Kamis, 20 Juni 2019 08:45:43 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 121
Total pengunjung : 515109
Hits hari ini : 856
Total hits : 4728257
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Memperebutkan Kebenaran Firman






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 10 Januari 2005 00:00:00
Memperebutkan Kebenaran Firman
Sejalan

dengan turunnya wahyu, Tuhan sesungguhnya tidak hanya bersabda, tetapi juga berbicara. Oleh sebab itu, wahyu bukanlah turun

dalam alam sejarah yang kosong.



Dalam sejarah turunnya wahyu Al Quran, ada yang disebut asbab an-nuzul, yakni

mengapa Tuhan ikut berbicara, menanggapi persoalan atas kasus kehidupan yang terjadi di zaman rasul-Nya itu. Tuhan, saat

turunnya wahyu itu, memang dalam banyak kejadian terlibat langsung dalam perbincangan, ikut menanggapi persoalan yang

muncul.



Dengan begitu, artinya, Tuhan terlibat dalam percakapan sejarah, percakapan dengan orang-orang yang secara

aktual menghadapi permasalahan yang muncul saat itu, yang kemudian percakapan Tuhan itu dalam perkembangannya lebih jauh

menjadi dokumen kitab suci. Secara hermeneutik, memang hal ini menjadi soal yang rumit. Sebab, kehadiran Tuhan dalam percakapan

itu (dalam dialog Tuhan dan pergumulan sejarah) Tuhan memang tidak hadir sendiri.



Kehadiran-Nya merupakan double

discourse. Maksudnya, Rasul yang menyatakan bahwa ini lho Tuhan bersabda dan beginilah kehendak-Nya. Rasul menyampaikan itu

atas nama Tuhan dan kita orang-orang beriman percaya bahwa Rasul tidak berbohong sebab Rasul itu ma’sum dari perbuatan seperti

itu.



Para Mubalig



Sekarang ini, setelah Rasul meninggal, double discourse itu tetap saja berlangsung.

Para mubalig dan ustadz, dalam menerangkan kebenaran, sambil mengutip firman Tuhan dalam khotbah-khotbahnya, menunjukkan ini

lho, atau begini lho kehendak Tuhan yang sebenarnya.



Padahal, sesungguhnya, otoritas itu tidak ada lagi karena kita

tidak saja telah ditinggalkan Rasul, tapi juga karena kehidupan yang kita alami dan perjumpaan kita dengan sejarah serta

sebagai audiens wahyu sangat berbeda dengan zaman Rasul itu.



Kita telah berada dalam lokus kehidupan aktual yang

berbeda biar pun sebagai orang yang beriman tentu akan selalu menempatkan sabda Tuhan itu sebagai referensi normatif yang

sangat penting.



Masalahnya apa sesungguhnya yang terjadi dengan wahyu sekarang ini, tidak lain karena sabda itu

telah terpenjara dalam kata-kata, dalam dokumentasi yang disebut kitab suci dan kehendak Tuhan itu tidak lagi eksplisit yang

maknanya baru kembali muncul jika diberikan tafsir-menafsir sesuai dengan spekulasi kita sendiri.



Oleh karena itu,

tafsiran kita mengenai kehendak Tuhan itu boleh jadi, bisa benar atau bisa tidak. Sebab, seperti kita ketahui bahwa Tuhan telah

berhenti bercakap dengan sejarah dan sabda-Nya telah menjadi kitab suci yang literal.



Di era perbenturan kaum

fundamentalis sekarang ini, munculnya meaning surplus dari proses penafsiran untuk menemukan beragam makna tentang kehendak

Tuhan yang sesungguhnya di balik firman yang literal sering kali ditolak.



Tanpa totalitas



Dengan alasan

bahwa ”kebenaran” itu tidak mungkin kecuali dalam totalitasnya. Tanpa hal itu, secara jujur seharusnya mengakui bahwa apa pun

tafsiran kita mengenai teks kewahyuan, tetap saja tidak bisa diingkari bahwa hal itu tidak lain adalah pernyataan kita dalam

double discourse tersebut.



Sebab, sebagai hamba Tuhan, masing-masing di antara kita sebagai subyek yang beriman,

kehadiran Tuhan dan kehendak-Nya dalam keberagamaan sehari-hari tentulah berbeda antara satu dengan lainnya.



Itulah

rahmat yang harus disyukuri karena dengan meaning surplus itu kita sebenarnya memperoleh banyak ruang untuk mendekati

terus-menerus untuk menemukan konstruk kehendak Tuhan itu, tanpa harus menyejajarkan sebagai Rasul dalam menentukan, ini lho

makna kebenaran yang semestinya yang secara otoritatif ditunjukkan dari Yang Mahabenar.



Tuhan sebagai pemilik

kebenaran memang tidak membutuhkan interpretasi. Namun kita, umat manusia, membutuhkannya karena kita telah jauh dari akar

teologi yang awal dan kita harus melintasi berbagai penjumlahan sejarah dan peradaban.



Oleh karena itu, the sense of

the text tidak mungkin terdapat dalam bunyi literalnya, tetapi selalu dipungut oleh manusia sendiri, oleh pergumulan sejarah di

luar inskripsi ayat-ayat suci itu.



Sekadar contoh, tatkala kaum Muslimin menjumpai sejarah munculnya ideologi

sebagai utopian, maka Al Quran tentulah dibaca dalam kaitan mencari dasar-dasar ideologis tersebut, begitu pula tatkala zaman

baru mulai menganggap bahwa negara bangsa yang modern dipandang sebagai pencarian bentuk politik hidup bersama yang lebih

demokratis, maka tidak lain konsep seperti itu juga dicarikan rujukannya ke kitab suci.



Tak pelak, tatkala kaum

Muslimin menganggap sistem pemilihan umum adalah bentuk pencarian yang dianggap paling sesuai dan paling dekat dengan kehendak

Tuhan agar kaum Muslimin menerapkan musyawarah dalam pengambilan keputusan kolektif, jelas sistem seperti itu akhirnya menjadi

pilihan di mana-mana.



Dengan begitu, sesungguhnya makna wahyu memang merupakan pemunculan dan bukan sesuatu yang

sudah tersedia sebelum sejarah baru akan mulai.



Kini kita menghadapi zaman baru, suatu kehidupan umat manusia yang

sering disebut post-modernity, zaman di mana rasionalitas tidak lagi tunggal seperti diagungkan sebelumnya dalam alam pikiran

modernitas.



Begitu pula di zaman post- ini, tidak lagi dipercaya bahwa sign masih stabil mewakili makna dirinya.

Sungguh suatu zaman yang tidak saja membuahkan kebimbangan, tapi juga ketidakpastian, dalam pengertian karena multivokalnya

keimanan atau kebenaran.



Dalam keadaan seperti ini, kalau kita gamang bisa jadi membuahkan sikap ragu, apakah

seharusnya kita memilih saja satu bentuk interpretasi ayat-ayat kewahyuan yang kita percayai secara fundamentalistik bahwa yang

lain salah, ataukah secara jujur kita berani mengakui bahwa pluralitas kebenaran itu harus kita terima sebagai konsekuensi

hasil buah pencarian dan imajinasi umat manusia?



Firman Tuhan



Perebutan makna-makna firman Tuhan ini

dalam sejarah sering kali mendatangkan malapetaka kemanusiaan yang sangat tragis, jika itu terjadi dalam pergulatan politik dan

relasi kekuasaan yang tidak adil.



Di mana-mana kekuasaan memang tidak ada yang netral dan kekuasaan cenderung

menghadirkan Tuhan bahkan menggunakan proses semacam ini untuk melakukan manipulatif demi legitimasi yang

diperlukan.



Akibatnya, wajah Tuhan terseret dalam pertikaian, dan Tuhan menjadi topeng de-humanisasi serta dalam

kegiatan memperendah atau de-gradasi martabat kemanusiaan yang memalukan.



Tidaklah masuk akal, apalagi kalau

dipertimbangkan secara nurani, misalnya ada sementara orang mengaku memperjuangkan keyakinan atas nama Tuhan sambil dengan

seenaknya melakukan teror kemanusiaan yang tidak beradab sama sekali.



Tapi, ya itu tadi, kita memang sedang

menjumpai zaman di mana sejarah umat manusia sedang mengalami paradoks dan krisis, seolah-olah moralitas kemanusiaan atau

prinsip-prinsip humanisme yang paling dasar pun telah hilang dari peradaban dan dari proses politik kita

sehari-hari.



Kalau begitu, masihkah proses politik dan keberagamaan kita memberikan sumbangan peradaban jika di

mana-mana malah terjadi konflik atas nama firman Tuhan, selain memang alasan sesungguhnya untuk memperebutkan identitas dan

sumber-sumber kehidupan yang materialistik sehingga kesadaran kolektif kemanusiaan sekarang ini terkeping-keping tidak lagi

mencerminkan humanisasi?



Ini jelas tidak sekadar pertanyaan politis, tapi juga persoalan teologis yang sangat

mendasar yang sedang terjadi dalam kehidupan umat manusia, sehari-hari dan ada di mana mana.



Suatu kebimbangan yang

tragis, sering kali tatkala, misalnya, kaum beriman yang meyakini firman Tuhan ternyata dibuat ragu, masihkah tindakan teror

yang kriminal terhadap kemanusiaan bisa dibenarkan atas nama keadilan?



Kebenaran di atas kebenaran tentunya sebuah

proses pencarian. Namun jelas, kekerasan dan setiap bentuk tindak kriminal kemanusiaan adalah lawan yang nyata dan pasti dari

kebenaran itu sendiri.



Dalam hal ini tidak ada ruang menafsir, misalnya tindakan kriminal kemanusiaan yang mana yang

seharusnya kita pilih untuk melakukan hal itu. Setiap peradaban tidak mungkin ditegakkan tanpa mengakui bahwasanya manusia

memang hidup dalam pluralitasnya dan tidak mungkin kebenaran diperjuangkan dalam bentuknya yang absolut.



Sebab, pada

dasarnya kebenaran harus dicari bersama dan harus terus-menerus diperbincangkan. Kebenaran itu sendiri memiliki berbagai sudut,

sama halnya alienasi kemanusiaan juga mempunyai keragamannya sendiri.



Oleh karena itu, kebenaran tidak pernah ada

dalam singularitasnya sendiri, karena hal itu terdapat dalam kata-kata, dalam sejarah kebenaran yang dilingkari oleh budaya dan

komunitasnya masing-masing.



Dalam aliran argumentasi tentang kebenaran yang muncul dalam perbincangan di ruang

publik, tentu saja dalam membangun dialog peradaban sangat dibutuhkan sikap terbuka tanpa harus apriori, sebab tidak mungkin

suatu kebenaran diperbincangkan sambil menghilangkan kebebasan, suatu nilai yang paling esensial dalam pencarian bersama

tentang kebenaran itu sendiri.



Peradaban



Mungkinkah beragamaan umat manusia dapat menumbuhkan peradaban

yang toleran dalam mencari kebenaran?



Saya kira bisa asalkan kita memiliki subyek Tuhan yang betul-betul Mahaakbar

sebagai sumber imajinasi kebenaran, di luar keterbatasan manusia dengan sejarah komunitasnya masing-masing.



Tentu

tidak perlu dalam hal ini kita harus membuang teks kitab suci masing-masing, namun dengan kebesaran Tuhan yang tidak terukur,

interpretasi umat manusia tentang kebenaran di balik ayat-ayat-Nya akan selalu terbuka dan tidak bertepi, melampaui batas-batas

anggapan, sangkaan, dan klaim setiap orang yang menemukannya.



Suatu dialog mencari dan memperbincangkan kebenaran

dalam subyek Tuhan Yang Mahaluas seperti itu tentu harus tetap memberi ruang bagi mereka yang kita duga telah ”sesat” sebab

pada dasarnya ”kesesatan” dan ”kebenaran” adalah sisi yang berbeda dalam pencarian kebenaran itu sendiri.



Bahayanya,

sudah tentu, merupakan suatu yang ironis jika mereka yang mengklaim telah memiliki ”kebenaran” (atau ”kesesatan”) yang

konstruktif itu malah menuhankan diri dalam wacana double dircourse (untuk membaca firman Tuhan), apalagi kalau hal itu

disertai dengan tindakan represif yang sesungguhnya sangat melawan nilai-nilai moralitas kemanusiaan yang seharusnya dijunjung

bersama.



Cita-cita Tuhan dan kehendak-Nya memang absolut, tapi tafsir manusia tentang itu jelaslah bagian dari

sejarah kesadaran umat manusia yang relatif dan terbatas.



Dan hanya arogansi politik atau kekuasaan sajalah yang

biasanya sering tidak malu menutupi kejujuran ini. Akankah kecenderungan seperti ini yang akan terjadi dalam kehidupan beragama

kita?



Moeslim Abdurrahman, Ketua Al Maun Institute, Jakarta, Antropolog dari University of Illinois at Urbana

Campaign, AS



Oleh: Moeslim Abdurrahman (kompas, Senin, 01 Agustus 2005 )



dilihat : 434 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution