Kamis, 20 Juni 2019 09:01:31 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 147
Total pengunjung : 515136
Hits hari ini : 933
Total hits : 4728334
Pengunjung Online : 19
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Indonesia dan Kecerdasan Majemuk






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 01 Agustus 2006 00:00:00
Indonesia dan Kecerdasan Majemuk
Indonesia dan Kecerdasan Majemuk



Oleh: Limas Sutanto -kompas,31 juli 06







Teori kecerdasan majemuk (the theory of multiple intelligences, Gardner, 1983, 1993, 1999) mengatakan, manusia bisa

belajar, berkomunikasi, dan memecahkan masalah dengan sembilan cara.



Kesembilan cara itu mendayagunakan kekuatan

kepiawaian, yaitu: (1) kekuatan kepiawaian kata (kecerdasan linguistik); (2) kekuatan kepiawaian logika/penalaran dan angka

(kecerdasan logik-matematik); (3) kekuatan kepiawaian gambar (kecerdasan spasial); (4) kekuatan kepiawaian gerak tubuh

(kecerdasan gerak ragawi); (5) kekuatan kepiawaian irama dan nada (kecerdasan musikal); (6) kekuatan kepiawaian hubungan

antarinsan (kecerdasan interpersonal); (7) kekuatan kepiawaian diri (kecerdasan intrapersonal); (8) kekuatan kepiawaian

hubungan manusia dengan fauna, flora, dan alam (kecerdasan naturalis); dan (9) kekuatan kepiawaian religiositas, spiritualitas,

dan filsafat (kecerdasan eksistensial).



Bangsa Indonesia, dalam transisi berat, dari kehidupan lama yang penuh

ketidakadilan, kecurangan, ketertutupan, kekerasan, dan ketidakpiawaian, menuju hidup baru yang lebih adil, jujur, terbuka,

damai, dan piawai (profesional), perlu meniti gelaran kesembilan cara itu, dan mendayagunakan kesembilan kekuatan kepiawaian

yang dirangkum Howard Gardner.



Gejala-gejala kekasaran, kekerasan, dan kegagalan yang menyakitkan dalam kurun

transisi dapat diterangkan dengan pandangan kecerdasan majemuk. Misalnya, kekasaran dan kekerasan aneka kelompok yang

menggunakan panji apa pun (agama, suku, ideologi, dan lainnya) main hakim sendiri terhadap orang atau kelompok lain, terjadi

karena kelompok-kelompok yang mengumbar kekasaran dan kekerasan tidak mendayagunakan kesembilan kekuatan kepiawaian dengan

baik. Paling jauh mereka menggunakan satu kekuatan kepiawaian, yaitu kekuatan kepiawaian gerak ragawi. Namun, pada saat sama

mereka menanggalkan kedelapan kekuatan kepiawaian lain, terutama kekuatan kepiawaian kata, kekuatan kepiawaian hubungan

antarinsan, dan kekuatan kepiawaian religiositas, spiritualitas, dan filsafat.



Korupsi sistemik yang meresapkan

ketidakadilan dan kemiskinan terjadi karena pejabat dan birokrat "pandai" menggunakan kecerdasan linguistik dan kecerdasan

logik-matematik. Namun, pada saat sama mereka menanggalkan kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan

eksistensial.



Bencana lumpur panas di Jawa Timur, yang amat menyengsarakan rakyat kecil, terjadi karena para

pengelola dan pelaksana usaha itu tidak mendayagunakan kecerdasan logik-matematik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan

naturalis, dan kecerdasan eksistensial dengan baik.



Belum mencerdaskan



Pendidikan kita belum

mencerdaskan, terlalu bertitik berat pada pendayagunaan kecerdasan linguistik dan kecerdasan logik-matematik. Itu pun banyak

dilakukan dengan cara tidak benar. Akibatnya, insan dan bangsa Indonesia tidak mampu menjalani kehidupan dengan kecerdasan yang

menyeluruh. Perilaku insan dan bangsa Indonesia yang tidak didukung pengejawantahan kecerdasan yang menyeluruh, tidak hanya

berakibat ketidakadilan, ketidakjujuran, ketertutupan, kekerasan, dan ketidakpiawaian satu tingkat (sekali lalu berhenti). Yang

terjadi justru penganakpinakan akibat-akibat mengerikan itu secara tak henti dalam lingkar setan ketidakbahagiaan dan kesakitan

bangsa Indonesia. Kehidupan yang tidak didukung pendayagunaan kecerdasan yang menyeluruh kian banyak meresapkan

ketidakbahagiaan dan kesakitan. Lalu, insan-insan yang tidak bahagia dan merasakan kesakitan akan menganakpinakkan kekerasan,

ketidakpiawaian, dan kegagalan baru.



Kita perlu mengejawantahkan kehidupan yang didukung pendayagunaan kesembilan

kecerdasan secara menyeluruh, karena hal itu akan lebih memungkinkan penghayatan kebahagiaan dan pengejawantahan kebaikan penuh

(Armstrong, 1993, 1999). Dengan demikian, lingkar setan kekerasan, ketidakpiawaian, dan kegagalan dapat dipatahkan, digantikan

gerakan tumbuh kembang sehat yang membuahkan kesejahteraan serta kebaikan bagi seluruh bangsa. Ini bisa dimulai dari pendidikan

yang secara saksama dan jujur dilaksanakan demi menumbuhkembangkan kecerdasan tiap insan pembelajar Indonesia.



URL

Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0607/31/opini/2839898.htm





LIMAS SUTANTO Psikiater Konsultan

Psikoterapi, Tinggal di Malang





dilihat : 430 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution