Rabu, 17 Juli 2019 20:01:24 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520045
Hits hari ini : 2172
Total hits : 4812587
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Setelah Cap Pembangkang Dilekatkan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 20 Januari 2007 00:00:00
Setelah Cap Pembangkang Dilekatkan
Setelah Cap Pembangkang Dilekatkan



Pemeluk Parmalim

susah memperoleh akta perkawinan dan akta kelahiran. Membangun rumah ibadah pun tak bisa.



Diperlakukan kurang adil

bukan cerita baru bagi Jaya Damanik, 39 tahun. Sejak duduk di bangku sekolah dasar di kampung halamannya di Sidamanik,

Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, ia bingung tiap kali harus mengikuti pelajaran agama.



Mayoritas teman di

kelasnya meng-ikuti pelajaran agama Kristen. Lanta-ran tak menganut Kristen, bersama beberapa anak lain—yang biasanya beragama

Islam—ia keluar kelas. Me-re-ka kemudian dikumpulkan untuk mengikuti pelajaran agama Islam.



Persoalannya, Jaya pun

bukan peng-anut Islam. Ia pemeluk Parmalim, kepercayaan kuno suku Batak di Tapa-nuli, Sumatera Utara. Kepercaya-an itu tak

diajarkan di sekolah dan tak diakui negara. Akibatnya, pengalam-an serupa terus ia rasakan sampai di bangku

kuliah.



Kesulitan Jaya berlanjut saat ia me-mi-nang gadis pujaannya, Herta Si-manjuntak, tujuh tahun silam. Kantor

ca-tatan sipil Toba Samosir tak mau me-nerbitkan akta pernikahan. Ketika dua anaknya lahir, ”Mereka juga tak mem-peroleh akta

kelahiran,” ujarnya. Bun-tutnya, semua anggota keluarga guru Sekolah Menengah Pertama 44 Medan, Sumatera Utara, itu tak

men-dapat tunjangan dari instansinya.



Peng-anut Parmalim memperca-yai -Tu-han Yang Masa Esa yang me-re-ka sebut

Mulajadi Nabolon. Salah sa-tu ka-rak-ter mereka yang menonjol ada-lah memen-tingkan kearifan lokal. Pa-da saat menebang pohon,

misalnya, pene-bang harus berusaha agar pohon ja-ngan sampai menimpa anak pohon lain.



Bila penebang tak mampu

meme-nuhi persyaratan itu, ia harus diganti dengan orang lain. Saat me-metik umbi-umbian yang menjalar, peng-anut Parmalim tak

bisa melakukan ba-bat habis. Tunas mesti disisakan agar ta-naman bisa tumbuh kembali.



Kearifan juga tecermin saat

mereka- me-ngerjakan suatu hal, karena peng-anut Parmalim mengenal istilah parso-lamo alias pembatasan. Tingkat kedewasaan

seseorang dinilai dari seberapa besar ia bisa membatasi diri. Dalam meng-konsumsi makanan, contohnya, peng-anut Parmalim

dilarang makan ba-bi, anjing, darah, dan barang curian.



Para penghayat Parmalim mulai ter-desak ketika penjajah

Belanda masuk ke pedalaman Tapanuli sambil memba-wa agama Nasrani. Menurut Sekreta-ris Penghayat Kepercayaan Parmalim, Mo-nang

Naipospos, saat itu Imam Par-ma-lim, Si Singamangaraja, menyerukan perlawanan teologis terhadap zend-ing, sekaligus perlawanan

politik me-nentang penjajahan Belanda di tanah Batak.



Tak ayal, Belanda melakukan segala cara untuk menyingkirkan

mere-ka. Dari penciptaan stigma sebagai kaum pembangkang, penganut paganisme, hingga kanibalisme. Para pemeluk Parmalim diburu,

dan upacara keagamaan mereka dilarang. Perlahan-lahan jumlah pemeluk Parmalim pun menyusut. Banyak penganutnya masuk agama

Nasrani atau Islam.



Namun, Parmalim tak benar-benar habis. Ketua Parmalim Kota Madya Medan, Maruli Hamonangan

Sirait, menyebut kini masih ada sekitar 5.000 keluarga penghayat tersebar di seluruh Indonesia. Di Toba Samosir, daerah pusat

Parmalim, masih terdapat sekitar 1.000 keluarga. Adapun di Huta Tinggi, pusat ibadah mereka, ada 10 keluarga pemeluk Parmalim.





Mereka terus mempertahankan ke-per-cayaannya, meski terus didera ber-ba-gai kesulitan beribadah dan diskri-mi-nasi

oleh birokrasi pemerintah. ”Hing-ga kini penganut Parmalim su-sah mendapatkan akta pernikahan dan akta kelahiran,” ujar Monang,

yang juga cucu bungsu Raja Mulia Nai-pos-pos, pemimpin Parmalim pasca-Si Singamangaraja. Berbagai urusan administrasi pun

terhambat gara-gara ada kolom agama yang harus diisi.



Bahkan rumah ibadah tak bisa mere-ka dirikan. Rencana

pembangunan Ru-mah Persaktian Parmalim di kawasan Air Bersih, Medan, kini terbengkalai akibat penolakan warga. ”Kami sa-ngat

memerlukan tempat pertemuan ka-rena tempat yang ada selama ini sudah tak bisa menampung kami,” ujar Ma-ruli.





Seorang warga yang rumahnya tepat di sebelah tanah tempat akan di-ba-ngun Rumah Persaktian menyatakan me-nolak

rencana itu karena penghayat Parmalim tak melaksanakan peraturan Huria Kristen Batak Protestan. Ia juga khawatir warga akan

terpengaruh ajaran Parmalim. ”Kekhawatiran yang berlebihan,” kata Maruli.



Wakil Bupati Toba Samosir, Mindo Tua

Siagian, mengaku telah berusaha mem-bantu pemeluk Parmalim. ”Ha-nya, kita terbentur aturan dari Jakarta,” ujarnya. Tapi, sikap

bersembunyi di balik kebijakan Jakarta itu dikritik Maruli dan Monang. Dalam surat ke Bupati Toba Samosir, mereka menu-lis,

”Kami belum merdeka.”



Sumber: Tempo Edisi. 25/XXXV/14 - 20 Agustus 2006

dilihat : 439 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution