar.

Sekarang Sumanto sudah bisa bekerja lagi sebagai tukang kayu. Dia mendapat pesanan membuat daun pintu dari

kayu.



Menunggu Izin



Setelah tidak ada warga sekitar yang masih tinggal di bawah tenda, gereja memutuskan

saatnya membangun gedung gereja kembali. Bulan Oktober 2007, mereka mengajukan izin ke pemerintah kabupaten disertai syarat

lengkap, seperti dalam ketentuan peraturan. Namun pada saat yang sama, ada sebagian warga yang menentang keberadaan gereja.

Akibatnya, izin itu belum dikeluarkan sampai sekarang. Berlarut-larutnya pemberian izin ini sangat disesalkan Sumanto. "Setiap

orang kan punya hak untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing, " kata Sumanto.



Dia juga menyesalkan sikap warga

yang menentang gereja. "Mereka mau menerima bantuan dari gereja, tapi mengapa mereka tidak mau mengizinkan kami beribadah di

tempat yang layak?"sesal Sumanto. Meski begitu, dia bersyukur karena masih bisa beribadah, walau di tenda darurat. "Yang

beribadah itu kan jiwa dan rohnya. Gereja bukanlah gedungnya," katanya sambil mengutip lagu Sekolah Minggu.





Persoalan izin ini disampaikan kepada Sunarno, Bupati Klaten dalam acara peresmian rumah ke-1.000 yang dibangun GKI

Klaten dan GenAssist (Senin, 28/5). Sekitar dua minggu kemudian (13/6), Tim Duabelas yang terdiri dari berbagai instansi

terkait di Pemerintah Kabupaten Klaten, mengecek langsung ke lapangan.



Hasilnya, mereka memutuskan bahwa perizinan

ini harus diulang dari awal lagi. Alasannya, Kepala Desa Pesu saat ini adalah pejabat baru, sehingga tidak mengetahui proses

perizinan ini sebelumnya. Sebuah alasan yang tidak masuk akal karena kepala desa yang digantikannya sebenarnya telah memberikan

persetujuan.



Tampaknya, Sumanto dan lebih dari 100 orang Kristen lainnya masih harus beribadah di bawah tenda

darurat.



Penulis adalah warga Desa Pesu, Wedi, Klaten, Jawa Tengah.



Sumber :

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/30/opi03. html

dilihat : 240 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution