Rabu, 19 Desember 2018 14:33:34 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 239
Total pengunjung : 452009
Hits hari ini : 1747
Total hits : 4162254
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Lagi, Makam Yesus






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 03 Juni 2007 00:00:00
Lagi, Makam Yesus
Baru-baru ini di situs http://www.discovery.com/ ditampilkan penemuan

situs makam Yesus dan Keluarga Kudus. Penemuan itu tepatnya di Yerusalem. Majalah Haarlems Dagblad, terbitan tanggal 23

Februari 2007 lalu menginformasikan lebih jelas. Terbitan itu memuat laporan seorang pembuat film dokumenter asal Kanada. Dalam

jumpa pers ia berkeyakinan telah menemukan kuburan dari Yesus asal Nasareth. Ia meyakinkan bahwa penyelidikan tersebut telah

memakan waktu yang cukup lama. Penyelidikan itu bahkan dilakukan oleh tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu, diantaranya

para arkeolog, ahli sejarah, pakar tulisan kuno dan spesialis DNA.



Dalam laporan penelitian dikatakan, kuburan yang

ditemukan tersebut berada di Talpiot, yang masih dalam wilayah Yerusalem. Didalam gua kecil yang dipercaya sebagai kuburan

tersebut, team peneliti menemukan 10 sisa - sisa dari peti mati. Dimana tertulis nama-nama diatas sisa-sisa peti tersebut.

Nama-nama yang ditemukan, diantaranya: Yesus, anak Yosef, Yudah, anak Yesus dan dua kali nama Maria, yang dimaksud adalah Maria

Magdalena, dan Maria ibu Yesus. Tak heran, penemuan menghebohkan ini segera menjadi headline harian nasional Israel, Yediot

Ahronot.



Aneka Reaksi

Entah sampai kapan, Gereja harus menghadapi aneka kontroversi. Sejak dulu selalu ada

kontoversi, jauh sebelum heboh buku The Da Vinci Code karya Dan Brown. Kontoversi teori tentang Yudas sebagai pembuka jalan

bagi Yesus menuju kebangkitan yang menyelamatkan yang muncul tahun 2006 lalu, hingga kini penemuan makan

Yesus.



Sebenarnya penemuan gua sebagai makan Yesus bukanlah hal yang baru. Gua tersebut telah ditemukan pada tahun

1980. Sejak saat itu dilakukan penyelidikan terus- menerus. Hasilnya adalah film dokumenter berjudul The Burial Cave Of Jezus

yang dirilis sebagai kerjasama dari Simcha Jacobovici (pemuat film asal Kanada tetapi berdarah Israel), dan James Cameron

(pemenang tiga piala Oscar, dan pembuat film Titanic dan The Terminator). Film dokumenter ini, rencananya dalam waktu dekat

akan ditayangkan di World Discovery Channel. Di Minggu bulan Maret 2007, tepat di masa menjelang peringatan Paskah, akan

dilaksanakan konferensi pers di New York. Bukan tidak mungkin waktu yang tepat dan isu yang menarik, justru akan membuat film

tersebut makin laris.



Namun, Amos Kloner, arkeolog asal Israel yang juga terlibat langsung dalam team penelitian gua

tua tersebut justru berkomentar, "Memang, tampaknya seperti cerita yang bagus. Tetapi untuk menyebut bahwa penemuan itu sebagai

makan Yesus, bukti-bukti yang ada amatlah sedikit". Karena menurutnya, nama-nama yang ditemukan dalam peti tersebut sudah bukan

hal yang istimewa. Sejak 2000 tahun yang lalu, sudah hal yang biasa memberikan nama-nama tersebut bagi orang-orang Yahudi,

katanya kepada majalah Haarlems Dagblad. Sementara Paul Verhoeven, sutradara flm asal Belanda, yang juga bekerja di Hollywood

mengatakan, “Memang indah untuk menikmati khayalan seperti itu".



Teori Dan Iman Gereja

Harus diakui, Injil

memuat pewartaan mengenai Sabda dan Karya Yesus, yang dapat disebut semacam riwayat hidup Yesus. Injil memuat pula informasi

yang ada kaitannya dengan segi kesejarahan tentang kelahiranNya, tentang pewartaanNya, termasuk juga tentang sengsara, wafat

dan yang paling penting, tentang kebangkitan-Nya.



Ada banyak sekali hal, yang dalam Injil hanya dikemukakan secara

sangat samar-samar, karena maksud Injil ditulis memang pertama-tama bukan sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai pewartaan.

Misalnya maksud Injil Yohanes ditulis dalam Yoh 20:30 "Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata

murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya,

bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya".



Berkaitan dengan

kesejarahan Injil pada khususnya dan Kitab Suci pada umumnya, sikap Gereja jelas. Dei Verbum, No. 19. menyebutkan kesejarahan

memang penting sekali. Sebab jika tidak, iman kepercayaan kita akan menjadi seperti apa yang dikemukakan Petrus atau Paulus:

yakni iman yang hanya didasarkan atas isapan jempol (Bdk., 2 Ptr 1:16) atau pada dongeng nenek-nenek tua (Bdk., 1Tim 4:7).

Data-data sejarah yang termasuk (karena tidak dimaksudkan sebagai tujuan pertama dan utama) dalam pewartaan sabda dan karya

Yesus (terutama dalam Injil-injil), banyak sekali yang kemudian dijadikan obyek dan pintu masuk penelitian para ahli, di masa

kini.



Tentu karena memenuhi rasa ingin tahu dan mencari kebenaran sejarah. Misalnya, sebagaimana pertanyaan yang

selalu menginspirasi para ahli semacam tentang bintang ang tampak pada saat kelahiran Yesus. Apakah itu ? Komet ? Atau meteor ?

Lalu mereka mulai menyelidiki, entah berdasarkan perhitungan astronomis dapat diidentifikasikan adanya lintasan suatu badan

angkasa yang begitu mendekati bumi pada waktu itu. Kapan waktu itu ? Pada masa pemerintahan Kaisar Agustus (Bdk., Luk 2:1).

Kapan persisnya? Pada waktu Kireneus menjabat Wali Negeri di Syria (Bdk., Luk 2:2) dan berbagai pertanyaan kritis dan detil

lainnya. Pada akhirnya para ahli berteori atau berhipotesa bahwa bintang yang nampak terang benderang pada waktu Yesus lahir

itu adalah Comet Halley, atau teori dan hipotesa lainnya, yang beraneka.



Begitu juga tentang tempat Yesus

dilahirkan, yang rupanya pasti tidak di suatu rumah (Bdk Luk 2:7), tetapi di sebuah tempat tinggal binatang, karena Ia

dibaringkan di palungan. Karena pada waktu itu para gembala biasa berteduh bersama ternaknya di gua-gua, maka dicarilah gua di

sekitar Bethlehem yang berdasarkan data-data lain. Juga didukung dengan data dari tradisi lisan maupun tradisi tulisan, yang

mungkin menjadi petunjuk tempat kelahiran Yesus. Maka orang sampai pada teori dan hipotesa tentang salah satu gua di sana:

inilah tempat Yesus dilahirkan. Biasanya, kalau sudah ada teori atau hipotesa sedemikian, apalagi kalau itu sangat mungkin, dan

tidak ada argumen atau bukti sebaliknya yang melawannya, orang menerimanya. Tetapi sebagai teori dan hipotesa, bukan sebagai

kepastian yang tak dapat diganggu-gugat.



Begitulah yang terjadi tentang makam Yesus. Kitab Suci memberikan

informasi, bahwa Yesus wafat (Bdk., Mat 27:50; Mrk 15:37; Luk 23:46;Yoh 19:30.33-34). Ia dikuburkan (Bdk., Mat 27:59-60; Mrk

15:46; Luk 23:53; Yoh 19:42). Sekarang di Yerusalem ada suatu tempat yang dipercaya sebagai kubur Yesus (tempatnya ada di dalam

Gereja Makam Yesus) yang menjadi tempat peziarahan terkenal. Pastilah tempat tersebut sejak tahun-tahun pertama kekristenan

diteorikan dan dihipotesekan sebagai kubur Yesus dan diterima sebagai yang paling mungkin dan masuk akal.



Teori dan

hipotese tersebut tak menjadi masalah. Namun, apakah itu memang makam tempat jenazah Yesus dulu pernah dibaringkan ? Tidak ada

seorangpun yang bisa memastikannya. Oleh karena itu pencarian kepastian inilah yang diharapkan bisa diperoleh dan boleh tetap

berjalan terus. Berbagai penemuan pernah dilaporkan, tentu saja dengan berbagai bukti yang konon tidak bisa dibantah lagi.

Namun muncul juga banyak sanggahan dan keberatan terhadap teori atau hipotesa itu. Dan omong kosong sajalah penemuan baru

dengan bukti dan data-data itu.



Sekalipun banyak teori, hipotesa, penemuan dan bukti-bukti baru yang muncul, sikap

resmi Gereja terkesan tidak terlalu pusing. Karena pada akhirnya aneka penemuan baru tidak mengubah iman kepercayaan kepada

Yesus, kebangkitanNya dan lain-lain. Memang harus diwaspadai, justru pokok iman inilah yang sering dijadikan sasaran akhir dari

aneka teori, hipotesa, penemuan dan bukti-bukti baru.



Penemuan makam Yesus dijadikan alasan, misalnya, untuk menolak

percaya kepada Yesus, menolak kebangkitanNya, ke-Allah-anNya dan lain sebagainya. Karena, ada orang yang memang berusaha untuk

mematahkan iman kepercayaan kepada Yesus itu. Jalan pikirannya sederhana, jika bisa menemukan makam Yesus dan di sana ditemukan

tulang-tulang, maka Yesus tidak bangkit, bukan Allah dan seterusnya. Tak jarang, argumen menentang iman ini disertai dengan

kutipan dari Injil supaya lebih meyakinkan. Misalnya memakai kutipan Injil tentang Yesus yang bangkit hanya diberitakan bahwa

makamNya kosong (Bdk., Mat 28; Mrk 16; Luk 24; Yoh 20). Data makam kosong pun dapat menjadi alasan orang berteori dan

berhipotesa bahwa Yesus tidak dikuburkan di situ atau Yesus tidak mati, tidak bangkit, maka Yesus bukan Allah dan lain

sebagainya.



Teori, hipotesa, penemuan dan bukti-bukti baru yang muncul sekali lagi tidak perlu memusingkan dan

mengubah iman Gereja. Sekalipun banyak teori, hipotesa, penemuan dan bukti-bukti baru selalu ada muncul argumen penentangnya

dengan teori, hipotesa, penemuan dan bukti-bukti pula.



Harus diakui, dalam sejarah Gereja berabad-abad lamanya,

Gereja sudah biasa mendapat berbagai pendapat yang seolah-olah memojokkan dan menyulitkan Gereja. Di era yang sangat modern

maka, siapapun, lewat cara apapun dapat mengajukan teori, hipotesa, penemuan dan bukti-bukti baru. Juga dengan bumbu

sensasional. Namun Gereja tak mungkin dan tak perlu menanggapi semuanya. Gereja juga menghargai kebebasan berpendapat. Jika

terbukti secara meyakinkan bahwa tori, hipotesa, penemuan dan bukti-bukti baru, dalam hal ini tentang makam itu benar makam

Yesus, tetaplah bukan sebuah argumen yang melawan iman Gereja. Iman Gereja adalah satu keyakinan dan yang terpenting, Yesus

telah bangkit. Selamat Paskah 2007. (http://lulukwidyawanpr.blogspot.com/ A. Luluk Widyawan, Pr, imam praja Keuskupan Surabaya,

tinggal di Ponorogo)

dilihat : 370 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution