Senin, 18 November 2019 13:27:44 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520218
Hits hari ini : 1403
Total hits : 5089582
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Teori Cognitve Dissonance






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 06 Oktober 2006 00:00:00
Teori Cognitve Dissonance
Teori "Cognitive Dissonance"



Ioanes Rakhmat (stt

jakarta.ac.id)



Pendahuluan



Bersama dua tulisan lainnya dalam situs web STT Jakarta ini, tulisan ini mau

memperlihatkan faktor-faktor sosio-psikologis dan sosiologis yang telah berperan dalam menciptakan ketahanan

komunitas-komunitas Kristen perdana kendati pun mereka harus menghadapi banyak persoalan teologis/kristologis dan

kesulitan-kesulitan sosio-politis dari lingkungan sekitar. Penjelasan-penjelasan yang diberikannya bukan penjelasan-penjelasan

teologis, tetapi penjelasan-penjelasan sosio-psikologis dan sosiologis, dengan memanfaatkan teori-teori yang dapat dipakai

lintas-budaya. Langkah pertama adalah menjelaskan (dalam garis besar) teori-teori yang dipakai, yakni teori “cognitive

dissonance,” teori “normative dissonance,” dan teori “reality-maintenance”; lalu menguji dan memperhadapkan teori-teori itu

dengan teks-teks Perjanjian Baru (PB) yang ditafsir; kemudian, daripadanya, ditarik suatu kesimpulan.



Teori

‘Cognitive Dissonance’



Dengan memakai sebuah teori sosio-psikologis yang dinamakan “cognitive dissonance” (CD),

aktivitas proselitisme yang dilaksanakan dengan sangat intens dan ekstensif oleh komunitas-komunitas Kristen perdana (seperti

diperlihatkan teks-teks PB), yang membuat mereka dapat tetap bertahan dan berkembang, dapat diterangkan sebagai aktivitas yang

dilaksanakan untuk mengatasi pelbagai gejala tekanan psikologis (“cognitive”) yang ditimbulkan oleh melesetnya atau tidak

terpenuhinya (“dissonance”) kepercayaan-kepercayaan dasariah dan esensial yang semula mereka pegang kuat-kuat.





Teori CD menyatakan bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu suatu komunitas keagamaan yang mengalami kenyataan

melesetnya kepercayaan-kepercayaan pokok dan esensial mereka ketika diperhadapkan pada kenyataan-kenyataan di dalam dunia,

tidaklah harus ambruk, bubar dan lenyap. Sebaliknya, komunitas ini malah akan dapat lebih giat dan bersemangat lagi, lebih dari

sebelumnya, dalam melakukan kegiatan misioner mencari anggota-anggota atau petobat-petobat baru sebagai suatu tanggapan

terhadap keadaan ragu dan kesulitan besar yang timbul dari kegagalan atau melesetnya suatu kepercayaan atau keyakinan pokok

yang sebelumnya dipertahankan mati-matian. Melesetnya kepercayaan-kepercayaan pokok dan keadaan ragu dan sulit yang

ditimbulkannya dinamakan CD.



Unsur konseptual penting dalam teori CD ini adalah bahwa melesetnya atau gagalnya

kepercayaan yang semula dipegang menimbulkan tekanan dan dorongan psikologis yang sangat kuat untuk mengurangi atau meniadakan

kegagalan itu. Ada dua teknik utama yang digunakan untuk mengurangi, meniadakan atau menyalurkan dorongan tekanan psikologis

yang ditimbulkan oleh kegagalan ini. Pertama, adalah dengan melakukan proselitisme melalui evangelisasi besar-besaran. Di sini

ada suatu asumsi yang dipertahankan (seringkali tanpa disadari), yakni jika semakin banyak orang dapat diyakinkan akan

kebenaran sistem kepercayaan yang dianut, maka jelas sistem itu bagaimana pun juga pasti benar. Sederhananya begini: sesuatu

sudah jelas meleset, gagal, tetapi karena makin banyak orang yang mau menerima sesuatu yang meleset dan gagal itu, maka

pastilah yang meleset itu benar. Dalam hal ini, jelas ditemukan suatu paradoks: kepercayaan sudah meleset, malah aktivitas

misioner meningkat. Ini bisa terjadi, karena mengiringi “disonansi” (= melesetnya) kepercayaan, dipakai juga teknik (ini yang

kedua) rasionalisasi, yakni merumuskan penjelasan-penjelasan yang masuk akal untuk membenarkan terjadinya disonansi, dengan

mengadaptasi segi-segi tertentu dari sistem kepercayaan yang dipegang dengan tanpa mengubah elemen-elemen esensialnya,

sementara dapat juga menerima kenyataan dalam dunia yang telah membuktikan melesetnya sistem kepercayaan yang dianut.





Supaya CD melahirkan proselitisme, ada lima syarat yang harus dipenuhi oleh suatu komunitas

keagamaan:



1) Kepercayaan atau keyakinan itu harus dipegang dengan kuat, dan harus ada relevansinya dengan

tindakan, dengan apa yang dikerjakan orang yang menganutnya dan dengan bagaimana ia bertingkah laku;



2) Orang yang

memegang kepercayaan itu harus memiliki komitmen penuh padanya; maksudnya: demi kepentingan kepercayaan itu, ia harus mau

melakukan suatu tindakan penting yang sulit sekali untuk tidak dilakukan. Umumnya, makin penting tindakan-tindakan itu, dan

makin sulit untuk tidak melakukannya, maka makin besar komitmen orang itu pada kepercayaan yang dipegangnya;



3)

Kepercayaan itu harus (cukup) spesifik dan terkait dengan dunia nyata, sehingga kejadian-kejadian tertentu di dalam dunia dapat

membuktikan dengan jelas dan tegas bahwa kepercayaan itu meleset atau gagal terpenuhi;



4) Bukti yang tidak dapat

disangkal bahwa kepercayaan itu meleset harus ada, dan harus diakui oleh orang yang menganut kepercayaan itu;



5)

Orang yang menganut kepercayaan itu harus memiliki dukungan sosial; jika ia adalah seorang anggota dari suatu komunitas orang

percaya yang dapat saling mendukung, maka dapat diharapkan kepercayaan itu dipertahankan dan orang-orang yang mempercayainya

berusaha melakukan proselitisme atau berusaha meyakinkan orang-orang luar bahwa kepercayaan itu (meskipun tidak terpenuhi)

benar adanya.



Syarat-syarat pertama, kedua dan kelima sudah sangat jelas terpenuhi dalam

kehidupan komunitas-komunitas Kristen perdana; karena itu tidak perlu dilakukan pengujian atas ketiganya dengan memperhadapkan

ketiganya pada teks-teks PB. Yang harus diuji adalah syarat-syarat ketiga dan keempat. Berikut ini dipaparkan garis besarnya

saja.



Test case: dua kepercayaan dasariah kekristenan perdana yang kuat dipegang



1) Yesus dipercaya

sebagai sang Messias, tetapi ternyata ia menderita dan mati disalibkan



Bahwa Yesus adalah sang Messias, adalah suatu

kepercayaan yang sangat kuat disaksikan PB, sebagai kepercayaan dasariah yang dipegang umat Kristen PB. Dalam rangka teori CD,

perlu diajukan satu pertanyaan: Adakah fakta yang telah terjadi pada sang Messias ini, di dalam dunia ini, yang diakui umat

Kristen perdana tetapi mula-mula sukar atau bahkan tidak bisa diterima oleh mereka sehingga menimbulkan tekanan psikologis

tertentu pada mereka? Jawabnya juga sudah sangat jelas: Ada, yakni suatu fakta tidak terbantahkan bahwa Yesus yang dipercaya

sebagai sang Messias itu ternyata harus menderita dan pada akhirnya mati disalibkan. Fakta penderitaan dan penyaliban Yesus

sang Messias ini adalah suatu fakta yang mula-mula sangat tidak bisa diterima atau tidak diantisipasi sama sekali oleh

murid-murid Yesus dan umat Kristen perdana. Konsep tentang Messias yang sengsara, lalu disalibkan, adalah suatu konsep yang

tidak masuk ke dalam pemikiran murid-murid perdana Yesus (orang-orang Yahudi); suatu konsep yang menjadi “batu sandungan.”

Bagian-bagian tertentu PB memperlihatkan hal ini, misalnya 1 Korintus 1:23; Markus 8:32; Lukas 24:20-21.



Pendek

kata, syarat-syarat ketiga dan keempat yang dituntut teori CD terpenuhi: Ada suatu kepercayaan yang kuat dipegang, termasuk di

dalamnya harapan-harapan yang dikaitkan dengan kepercayaan itu (bahwa Yesus itu sang Messias yang akan melakukan ini dan itu

bagi umat Israel), tetapi juga ada suatu peristiwa yang membuktikan kepercayaan ini meleset, gagal terpenuhi (yakni bahwa Yesus

sang Messias itu mati dengan cara yang memalukan: disalibkan!). Melesetnya kepercayaan ini menimbulkan tekanan dan keguncangan

psikologis besar; suatu krisis kejiwaan dari kalangan yang merasa telah ditinggalkan Allah. Jeritan keterlantaran Yesus Messias

di kayu salib juga adalah jeritan komunitas Kristen, karena sang Messias mereka mati dengan cara yang memalukan, disalibkan,

sebagai tanda ia dikutuk Allah (Ulangan 21:23; Galatia 3:13).



Maka, untuk mengatasi krisis sosio-psikologis ini,

komunitas-komunitas Kristen perdana melakukan dua hal, yang membuat mereka tetap kenyal, dapat bertahan hidup dan berkembang.





Pertama, mereka melakukan rasionalisasi, yakni memberi penjelasan-penjelasan teologis yang bisa diterima atas

persoalan mengapa sang Messias disalibkan; penjelasan-penjelasan ini membuat kepercayaan dasariah itu tetap dapat dengan

konsisten dipertahankan; dan ini disusul dengan pengajuan amanat proselitisme evangelisasi. Kedua langkah ini ditemukan di

banyak bagian PB. Misalnya, dalam Filipi 2:6-11 (par. 1 Timotius 3:16) kematian Yesus di kayu salib dijelaskan bukan lagi

sebagai suatu peristiwa yang memalukan, melainkan, bersama seluruh rangkaian kehidupannya sebelumnya, sebagai jalan Allah untuk

“sangat meninggikan Dia dan mengaruniakannya nama di atas segala nama” (2:9). Bersamaan dengan rasionalisasi ini, suatu

dorongan untuk melakukan proselitisme juga diungkapkan dengan kuat: “Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di

langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi

kemuliaan Allah, Bapa!” (2:10-11). Dengan rasionalisasi ini, Yesus sebagai sang Messias yang mati disalibkan, dapat tetap

diterima dan dipegang sebagai suatu kepercayaan esensial.



Di dalam Injil Yohanes, melalui rasionalisasi, “salib”

tidak lagi dipandang sebagai lambang aib dan kutuk, tetapi sebagai jalan Yesus ditinggikan dan dimuliakan, jalan kembali ke

kawasan darimana ia datang, sorga. Rasionalisasi atas penyaliban Yesus dengan memakai teks-teks profetis skriptural maupun

ucapan-ucapan profetis yang disampaikan Yesus sendiri sebagai pembenaran penyaliban, yang ditempatkan bersisian dengan mandat

proselitisme, juga ditemukan di banyak bagian PB (misalnya: Galatia 3:13, 14; 1 Korintus 15:1-4, 5-8, 35-55; Lukas 24:26, 27,

44-46, 47-48; Markus 8:31; 9:31; 10:32-34; 10:45; 14:24; Matius 9:31 & par.; Lukas 9:22 & par.; bdk. Yohanes 12:23-27). Dst.,

dst.



2) Yesus Kristus dipercaya segera datang kembali, tetapi nyatanya ia tidak kunjung

datang



Kepercayaan bahwa Yesus akan segera datang kembali, waktunya sudah sangat singkat, dan dunia lama akan

berakhir, sangat kuat disuarakan oleh PB (misalnya, 1 Tesalonika 4:16-18; 1 Korintus 7:29, 31; 10:11; Filipi 3:20-21; Roma

13:11,12; Markus 9:1; 13:29-30; Wahyu 1:3; 3:11; 12:12; 22:7, 10, 12, 20). Tetapi, dalam kenyataannya, ia tidak kunjung

datang; dan dunia masih seperti sedia kala. Hingga kini, tahun 2004/2005.



Dalam surat deutero-paulinis 2 Tesalonika

(yang ditulis 40 sampai 50 tahun sesudah Yesus mati), dilukiskan jemaat mengalami “kebingungan dan kegelisahan” (2:2) karena

ada yang memberitakan bahwa “hari Tuhan telah tiba” (2:3). Kebingungan dan kegelisahan ini bisa ditimbulkan oleh pemberitaan

tersebut (yang membuat orang merasa tidak perlu lagi bekerja, tetapi cukup pasif menunggu saja; lihat 2 Tesalonika 3:10);

tetapi sangat boleh jadi juga timbul terutama karena jemaat―mendapati bahwa segala sesuatunya masih seperti semula: tidak

ada kebangkitan orang mati; tidak kelihatan Yesus turun dari sorga; tidak terdengar bunyi sangkakala; tidak ada pengangkatan

ke angkasa; tidak ada pertemuan di udara (padahal semua ini diajarkan dalam 1 Tesalonika 4:14-17)― tersadarkan bahwa

Yesus belum kunjung datang juga, sementara Paulus sudah meninggal dunia (tahun 64-65?). Kenyataan dalam dunia ini bahwa Yesus

belum juga datang kembali, membuat kepercayaan akan kedatangan segera Yesus Kristus meleset; terjadi disonansi; dan ini

menimbulkan suatu tekanan psikologis kegelisahan dan kebingungan. Menghadapi kenyataan ini, penulis 2 Tesalonika mengajukan

suatu skenario atau “tabel waktu” yang berisi daftar lima peristiwa yang harus terjadi lebih dulu sebelum parousia (=

kedatangan kembali Yesus) berlangsung (2:3-12).



Pengajuan skenario ini menunjukkan, pertama, bahwa si penulis,

sementara tetap mempertahankan keyakinan bahwa Kristus akan datang kembali, tidak lagi memandang kedatangan ini akan segera

terjadi; dan, kedua, si penulis sedang melakukan rasionalisasi atas melesetnya kepercayaan ini. Bersamaan dengan rasionalisasi

ini, si penulis juga, dalam rangka evangelisasi, meminta supaya jemaat berdoa “agar firman Tuhan beroleh kemajuan dan

dimuliakan” (3:1). Pada sisi lain, berita bahwa “hari Tuhan telah tiba”, sementara kehidupan dunia nyatanya masih seperti

semula, menunjukkan bahwa si pemberita itu, yang ditentang oleh penulis 2 Tesalonika, sudah memberi definisi dan isi lain atas

kepercayaan akan kedatangan “hari Tuhan”; ini juga suatu rasionalisasi untuk menjelaskan mengapa Yesus tidak kunjung datang.





Rasionalisasi-rasionalisasi lainnya untuk menjelaskan fakta bahwa Yesus belum juga datang kembali,

ditemukan di banyak bagian PB. Dalam Injil Markus terdapat teks-teks proselitis ekspansionistik yang ditambahkan belakangan

(13:10; 16:8b-20); teks-teks ini tidak sejalan dengan gambaran kuat tentang situasi sulit dan menakutkan yang sedang melanda

komunitas Markus yang mengharuskan mereka, bukan menujukan perhatian pada misi evangelisasi global, melainkan pada hal “memikul

salib” (8:31) dan “bertahan sampai kesudahannya” (13:13). Teks-teks ekspansionistik proselitis ini (“Tetapi Injil harus

diberitakan dahulu kepada semua bangsa” [13:10]; dan “pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”

[16:15]) memperlihatkan suatu kondisi di mana parousia sudah tidak dipandang akan segera terjadi, dengan alasan

(rasionalisasi!) supaya ada kesempatan untuk bangsa-bangsa lain mendengar Injil: Yesus memang tetap akan datang kembali, tetapi

kedatangannya tidak segera, karena Injil masih harus diberitakan ke dunia bangsa-bangsa, dan ini memerlukan waktu yang panjang.





Mengakhiri abad pertama, dan memasuki abad kedua, kepercayaan bahwa Yesus segera datang kembali juga dipandang

meleset; tetapi oleh kekristenan perdana tetap dipertahankan setelah melalui rasionalisasi-rasionalisasi tertentu.





Bahwa parousia tidak kunjung terjadi sehingga gagasan ini diragukan dan ditolak, diperingatkan dalam surat 1

Klemen (ditulis sekitar tahun 96) supaya jangan menjadi sikap jemaat: Hendaklah apa yang dikatakan Kitab Suci ini jauh dari

kita: “Celakalah orang-orang yang mendua hati dan mengatakan, ‘Kami telah mendengar semua hal ini bahkan dalam zaman nenek

moyang kami, tetapi lihatlah, kita telah menjadi tua dan tidak ada satu pun dari semuanya ini terjadi”’ (23:3-5).





Dalam surat 2 Petrus (awal abad 2) ditampilkan situasi yang sejajar, yaitu munculnya para pengejek yang berujar,

“Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti

semula, pada waktu dunia diciptakan” (3:4). Keterlambatan parousia, melesetnya kepercayaan, diterima oleh si penulis surat 2

Petrus; tetapi ia tidak melepaskan kepercayaan ini, melainkan merasionalisasinya dengan menyatakan bahwa kedatangan Tuhan yang

“seperti pencuri” itu (3:10) tidak dapat diketahui menurut perhitungan waktu manusia, melainkan hanya menurut perhitungan waktu

Allah; katanya “Di hadapan Tuhan satu hari sama dengan seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari” (3:8), dan

parousia itu tertunda, karena Tuhan itu “sabar … dan menghendaki supaya jangan ada orang yang binasa, melainkan supaya semua

orang berbalik dan bertobat” (3:9). Lalu fanatisme religius ditanamkannya, dengan ia meminta jemaat untuk “hidup suci dan

saleh” sebab dengan cara itu mereka “akan mempercepat kedatangan hari Allah” (3:12). Jelas di sini kita dapati bahwa ejekan

makin memperbesar perasaan duka dan gagal yang muncul dari disonansi kepercayaan; ini diatasi dengan merasionalisasi

kepercayaan sehingga kepercayaan itu masih tetap dapat dipertahankan, dan dengan penguatan fanatisme religius.





Kesimpulan



Melesetnya kepercayaan-kepercayaan kristologis dasariah kekristenan perdana tidak membuat

kekristenan ini bubar dan lenyap dari muka bumi; tetapi sebaliknya, anggota-anggota komunitasnya malah makin bergairah untuk

melakukan penyebaran agama untuk menghasilkan petobat-petobat baru sehingga kekristenan perdana dapat tetap hidup, bertahan dan

berkembang.



Fenomena ini dapat dijelaskan bukan hanya dari sudut teologis (misalnya, karena penyelenggaraan ilahi,

“providentia dei”), tetapi juga dari sudut sosio-psikologis. Teori CD bisa menjelaskan fenomena ini dari sudut

sosio-psikologis. Melesetnya kepercayaan-kepercayaan esensial jelas menimbulkan tekanan-tekanan psikologis yang sangat kuat

dalam diri para pemeluknya. Tinimbang tekanan-tekanan psikologis ini diarahkan ke dalam batin secara destruktif, umat Kristen

perdana mengarahkannya ke luar, secara konstruktif, dengan melakukan evangelisasi proselitis ekstensif pada satu pihak, dan,

pada pihak lain, dengan mengajukan rasionalisasi-rasionalisasi untuk bisa menjelaskan perihal gagalnya kepercayaan-kepercayaan

mereka untuk sementara waktu.



Rasionalisasi membuat mereka dapat tetap konsisten memegang kepercayaan-kepercayaan

esensial mereka yang telah gagal terpenuhi itu, yang kini sudah ditambahi elemen-elemen baru hasil rasionalisasi; pada waktu

yang sama, mereka, dengan memegang teguh kepercayaan mereka, juga melakukan evangelisasi untuk menghasilkan anggota-anggota

baru. Pertambahan jumlah anggota komunitas meyakinkan mereka dengan lebih kuat lagi bahwa kepercayaan-kepercayaan yang mereka

pegang itu benar adanya, kendati pun kenyataan-kenyataan dunia mengindikasikan hal-hal yang berbeda dari yang diyakini mereka.









Jakarta, 19 Agustus 2004



dilihat : 451 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution