Sabtu, 21 Juli 2018 09:02:23 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 42
Total pengunjung : 407267
Hits hari ini : 262
Total hits : 3713201
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Kualitas Kerukunan Beragama Kita






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 01 Januari 2005 00:00:00
Kualitas Kerukunan Beragama Kita






Kualitas Kerukunan Beragama Kita







Oleh: Benny Susetyo



HANCURNYA keadaban publik membuat tata nilai kabur karena hidup ini tampak

hanya digerakkan oleh apa yang terlihat secara inderawi belaka. Kehidupan seperti ini, yakinilah, hanya akan membawa masyarakat

Indonesia hidup tanpa visi untuk membangun Indonesia ke depan yang lebih beradab.



Visi Indonesia ke depan ditentukan

oleh bagaimana kultur beradab dijadikan acuan atas perilaku dalam kehidupan bersama. Peranan agama menjadi amat penting, tetapi

bila dia berposisi sebagai poros yang memainkan perannya sebagai penyimbang dalam dua poros utama, yakni negara dan pasar. Itu

kita katakan karena selama ini agama sering terjebak pada permainan negara dan terjerumus dalam logika pasar kapitalisme global

yang halus tetapi mencelakakan.



Agama harus dikembalikan perannya sebagai penyeimbang dalam kedua kekuatan besar

tersebut. Itulah yang penulis maksud dengan upaya untuk merenda habitus baru bangsa dan upaya untuk merumuskan kultur bangsa

yang beradab.



Jelas bahwa orientasi hidup beragama tidak hanya sekadar mencari kerukunan antara agama satu dan

lainnya, setelah itu kita beranggapan everything is over. Justru setelah kerukunan agama tersebut hidup berkelanjutan, hal itu

harus menjadi modal bangsa untuk membangun dan mencari keseimbangan di antara posisi negara dan pasar, antara perancang

kebijakan politik dan para pelaku ekonomi.



Jadi masalahnya adalah bagaimana kerukunan hidup beragama itu bisa

menjadi modal dasar untuk membangun sebuah cara pandang, cara merasa, dan cara perilaku sesuai dengan kemanusiaan dan

keadilan.



Dengan cara seperti itu, berarti agama dalam masyarakat adalah sebagai roh dan semangat untuk membangun

dan bukan agama sebagai tujuan yang dilegal-formalkan untuk kepentingan kelompok tertentu. Agama akan menjadi roh pembebas

masyarakat dari ketakutan akan represi negara maupun ketertindasan eksploitasi ekonomi.



AGAMA tidak menjadi

orientasi hidup, melainkan untuk menjadikan hidup ini lebih berorientasi pada kemanusiaan. Itulah sekiranya tujuan terpenting

beragama yang sering terselewengkan dalam perjalanan kita sebagai bangsa. Yakni ketika agama dijadikan sebagai manifesto

simbolik yang harus ditegakkan dengan pedang daripada dijadikan pewarna kehidupan kita untuk memperkuat

semangat.



Kualitas kerukunan beragama amatlah ditentukan oleh masyarakat sendiri, sejauh politik tidak menggunakan

agama sebagai aspirasi. Masalahnya, di Indonesia ini agama sering dijadikan instrumen kekuasaan daripada sebagai pewarna dan

pengarah.



Inilah yang membuat agama sering mandul dalam diri para pengkhotbah dan para pemeluknya. Sebab, ia tidak

pernah dibatinkan dalam perilaku, tetapi lebih dijadikan komoditas politik dan ekonomi untuk kepentingan jangka pendek dan amat

sempit.



Orientasi beragama justru bukan untuk mengembangkan keadaban publik, tetapi lebih pada bentuk lahiriahnya

saja. Pada akhirnya umat beragama hanya mencari identitas diri di bawah simbol-simbol perlawanan yang berdarah, bukan

perlawanan terhadap kemiskinan dan ketidakadilan.



Persoalan identitas yang simbolistik inilah yang membuat kerukunan

kita hanya semu. Orientasi beragama hanya sekadar to have religion bukan to be religion. Agama kehilangan jati diri dan

nuraninya seba- gai entitas pembawa kedamaian dan keadilan.



Agama hanya dipahami parsial lewat ketakutan dan

dihilangkan unsur rasionalitasnya. Kalau politik seperti ini yang dikembangkan, kerukunan agama tidak akan lestari karena ia

akan mudah diledakkan menjadi konflik laten.



KUALITAS beragama bisa diukur bila kesalehan tidak sekadar bermakna

individual, melainkan sosial. Kesalahen sosial akan melahirkan sikap-sikap kemanusiaan dalam berbagai kebijakan politik maupun

ekonomi.



Seharusnya yang dipentingkan bukan hanya jumlah rumah ibadatnya saja, melainkan pada orientasi hidup yang

bernilai pemekaran pada nilai kebersamaan, solidaritas, dan kesetiakawanan. Nilai-nilai ini hanya bisa ditumbuhkan bila agama

menjadi inspirasi batin.



Tetapi, tampaknya hal ini belum terwujud secara optimal karena kerukunan agama hanya dalam

wacana belaka dan belum menjadi habitus bangsa. Kerukunan belum menjadi menjadi cara pandang, cara berpikir, dan cara berperi

laku manusia-manusia beragama di Indonesia.



Pluralitas yang seharusnya menjadi modal utama untuk pembentukan

karakter bangsa berjalan terseok-seok. Agama sendiri terjebak pada hal-hal ritual. Akibatnya, cara beragama masyarakat hanya

upaya mengejar simbol. Hal ini membuat agama tidak mampu menjadi dirinya sendiri dan gagal menjadi penyeimbang dua kekuatan

utama, yakni negara dan pasar.



Dengan demikian, hal yang mendasar ditumbuhkan adalah bagaimana masing- masing agama

dan para pemeluknya mengembalikan wajah agama menjadi lebih manusiawi. Orientasinya adalah agar agama berpihak kepada realitas

kemiskinan, ketidakadilan.



Sebab, di situlah agama memiliki wajahnya yang lebih profetis. Dia harus menjadi sumber

moralitas dalam kehidupan ini. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana agar agama menjadi dirinya sendiri dan yang lebih penting

adalah menjadi media komunikasi iman dalam mengubah kehidupan ini.



Tampaknya kini yang dibutuhkan adalah paradigma

baru, yakni bagaimana para pemimpin agama berani menafsirkan teks sesuai dengan konteks politik, budaya, ekonomi pada waktu

ini, bukan sesuai dengan setting history masa lampau. Dengan menafsirkan teks dalam konteks zaman ini, para pemuka agama akan

mampu keluar dari kaca mata eksklusif dan berubah menjadi inklusif.



Pemahaman yang lebih inklusif inilah yang

seharusnya dimiliki oleh para pemuka agama di negara kita. Dengan pemahaman seperti ini maka dialog agama akan lebih berkembang

menjadi dialog kehidupan.



LEMBAGA agama yang belum optimal memainkan peranannya sebagai komunitas "pemutus kata" dan

hanya sebagai komunitas "pengiya kata" maka konsekuensinya mereka akan berhadapan dengan persoalan-persoalan yang semu dan

tidak mendasar.



Lembaga agama hanya berdialog dalam level teologis, tetapi tidak menyentuh masalah mendasar, yakni

masalah kemiskinan, pengangguran, dan berbagai ketidakadilan struktural lainnya. Inilah yang membuat lembaga agama tidak

memainkan diri sebagai kekuatan penyeimbang dan membuat kerukunan hanya sekadar seremonial belaka.



Inilah agenda

mendasar yang perlu dipikirkan oleh umat beragama untuk secara serius memikirkan masa depan bangsa ini.



Hancurnya

keadaban publik sudah hampir sempurna. Realitas lembaga agama yang cuek dengan masalah ini justru akan menjerumuskan diri pada

masalah yang amat tidak mendasar dan tidak perlu dijadikan perdebatan.



BENNY SUSETYO PR Rohaniwan (Kompas, Senin, 20

Desember 2004 )





dilihat : 248 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution