Minggu, 15 September 2019 14:29:09 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520098
Hits hari ini : 6310
Total hits : 4943159
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 09 Oktober 2006 00:00:00
Dari Kata Allah Hingga Lam Yalid Wa Lam Yulad
Dari Kata ALLAH Hingga Lam Yalid Wa Lam

Yulad



Oleh: Bambang Noorsena



Beberapa hari lalu, seorang teman dari komunitas jurnalis Kristen meminta

saya untuk turut dalam perdebatan soal nama Allah. Terus terang, saya malas. Mengapa? Karena saya sangat mengenal "kaum

penentang Allah" itu, pola pikir mereka "hitam putih", main kutip ayat-ayat Alkitab secara harfiah terlepas dari konteks (mirip

dengan "metode ayat bukti" a la bidat Saksi-saksi Yehuwa), dan kekurangan paling serius mereka, tidak menguasai filologi

bahasa-bahasa semitis, khususnya keserumpunan bahasa Ibrani, Aram

dan Arab.



Karena itu, saya anggap enteng saja

gerakan mereka itu. Tetapi setelah melihat sepak terjang mereka semakin ngawur, hantam kromo, dan lebih penting lagi agaknya

mereka didukung oleh dana yang cukup besar, saya harus belajar telaten menulis untuk menjelaskan kaum awam dalam bahasa Arab

itu. Tulisan singkat ini, kiranya dapat membatu umat Kristiani di Indonesia yang "sedang diombang-ambingkan oleh pengajaran

mereka".



Asal-usul Allah: Tinjauan dari Bahasa Arab



Kalau dr. Suradi mula-mula, -- sebagaimana banyak

artikel-artikel polemik Kristen terbitan Amerika, -- menyangkal sama sekali bahwa istilah Allah cognate dengan El, Eloah,

Elohim (Ibrani) dan Elah, Alaha (Aram/Suryani), kini para penerusnya mencoba memisahkan antara kata-kata ilah (sembahan),

alihat, (sembahan-sembahan) dan al-Ilah (sembahan itu, sembahan yang benar) yang se-rumpun dengan istilah el, eloah, elohim

dengan Allah yang dianggapnya "nama dari dewa Arab yang mengairi bumi". Allah, yang dianggapnya sebagai nama "dewa air",

dirujuknya dari artikel Wahyuni Nafis, dalam bunga rampai The Passing Over: Melintas Batas Agama, menjadi dasar penolakannya

terhadap penggunaan kata Allah dalam Alkitab Kristen di Indonesia.



Untuk meneguhkan pembedaan antara ilah, alih-ah,

dan al-Ilah dengan Allah, Teguh Hendarto lalu menyangkal bahwa istilah Allah berasal dari al-Ilah (Bahana, Maret 2001). Menurut

argumentasinya yang sangat awam mengenai bahasa Arab, ia menulis kalau al-Ilah dapat disingkat menjadi Allah, mengapa Alkitab

tidak menjadi Altab? Untuk itu saya harus menjelaskannya secara sabar, karena mungkin ia tidak bisa membaca sepotongpun huruf

Arab, meski gayanya yang kelewat percaya diri seolah-olah mau menggurui saya.



Begini, pada prinsipnya sebuah kata

dalam bahasa-bahasa semitik dibentuk dari akar kata (al-jidr) yang biasanya terdiri dari 3 konsonan. Akar kata itu bisa

dipecah-pecah menjadi kata benda, kata sifat, kata kerja dan kata benda baru. Misalnya, kitab dari kata k-t-b. Dari akar kata

ini, lalu dibentuklah menjadi banyak kata: kata benda, kata kerja, dan sebagainya. Dari akar kata k-t-b kita dapat menemukan

kata-kata sebagai berikut: kitaab (buku), kaatib (penulis), maktabah (perpustakaan), maktub (tertulis, termaktub), uktub

(tulislah!), dan seterusnya.



Sedangkan kata Ilah, al-Ilah terbentuk dari 3 akar kata hamzah, lam, haa (`-l-h). Dari

akar kata ini, kita mengenal isltilah ilah, alihah, dan al-Ilah (atau bentuk singkatnya: Allah). Sebagai sesama bahasa rumpun

semitis, bahasa Ibrani dan bahasa Aram mempunyai ciri

yang sama. Saya juga pernah menulis, bahwa kata Ibrani Elah, Eloah

berasal dari kata el (kuat) dan alah (sumpah). Al- dalam kata Allah berbeda dengan El (kuat) dalam bahasa Ibrani. Kata Ibrani

El, sejajar dengan bahasa Arab Ilah, sedangkan kata sandang Al- yang

mendahului Ilah sejajar dengan bahasa Ibrani

ha-elohim (Raja-raja 18:39). Tetapi kasus penyingkatan al-Ilah menjadi Allah hanya terjadi dalam bahasa Arab, tidak terjadi

dalam bahasa Ibrani atauAram.



Selanjutnya, memisahkan sebutan Allah dari Ilah, al-Ilah juga tidak bisa

dipertahankan. Sebab ahli bahasa Arab, baik dari kalangan Islam maupun Kristen, juga banyak yang menganggap bahwa sebutan Allah

itu musytaq atau dapat dilacak asal-usulnya dari kata lain. Jadi, tidak benar anggapan kaum penentang Allah itu yang mengatakan

bahwa Allah tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa-bahasa lain. Memang, ada penerjemah al-Qur'an yang berpandangan demikian,

misalnya terjemahan Abdallah Yusuf Ali, The Meaning of The Holy Quran.



Jadi, tidak semua umat Islam berpandangan

bahwa istilah Allah itu ghayr al-musytaq (tidak berasal dari kata lain, karena dianggap "the proper name"). Sama seperti "kaum

penentang Allah" yang menganggap YHWH tidak bisa diterjemahkan, begitu juga di kalangan Islam ada yang berpandangan seperti

itu. Pdt. Jacob Sulistiono mengutip majalah Islam Sabili, yang memuat tulisan seorang Muslim yang menganggap bahwa Allah itu

tidak bisa diterjemahkan, tetapi itu tidak mewakili pendapat seluruh umat Islam di dunia. Bahkan di kalangan Islam sendiri,

Sabili sering dianggap mewakili kelompok Islam garis keras, setali tiga uang dengan "kaum penentang Allah", minimal dalam

pandangan teologisnya yang sama-sama "hitam putih" itu.



Salah satu diantara terjemahan al-Qur'an dalam bahasa

Inggris yang menerjemahkan istilah Allah, misalnya silahkan membaca: The Massage of the Qur'an, oleh Muhammad Asad. Dalam

terjemahan yang cukup otoritatif di dunia Islam Barat ini, ungkapan: Bismillahi Rahmani Rahim diterjemahkan: "In the Name of

God, The Most Grocious, The Dispenser of Grace".



Memang, Sabili dalam salah satu terbitannya pernah menguraikan

bahwa secara etimologis, kata Allah yang terdiri dari huruf alif, lam, lam dan ha' dengan tasydid sebagai tanda idgham lam

pertama pada lam kedua) adalah ghairu musytaq (tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain). Karena itu, kata ini

tidak bisa diubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jama' (plural). Demikian pula kata ini tidak dapat dijadikan sebagai

mudhaf. Jacob Sulistiono mengutip ini, saya yakin ia sendiri tidak mengerti apa itu bentuk mutsanah, jama' atau mudhaf dalam

bahasa Arab.



Harus saya jelaskan sekali lagi, padangan Sabili sama sekali tidak bisa dianggap representatif mewakili

Islam. Banyak ulama Islam terkemuka yang berpandangan sebaliknya. Contohnya, kita bisa membaca kitab yang sangat terkenal di

dunia Arab, al-Mu'jam al-Mufahras, yang menempatkan kata Allah tersebut di bawah heading (judul): hamzah, lam, haa ( `-l-h).

Mengapa? Karena Al- pada Allah adalah hamzah wasl, sehingga Al- bisa hilang dalam kata: wallahi, bi-lahi, lil-lahi, dan

sebagainya. Misalnya, pada kalimat Alhamdu lil-lah (segala puji bagi Allah), lil-lahi ta'ala (karena Allah Yang Maha Tinggi),

kata sandang Al- di depan Allah juga dihilangkan.



Sedangkan kata Allah tidak bisa dijumpai dalam bentuk ganda dan

jamak, secara historis dibuktikan karena kata sandang al- yang mendahului kata ilah, muncul untuk menegaskan: ilah itu, yang

sudah mengandung makna pengkhususan. Maksudnya, bisa berarti Dia adalah ilah yang paling besar, sedangkan ilah-ilah lain berada

di bawahnya, seperti dianut kaum Mekkah pra-Islam, seiring dengan pergeseran dari paham politeisme menuju henoteisme.

Sebaliknya, bisa juga berarti "ilah satu-satunya, yang tidak ada ilah selain-Nya". Makna kedua ini, antara lain diberikan oleh

orang-orang Yahudi, Kristen, kaum Hanif pra-Islam di wilayah Arab untuk menegaskan Keesaan-Nya. Tradisi monoteisme inilah yang

kemudian dilanjutkan oleh Islam.



Selanjutnya, kata Allah memang tidak dapat dijadikan mudhaf, tetapi itu tidak

berarti bahwa Allah itu nama diri. Sebab bukan hanya "nama diri" yang tidak bisa dijadikan mudhaf, tetapi setiap bentuk

ma'rifah juga tidak bisa dijadikan mudhaf. Misalnya, kita berkata: Baitu al-Kabiiri (Rumah yang besar itu). Kata baitu dalam

kalimat ini adalah "mudhaf", sedangkan al-kabiiri adalah "mudhaf ilaih". Tetapi kalau kita tambahkan al- sebelum bait,

misalnya: al-baitu kabiirun (Rumah itu besar). Jadi, maknanya berbeda. Mengapa? Karena al-bait disini menjadi mubtada'

(subyek), bukan mudhaf lagi, sedangkan kabiirun adalah khabar (predikat).



Metode "debat Kusir" dan "Logika Jungkir

Balik" Penentang Allah



Saya sangat paham apabila LAI selama ini tidak pernah menggubris tuntutan kelompok sempalan

ini, yang menuntut agar dalam Alkitab bahasa Indonesia dihilangkan kata Allah. Mengapa? Anda baru mengetahui alasannya, kalau

anda mengikuti metode "debat kusir" dan "logika jungkir balik" mereka. Saya sekedar mengulang beberapa

contoh:



Mula-mula mereka menuduh Allah itu "dewa air" berdasarkan beberapa rujukan yang mereka anggap mendukung,

bahwa Allah pernah disembah bersama dewa-dewa kafir Mekkah pra-Islam. Tuduhan ini lalu saya tanggapi, Pertama: berdasarkan

inkripsi-inskripsi Arab Kristen pra-Islam, yaitu Zabad (521 M) dan Umm al-Jimmal (pertengahan abad ke-6 M) bahwa Allah sudah

dimaknai secara monoteistik Kristen, lengkap dengan foto-foto inskripsi, bacaannya, ulasan para ahli filologi, dan

perkembangannya di gereja-gereja Arab setelah Islam hingga zaman kita sekarang; dan kedua: berdasarkan inskripsi Kirbeth el-Qom

dan Kunlitet Ajrud, yang ditemukan di wilayah Hebron, YHWH pun juga pernah disembah bersama dewi kesuburan,

Asyera.



Tanggapan saya ditanggapi balik. Pertama, bukti-bukti pemakaian Allah menurut inskripsi pra-Kristen itu,

menurutnya tidak membuktikan keabsahan kata Allah, melainkan karena orang Arab Kristen tidak tahu asal-usulnya. Jadi, Hendarto

sudah mempunyai praduga dulu, bahwa Allah itu "dewa air", "dewa bulan", "dewa matahari", atau dewa apapun Allah itu, ia tidak

perduli, yang penting kata itu harus ditolak. Ia tidak menyelidiki dulu, bahkan buku Roberts Morrey, yang lebih merupakan karya

polemik yang sangat provokatif anti-Islam itu, disebutnya sebagai "bukti archeologis?"



Padahal, dalam buku ini tidak

ada pembahasan arkheologis sama sekali, kecuali berbagai sumber bacaan yang dirangkai-rangkai tanpa penelitian mendalam. Juga

buku Steppen van Natan, Allah: Divine or Demonic, yang lebih menyerupai traktat tersebut, bagaimana "buku sampah" begini bisa

disejajarkan dengan hasil penelitian Prof. Littmann, misalnya, yang meneliti inkripsi-inskripsi Arab pra-Islam itu sangat

mendalam, bahkan banyak ahli-ahli lain yang reputasinya tidak diragukan, yang telah menyerahkan hampir seluruh hidup mereka

untuk penelitian ilmiah.



Jadi, mereka menolak kata Allah berdasarkan buku-buku para penginjil yang berangkat dari

asumsi teologis "hitam-putih" dan sama sekali tidak mempunyai keahlian di bidang sejarah dan arkheologi. Tetapi ketika saya

counter dengan bukti-bukti sejarah, dikatakannya "bahwa itu hanya statement manusia, yaitu orang Islam dan Kristen Arab, yang

tidak korelasinya dengan Firman Tuhan dalam Alkitab". Komentar ini, mungkin disebabkan karena saya tidak banyak "main kutip

ayat-ayat" seperti mereka. Maksudnya, banyak ayat Alkitab mereka ajukan untuk mendukung anggapan mereka bahwa nama Yahwe tidak

boleh diterjemahkan, sedangkan mereka mamahami nama ilahi itu sama seperti nama-nama makhluk-Nya. Untuk menunjukkan kedangkalan

pemikiran mereka, silahkan baca artikel saya: "Nama YHWH: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan?".



Kedua,

kalau saya buktikan bahwa Yahwe juga pernah disembah bersama dengan dewi Asyera, dengan enteng ia mengatakan bahwa itu hasil

sinkretisme di Israel pada zaman dahulu, tanpa secara fair juga menerapkan penilaian yang sama untuk kata Allah, bahwa istilah

Arab ini juga diartikan secara salah oleh orang-orang Arab pra-Islam. Padahal bahasa itu netral, tergantung apa makna yang kita

berikan. Inilah yang saya namakan motode "debat kusir" alias debat tukang dokar, dengan "logika jungkir balik" mereka

itu.



Yang lebih menggelikan lagi, Teguh Hendarto mengkoreksi terjemahan Alkitab al-Muqaddas (Today's Arabic

Version), terbitan Dar al-Kitab al-Muqaddas fi al-Syarq al-Ausath, Beirut, yang saya kutip dalam makalah saya. Ungkapan Laa

Ilaha illa Allah (Tidak ada Ilah kecuali Allah) yang tercatat dalam 1 Korintus 8:4, dengan gayanya yang menggurui, katanya

terjemahan yang benar: Laa Ilaha al-Wahid. Ini bahasa Arab apa? Tidak ada artinya sama sekali, dan terang saja akan

ditertawakan santri desa yang baru belajar Juzz Amma. Tetapi, ya itulah kualitas rata-rata kaum Penentang Allah itu. Semua ini

saya ungkap di sini, karena gerakan mereka semakin gencar dan ngawur, seperti yang akan kita lihat di bawah

ini.



Teguran Keras Mubaliq se-Indonesia: Provokasi Opo maneh iki, Rek?



Sama ngototnya dengan Hendarto,

kita juga dikacau oleh Pdt. Jacob Sulistyono, seorang penganut "sekte YHWH" , yang lebih Yahudi ketimbang Yahudi sendiri, dalam

perdebatannya di www.salib.net Banyak orang menduga, bahwa ia sendiri berada di belakang kasus

"Surat Teguran Keras

Mubaligh se-Indonesia", yang tidak jelas juntrungannya itu. Menurutnya, Allah dalam Islam dan Yahwe dalam Kristen itu mutlak

berbeda. "Umat Islam tidak suka orang Kristen menyebut Allah", tulisnya, "karena ada istilah Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus,

sedangkan Islam percaya bahwa Allah itu tdk bisa disamakan dengan apapun". Hal ini sesuai dengan Al-Qur'an yang menyebutkan

sebagai berikut:



Qul huwa llaahu ahad. Allahush shamad. Lam Yalid wa lam yulad. Wa Lam Yakun lahu kufuwwan ahad.

Artinya: "Katakanlah Dialah Allah Yang Esa. Allah, Dia adalah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Tidak beranak dan

tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya (Q.s. al-Ikhlas 112/ 1 – 4).



Laqad kafar

alladzina qaluu Innallaha huwa al-Masih ibn Maryam. Artinya: "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:

Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih Putra Maryam" (Q.s.Al-Maaidah/5:17).



Dengan keterangan di atas, ia seolah-olah

malah membenarkan bahwa Tuhan orang Kristen itu beranak dan diperanakkan. Padahal mestinya, sebagai orang yang mengaku pengikut

Kristus, justru seharusnya ia menjelaskan kepada umat Islam bahwa istilah Putra Allah itu bukan dalam makna "beranak dan

diperanakkan", bukan malah membenarkannya, sekedar demi mendukung penolakannya atas istilah Allah. Q.s. al-Ikhlas ditujukan

untuk menolak keyakinan pra-Islam di Mekkah, bahwa Allah mempunyai anak-anak perempuan, yaitu al-Latta, Uzza dan

Manah.



Sedangkan Q.s. al-Maidah 17 lebih diarahkan kepada keyakinan semacam mujja-simah (antropomorfisme) bidat

Kristen di Mekkah, yang menganggap bahwa Allah sama dengan tubuh kemanusiaan Yesus itu sendiri. Sudah barang tentu, keyakinan

ganjil seperti ini juga tidak pernah dianut oleh orang Kristen manapun, baik itu gereja Katolik, gereja-gereja ortodoks dan

reformasi Protestan sekarang ini.



Para ahli lain juga menghubungkan keyakinan yang diserang al-Qur'an itu dengan

sekte bidat Kristen Maryamin (penyembah Maryam), yang memuja Maryam dan mengarak patungnya di sekeliling ka'bah serta

mempersembahkan kepadanya collyrida (roti persembahan), sehingga disebut juga sekte Collyridianisme. Karena itu, tepatnya yang

ditolak al-Qur'an adalah keyakinan pseudo-trinity yang terdiri: Allah, `Isa al-Masih dan Maryam (Q.s. an-Nisa'/4:171;

al-Maidah/5: 73, 116), dan sema sekali tidak cocok diterapkan untuk keyakinan Kristen sebenarnya.



Sebelum saya tutup

artikel ini dengan penjelasan singkat makna Putra Allah dalam Iman Kristen, perlu saya tanyakan mengenai tuntutan Mubaligh

se-Indonesia? Lembaga ini kalau memang ada, mewakili siapa sehingga berani meng-claim dirinya seolah-olah seluruh umat Islam

Indonesia? Ini sangat berbahaya bagi kerukanan umat beragama, apalagi kalau lembaga fiktif ini sengaja dibuat kelompok Kristen

tertentu untuk meloloskan pandangan-pandangannya yang tidak ilmiah itu.



Makna term Putra Allah: Belajar Dari "bahasa

teologis" Kristen Arab Kalau begitu, apakah makna sebenarnya istilah Putra Allah dalam Iman Kristen? Harus ditegaskan, bahwa

tidak ada umat Kristen yang pernah mempunyai sebersit pemikiran pun bahwa Allah secara fisik mempunyai anak, seperti keyakinan

primitif orang-orang Mekkah pra-Islam tersebut. Saya ingin menjelaskan metafora ini berdasarkan teks-teks sumber Kristen Arab,

supaya terbangun kesalingpahaman teologis Kristen-Islam di Indonesia. Sebab selama ini ada jarak yang cukup lebar secara

kultural antara "bahasa teologis" Kristen Barat, yang memang tidak pernah bersentuhan dengan Islam, sehingga kesalahpahaman

semakin berlarut-larut.



Istilah Putra Allah yang diterapkan bagi Yesus dalam Iman Kristen untuk menekankan

praeksistensi-Nya sebagai Firman Allah yang kekal, seperti disebutkan dalam Injil Yohanes 1:1-3. Ungkapan "Pada mulanya adalah

Firman", untuk menekankan bahwa Firman Allah itu tidak berpermulaan, sama abadi dengan Allah karena Firman itu adalah Firman

Allah sendiri.



Selanjutnya, "Firman itu bersama-sama Allah", menekankan bahwa Firman itu berbeda dengan Allah. Allah

adalah Esensi Ilahi (Arab: al-dzat, the essence), yang dikiaskan Sang Bapa, dan Firman menunjuk kepada "Pikiran Allah dan

Sabda-Nya. Akal Ilahi sekaligus Sabda-Nya" (`aqlullah al-naatiqi, au natiqullah al-`aaqli, faahiya ta'na al-`aqlu wa

al-naatiqu ma'an), demikianlah term-term teologis yang sering dijumpai dalam teks-teks Kristen Arab. Sedangkan penegasan

"Firman itu adalah Allah", menekankan bahwa Firman itu, sekalipun dibedakan dari Allah, tetapi tidak berdiri di luar Dzat

Allah. Mengapa? "Tentu saja", tulis Baba Shenuda III dalam bukunya Lahut al-Masih (Keilahian Kristus), "Pikiran Allah tidak

akan dapat dipisahkan dari Allah ( `an `aqlu llahi laa yunfashilu `an Allah)". Dengan penegasan bahwa Firman itu adalah Allah

sendiri, makan keesaan Allah (tauhid) dipertahankan.



Ungkapan "Firman itu bersama-sama dengan Allah", tetapi

sekaligus "Firman itu adalah Allah", bisa dibandingkan dengan kerumitan pergulatan pemikiran Ilmu Kalam dalam Islam, yang

merumuskan hubungan antara Allah dan sifat-sifatnya: Ash Shifat laysat al-dzat wa laa hiya ghayruha (Sifat Allah tidak sama,

tetapi juga tidak berbeda dengan Dzat Allah). Jadi, kata shifat dalam Ilmu Kalam Islam tidak hanya bermakna sifat dalam bahasa

sehari-hari, melainkan mendekati makna hypostasis dalam bahasa teologis Kristen.



Dalam sumber-sumber Kristen Arab

sebelum munculkan ilmu Kalam al-Asy'ari, hyposistasis sering diterjemahkan baik shifat maupun uqnum , "pribadi" (jamak:

aqanim), asal saja dimaknai secara metafisik seperti maksud bapa-bapa gereja, bukan dalam makna

psikologis. Sedangkan

ousia diterjemahkan dzat, dan kadang-kadang jauhar. Istilah dzat dan shifat tersebut akhirnya dipentaskan kembali oleh kaum

Suni dalam menghadapi kaum Mu'tazili yang menyangkal keabadian Kalam Allah (Al-Qur'an), sebagaimana gereja menghadapi bidat

Arius yang menyangkal keabadian Yesus sebagai Firman Allah.



Kembali ke makna Putra Allah. Melalui Putra-Nya atau

Firman-Nya itu Allah menciptakan segala sesuatu. "Segala seuatu diciptakan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak sesuatupun yang jadi

dari segala yang dijadikan" (Yohanes 1:3). Jelaslah bahwa mempertahankan keilahian Yesus dalam Iman Kristen, tidak berarti

mempertuhankan kemanusiaan-Nya, apalagi dengan rumusan yang jelas-jelas keliru: "Sesungguhnya Allah adalah al-Masih Putra

Maryam" (innallaha huwa al-masih ibn maryam).



Dalam rumusan ini, yang ditentang al-Qur'an adalah menyamakan

kemanusiaan Yesus dengan Allah. Padahal yang kita dimaksudkan ketika mempertahankan keilahian Yesus, menunjuk kepada Firman

yang kekal bersama-sama Allah, yang melalui-Nya alam semesta dan segala isinya ini telah diciptakan.



Dan karena

sejak kekal Kristus adalah Akal Allah dan Sabda-Nya, maka jelaslah Firman itu adalah Allah. Karena Akal Allah berdiam dalam

Allah sejak kekal (wa madaama al-Masih huwa `aql allah al-naatiqi, idzan faahuwa llah, lianna `aql allah ka'inu fii llahi

mundzu azali). Dan karena itu pula, Firman itu bukan ciptaan (ghayr al-makhluq), karena setiap ciptaan pernah tidak ada sebelum

diciptakan).



Secara logis, mustahillah kita membayangkan pernah ada waktu dimana Allah ada tanpa Firman-Nya,

kemudian Allah menciptakan Firman itu untuk Diri-Nya sendiri. Bagaimana mungkin Allah ada tanpa Pikiran atau Firman-Nya? Kini

kita memahami secara jelas ajaran Tritunggal Yang Mahaesa, bahwa Allah, Firman dan Roh-Nya adalah kekal, sedangkan Firman dan

Roh Allah selalu berdiam dalam keesaan Dzat-Nya, berada sejak kekal dalam Allah).



Selanjutnya, istilah Putra Allah

berarti "Allah mewahyukan Diri-Nya sendiri melalui Firman-Nya". Allah itu transenden, tidak tampak, tidak terikat ruang dan

waktu. "Tidak seorangpun melihat Allah", tulis Rasul Yohanes dalam Yohanes 1:18, "tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di

pangkuan Bapa Dialah yang menyatakan-Nya". Inilah makna

tajjasad (inkarnasi). "Dengan inkarnasi Firman-Nya", tulis Baba

Shenouda III, "kita melihat Allah. Tidak seorangpun melihat Allah dalam wujud ilahi-Nya yang kekal, tetapi dengan nuzulnya

Firman Allah, kita melihat pewahyuan diri-Nya dalam daging" (Allahu lam yarahu ahadun qathu fi lahutihi, wa lakinahu lamma

tajjasad, lamma thahara bi al-jasad).



Melalui Firman-Nya Allah dikenal, ibarat seseorang mengenal diri kita setelah

kita menyatakan diri dengan kata-kata kita sendiri. Jadi, sebagaimana kata-kata seseorang yang keluar dari pikiran seseorang

mengungkapkan identitas diri, begitu Allah menyatakan Diri-Nya melalui Firman-Nya. Inilah maka ungkapan dalam Qanun al-Iman

(Syahadat Nikea/Konstantinopel tahun 325/381), yang mengatakan bahwa Putra Allah yang Tunggal telah "lahir dari Sang Bapa

sebelum segala zaman" (Arab: al-maulud min al-Abi qabla kulliduhur). Adakah di dunia ini seseorang yang dilahirkan dari Bapa?

Jawabnya, tentu saja tidak ada! Setiap orang lahir dari ibu. Karena itu, Yesus disebut Putra Allah jelas bukan kelahiran fisik,

tetapi kelahiran ilahi-Nya sebagai Firman yang kekal sebelum segala zaman.



Tetapi bukankah secara manusia Yesus

dilahirkan oleh Bunda Maria? Betul, itulah makna kelahiran-Nya yang kedua dalam daging. Mengenai misteri ini, Bapa-bapa gereja

merumuskan2 makna kelahiran (wiladah) Kristus itu, seperti dirumuskan dalam ungkapan yang indah:



As-Sayid al-Masih

lahu miladain: Miladi azali min Ab bi ghayr umm qabla kulli ad-duhur, wa miladi akhara fi mal'i al-zamaan min umm bi ghayr ab.

Artinya: "Junjungan kita al-Masih mempunyai dua kelahiran: Kelahiran kekal-Nya dari Bapa tanpa seorang ibu, dan kelahiran-Nya

dalam keterbatasan zaman dari ibu tanpa seorang bapa insani'.



"Lahir dari Bapa tanpa seorang ibu", menunjuk kepada

kelahiran kekal Firman Allah dari Wujud Allah. Tanpa seorang ibu, untuk menekankan bahwa kelahiran itu tidak terjadi dalam

ruang dan waktu yang terbatas, bukan kelahiran jasadi (bi ghayr jasadin) melalui seorang ibu, karena memang "Allah tidak

beranak dan tidak diperanakkan". Jadi, dalam hal ini Iman Kristen bisa sepenuhnya menerima dalil al-Qur'an: Lam Yalid wa Lam

Yulad, karena memang tidak bertabrakan dengan makna teologis gelar Yesus sebagai Putra Allah.



Sebaliknya, "Lahir

dari ibu tanpa bapa", menekankan bahwa secara manusia Yesus dilahirkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Meskipun demikian,

karena Yesus bukan manusia biasa seperti kita, melainkan Firman yang menjadi manusia, maka kelahiran fisik-Nya ditandai dengan

mukjizat tanpa perantaraan seorang ayah insani. Kelahiran-Nya yang kedua ke dunia karena kuasa Roh Allah ini, menyaksikan dan

meneguhkan kelahiran kekal-Nya "sebelum segala abad". Dan karena Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus, maka Yesus dilahirkan oleh

Sayidatina Maryam al-Adzra' (Bunda Perawan Maria) tanpa seorang ayah.



Dari deskripsi di atas, jelaslah bahwa ajaran

Tritunggal sama sekali tidak berbicara tentang ilah-ilah selain Allah. Ajaran rasuli ini justru mengungkapkan misteri keesaan

Allah berkat pewahyuan diri-Nya dalam Kristus, Penyelamat Dunia. Dalam Allah (Sang Bapa), selalu berdiam secara kekal

Firman-Nya (Sang Putra) dan Roh Kudus-Nya. Kalau Putra Allah berarti Pikiran Allah dan Sabda-Nya, maka Roh Kudus adalah Roh

Allah sendiri, yaitu hidup Allah yang abadi. Bukan Malaikat Jibril seperti yang sering dituduhkan beberapa orang Muslim selama

ini. Firman Allah dan Roh Allah tersebut bukan berdiri di luar Allah, melainkan berada dalam Allah dari kekal sampai

kekal.



Jadi, jelaslah bahwa Iman Kristen tidak menganut ajaran sesat yang diserang oleh al-Qur'an, bahwa Allah itu

beranak dan diperanakkan. Untuk memahami Iman Kristen mengenai Firman Allah yang nuzul (turun) menjadi manusia ini, umat Islam

hendaknya membandingkan dengan turunnya al-Qur'an alam Allah (nuzul al-Qur'an). Kaum Muslim

Suni (Ahl l-Sunnah wa

al-Jama'ah) juga meyakini keabadian al-Qur'an sebagai kalam nafsi (Sabda Allah yang kekal) yang berdiri pada Dzat-Nya, tetapi

serentak juga terikat oleh ruang dan waktu, yaitu sebagai kalam lafdzi (Sabda Tuhan yang temporal) dalam bentuk mushaf

al-Qur'an dalam bahasa Arab yang serba terbatas tersebut.



Dan sperti fisik kemanusiaan Yesus yang terikat ruang dan

waktu, yang "dibunuh dalam keadaannya sebagai manusia" (1 Petrus 3:18), begitu juga mushaf al-Qur'an bisa rusak dan hancur.

Tetapi Kalam Allah tidak bisa rusak bersama rusaknya kertas al-Qur'an. Demikianlah Iman Kristen memahami kematian Yesus,

kematian-Nya tidak berarti kematian Allah, karena Allah tidak bisa mati. Saya kemukakan data-data paralelisasi ini bukan untuk

mencocok-cocokkan dengan Ilmu Kalam Islam. Mengapa? Sebab justru seperti sudah saya tulis di atas, pergulatan Islam mengenai

Ilmu Kalam dirumuskan setelah teolog-teolog Kristen Arab, menerjemahkan istilah-istilah teologis dari bahasa Yunani dan Aram ke

dalam bahasa Arab.



Akhirul Kalam, semoga tulisan ini semakin merangsang pembaca untuk meng-gumuli teologi

kontekstual yang mendesak dibutuhkan gereja-gereja di Indonesia, khususnya dalam merentas jalan menuju dialog teologis dengan

Islam. Bukankah dialog teologis Kristen-Islam selama ini sering mengalami kebuntuan, karena "kesenjangan bahasa teologis"

antara keduanya, akibat tajamnya pengkutuban Barat-Timur selama ini? Marilah kita realisasikan pesan rasuli, supaya kita siap

sedia segala waktu "untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang

pengharapan yang ada padamu…." (1 Petrus 3:15), dan bukan malah menghabiskan energi kita untuk mengurusi "kelompok-kelompok

kurang cerdas yang suka bikin onar" itu.



Bambang Noorsena

Madinat al-Tahrir, Cairo, 16 Nopember

2004.



Note:

Penulis adalah Pengamat Gereja-gereja Arab di Timur Tengah, Pendiri

Institute for Syriac

Christian Studies (ISCS), anggota dewan

konsultatif Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP),

kini sedang

melanjutkan studi di Kairo, Mesir.

dilihat : 449 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution