Minggu, 16 Desember 2018 10:13:17 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 109
Total pengunjung : 450937
Hits hari ini : 839
Total hits : 4154024
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Natal, Ulang Tahun Siapa?






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 05 Desember 2006 00:00:00
Natal, Ulang Tahun Siapa?
Natal,

Ulang Tahun Siapa?

by : Jojo Raharjo



“ Waktu kecil kita merindukan Natal

hadiah yang indah, dan

menawan…

namun tak menyadari seorang bayi telah lahir,

bawa keselamatan ‘tuk manusia…”



Pernah dengar lagu

itu? Natal, sesuai asal katanya, memang berasal dari kata Natalitas, alias kelahiran. Nah, begitupula dengan Natal yang kita

peringati setiap 25 Desember. Meski, sejatinya, hari kelahiran Yesus bukan terjadi pada penanggalan 25 Desember. Banyak yang

meyakini, Yesus lahir pada 6 Januari, seperti yang kini dianut oleh kelompok Kristen Orthodoks di seluruh dunia. Pengambilan 25

Desember sebagai simbol kelahiran Yesus, justru diambil dari hari raya peringatan Dewa Matahari, saat kristiani menjadi agama

negara di Romawi.



Setelah Konstantine mengeluarkan The Edict of Milan, pada 313 M, maka ia kemudian mengeluarkan

sejumlah peraturan keagamaan yang mengadopsi tradisi pagan. Pada tahun 321, ia memerintahkan pengadilan libur pada "Hari

Matahari" (sunday), yang dikatakan sebagai "hari mulia bagi matahari". Sebelumnya, kaum Kristen --sama dengan Yahudi--

menjadikan hari Sabbath sebagai hari suci. Maka, sesuai peraturan Konstantine, hari suci diubah menjadi Sunday. Setelah abad

ke-4, peringatan Hari Kelahiran Jesus diubah menjadi 25 Desember. sebagai penghormatan terhadap Dewa Matahari.





Bagaimapun asalnya, kita “terlanjur” memperingati 25 Desember sebagai hari ulang tahun Yesus. Sebagaimana sebuah

kelahiran selalu disambut lebih meriah daripada kematian, maka suasana Natal pun jauh lebih heboh daripada Paskah, yang

sebenarnya adalah puncak misi kedatangan Kristus ke dunia ini. Persoalannya, di tengah hiruk-pikuk pesta dan gebyar diskon

Natal, sadarkah kita siapa sebenarnya yang kita pestakan?



Natal telah menjelma sebagai sebuah komoditas. Natal, yang

berhimpitan dengan perayaan Tahun Baru, adalah even tahunan yang ditunggu-tunggu oleh agen biro pariwisata, pengelola

pertokoan, restoran, tempat hiburan, artis, dan tak terkecuali mereka yang menamakan diri pelayan Tuhan. Tujuannya, apalagi

kalau bukan menambah tebal kocek, dalam ajang melimpahnya rezeki setahun sekali..



Bahkan, saat ini ada kecenderungan

unik, pesta-pesta Natal di kalangan umat Kristiani dirayakan jauh sebelum 25 Desember. Ada yang merayakannya pada tanggal

belasan, namun ada juga yang menggelar habis pesta justru di minggu pertama Desember! Ada dugaan kuat, pemilihan tanggal di

awal Desember, karena para penyelenggara perayaan Natal cemas, para “target konsumen” nya bakal bepergian ke luar negeri pada

tanggal-tanggal tua Desember sampai tanggal-tanggal muda Januari…



Sungguh sebuah kenyataan ironis, apalagi bila

memandang kejadian sebenarnya saat Yesus datang lebih dari 2 ribu tahun lalu. Tak ada gemerlap lampu, tak ada valley parking

mobil mewah, dan tak ada pula cokelat di meja makan. Ironis, karena Yesus justru lahir di kandang domba, sebagai anak dari

Yosef si tukang kayu. Ironis, karena bayi Yesus saat itu tak kebagian tempat masuk ke penginapan mewah, karena kelahirannya

bersamaan dengan hajatan besar berupa Sensus Penduduk Yudea dan sekitarnya.



Dan.. di situlah Natal sesungguhnya

terjadi. Tak perlu ada bersulang anggur. Yang datang pertama merayakan Natal juga bukan petinggi lokal di Betlehem, bukan pula

tiga orang Majus yang akhirnya tiba terkemudian. Yang pertama menyampaikan selamat dan bergirang karena kelahiran Juruselamat,

adalah para gembala yang kedinginan di tengah padang. Di tengah suasana kesederhanaan, Natal pertama justru menghampiri mereka

yang hidup dengan sederhana…



Ancaman Natal



Dalam wawancara dengan Jaringan Islam Liberal Online, Prof

Dr. Franz Magnis-Suseno menyatakan tegas, ancaman Natal saat ini yaitu budaya konsumerisme yang luar biasa karena masyarakat

akan mengeluarkan semakin banyak biaya untuk diri sendiri. “Akhirnya, Natal hanya menjadi pesta belanja yang sekaligus juga

berarti bahwa orang miskin kurang diberi perhatian, karena anggaran yang dikeluarkan begitu besar hanya untuk keperluan belanja

dan tidak ada sisa bagi kaum miskin,” kata Romo Magnis.



Romo Magnis juga mengingatkan, dalam Natal yang penuh

konsumerisme, orang terlalu larut dalam nafsu untuk mempunyai. ”Kita harus belajar kembali untuk hidup seadanya, secara

sederhana, membedakan kebutuhan keluarga yang sebenarnya dengan kebutuhan buatan,” kata kepala program pascasarjana STF

Driyarkara Jakarta ini.



Romo Magnis menekankan, justru Natal yang dimulai dengan keluarga sederhana yakni Yusuf,

Maria dan Yesus merupakan suatu alasan kuat untuk merenungkan kembali gaya hidup konsumerisme, materialisme, dan hedonisme yang

sudah keterlaluan. “Natal bisa menjadi counter point terhadap rangsangan konsumerisme,” kata Romo Magnis.



Natal

telah tiba, berapa anggaran yang Anda siapkan untuk itu? Tambahan penghasilan dari Tunjangan Hari Raya alias Bonus Akhir Tahun

pasti akan memudahkan belanja pernak-pernik dan makanan lebih leluasa. Sudahkah terpikir apa hadiah khusus yang akan diberikan

pada suami, isteri, anak, papa, mama, oma, opa, dan teman-teman. Sudahkah terpikir, di mana makan malam bersama sesuai

beribadah pada malam menjelang Natal 24 Desember…



Namun, di luar pikiran soal kado-mengado, makan-memakan, tiba-tiba

ada pertanyaan lain yang juga mengusik, “Memangnya, Natal ini ulang tahun siapa sih?”



****

dilihat : 260 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution