Minggu, 22 Juli 2018 04:18:19 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 157
Total pengunjung : 407383
Hits hari ini : 2418
Total hits : 3715357
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Perdamaian Dibangun dengan Memahami Perbedaan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 10 Januari 2005 00:00:00
Perdamaian Dibangun dengan Memahami Perbedaan
Cebu, Kompas - Satu-satunya cara untuk mengantisipasi dan menangani

konflik antaragama ataupun konflik yang sengaja diciptakan dengan mengatasnamakan agama adalah dengan memperkuat hubungan

antaragama melalui dialog.



Meski demikian, diakui, dialog yang dilakukan secara terus-menerus tanpa adanya langkah-

langkah konkret, dalam pelaksanaannya hanya akan sia-sia.



Hal itu dikemukakan Ketua Parlemen untuk Kementerian

Imigrasi dan Multikulturalisme Australia Andrew Robb saat ditemui di sela-sela Cebu Interfaith Dialogue, 14-16 Maret 2006,

Selasa (14/3) di Mactan Island, Cebu, Filipina.



”Dialog seperti ini memang jangan sampai putus karena sangat penting

artinya bagi berbagai negara, khususnya bagi Australia, karena akan membangun pengertian antarumat beragama. Jika bertemu

seperti ini kita dapat mengidentifikasikan berbagai kendala dan menyelesaikannya bersama-sama,” ujarnya.



Sejak

dialog antaragama pertama yang digelar Indonesia bersama Australia, Desember 2004 di Yogyakarta, kata Robb, kini interaksi

antaragama di Australia dirasakan sangat kuat.



Semakin banyak tokoh-tokoh agama, lanjutnya, yang mendatangi

sekolah-sekolah untuk berdiskusi agar tercipta pemahaman antaragama.



Dialog antaragama menjadi terasa manfaatnya

jika bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Di sinilah, menurut Robb, pentingnya peran tokoh-tokoh agama dan

masyarakat.



Dalam jumpa pers, Perdana Menteri Selandia Baru Helen Clark juga menyebutkan, tokoh-tokoh agama dan

masyarakat menjadi tulang punggung dalam mewujudkan kerja sama menurunkan ketegangan yang kerap berujung pada konflik yang

mengatasnamakan agama seperti terorisme dan kegiatan-kegiatan ekstremisme lainnya.



”Proses dialog dan kerja sama

antaragama seperti ini memang membutuhkan waktu yang lama. Tidak ada solusi yang cepat dan tepat mengenai sasaran. Yang harus

menjadi pegangan terlebih dahulu adalah keyakinan bahwa perdamaian itu bisa dibangun dengan saling memahami nilai-nilai dan

kepercayaan masing-masing, serta kesediaan untuk menghargai perbedaan,” ujarnya.



Sedangkan Presiden Filipina Gloria

Macapagal-Arroyo menilai, dialog antaragama apa pun bentuknya tetaplah penting untuk mengantisipasi dan menangani berbagai

konflik yang muncul berkaitan dengan agama. Pasalnya, kerap kali agama digunakan sebagai alasan untuk melakukan kekerasan.

Dialog adalah satu-satunya cara untuk membangun pemahaman dan pengertian antaragama yang pada akhirnya membawa perdamaian di

dunia.



”Khusus untuk Filipina, berkat adanya dialog ini berbagai konflik antara Muslim dan Nasrani menurun sangat

drastis,” ujarnya.



Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda dalam pidato tertulisnya menyebutkan, awalnya dialog

antaragama pertama digagas sebagai wadah untuk berdialog dan menggalang kerja sama antaragama di kawasan.



Dialog

antaragama dan kerja sama adalah cara efektif untuk menyuarakan suara-suara tokoh- tokoh agama dan masyarakat. Dan dalam jangka

panjang dalam rangka melawan terorisme, tokoh-tokoh itulah yang akan bisa melakukannya. Keberlangsungan dialog seperti ini

penting untuk berbagi pandangan toleransi guna mewujudkan perdamaian dan masyarakat demokratis.



Untuk mewujudkan

salah satu hasil dialog antaragama di Yogyakarta, saat ini tengah dipersiapkan pembentukan pusat kerja sama agama dan

kebudayaan di daerah Bukit Sentono seluas lima hektar, yang merupakan tanah pemberian Sultan Hamengku Buwono X. Lembaga itu

akan menjadi tempat pembentukan dan pelaksanaan segala kerja sama antaragama dengan kegiatan seperti penelitian, pendidikan,

dan diskusi.



Bahkan juga akan dirancang untuk mengerjakan proyek resolusi konflik dan pengembangan masyarakat.

Hingga kini bangunan fisik belum dimulai karena belum jelas bentuk lembaganya, apakah akan berupa lembaga nasional dengan

mandat internasional, lembaga internasional, ataupun kombinasi keduanya.



Dalam sesi diskusi, para delegasi dari

berbagai negara secara bergantian menceritakan pengalaman dan perkembangan kondisi hubungan antaragama di negaranya

masing-masing pascadialog antaragama di Yogyakarta. Meski diakui hasil dialog pertama belum maksimal, para delegasi mengakui

mulai tampaknya hubungan komunitas antaragama yang makin erat. Seperti dikatakan Bishop Cornelius Sim dari Brunei Darussalam.

”Sebelumnya kami tidak pernah diajak berbicara dan berdiskusi tentang berbagai persoalan di dalam negeri. Tetapi sekarang kami

selalu dilibatkan dalam berbagai pembicaraan tentang persoalan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Khususnya yang berkaitan

dengan urusan agama,” ujarnya.



(Luki aulia Kompas, Rabu, 15 Maret 2006)



dilihat : 282 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution