Kamis, 20 September 2018 18:30:00 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 176
Total pengunjung : 421855
Hits hari ini : 1401
Total hits : 3882989
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kristen dalam Tantangan Kebenaran Agama-agama






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 13 Januari 2007 00:00:00
Kristen dalam Tantangan Kebenaran Agama-agama
Kristen dalam Tantangan Kebenaran Agama-agama



Disarikan dari bagian buku Hans Kueng, "Theology forthe

Third Milenium" oleh Martin Lukito Sinaga



Kebenaran agama adalah bagian yang penting dari setiap agama yang hidup di

dunia ini, malah dengannya agama itu bertahan, bertumbuh dan mempesona begitu banyak manusia. Namun dengan “kebenaran” itu

pulalah konflik antar agama terjadi, sehingga pertanyaan kita (dhi. Kristen) kini: Apakah ada jalan bagi orang Kristen untuk

menerima kebenaran dari agama lain, tanpa menanggalkan kebenaran agamanya sendiri, suatu jalan yang dapat dipertanggungjawabk

an secara teologis (dan filosofis)?





Akan ditunjukkan sejumlah jalan dibawah ini:



1. Penyelesaian

Praktis



Ada cerita dari Lessing, berjudul Nathan yang Bijak: Seorang ayah memiliki cincin yang ajaib, dan yang

mengenakannya akan dihasihi Allah maupun manusia. Sang ayah ingin mewariskannya kepada anak-anaknya: namun ia memiliki 3 orang

anak. Siapakah yang menjadi ahli waris? Lalu ia menyuruh pandai besi membuat 2 cincin lagi yang sama persis, dan masing-masing

anak diberinya sebuah cincin.



Setelah sang ayah meninggal, muncullah pertengkaran diantara ketiga anak itu tentang

yang mana yang memiliki cincin asli. Lalu sang hakim pengadilan memutuskan kasusnya dengan mengatakan, “biarlah masing-masing

percaya bahwa dialah yang memiliki cincin yang asli. Berupayalah untuk hidup sedemikian rupa sehingga melalui cintakasih dan

kebaikan hatimu akan terbukti kepada semua orang kekuatan dari cincin yang kau miliki.”



Jadi: yang benar ialah yang

berfungsi, yang aktual. Tentu masalahnya, apakah kebenaran dapat disamakan dengan “kegunaan praktis?” Apakah agama yang sedikit

dipraktekkan berarti kurang benar/sejati? Bukankah selain aspek etis kebenaran, juga ada aspek “secara nalar demonstrable”

?



2. Sejumlah jalan (yang tidak sekedar Pragmatis) tentang kebenaran



A. Tidak ada agama yang

Benar



Ini adalah posisi kaum ateis, walau tentu kalau memang Allah (sumber kebenaran) tidak dapat dibuktikan, maka

kesia-siaan (mis. “nothingness”) juga tidak dapat dibuktikan. Padahal dalam kenyataannya, dalam agama selalu muncul sikap

"trust", sikap “YA” kepada dasar “ultimate” kenyataan; yang lebih memberi alasan/argumen untuk adanya Allah (dan kalau begitu,

Kebenaran).



B. Hanya ada satu agama yang Benar=Agama yang lain Tidak Benar.



Gereja dulu memiliki prinsip,

“extra ecclesiam nulla salus”, yang mau selamat harus menjadi anggota gereja! Namun secara mengejutkan pada Konsili Vatikan II

telah dibuka perspektif baru:

adanya kemungkinan keselamatan bagi semua orang, melalui anugerah Allah. Pendek kata, kalau

dulu yang dilakukan ialah “penginjilan”, kini menjadi studi-agama dan dialog.



Tentu ini tidak mudah, juga dalam

kalangan Protestan, yang mengerti diri selaku yang berdiri di tengah, tidak di ekstrim kanan dan di ekstrim kiri, (berbeda dari

aliran evangelical” yang masih anti-dialog) dalam menghendaki dan mengusahakan suatu pendekatan kepada agama-agama lain yang

lebih positif, lebih dialogis sifatnya. Dengan bertolak dari beberapa nats PB yang mengacu kepada pernyataan Allah di kalangan

bangsa-bangsa, aliran Protestan ini menyetujui adanya suatu ‘pernyataan umum’ (“General Revelation” – istilah Paul Tillich)

pada agama-agama lain



C. Semua agama Benar adanya



Posisi ini kurang realistis, sebab agama-agama yang ada

sedemikian berbeda-beda satu dengan lainnya; pun kaum mistikus yang mengatakan adanya pengalaman mutlak yang menjadi aspek

terdalam (esoteris dan perennial) harus dikritik dengan pertanyaan: Apakah ada pengalaman agama yang terisolasi pada dirinya

(in self), dan bebas dari penafsiran atau pun konteks penafsirannya (baca: kerangka agama-agama yang konkret dan historis)?

Bukankah posisi ini adalah bentuk ekstrim dari absolutisme yang dikritiknya, yaitu relativisme?



D. Ada satu Agama

yang Benar, Agama yang lain turut-serta di dalamnya.



Posisi ini sering disebut inklusif yang toleran, yang bagaimana

pun masih melihat kebenaran agama yang lain di bawah dirinya yang sempurna. Agama yang lain dilihat sebagai tahap pendahuluan

atau pun sebagai yang “partial” dari dirinya yang utama. Yang lain disebut “Kristen anonim”.



3. Menuju Kriteria

dan Penerimaan Kristiani akan Kebenaran Agama-agama Lain



Kalau begitu, sebagai suatu perspektif yang kini mulai

diterima, dapat ditegaskan bahwa sikap dasar Kristen terhadap agama lain bukan sebuah sikap yang serba menyamaratakan

(indifferentism) segala sesuatu, melainkan sikap yang kritis terhadap normativitas dirinya selaku ukuran kebenaran. Juga bukan

sikap relativisme yang beranggapan bahwa tidak ada yang mutlak, melainkan sikap yang lebih peka terhadap relativitas setiap

upaya manusia dalam merumuskan kebenarannya dan melihat aspek relasionalitas setiap kebenaran.



Selanjutnya, Adakah

kriteria untuk menerima kebenaran agama-agama lain? Kriteria itu dapat dibagi 2:



A. Dari Luar, sebagi pengamat

“netral” maka kebenaran agama-agama tampak dalam dimensi etis kemanusiaanya; jadi agama-agama dengan seluruh ibadah atau pun

doktrinya dihargai sebagai benar sejauh ia memajukan manusia di dalam identitas manusiawinya.



B. Dari Dalam,

artinya: bagaimanakah bisa dibenarkan (atau malah diperdalam) kriteria “luar” tadi dari sudut Kristiani? Sebab: saya harus

mendukung kriteria “luar” itu dari dalam, agar penghargaan atas kebenaran agama yang lain itu saya hayati sebagai bagian dari

iman saya! Dus,

mesti ada kriteria kristiani untuk menilai kebenaran agama-agama lain.



Jadi, dalam sudut

(kriteria) Kristen, kebenaran agama-agama lain diterima kalau juga tidak berlawanan dengan apa yang sungguh mendasar dalam

kekristenan, yaitu: Akibat perjumpaan dengan Yesus Nazaret maka kemanusiaan diungkapkan dalam solidaritas

radikalnya.



Yesus mendorong manusia berjalan pada solidaritas kasih, yang mempraktekkan pengampunan. Solidaritas ini

akan membuat ‘agama’ menjadi relatif di hadapan suara dan wajah manusia yang menderita, dan pergulatan kekuasaan dunia pun

menjadi relatif dihadapan perlunya perdamaian dan rekonsiliasi.



Agama-agama mana pun menjadi benar, diterima benar

oleh iman Kristen, dalam kriteria tadi, kriteria yang sifatnya kritis namun sekaligus humanis itu.



*Martin Lukito

Sinaga, Dosen STT Jakarta, pendeta Gereja Kristen Protestan Simalungun-GKPS

dilihat : 287 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution