Senin, 16 Juli 2018 02:01:33 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 182
Total pengunjung : 405925
Hits hari ini : 3063
Total hits : 3698887
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Jalan Derita Mereka yang Terpinggirkan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 14 April 2006 00:00:00
Jalan Derita Mereka yang Terpinggirkan
Jalan Derita Mereka yang Terpinggirkan





William Chang --13 April 2006 - 13:33 (mirifaca.net)





Alur film The Passion of The Christ belum

berakhir. Rupanya Via Passionis (Jalan Derita) film ini masih panjang. Kali ini tampil adegan peminggiran kaum tuna karya.

Kapitalis asing mengeruk harta karun Tanah Air, sedangkan anak bangsa tersingkir.



Ribuan tenaga kerja Indonesia

(TKI) dari Sibu, Malaysia, terpaksa menelan buah simalakama. Pertengahan Maret lalu, mereka "dihalau" negara tetangga. Setiba

di Tanah Air, mereka disambut gelombang demonstrasi buruh. Lalu sejumlah perusahaan domestik (di bidang perkayuan dan garmen)

mulai gulung tikar. Di tengah kelesuan ekonomi, deret penganggur memanjang.



Jika data Badan Pusat Statistik (BPS)

benar, TKI itu hanya sebagian kecil dari 29,6 juta warga underemployment atau 31,2 persen dari penduduk yang bekerja. Menurut

data terakhir, 11,6 juta dari 106,9 juta angkatan kerja masih menganggur. Hanya 95,3 juta yang mendapat pekerjaan. Yang lain,

bagaimana?



Sebagai warga the marginalized (kaum terpinggirkan), kaum tuna karya mengalami guncangan sosial.

Identitas diri terimpit karena kehilangan status sosial, baik di dalam maupun di luar negeri. Mau tak mau, mereka kembali

mengadu nasib di negeri sendiri.



Sebagai warisan rezim pendahulu, mismanajemen negara kita menyengsarakan rakyat.

Meski berstatus "pendatang haram", anak-anak bangsa tampaknya lebih senang menjadi TKI yang mengais sesuap nasi di negeri

tetangga sebagai buruh kasar, pekerja perkebunan, dan pembantu rumah tangga. Ironis! Padahal, banyak pekerjaan yang harus

segera ditangani negara kita.



Mismanajemen ini, antara lain, tampak dalam penempatan birokrat pusat dan daerah yang

sebenarnya tak profesional. Infrastruktur di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua dibiarkan rusak. Daya muat

truk-truk hampir tak pernah dikontrol. Berbulan-bulan lampu lalu lintas rusak, gedung pemerintah dibiarkan merana. Hingga kini,

dinas kebersihan kelabakan menangani serakan sampah dari Sabang hingga Merauke.



Passio sosial bertambah berat

karena dangkalnya daya kreativitas rakyat kecil dalam mengusahakan lapangan kerja baru. Ajang pendidikan dalam keluarga dan

sekolah formal belum menggodok tenaga-tenaga kreatif dalam merintis lapangan kerja. Mentalitas pasif perlu segera

ditransformasi dalam menghadapi krisis sosial, ekonomi, kebudayaan dan politik bangsa.



Menuju "compassio"





Pengangguran menimbulkan dampak riskan berbangsa dan bernegara, serta menyuburkan kemiskinan sosial. Nasionalis

ekstrem asal Austria, Adolf Hitler (1889-1945), telah memobilisasi warga Jerman untuk membangun kamp-kamp konsentrasi dan

menyulut Perang Dunia II. Di tengah kemelut sosial, kaum penganggur mudah jadi mangsa, diperalat dan dipolitisasi.





Kini reformasi manajemen pemerintah perlu mentransformasi passio menjadi compassio, terutama di kalangan the

marginalized sehingga mereka sungguh dapat mengecap kesejahteraan sosial. Sebagai pelengkap keadilan, kesetiakawanan menjadi

jiwa transformasi sosial. Perdamaian dunia akan terwujud jika kesetiakawanan antaranak bangsa dan antarbangsa dilaksanakan

(Sollicitudo rei socialis 39). Kesetiakawanan ini mengalami dua arah proses (give and receive).



Peralihan dari

passio menuju compassio bukan hal mustahil. Menurut Sekretaris Umum Panitia Solidaritas Masyarakat Nikaragua Ana Patricia

Elvir, sejak 16 tahun silam, telah terbentuk 2.500 panitia kesetiakawanan lokal di Nikaragua, yang bekerja sama dengan AS,

Eropa, Kanada, Amerika Latin, Afrika, Asia dan Oseania. Hidup sosial terperbaiki. Empat tahun kemudian, muncul slogan besar,

"Thank you, International Solidarity!".



Proses peminggiran rakyat kecil perlu diimbangi compassio yang melibatkan

seluruh anasir sosial, sambil berpegang tangan menempuh Via Crucis yang dirintis Yesus. Derita-Nya selama memanggul salib

menjadi cermin kasih dan kesetiakawanan dengan the marginalized, the poor dan the hopeless.



Masalahnya,

bagaimanakah kesetiakawanan bisa terwujud jika sistem sosial masih rapuh, penegak hukum masih bermain kayu, korupsi masih

deras, keseriusan birokrat mengurus negara masih rendah? Yang jelas, "Multa tuli" ("aku telah banyak menderita") awal abad

ke-21 sedang menantikan compassion yang membebaskan dari derita.



William Chang Pemerhati Masalah Sosial





dilihat : 219 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution