Selasa, 17 Juli 2018 20:57:04 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 170
Total pengunjung : 406290
Hits hari ini : 1922
Total hits : 3704097
Pengunjung Online : 9
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Fakta sebagai Fiksi Kolektif






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 22 Oktober 2006 00:00:00
Fakta sebagai Fiksi Kolektif


Fakta sebagai Fiksi Kolektif



Oleh: BAMBANG SUGIHARTO (kompas 7

oktober 2006)



Salah satu persoalan besar dalam dunia manusia hari-hari ini adalah kaburnya batas tegas antara fakta

dan fiksi. Padahal, sejak zaman Yunani kuno orang sudah berusaha keras memastikan dan memperjelas mana kenyataan asli mana

pendapat pribadi, mana episteme mana doxa, mana fakta mana fiksi (karangan, khayalan, imajinasi, dan sebagainya).





Pemilahan tegas antara keduanya telah sempat membantu manusia hidup dengan kepastian-kepastian yang memberinya rasa

aman. Dan seluruh proyek modernitas adalah upaya raksasa untuk menaklukkan kehidupan ke dalam kaidah-kaidah kepastian "faktual"

itu. Istilah-istilah macam rasional, obyektif, ilmiah, terbukti, dan sebagainya adalah kata-kata sakti yang hendak menjamin

kepastian tersebut.



Sayang, pada akhir abad ke-20 upaya besar itu bukannya membawa hasil makin meyakinkan.

Sebaliknya, asumsi-asumsi dasar macam rasionalitas, obyektivitas, dan keilmiahan justru makin diragukan. Aspek fiktif yang

tersembunyi di balik segala pretensi faktualitas kian banyak tersingkapkan. Ilmu-ilmu positif—institusi yang mengelola berbagai

asumsi dasar tadi—telah mendapatkan berbagai kritik bertubi-tubi dari luar (Filsafat Hermeneutik dan Strukturalisme), dari

dalam (Teori Relativitas, Teori Kuantum, Ilmu Kognitif), bahkan dari dasar fondasinya sendiri (berbagai kritik atas empirisme

dan induksi dari kaum empiris sendiri sejak abad ke-17, dilanjutkan dengan kritik atas Fondasionalisme dan Representasionalisme

pada abad ke-20).



Fondasi yang rapuh



Sebenarnya landasan filsafati atas segala upaya memisahkan fakta

dan fiksi itu sepanjang sejarah modernitas pun senantiasa dipenuhi keraguan dan ambiguitas, tak pernah sungguh berhasil secara

tegas dan definitif. Obsesi pada faktualitas, kendati telah dimulai oleh Aristoteles, baru menjadi sangat kuat pada Empirisme

abad ke-17. Kepastian faktual menjadi fokus penting terutama karena tuntutan bagi kinerja ilmiah. Maka, di wilayah sains

penelitian empirisnya mengandalkan metode induksi beserta segala sistem verifikasinya. Francis Bacon dan Newton adalah

pelopor-pelopor utamanya. Padahal sejak awal, pada tataran filsafati, empirisme tidaklah meyakinkan betul dan mengandung

persoalan yang hingga kini pun tetap tak terselesaikan.



Berkeley memerkarakan keterkaitan antara pengetahuan

berdasarkan persepsi indriawi empirik dan idea yang didapatkan daripadanya. Ia berakhir pada keyakinan bahwa sebetulnya yang

tertangkap akhirnya bukanlah realitas obyektif di luar sana, melainkan realitas dalam persepsi sendiri: realitas begitu terkait

pada pola persepsi kita, esse est percipi. Hume mempersoalkan seberapa konsisten sebetulnya pendakuan induktif-empiris ketat

bisa dipertahankan. Baginya, pengamatan induktif empiris sudah selalu dikondisikan oleh gagasan-gagasan tertentu macam hukum

sebab-akibat dsb yang sebetulnya membuat persepsi kita tidak pernah sepenuhnya empiris faktual lagi.



Pada abad

ke-20 Popper masih mempersoalkan induksi itu juga, yang akhirnya ia anggap sekadar mitos belaka. Kant sempat menyelesaikan

persoalan itu, namun tetap juga ambivalen. Di satu pihak ia menegaskan apa yang bisa diketahui "secara ilmiah" dan apa yang

tidak, di pihak lain ia menunjukkan bahwa berbagai pengetahuan lain yang nonilmiah (metafisika, moral, agama, estetika) toh

penting untuk hidup dan terutama bahwa sebenarnya realitas kita tangkap secara tidak murni juga, selalu sudah disaring dan

dibentuk oleh berbagai unsur apriori yang telah selalu ada di benak kita. Pada Hegel empirisme makin tak meyakinkan sebab

baginya, realitas/fakta adalah produk dan pengejawantahan akal (mind, spirit, thought). Realitas adalah akal yang menerjemahkan

dirinya dalam alam material.



Perkembangan yang kabur



Pada abad ke-20 Husserl masih bersikukuh hendak

mencari pendasaran yang pasti, kuat, dan tegas untuk pengetahuan manusia. Ia membedah kesadaran manusia dan mencari unsur-unsur

terdasarnya yang paling murni. Namun, yang ia temukan adalah justru ironi: keterkaitan tak terpisahkan antara kesadaran dan

realitas di luarnya. Ditemukannya bahwa instansi terakhir paling dasar sebenarnya adalah dunia kehidupan, dunia pengalaman,

Lebenswelt, tempat kesadaran dan realitas itu begitu bercampur aduk tak terpilahkan pada tingkat prareflektif. Sains empirik

maupun filsafat, ataupun bentuk pengetahuan lain, hanyalah berbagai bentuk tafsir atas pengalaman prareflektif konkret dalam

"dunia kehidupan" itu belaka. Yang sungguh "real" adalah dunia kehidupan itu, yang tak jelas bentuknya namun dialami. Ini

memberi inspirasi pada Heidegger yang dengan nekat mencanangkan: segala pendakuan tentang realitas sesungguhnya adalah

tafsiran. Hidup berarti menafsir dan tak ada hal yang tanpa tafsiran. Gadamer, melanjutkan Heidegger, memberi rincian lebih

lanjut, bahwa hidup dan mengalami adalah bermain, yakni hubungan dialogis tak berkesudahan, perpaduan interogatif antara

horizon manusia dan segala di luarnya, upaya perumusan tanpa kata akhir.



Pada akhir abad ke-20 Strukturalisme

menguatkan intuisi macam itu. Bagi mereka sebetulnya segala pendakuan tentang makna realitas adalah sewenang-wenang, bergantung

pada struktur semiotik konkretnya (Saussure). Apa sesungguhnya realitas di luar sana makin tak jelas. Post-strukturalisme

menggarisbawahi bahwa makna itu akhirnya ditentukan oleh struktur kekuasaan (Foucault, Barthes). Dan Derrida seperti

meradikalkan semua itu: batas makna dan fakta memang kabur, selalu bisa dibongkar, tak akan pernah stabil.



Suasana

wacana filsafati yang serba skeptis pada akhir abad ke-20 itu celakanya justru ditunjang pula oleh perkembangan perenungan dan

temuan di wilayah sains sendiri juga. Teori Relativitas, Fisika Kuantum, Holisme, Teori Kognitif, Teori Jejaring, dst malah

semakin menegaskan keterkaitan erat antara subyek dan obyek, subyek dan subyek, maupun obyek dan obyek. Sementara itu, para

ilmuwan yang berkecimpung di wilayah filsafat ilmu pun semakin menegaskan peran aspek-aspek sosiopsikologis (Kuhn), ambiguitas

metodologis (Popper), dan kecenderungan ideologis (Feyerabend) yang demikian menentukan dalam kinerja ilmu sehingga semakin

kaburlah konsep-konsep macam fakta, obyektivitas, sejarah, verifikasi, kebenaran, rasionalitas, logika, ataupun materi. Bahkan

sains sendiri pun akhirnya kian tak jelas pengertiannya. Kalau dahulu sains berprinsip "apa yang kaulihat, itu yang mesti

dipercaya" (seeing is believing), kini orang menemukan sebaliknya: "apa yang kaupercaya, itulah yang kaulihat" (believing is

seeing). Sains ternyata juga sebentuk kepercayaan, bukan pengetahuan murni-netral yang bebas-nilai.



Ini masih

diperkeruh dengan tendensi/langgam di wilayah sastra akhir abad ke-20 yang memang dengan sengaja kian nekat mencampurbaurkan

fakta dan fiksi, pola ungkap metaforik dan literal, unsur rasional dan irasional, pola konvensional dan inkonvensional,

kenormalan dan kegilaan, dst. Tengoklah karya-karya Umberto Eco, Italo Calvino, Ronald Sukenick, Kurt Vonnegut, William

Burrough, Milan Kundera, Thomas Pynchon, dst. Tentu juga pencampuran fakta-fiksi dalam novel populer karya Dan Brown, Da Vinci

Code, yang menghebohkan itu.



Bersama dengan pencanggihan pasar wacana lewat media-massa, kian jelas bahwa apa yang

disebut fakta sering kali adalah bentukan imaji atau konstruksi wacana belaka, simulacra (Baudrillard), atau bahkan substitusi

(Virilio) yang umumnya demi kepentingan kekuasaan tertentu: kekuasaan ekonomi, politik, agama, dsb. Ihwal peristiwa G30S,

misalnya, betapa berbeda fakta versi Orde Baru dengan fakta versi para mantan tapol. Atau fakta tentang Irak versi Amerika,

yang jelas muncul dari kepentingan Amerika beserta negara-negara kroninya. Pada titik ini fakta adalah kepentingan kekuasaan.





Sejarah dan perubahan



Lepas dari kerumitan wacana filsafati macam di atas itu, wilayah yang paling

mudah memperlihatkan relativitas fakta adalah sejarah. Sejarah memperlihatkan dengan gamblang betapa pandangan-pandangan

manusia tentang realitas telah berubah-ubah. Dahulu orang mengira bumi ini bidang datar belaka. Dan itu diyakini sebagai fakta

sampai kemudian orang menemukan bahwa ternyata bumi ini bulat. Selama lebih dari seribu tahun orang mengira matahari

mengelilingi bumi dan itu tentu dianggap fakta sampai kemudian ditemukan sebaliknya. Ini pun belum tentu pandangan final sebab

nyatanya baru-baru ini Pluto pun harus dihapus dari peta tata surya sebagai planet.



Dan itulah masalahnya, sejarah

menunjukkan bahwa apa yang kita anggap fakta sering kali hanyalah peta-kognitif kita alias kerangka-pandang kita sendiri,

semacam lensa yang kita buat untuk memahami kenyataan. Bila lensanya hijau, maka realitas menjadi hijau. Bila lensanya cembung

atau cekung lain lagi. Untuk kenyataan-kenyataan fisik yang masih terjangkau indra tentu saja dimungkinkan semacam kepastian

tertentu. Misalnya, bahwa kota Jakarta, Bandung, atau New York memang benar-benar ada, dengan tampang begini-begitu, bukan

khayalan belaka. Ini mudah dicek.



Menjadi soal bila halnya menyangkut masa lalu. Makin jauh jarak waktunya, makin

tak terjembatani, makin kecil kepastiannya. Bagaimana terbentuknya sebuah kitab atau artefak dari masa lalu, misalnya, sulitlah

untuk dicek kebenaran faktualnya, semakin besar tendensi fiktifnya. Sama halnya bila menyangkut inti realitas di balik

kenyataan fisik, juga realitas tingkat mikroskopis ataupun makroskopis. Misalnya berbagai teori tentang peta-psike yang hendak

bicara tentang kehidupan batin manusia itu sesungguhnya macam apa. Telah ada banyak teori tentang hal itu dan tetap saja gejala

yang kita sebut batin, jiwa, roh, dsb tak jelas benar hingga hari ini. Suatu teori mengatakan bahwa psike kita terdiri dari

tiga unsur: superego, ego, dan id. Teori itu lantas dikoreksi teori yang lain yang mendaku bahwa peta-psike kita bukanlah

seperti itu, melainkan terdiri dari: kesadaran, ketaksadaran individu, ketaksadaran kolektif. Namun, salah satu teori mutakhir

mengubahnya lagi menjadi: kesadaran, bawah sadar, kesadaran supra, dst yang dalam sisi tertentu tampak bertentangan dengan

teori yang pertama.



Betapa sulit mengecek kebenaran faktual teori-teori tentang wilayah nonfisik macam itu. Sama

tak meyakinkannya bila menyangkut skala makroskopis, misalnya teori tentang bagaimana alam semesta ini terjadi pada awalnya.

Yang tentu saja sangat sulit dicek. Pada titik ini kerangka-kerangka teoretis dan berbagai bentuk sistem kategori dalam dunia

keilmuan sesungguhnya hanyalah berbagai lensa yang demi kepentingan tertentu boleh jadi berguna untuk memahami sisi tertentu

kenyataan faktual, namun bukan satu-satunya kerangka pemahaman dan penjelasan. Misalnya kategori ekonomi yang membagi dunia

menjadi dunia pertama, dunia kedua, dunia ketiga. Dilihat dari sudut kepentingan dan perspektif lain yang nonekonomi, yang

biasa disebut dunia ketiga bisa saja justru disebut sebagai dunia pertama dst. Atau tahapan proses perkembangan peradaban, yang

konon terdiri dari tahap: teologis, metafisik, dan ilmiah-positif (August Comte). Di sana kesadaran religius (teologis) tampak

sebagai tahapan paling primitif. Dari perspektif yang berbeda bisa saja tahapan itu justru terbalik: tahap teologis adalah

tahap paling tinggi. Tergantung alur argumentasi, dasar kategorisasi, dan kepentingannya.



Demikian dalam tiap teori

dan kategori-kategori selalu terkandung sisi fiktif dan tentatif, dalam arti: itu rancangan yang kita buat, yang memang bisa

menolong untuk memahami realitas dalam rangka kepentingan tertentu, namun bukan satu-satunya kerangka penjelasan yang mungkin.

Dan realitas faktual selalu lebih kompleks, lebih ambigu, lebih mengalir, daripada kerangka teoretis yang membekukan dan

membakukannya.



Bicara tentang fiksi terpaksa kita menyentuh dunia sastra juga, sebab di sanalah fiksi secara khusus

diproduksi. Bila pemilahan semantik antara fakta dan fiksi masih kita gunakan, maka dapat kita katakan bahwa dalam dunia

ilmiah, fiksi dihadirkan sebagai fakta, sedangkan dalam dunia sastra fakta dihadirkan sebagai fiksi. Namun, secara ontologis,

baik fakta maupun fiksi hakikatnya sama: produksi makna yang timbul dari hubungan kreatif timbal-balik antara subyek dan obyek.

Produksi makna yang lebih menekankan realitas obyek kita sebut fakta. Produksi makna yang lebih mementingkan aspirasi subyek

kita sebut fiksi. Keduanya hanyalah dua kutub dari satu proses yang sama.



Demikian agaknya kini kita hidup dalam

zaman yang sangat menyadari bahwa realitas adalah produk dan konstruksi manusia. Pada tingkat paling ketat kita hanya dapat

mengatakan bahwa fakta itu ada, yakni kenyataan, peristiwa dan pengalaman, yang pada dasarnya kompleks, multifaset, senantiasa

mengalir, tak pernah habis terumuskan oleh khazanah pola ungkap manusia (kata, nada, gerak, rupa, dsb). Sedangkan "apa"-nya

pengalaman atau fakta itu selalu bisa diartikulasikan dengan banyak cara, banyak fiksi, banyak ilusi (sains, seni, ilmu-ilmu

tradisional, wacana politik, agama, dst). Sering kali tergantung pada kepentingan dan kekuasaan mana yang merumuskannya.

Ke-fiksi-an itu makin terasa terutama bila menyangkut hal-hal dari masa lampau atau menyangkut kedalaman dan keluasan yang tak

terindra. Apa boleh buat, dunia manusia memang sebuah dunia yang selalu "dibuat-buat" karena manusia rupanya memang tidak hidup

dengan fakta melainkan dengan makna; tidak hidup dengan apa yang ia lihat, melainkan dengan apa yang ia pikirkan dan

imajinasikan.



Dalam kerangka itu, bisa juga kita katakan bahwa yang biasa kita sebut fakta sering kali hanyalah

fiksi yang dipercayai secara kolektif dan berubah-ubah demi makna. Dan di situ kebenaran barangkali hanyalah batas penalaran

dan imajinasi saja. Batas yang juga sementara, sebab batas itu nyatanya bergerak terus juga: bagai kaki langit batas cakrawala,

yang mundur terus ketika kita bergerak mendekatinya.



Bambang Sugiharto Pengajar Filsafat-ilmu di Universitas

Parahyangan dan ITB



Artikel ini merupakan perluasan makalah penulis yang disajikan dalam diskusi serial Bentara

Budaya Jakarta, Prosa: Fakta atau Fiksi?, pada 7 September 2006.

dilihat : 293 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution