Minggu, 23 September 2018 14:23:16 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 117
Total pengunjung : 422707
Hits hari ini : 1532
Total hits : 3892722
Pengunjung Online : 8
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Patriotik nan Simpatik (Renungan Hari Pahlawan 2006)






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 10 November 2006 00:00:00
Patriotik nan Simpatik (Renungan Hari Pahlawan 2006)
Mereka adalah pahlawan yang kita kenang dan ingat betul karena jasa mereka

masih terukir jelas di relung hati kita. Mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang telah direbut oleh para pahlawan kita dulu

ternyata tidak kalah sulitnya dengan merebut kemerdekaan.



Hal itu dibuktikan oleh pengorbanan para pahlawan yang

bersedia mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih pada 17 Agustus 1945. Jadilah 10 November sebagai Hari Pahlawan untuk

mengingat dan merayakan pengorbanan yang penuh dan utuh dari para pahlawan kita. Benarlah ungkapan bijak mengatakan,



"bangsa yang besar adalah bangsa yang benar-benar menghargai jasa para pahlawannya".



Ketika kubuka Kamus

Lengkap Bahasa Indonesia, di situ tertulis, "pahlawan adalah orang yang berani mengorbankan jiwa dan raga untuk membela

kebenaran; pejuang yang gagah berani". Kucari kata yang lain. Kujumpai kata patriot yang diartikan pahlawan, pencinta tanah

air. Agaknya, kata patriot lebih cocok untuk menjelaskan kepahlawanan yang berlandaskan kecintaannya kepada tanah air tempat

dia bernaung dan berpijak. Para patriot sadar betul bahwa mereka berutang banyak kepada tanah air yang dicintainya

juga.



Rasa cinta dan berutang kepada bangsa dan negara selalu menjadi semangat perjuangan para patriot tersebut.

Benarlah apabila almarhum T.B.Simatupang menulis buku berjudul SAYA ADALAH ORANG YANG BERHUTANG untuk mengajak kita makin

mencintai dan merasa berutang kepada Indonesia ini.



Banyak sekali tulisan media cetak maupun tayangan televisi yang

membuat kita bergidik dan miris. Para penguasa negeri ini asyik sibuk berebut kekuasaan dan kepentingan dengan segala macam

cara halal. Siapa yang lebih berpengaruh. Siapa yang lebih sakti mandraguna. Siapa yang lebih berhak mengepung hidup ini dengan

sekian banyak peraturan. Siapa yang lebih berani menuding dan membeberkan sederet daftar kebusukan para lawan. Mereka berpuas

hati asal setiap membuat sensasi, entah menentang arus ataupun menghantam apa saja yang mapan.



Tak ketinggalan,

mereka juga asyik memoles sedemikian rupa citra diri ketimbang membangun suatu sistem pemerintahan yang bermakna guna. Belum

lagi atas nama kenyamanan dan keindahan kota yang telah diatur sedemikian rupa dalam peraturan, maka penggusuran rumah-rumah

tak bersertifikat dan pedagang "liar" kaki lima wajib dilakukan tanpa kenal ampun. Masih pantaskah mereka menyandang gelar

patriot bangsa dan negara tercinta ini?



Pantaslah apabila masyarakat dan rakyat lalu mengambil jalan hidup sendiri

tanpa mau peduli apakah itu membangun dan bermanfaat bagi orang lain. Yang penting aku bisa bertahan hidup dan untung, persetan

orang lain! Penjual maunya untung, pembeli maunya barang murah karena memang segitulah daya belinya.



Pernah kutonton

di televisi, penyiksaan sapi hanya untuk menaikkan berat dagingnya yang akan dijual nanti dengan cara dicekoki/digelontor air

sebanyak-banyaknya sampai sapi sekarat, lalu dijagal. Bedak-bedak bayi palsu marak dijual di toko-toko tanpa peduli bahwa kulit

bayi sangat peka terhadap zat-zat yang merusak. Para remaja diiming-imingi uang sepuluh ribu rupiah asal mau diambil darahnya

melebihi yang seharusnya, tanpa peduli usia maupun berat badan yang telah ditetapkan PMI.



Belum lagi obat-obat dan

makanan yang kedaluwarsa "dikemas" sedemikian rupa sehingga layak jual, padahal itu amat berbahaya, ya kan? Sungguh, inilah

potret kehidupan berbangsa dan bernegara yang sangat memilukan hati. Sikap tindak hidup patriotik kian sirna melenyap dari

kehidupan kita saat ini.



***



Di tengah buram dan suramnya kehidupan kita, secercah sinar harapan muncul

dari Bangladesh. Panitia Nobel memberikan Nobel Perdamaian kepada Prof Muhammad Yunus bersama Grameen Bank Prakalpa (Proyek

Bank Desa). Sekalipun dia berasal dari keluarga kaya, ayahnya bernama Muhammad Dula Meah adalah pedagang perhiasan logam mulis

sehingga dia bisa mengalami pendidikan sampai gelar doktor, dia gelisah menyaksikan kemiskinan dan kelaparan melanda

negaranya.



Keprihatinannya melahirkan perjuangan panjang tak kenal lelah sejak 1976 bersama Grameen Bank

memberdayakan rakyat untuk mengurangi dan memerangi kemiskinan. Alhasil, dunia melihat dan mengakui karya panjangnya sebagai

karya perdamaian dunia karena memang dunia sedang bergelut dengan kemiskinan yang makin menggurita menciptakan

ketidakdamaian.



Simaklah beberapa ucapan Yunus, "saya tidak peduli jika orang kaya bertambah kaya. Saya khawatir

dengan orang miskin yang bertambah miskin atau tidak punya kesempatan menjadi kaya. Meningkatkan derajat kaum papa itu yang

penting. Jangan beri rakyat uang begitu saja. Rakyat tidak perlu belas kasihan! Beri akses dan kesempatan, maka rakyat miskin

akan bangkit sendiri! ".



Lantas, Menlu Bangladesh Morshed Khan memuji Yunus, "...Yunus memberikan hati kepada

termiskin dari kelompok miskin, memberikan harapan bagi yang tidak punya harapan". Itulah sikap tindak hidup patriotik nan

simpatik.



***



Siapa bilang di Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta tidak ada orang seperti

Muhammad Yunus? Saya yakin pasti ada! Sayang, mereka masih menyembunyikan diri atau tersembunyi atau masih takut-takut muncul.

Sambutlah dan perbanyaklah model dan karya kehidupan yang telah disemaikan oleh sang peraih Nobel Perdamaian

2006!



Semoga saja di hari bersejarah, mengingat dan merayakan Hari Pahlawan tahun ini, bakal lahir dan hadir banyak

orang bersifat patriotik nan simpatik, baik di rumah tangga, masyarakat kecil dan luas, maupun rakyat dan bangsa Indonesia

tercinta.



Selamat menjadi manusia patriotik nan simpatik yang sangat dinantikan oleh bangsa dan negara

ini!



Simon Filantropha, pendeta tinggal di Surabaya dan Mojokerto

Sumber www.jawapos.com

dilihat : 497 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution