Rabu, 23 Oktober 2019 22:32:06 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 213
Total pengunjung : 520899
Hits hari ini : 1462
Total hits : 4943598
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Mereaktualisasi Gagasan TB Simatupang






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 01 Januari 2005 00:00:00
Mereaktualisasi Gagasan TB Simatupang
Mereaktualisasi Gagasan TB

Simatupang





Oleh WEINATA SAIRIN



Dr. TB Simatupang — akrab dipanggil Pak Sim—yang meninggal di

Jakarta 1 Januari 1990 tak bisa disangkal adalah sosok pemikir yang tajam daya analisisnya. Ia menjadi Kepala Staf Angkatan

Perang dalam usia yang relatif muda dan kemudian aktif dalam kepemimpinan PGI; pemikiran-pemikirannya memang antisipatif dan

bernilai konseptual-strategis. Pak Sim memberikan kontribusi pemikiran yang amat mendasar tentang hubungan antar-umat beragama

dalam masyarakat majemuk Indonesia, dan bagaimana peran agama dalam degup pembangunan bangsa. Dalam rangka membangun sebuah

masyarakat modern, Pak Sim melihat pentingnya sebagai bangsa kita melakukan kajian kritis.



Pembangunan masyarakat

modern, kata Pak Sim tidak sekadar meniru saja masyarakat-masyarakat modern yang telah ada sekarang. Tetapi, berdasarkan

Pancasila kita juga sekaligus memberi kontribusi dalam usaha umat manusia untuk mengatasi berbagai krisis parah yang sedang

melanda dunia modern. Krisis-krisis itu adalah krisis keagamaan, moral, spiritual dan etik (sila pertama), krisis kemanusiaan

(sila kedua); krisis solidaritas sosial, nasional dan internasional (sila ketiga), krisis demokrasi (sila keempat); krisis

keadilan sosial, internasional, ekologi (sila kelima). Bertolak dari iman mereka masing-masing, maka umat beragama di Indonesia

baik sendiri-sendiri, maupun bersama-sama harus mampu memberikan sumbangan positif, kreatif, kritis dan realistis dalam

perencanaan serta pelaksanaan pembangunan.



Dalam konteks itu, menurut Pak Sim, tidak berarti bahwa umat beragama

itu secara sepihak hanya memberikan pemikiran mengenai pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila, tetapi juga sekaligus

berpartisipasi secara positif, kreatif dan realistis dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Hal itu hanya dapat

dikembangkan sebagai hasil dari dialog atau percakapan di antara umat beragama dengan para pemikir dan pelaku di berbagai

bidang pembangunan.



Sehubungan dengan itu, menurut Pak Sim, perlu ada pembaruan pemikiran dan orientasi umat

beragama dengan memberi perhatian tidak hanya pada hal-hal akhirat saja tetapi juga hal-hal pra-akhirat, seperti

masalah-masalah kemanusiaan, keadilan, perdamaian, kelestarian, lingkungan hidup, dan sebagainya. Masyarakat modern yang

menjadi muara dari pembangunan nasional di Indonesia tidak boleh menjadi masyarakat yang di dalamnya spiritualitas dan

nilai-nilai agama menjadi kerdil dan tanpa makna seperti yang terjadi dalam suatu negara sekuler. Agama-agama di Indonesia

harus berjuang untuk menghindarkan perwujudan masyarakat sekuler apabila kita tidak ingin mengulangi pengalaman bangsa-bangsa

lain.



Menurut Pak Sim, negara Pancasila bertekad menyukseskan pembangunan dengan menghargai peranan agama-agama

dalam periode pembangunan itu. Dengan demikian dalam konteks itu, agama-agama perlu melakukan tiga hal: Pertama, warisan atau

beban sejarah berupa pemikiran dan pandangan mengenai diri sendiri (self undertanding) perlu dinilai, sampai di mana warisan

pengalaman dan pemikiran itu membantu dalam menghadapi tugas-tugas dalam rangka negara Pancasila yang membangun. Kedua, warisan

atau beban sejarah berupa pemikiran dan pandangan mengenai agama-agama yang lain (khususnya pandangan yang hidup di kalangan

Kristen mengenai Islam, dan sebaliknya), perlu dinilai ulang sampai di mana pandangan itu sesuai dengan kenyataan atau tidak.

Ketiga, perlu ditinjau hal-hal mana yang merupakan penghalang dalam usaha bersama dari warga negara yang menganut agama-agama

yang berbeda-beda untuk menyukseskan pembangunan dalam negara Pancasila dan apa yang dapat dilaksanakan secara positif agar

semua warga negara dengan latar belakang keagamaan yang berlainan dapat sepenuhnya turut serta dan bekerja sama dalam

pembangunan tersebut.



Dalam mewujudkan tiga hal tersebut di atas, Pak Sim menyatakan bahwa pada satu pihak

masing-masing agama perlu mengadakan re-thinking, pada pihak lain perlu diadakan dialog dan pemikiran bersama yang di dalamnya

soal-soal bersama yang berhubungan dengan pembangunan dalam negara Pancasila dapat direnungkan secara bersama. Hal yang

digarisbawahi Pak Sim, dalam konteks ini adalah perlunya kesamaan persepsi bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah prinsip

ketatanegaraan dan bukan pernyataan teologis. Artinya bahwa negara mengakui, menghormati dan melindungi hak warga negara untuk

memuji Tuhan menurut keyakinannya; dan manusia dalam kebebasannya dapat menentukan hubungannya dengan

Tuhan.



Departemen Agama



Menurut Pak Sim, pada saat pembentukannya, departemen yang mengurus soal-soal

keagamaan itu disebut Departemen Agama, yang struktur serta personalianya disesuaikan dalam rangka hanya mengurus agama Islam.

Sesudah tugas departemen itu diperluas, dengan tujuan mencakup urusan agama Kristen, Hindu dan Buddha, nama dan struktur itu

tidak mengalami perubahan. Menurut Pak Sim, yang terjadi hanyalah perubahan dari bagian-bagian khusus, sementara struktur dan

nama juga tidak berubah, bahkan hingga masa Orde Baru, ketika dilakukan penertiban aparatur negara yang di dalamnya ditegaskan

bahwa Departemen Agama adalah salah satu di antara departemen-departemen pemerintahan dalam negara Pancasila. Dengan

mengakomodasi berbagai perkembangan yang terjadi sejak departemen itu dibentuk tahun 1946, Pak Sim mengusulkan agar nama

departemen itu diubah menjadi Departemen Keagamaan, di dalamnya mencakup perubahan struktur departemen tersebut yang memberi

perhatian yang sama terhadap semua agama yang diakui di Indonesia.



Pemikiran-pemikiran Pak Sim, di bidang keagamaan

termasuk bagaimana agama-agama memainkan peran dalam negara Pancasila, bagaimana agama menyiapkan diri menyongsong era

modernisasi di abad XXI, memiliki kedalaman yang luar biasa. Di atas semua itu khususnya dalam konteks Indonesia, aksentuasi

dan nada dasar dari seluruh tulisan Pak Sim di bidang keagamaan adalah agar agama-agama tidak eksklusif, tidak menjadi sumber

potensi disintegratif tapi mampu secara bersama-sama memberikan kontribusi maksimal bagi keutuhan bangsa Indonesia. Di

tengah-tengah adanya keraguan dan bahkan sinisme terhadap Pancasila sebagai dasar pemersatu bangsa, pemikiran serta

interpretasi yang aplikatif terhadap sila-sila dari Pancasila sebagaimana diupayakan Pak Sim, menyadarkan ulang bahwa Pancasila

pada diri sendiri tetap memiliki relevansi sebagai landasan dasar, ruang untuk bertemu dari sebuah masyarakat majemuk seperti

Indonesia. Pandangan Pak Sim, bahwa sila pertama Pancasila adalah prinsip ketatanegaraan dan bukan pernyataan teologis

mengingatkan kita sebagai bangsa untuk tidak terjebak membawa bangsa ini ke sebuah tatanan kenegaraan yang berdasarkan agama.

Yang bertentangan secara diametral dengan hakikat Negara Pancasila. Reaktualisasi pemikiran Pak Sim akan menjadi amat penting

dalam menapaki hari-hari di depan kita!



Penulis adalah Sekretaris Umum Majelis Pendidikan

Kristen



http://www.sinarharapan.co.id (1/10/04)

dilihat : 445 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution