Senin, 23 Juli 2018 16:45:05 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 186
Total pengunjung : 407734
Hits hari ini : 1320
Total hits : 3718470
Pengunjung Online : 2
Situs Berita Kristen PLewi.Net -London, Kota Paling Multirasial di Dunia






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 01 Januari 2006 00:00:00
London, Kota Paling Multirasial di Dunia






London, Kota Paling Multirasial di Dunia







Pihak kepolisian dan keamanan Inggris sudah berulang kali memperingatkan bahwa serangan terhadap kota London

pasti akan terjadi. Namun, ketika empat ledakan bom terjadi pada Kamis (7/7) pagi, hampir semua pihak, mulai dari politisi

sampai ke rakyat biasa, masih menyimpan rasa tidak percaya.



Tidak percaya karena walaupun misalnya alasan utama

peledakan itu adalah pembalasan dendam atas keterlibatan Inggris mendukung Amerika Serikat di Irak dan Afganistan, toh London

banyak menyimpan keunikan lain, yang bisa menyeimbangkan dosa tersebut.



Sebagai kota metropolitan, London menyimpan

banyak keunikan. Walaupun pemerintah Tony Blair mendukung serangan ke Irak, demonstrasi menentang perang Irak juga dilakukan di

London, dengan hadirnya hampir 2 juta orang pada Maret 2003.



Wali Kota London Ken Livingstone adalah penentang

perang Irak dan dia dengan jelas menunjukkan perbedaan pendapat dengan Tony Blair.



London atau sebagian besar

warganya tak suka perang karena ini adalah kota yang paling multirasial. Di sini berkantor BBC Siaran Dunia (World Service)

yang berisi penduduk yang bisa menyiarkan lebih dari 40 bahasa ke seluruh dunia.



Berbeda dengan markas besar PBB di

New York, para pekerja BBC ini adalah wartawan dan pekerja biasa yang hidup berbaur dengan masyarakat

lainnya.



Karena banyaknya penduduk dari mancanegara, kadang di berbagai kantong London ini muncul perkampungan

penduduk, yang merupakan penduduk paling banyak di luar negaranya.



Di dekat salah satu stasiun tempat terjadinya

ledakan bom, Aldgate, terdapat perkampungan warga keturunan Banglades. Daerah Brick Lane dipenuhi dengan restoran kari dan

makanan dari daerah Asia lainnya. Tak jauh dari sana berdiri Masjid London Timur, masjid kedua terbesar di kota

ini.



Penduduk asal Polandia terbesar di luar negeri itu berkumpul di kota London. Setiap minggu mereka menghadiri

perayaan kebaktian gereja yang dilaksanakan dalam bahasa Polandia.



Di daerah London barat daya, New Malden dipenuhi

dengan restoran asal Korea Selatan. Di daerah Finchley, penduduk keturunan Yahudi berkumpul dengan suasana akhir pekan, kadang

seperti di Tel Aviv.



Di daerah Stratford, di London Timur yang akan dijadikan pusat kegiatan Olimpiade 2012, data

statistik pada tahun 2003 menunjukkan jumlah penduduk asing sekarang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang asli

Inggris.



Di tempat kejadian bom lain, Edgware Road, restoran Lebanon berdampingan dengan kebab dan makanan asli

Inggris, fish dan chip, karena penduduk keturunan Arab yang dulunya melarikan diri dari negara mereka sekarang berdomisili di

tempat itu.



Sebagai negara yang dulu memiliki banyak jajahan, London kemudian menampung mereka, mulai dari penduduk

Somalia di Afrika sampai ke Karibia.



Walaupun penduduk imigran tak sampai 10 persen dari keseluruhan penduduk

Inggris, tetapi 70 persen di antaranya tinggal di London. Dengan tingkat multirasial yang begitu tinggi, London tak pernah

berharap akan menjadi sasaran teroris.



Namun, teroris memang tidak memandang siapa korbannya.



Selain

akibat perang Irak, ketika mengatakan bahwa serangan terhadap London bisa terjadi kapan saja, petugas keamanan memang melihat

London memiliki kelemahan. Dari sisi transportasi, misalnya, setiap hari jaringan kereta api bawah tanah di London ini membawa

3 juta penumpang, dengan kereta bergerak dari subuh sampai tengah malam.



Beberapa jaringan kereta ini sudah dibangun

sejak 80-90 tahun lampau, dengan infrastruktur yang tidak dirancang untuk menghadapi kemungkinan serangan

teroris.



Ledakan yang menewaskan sedikitnya 21 orang di Stasiun King’s Cross terjadi di jalur Piccadilly. Jalur

ini memang paling rawan karena merupakan jalur bawah tanah terdalam, sedalam hampir 40 meter.



Kekhawatiran bahwa

kalau terjadi sesuatu di jalur ini usaha pertolongan akan sulit dilakukan, terbukti pada Kamis lalu. Para petugas pemadam

kebakaran memerlukan waktu 50 menit untuk mencapai para korban, padahal di tempat lain bisa dilakukan dalam bilangan menit. Tak

mengherankan kalau jalur Piccadilly ini memakan korban paling besar.



Inggris sampai sejauh ini tetap berusaha untuk

mempertahankan keseimbangan antara kebebasan sipil dan penjaga keamanan ketat.



Namun, setelah peristiwa ini,

jaringan kereta api bawah tanah akan mulai menggunakan detektor untuk memeriksa barang-barang yang mencurigakan. Selama ini hal

tersebut tidak dilakukan karena selain akan memerlukan waktu yang lama memeriksa penumpang satu per satu, juga bisa dianggap

melanggar wilayah kepribadian warga.



Di sini sedang ramai didiskusikan apakah penerapan kartu tanda pengenal (KTP)

akan bisa menghalangi tindak teroris. Banyak yang menentang karena selain biaya pembuatannya mahal, KTP juga akan membuat

negara bisa mencampuri urusan pribadi warganya terlalu jauh.



Sekarang dengan kejadian yang sudah menewaskan lebih

dari 50 orang itu, mungkin pendapat sebagian orang akan berubah. London selama ini menjadi tempat yang multirasial dan bebas.

Pergerakan orang tidak pernah dibatasi.



Hampir 7 juta warga sibuk dengan urusan masing-masing setiap hari, dengan

pikiran bahwa kota mereka unik, betul-betul internasional sehingga batas antara kawan dan lawan tidaklah

jelas.



Barangkali setelah 7 Juli, pendapat itu akan berubah atau juga mungkin tidak.



Seperti dikatakan

Wali Kota Ken Livingstone, setelah kembali dari Singapura merayakan keberhasilan menjadi tuan rumah Olimpiade 2012. Teroris

menghendaki kita berhenti bertindak normal. Namun dengan bertindak normal, kita menunjukkan bahwa kita tidak bisa dikalahkan

teroris.



L Sastra Wijaya, Kontributor Kompas dan Penyiar Radio BBC di London (Kompas, Selasa, 12 Juli 2005)







dilihat : 273 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution