Sabtu, 21 Juli 2018 12:39:49 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 78
Total pengunjung : 407304
Hits hari ini : 669
Total hits : 3713608
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Penantian !






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 07 Desember 2006 00:00:00
Penantian !
Penantian !



Dalam sebuah dialog di api unggun para

gembala di negeri catatan sejarah, para gembala berbincang-harap penuh kehati-hatian tentang sebuah selentingan lama yang

belakangan semakin sering ditutur katakan di padang gembala. Ungkapan masa kininya ‘nggosip’.



Sebetulnya topiknya

biasa saja, cuma tentang kemungkinan akan lahirnya seorang raja. Biasa saja. Bukankah kelahiran raja adalah sebuah hal yang

biasa-biasa saja ?



Bangsa para gembala itu sudahpun kenyang beraja-raja. Sedangkan kitab panduan hidup merekapun ada

yang namanya ‘Hikayat para Raja’. Entah apa pula sebab dan gunanya kitab para raja harus menjadi bagian dari hidup mereka,

bahkan sebahagian merekapun tiadalah mengerti.



Ada satu hal yang sudah mereka ketahui dengan pasti. Raja - yang

mana sekalipun - tetaplah perwujudan ‘aturan kepatuhan’ ! Entah raja itu lurus atau mencang-mencong, pada akhirnya tetaplah

menjadi raja yang menitahkan kepatuhan. Terutama apabila harus membayar pajak, upeti atau wajib berperang.



Nah,

itulah. Kalau sudah tiba pada hal yang wajib berperang, apalagi yang diharapkan dari seorang raja, selain titah ?. Sementara

sang raja menitahkan kewajiban bagi orang banyak untuk menyerahkan jiwa raga ? Tidak main-main !



Jiwa raga para

pahlawan yang perkasa maupun para lelaki harus untuk raja dan kebijakan raja. Ujung-ujungnya ya jiwa raga para anak, dan kaum

perempuan. Anak akan kehilangan ayah atau kakak abang, sementara para perempuan akan kehilangan mahkota hidupnya, komponen

keluarga.



Ya memang, soal hidup-mati juga jadinya.



Nah, itulah. Tapi raja yang sedang menjadi matra

perbincangan di padang para gembala ini, lain. Katanya, raja yang ini – kalau jadi lahir – adalah raja yang membebaskan. Raja

pembawa damai. Lain ‘kan ?.



Katanya lagi, yang ini adalah raja segala raja. Melebihi kehebatan raja mereka yang

sudah tercatat dalam sejarah itu-kah ?



Nah, itulah. Perbincangan para gembala itu akhirnya bisa menjadi hal yang

sangat peka. Saat itu sudah ada raja yang bertakhta dan ada putra mahkota. Atau setidaknya, saat itu ada penguasa sah yang

mendunia, yang masih memerintah. Jadi kalau ada lagi raja yang akan lahir – kalau jadi - ya tentu harus hati-hatilah

membicarakannya. Kalau bisa sebetulnya tidak usah diperbincangkanlah, berbahaya !



Tapi bagaimana pula tidak

diperbincangkan. Karena raja yang akan lahir ini – kalau jadi – menurut tuturannya adalah raja yang membebaskan, raja segala

raja pula. Apalagi dalam tutur-bincang itu – yang makin lama makin mendebarkan lagipula nikmat (seperti kenikmatan dan debaran

dosa juga) – katanya (entah ‘nya’ siapa-lah ) - adalah raja pembebas bagi mereka yang tertindas, mereka yang berduka-lara dan

mereka yang miskin. Raja damai pula.



Raja Damai !!.



Bukankah para gembala itu tertindas, berduka-lara

dan miskin ?. Bukankan para gembala itu sering berselisih-sengketa ?. Jangan-jangan raja yang akan lahir ini – kalau jadi –

adalah raja untuk mereka. Tapi dari mana jalannya, bagaimana bisa ?.



Nah, itulah. Mendebarkan sekali.





Di sebagian api unggun para gembala, mereka sepakat - meskipun mulanya tidak aklamasi - bahwa ini pastilah raja

mereka. Raja kita !, kata mereka. Ya, kalau ‘kita’ sebutannya, tidak mengapalah. Kita semua jadi aklamasi. Raja kita

ya.



Di api unggun yang lain terjadi silang pendapat. Raja kita ?. Bagaimana mungkin ?. Siapakah kita ini ?. Kita

cuma gembala domba-domba yang lemah lembut. Tak diperlukan raja bagi kita. Sudah ada raja di istana sana. Raja yang lemaknya

tebal, yang minum dari cawan emas. Raja yang dayang nikmatnya bertumpuk-tumpuk, dan yang dikawal siang dan malam. Kurang apa

lagi ?



Itulah raja yang memerintah dan menguasai harkat hidup kita !. Lagi pula apa guna kita berdamai, kalau

dombamu selalu menyerobot makanan dombaku ?. Janmgan berdalih-lah, kembalikan itu semua !. Nalar…, nalar !.



Ya,

tentu saja ada pendapat yang berbeda di samping pendapat yang sama. Namanya juga manusia. Itu namanya pro dan kontra. Tapi

sebagaimana masa kini, waktu itupun rupanya di padang para gembala ada juga penengah, juru runding, pemersatu

pendapat.



Arakian, setelah rombongan atau sang perunding bin si juru penengah berkeliling dari api unggun yang satu

ke yang lainnya, maka bulatlah pendapat para gembala bahwa memang hembusan berita ini layak dipegang, lagi pula memang sudah

tersurat. Bahwa akan lahir – kalau jadi – raja yang membebaskan, Raja segala raja !



Ada yang tahu samar-samar, ada

yang tahu dengan tegas pasti. Bagi para gembala – mereka yang tertindas, yang berduka lara dan yang miskin – boleh jadi inilah

juru selamat. Selain itu, berdebar-debar menunggu keselamatan juga ada nikmatnya. Mana lagi, yang ini akan disebut Juru

Selamat.



Amboi, Juru Selamat !. Indah nian ungkapan ini. Juru selamat !. Selamat. Selamat !Dari hari ke hari debaran

hati para pengghuni padang gembala semakin menikmatkan harapan mereka.





Di tempat dan waktu yang lain, di perhimpunan-perhimpunan para gembala juga, berlangsung pula tutur-bincang seperti di

padang gembala dari negeri catatan sejarah itu.

Yang dibicarakan masih seputar itu juga.



Ya, biasalah. Ada

persamaan manakala ada perbedaan. Baku, hakiki.



Para gembala di negeri catatan sejarah itu menggembalakan domba.

Domba yang setia loyal total kepada gembalanya, junjungan pelindungnya. Pelindungnya yang akan membelanya dari bahaya dan

mencarinya manakala tersesat.



Sedangkan para gembala dari tempat dan waktu yang lain itu, menggembalakan manusia,

umat, atau kelompok, bahkan negara. Dombanya mau tersesat, mau terjerumus, ya silahkan !. Urus yang penting-penting lainnya

dahulu.



Waktu itu, di api unggun para gembala itu, akhirnya telah bulat kesepakatan, bahwa akan lahir - kalau jadi

– seorang raja. Raja segala raja dan Juru Selamat. Raja damai !



Ya …, secara sembunyi-sembunyi tetap saja ada yang

percaya total-totalan, dan ada juga yang ‘ ya….., mudah-mudahan jadi, kita tunggulah’. Yang percaya total-totalan dinamai

‘percaya dengan sepenuh iman’. Yang selain itu, ya sejenis debu, ikut angin saja. Namanya juga ‘ya percaya deh’.





Konon, Pontius Pilatus sekalipun menjijiki orang-orang seperti ini.



Nah, itulah !. Kalau di perhimpunan

dari tempat dan waktu yang lain itu, para gembala sungguh serbaneka dan aneka warna. Mereka moderen !



Yang dibahas

memang seputar juru selamat juga. Tapi kata-kata mereka tumpang tindih. Ada yang merasa bahwa memang ada penantian pada juru

selamat, yang menurut catatan sejarah adalah memang Raja Damai, Juru Selamat yang sebenarnya.



Tapi zaman juga kan

sudah berubah.



Jangan disamakan zaman gembala domba yang sebenarnya dengan domba abad moderen. Domba di zaman

catatan sejarah itu ya hewan, ternak !. Sedangkan domba abad moderen itu macam-macam. Ada mesin, ada manusia, ada suku-bangsa,

ada negara, dan lain sebagai-bagainya.



Dengan demikian, gembalanya juga beraneka macam bin aneka karakter. Ada

gembala sungguhan, yang menggembalakan domba umat. Ada juga gembala yang menggembalakan domba bangsa dan atau negara. Atau apa

lagi-lah. Pokoknya buaaanyak macamnya.



Yang lebih aneh bin celaka duapuluh satu (kan tersebut abad ini abad dua

puluh satu !) lagi, ada di antara para gembala moderen itu yang merasa ( m e r a s a !! ) dirinya adalah juru selamat

!



Buktinya, ada yang bisa membangkitkan perang atau damai. Sampai-sampai si Akong penjual-lumpia-keliling berpantun

‘bosan nih, bom sana-sini hayooo !’. Ada yang menggembalakan manusia untuk menyerbu rumah, entah rumah manusia, entah rumah

jin, entah rumah Tuhan.



Kalau damai dijadikan perang, namanya dia raja juga kan ?. Raja angkara !.

Kalau

perang dijadikan damai, namanya dia juru selamat pula. Juru selamat birahi-nya !. Jadi lengkap, raja dan juru selamat.





Raja umat atau raja bangsa-bangsa, juru selamat umat atau juru selamat bangsa bangsa; suka sendiri, pilih sendiri

!



Raja pada harta, juru selamat pada nista-pun boleh. Oke jreng !



Entah perangnya sama atau tidak dengan

perang raja zaman para gembala, atau damainya sama atau tidak dengan damai para gembala ?. Wallahualam bissawab, dalam kelam

siapa bisa menjawab. Pokoknya mereka itu judulnya gembala juga.



Bahkan dalam kaum yang melakukan ibadah di rumah

ibadat yang namanya gereja-pun ada juga gembala, raja dan juru selamat.



Mengapa tidak ?



Raja kepada

jemaatnya ? Itu soal biasa. Kata-katanya menjadi titah. Meski umat lelah berkeringat mengeluh kesah, tak jadi soal. Yang

penting umat rajin ibadah dan donasi. Entah umat sakit lapar hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, bahkan hari Minggu

sekalipun, ya silahkan sakit sana. Berdoalah !!. Mudah ‘gitu lho !!



Juru selamat pada kelompoknya, boleh dong. Yang

nista bisa dihalalkan. Meski ucapan syukur-nya datang dari ratap tangis pencari keadilan di gedung pengadilan, ya tak

mengapalah. Sudah nasibnya !. Ya makanya, jangan suka bikin perkara, kan ?.



Atau kalaupun perpuluhannya datang dari

amplop suap para kontraktor, kan yang penting disyukuri !. Syukur, syukur.



Kalau dari gaji, mana mampu

mempersembahkan perpuluhan ?. Begitu dalih halalnya.



Kalau begitu apa hubunganya dengan raja dan juru selamat yang

diperbincangkan para gembala ?. Apa pula hubungannya dengan para gembala di padang ?.



Ya itu, maksudnya kira-kira

sama juga. Ada gembala, ada domba. Ada panitia penyambutan kelahiran Raja dan Juru Selamat.



Sama tokh ?.





Gembala, raja dan juru selamat yang di tempat dan waktu yang lain itu juga membicarakan Raja dan Juru Selamat yang

dibicarakan para gembala. Hebat nian.

Mereka, gembala saja sudah, raja dan juru selamat pula. Jadi plus-extra-bonus

tanpa diskon. Tapi masih mau juga membicarakan Raja dan Juru selamat.

Menanti juga, sama dengan para gembala. Menanti –

kalau jadi – lahirnya Raja dan Juru Selamat.



Mungkin inilah lagi kembali, selalu ada perbedaan karena

persamaan.



Para gembala di negeri catatan sejarah menanti Raja dan Juru selamatnya dengan debaran kecemasan

sukacita.

Dasar gembala !.

Apalah artinya gembala. Apakah gembala layak memper-Raja yang - kalau jadi - akan

lahir itu ?. Apakah gembala juga layak dapat jatah kebebasan, kedamaian dan kekayaan - kalau bisa ?. Bukankah Dia itu nanti

Raja segala raja ?. Sampai hatikah Dia nanti menatapkan mataNya kepada gembala ?. Jangan-jangan para gembala malah najis.



Gembala, wahai gembala yang bersiang bermalam di padang ?. Yang bertikar-kan rumput dan tanah, berselimutkan embun,

berlenterakan bintang-gemintang ?.



Ah.., andaikan Dia jadi lahir, layakkah gembala menjengukNya ?. Dimana gerangan

istanaNya ?. Berapa laksa tentera penjaga istana-Nya ?. Siapa gerangan nama-Nya ?. Berapa tingkatkah tatah berlian di ratna

mahkotaNya ?. Maukah Dia menjadi Raja juga bagi para gembala ?. Mau juga-lah agaknya. Kan Dia ‘Raja kita’, sesuai kesepakatan

padang gembala ?.

Semua itu betul-betul menggetarkan hati dan jiwa para gembala. Maka penantian itu penuh dengan

debaran kecemasan sukacita. Para gembala menunggu !.



Akan halnya perbedaan pada tempat dan waktu yang lain itu,

nyata dan kasat mata. Bahkan bisa diraba dan diremas dengan jejari iman. Para gembala, raja dan juru selamat yang ini, sudah

tahu pasti kapan Raja dan Juru Selamatnya akan lahir. Semua sepakat, dan sudah tahu, nama harinya Natal.



Maka

semua, para ‘gembala’ dan para ‘domba’ nya berlomba mencari perhatian Ayahanda sang Raja dan Juru Selamat yang pasti akan

lahir.



Ayahanda seorang Raja yang seperti itu ditutur-bincangkan, pastilah Maha Dahsyat. Maka Beliau harus tahu dan

melihat bahwa ‘para’ ini sungguh-sungguh memepersiapkan penyambutan hari lahir-Nya yang sudah pasti.



Muliakan

Ayahanda sang Raja-Juru Selamat. Meskipun tiada kenal akan Ayahanda-Nya.

( Menjenguk rumah-Nya juga paling sekali sewindu

!!, nggak apa ! ).

Muliakanlah !!.



Maka, wujud-wujud dibangun setinggi tengadah leher, bercahaya gemilang.

Mudah-mudahan menyamai cahaya surga.

Nyanyi dipekik-kumandangkan, sederas muntah pemabuk, sekudus (niatnya !) nyanyian

katak di musim hujan. Mudah-mudahan sampai melampaui dan menggetarkan puncak tiang-tiang surga sana.

Busana diperbaharui

hingga silau ditatapan mata. Mudah-mudahan layak setara pakaian penghuni surga.

Agar lebih tegas lagi, boleh juga

dicanangkan bahwa siapa yang tidak melakukan hal serupa pastilah teroris. Dahsyat nian.

Heppot !!, kata orang Batak

dari abad moderen. Kemaruk !.

‘Gembala’, ‘raja’ dan ‘juru selamat’ ada disini !. Mereka memimpin, ‘menggembala’

!.



Puji-pujian !, puji-pujian dan sukacita !. ‘Surga milik kita !’, demikian agaknya maksud dan tujuannya.



Peserta penggembira meluap-melimpah, di sebelah sini bumi dan di sebelah sana bumi.

Rebana dipukul,

‘cring-kencring., terkencring kencring !!’ Serunai ditiup, ‘tot-toliot …, tot tulilat tulalit !!’. Gegap gempita antar benua

!



Entah diketahui ataupun tidak, apakah delapan puluh persen diantara para penggembira ini melakukan kenistaan

dalam hidup kesehariannya, tidak usah peduli.



Hell !!!, tutup mata saja. Semua sedang

bersuka-cita.



Korupsi harta, kekuasaan, moral, waktu, dan lain sebagainya. Boleh, boleh. Kan sudah dibebaskan,

diampuni dan diselamatkan !



‘Sombong’ adalah sejenis kata yang dilupakan saat seperti ini. Semua yakin bin merasa

‘anak Raja !!’



Tapi agak membingungkan juga, bahwa di dalamnya ada terdapat pula yang korupsi kasih dalam hidup

kesehariannya !. Masih ada dan banyak !



Fitnah. jangan ditanya lagi. Penyakit turun temurun dari sejak Hawa dan

Adam ini sudah mendarah daging. Terutama bagi ‘para’ yang mencemburui sesuatu pada seseorang.



Ya, kembali pula lagi

ke sifat alam, selalu ada perbedaan manakala ada persamaan. Hakiki !



Tetap saja ada gembala, raja dan juru selamat

yang gelisah bersama para gembala di padang. Raja bagi imannya, juru selamat bagi jiwanya.



Mereka berdingin-dingin

menunggu. Menantikan kunjungan – menurut harapan mereka - malaikat yang akan membawa kepastian kabar kelahiran - kalau jadi -

Raja segala raja dan Juru selamat itu. Harap-harap cemas !



Niscaya ini haruslah kudus, begitulah rasa-rasanya.

Kekudusan peristiwa yang – kalau jadi – akan terjadi, membuat debaran jiwanya menyucikan doa-doanya.



Mereka menunggu

kunjungan malaikat !. Mereka menunggu Juru Selamatnya. Mereka menunggu beratapkan langit, berlenterakan bintang, berselimutkan

embun, bertikarkan rerumputan dan tanah. Persembahanpun – kalau jadi - sudah pula disiapkan seadanya. Mereka nanti akan

mempersembahkan yang ada saja, jiwanya !. 



*****************

*Malai de Sumba/Adventus Desember 2006

dilihat : 252 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution