Sabtu, 15 Desember 2018 17:38:44 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 175
Total pengunjung : 450778
Hits hari ini : 1173
Total hits : 4152611
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pusat Intelektual Islam Pertama di Nusantara






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 09 Januari 2005 00:00:00
Pusat Intelektual Islam Pertama di Nusantara
Islam sudah lama masuk ke Aceh.

Kaligrafi Arab di makam Sultan Malik as-Shaleh, penguasa Kerajaan Samudera Pasai tahun 1270-1297 Masehi, menjadi salah satu

artefak sejarah yang membuktikan Islam masuk ke Nusantara sekitar abad ke-13 Masehi.



Dalam perkembangan selanjutnya,

Aceh menjadi salah satu simpul penting bagi kebudayaan bernapaskan Islam di Indonesia. Kerajaan Samudera Pasai (berkembang

sekitar abad XII-XVI) dan Kerajaan Aceh Darussalam (abad XVI-IXX) memiliki peranan besar dalam membangun Aceh. Jika kerajaan

pertama meletakkan dasar-dasar Islam, kerajaan kedua berhasil memunculkan Aceh sebagai kekuatan politik penting di Asia

Tenggara.



Kepala Museum Negeri Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Nurdin AR mengungkapkan, Kerajaan Aceh

Darussalam mencapai masa kejayaannya sekitar abad ke-17. Kejayaan diawali inisiatif raja ketiga, Sultan Alaudin Riayat Syah,

untuk membuka jalur diplomatik ke Kerajaan Turki Ustmani. Turki, yang ingin menghambat pengaruh Barat, mengirimkan bantuan,

terutama untuk menjaga Selat Malaka sebagai jalur perdagangan internasional.



Pembukaan jalur diplomatik membuat Aceh

berkembang sebagai kawasan yang kosmopolit dengan mengandalkan perdagangan dan pertanian. Perdagangan maju pesat, dan pada

pertengahan abad ke-19, produksi lada di Aceh mencapai setengah dari total produksi lada di dunia,

katanya.



Kebangkitan Aceh diuntungkan oleh redupnya pengaruh Kerajaan Sriwijaya (abad VII- XIII Masehi) dan

runtuhnya Kerajaan Malaka di Malaysia akibat diserang Portugis (1511). Secara berangsur-angsur, hampir semua potensi sumber

daya manusia di Malaka pindah ke Kerajaan Aceh Darussalam, seperti politikus, ulama, dan kaum intelektual. Tak pelak lagi, Aceh

tumbuh menjadi pusat kebudayaan Melayu Islam kala itu dan dikenal sebagai Serambi Mekkah.



Semangat

intelektualisme



Situasi yang serba mendukung itu juga memekarkan semangat intelektualisme yang ditandai dengan

lahirnya karya-karya penting. Apalagi beberapa sultan mengangkat ulama dan kaum intelektual sebagai wali raja, penasihat,

mufti, kadi, sekaligus imam di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Sultan al-Mukammil memberikan banyak fasilitas kepada

Hamzah Fansuri, Sultan Iskandar Muda dikenal dekat dengan Syamsuddin Sumatrani, Sultan Iskandar Tsani mempercayai Nuruddin

Ar-Raniri, dan Sultanah Syafiatuddin melimpahkan keleluasaan bagi Abdurrauf As-Syinkili.



Keempat ulama itu menjadi

tokoh penting yang melahirkan karya-karya besar dan berpengaruh dalam wacana intelektualisme Islam di Indonesia. Diperkirakan,

Hamzah Fansuri menulis tujuh sampai belasan kitab, Nuruddin Ar-Raniri menulis 31 kitab, Syamsuddin Sumatrani 25 kitab, dan

Abrurrauf As-Syinkili 30 kitab. Karena peralatan cetak belum dikembangkan di Nusantara, karya-karya itu berbentuk manuskrip

alias ditulis tangan dengan menggunakan aksara Arab. Sebagian berbahasa Arab, sebagian Melayu, atau menggunakan bahasa

Aceh.



Perdebatan soal pemahaman wujudiyah dalam tasawuf menjadi salah satu pemicu lahirnya puluhan manuskrip yang

ditulis untuk saling menanggapi pemikiran satu kepada yang lain. Perdebatan berkisar soal konsep wahdatul wujud, apakah

substansi wujud Allah sebagai khalik (pencipta) bisa bersatu dengan manusia sebagai makhluk (obyek yang diciptakan). Hamzah dan

Syamsuddin meyakini kemungkinan adanya persatuan khalik-makhluk, Nuruddin yang memegang jalan syariah yang formalistik berusaha

menentang paham penyatuan itu, sedangkan Abdurrauf berusaha mengambil jalan tengah.



Tetapi, perdebatan itu sekaligus

juga memicu pembakaran puluhan kitab karya Hamzah dan Syamsuddin pada masa Sultan Iskandar Tsani. Akibatnya, karya dua ulama

yang produktif itu banyak hilang atau terbakar sehingga banyak yang tidak terlacak, kata Oman Fathurrahman, peneliti dari Pusat

Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.



Menurut Rektor UIN

Jakarta Prof Azyumardi Azra, sesungguhnya karya-karya intelektual Aceh tidak hanya mengulas tasawuf, tetapi juga membahas

berbagai tema penting dalam pemikiran Islam, seperti fikih (hukum Islam), sejarah, tafsir, hadis, etika, dan ilmu pengetahuan

umum. Dengan kekuatan jaringan ulama internasional, apa yang berkembang di Timur Tengah juga direspons di Aceh dengan

perspektif lokal.



Manuskrip-manuskrip yang ditulis menunjukkan, ulama Aceh juga jadi produsen pemikiran Islam yang

aktif. Produk pemikiran mereka menawarkan pendekatan yang khas dibandingkan arus umum pemikiran di dunia Islam. Di Aceh,

kemudian juga berkembang jenis tasawuf amali atau akhlaki, yaitu praktik tasawuf yang berkesesuaian dengan syariat,

katanya.



Intelektualisme Aceh, lanjut Azyumardi, meredup bersama mundurnya Kerajaan Aceh Darussalam akibat munculnya

fatwa haramnya perempuan menjadi sultan, pada akhir abad XVII. Setelah itu, perkembangan pemikiran Islam beralih ke kerajaan

Islam lain, seperti Palembang, Banjarmasin, Sulawesi, dan Jawa. Tapi, wacana intelektulisme Islam Aceh tetap memberikan

pengaruh bagi pertumbuhan pemikiran selanjutnya.



Hingga kini, manuskrip-manuskrip tersebut menjadi kekayaan

intelektual yang penting untuk memahami kebudayaan Islam dan masyarakat Aceh. Setidaknya hal itu dibuktikan antropolog asal

Belanda, Snouck Hurgronje, yang tinggal di Aceh (1891-1992) untuk kepentingan penelitian yang dipersembahkan Kerajaan

Belanda.



Selain mengandalkan pengamatan lapangan, Snouck juga banyak merujuk manuskrip klasik untuk mendeskripsikan

budaya masyarakat Aceh yang unik. Itu terlihat dari dua karyanya tentang masyarakat Aceh, De Atjheers (1894) serta Tanah Gayo

dan Penduduknya (1904).



Kegelapan intelektual



Hanya saja, tradisi dan wacana intelektualisme kemudian

mandek dan ribuan manuskrip Aceh terbengkalai selama konflik bersenjata yang berlangsung sejak meletus perang melawan Belanda

dan kemudian disusul konflik semasa kemerdekaan dan setelahnya.



Nurdin mensinyalir, Aceh telah terjebak dalam masa

kegelapan intelektual selama 140 tahun, yaitu sejak Perang Atjeh tahun 1875. Masalahnya, kaum intelektual dan ulama ikut

berperang, bahkan menjadi panglima, sehingga tak sempat lagi menghasilkan karya-karya besar seperti

pendahulunya.



Perang Atjeh bersifat ideologis, cenderung mengatasnamakan agama, dan kolektif, sehingga terus

berkelanjutan dari generasi ke generasi sampai sekarang. Selama itu pula, manuskrip Aceh nyaris tak tersentuh. Itu kerugian

besar bagi masyarakat Aceh, katanya.



Dalam konteks tersebut, dokumentasi dan digitalisasi manuskrip Aceh, yang

disokong Center for Documentation and Area-Transcultural Studies (C-DATS) Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), menjadi

sangat penting. Program itu menyelamatkan manuskrip yang tersisa dari tsunami, sekaligus membuka akses luas kepada generasi

muda Aceh dan ilmuwan internasional untuk mempelajari khazanah keilmuan Aceh beberapa abad silam.



Menurut Azyumardi

Azra, Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh hendaknya mendorong mahasiswa untuk meneliti manuskrip tersebut sehingga kekayaan

intelektual tersebut bisa tergali lagi.



Langkah itu penting untuk menemukan bahan perbandingan dari masa lalu guna

membangun kebudayaan masa depan yang lebih kokoh. Tetapi, jangan sampai terjebak pada romantisme berlebihan terhadap

bayang-bayang kejayaan masa silam, kata Azyumardi Azra.



(Kompas, Rabu, 05 Oktober 2005 )



dilihat : 300 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution