Jum'at, 14 Desember 2018 22:28:56 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 253
Total pengunjung : 450519
Hits hari ini : 1930
Total hits : 4150663
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Meditasi: aliran mitologi, mitos dan logos






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 06 Oktober 2006 00:00:00
Meditasi: aliran mitologi, mitos dan logos
Pada masa awal dari usaha manusia untuk berpikir, manusia membuat mitologi yang bercerita

tentang alam semesta dan kejaidian-kejadian yang dapat disaksikan dan dialami oleh manusia di dalamnya. Perpecahan jurusan

mulai terjadi antara dua usaha yang berlawanan dalam tata-cara untuk memproses mitologi di dalam pikiran manusia;



*

mitologi menjadi mitos Jawaban yang diberikan berusaha meloloskan diri dari rasio dan usaha untuk berpikir, dengan membangun

‘keyakinan’(percaya tanpa perlu bukti kongkrit)/ believe sistem warisan untuk menjawab permasalahan- permasalahan yang ada di

dalam mitologi kehidupan individu manusia dalam interaksi dengan di luar dirinya.



* mitologi menjadi logos Jawaban

yang diberikan berusaha menekankan proses akal budi dan rasio untuk mencari kebenaran melalui metodologi yang jelas dan

rapi.



Nah, setelah terjadi perpecahan antara dua jurusan soal proses yang dianggap benar dalam mencari kebenaran;

maka timbullah kelompok-kelompok keyakinan, keagamaan yang menjadi terpisah dengan kelompok-kelompok ilmuan.



Dalam

kenyataannya dua kegiatan ini tidak bisa dipisahkan. Kegiatan untuk bermain simbol yang menjadi pekerjaan para pencinta mite

dan kegiatan bermain akal budi dan rasio ala pencinta ilmupengetahuan adalah bioptional sistem yang sudah inheren sejak manusia

itu lahir. Maka dari itu manusia yang katanya ilmuan sekalipun masih mau dan memerlukan agama begitu juga para agamawan masih

bermain dengan ilmupengetahuan ala logos.



LOGOS yang terpisah dengan mitos menimbulkan masalah baru bahwa dalam

logos yang pada satu titik pencapaian tertentu, merasa telah menemukan kebenaran hakiki yang

disebut empiris, logis, dlsb

yang akhirnya menghentikan proses mencari kebenaran tsb. Sekolah, kuliah dlsb yang mengatasnamakan ilmupengetahuan hanya

berhenti menjadi kegiatan copy&paste atas believe sistem warisan / kebenaran yang dianggap terakhir, paling benar yang berlaku

dari satu generasi ke generasi selanjutnya tanpa usaha / kemalasan untuk meng-update sesuai perkembangan jaman dengan

berlindung di balik kemapanan. Suatu usaha mencari ilmupengetahuan menjadi berubah urutannya menjadi; 1. Korelasi /

perbandingan antar kesimpulan / teori / jawaban akhir kebenaran yang disepakati. 2. Observasi. 3. Experimen. Peran observasi

dan experimen yang menjadi hal utama dalam pencaharian menjadi mandek karena sudah ada jawaban akhir tentang kebenaran itu

sendiri yaitu pada tahap korelasi / perbandingan antar kesimpulan / teori / kebenaran akhir yang disepakati, tanpa ada usaha

peyesuaian pada update terakhir dari lingkungan yang dihadapi. Maka dari itu pada umumnya usaha untuk melakukan proses

observasi dan experimen malahan tidak dilakukan samasekali.



MITOS yang terpisah dari logos menimbulkan masalah baru

bahwa dalam mitos, pencaharian kebenaran tidak lagi merasa perlu untuk mencari kebenaran yang relevan dalam tempat dan waktu

yang spesifik. Agama, keyakinan dan believe sistem warisan malah memisahkan antara kebenaran yang hakiki dengan usahamanusia

untuk mencari kebenaran itu sendiri. Simbol-simbol mite dianggap ada tetapi hanya berfungsi untuk diamati dan diyakini, bukan

untuk mencari kebenaran seperti tujuan utama sebelum terpecahnya mitologi menjadi dua kegiatan yaitu; mitos dan logos. Urutan

proses pencaharian kebenarannya memang tampak tetap yaitu; dimulai dengan Observasi. Tetapi usaha untuk melakukan experimen dan

korelasi / perbandingan antar kesimpulan / teori / kebenaran menjadi hilang.



KESIMPULAN akhirnya adalah: bahwa dua

jalan pencaharian kebenaran ini mandek karena memisahkan dua usaha ini menjadi extrim mitos dan extrim logos membuat

‘experimen’ (yang adalah kegiatan merealisasikan suatu kebenaran dengan fakta lapangan yang costumize karena pengaruh tempat

dan ‘waktu’ (yang terus berubah sesuai perkembangan jaman)) malah hilang dari proses itu sendiri. Sehingga jalan logos maupun

mitos tidak berhasil mengajak orang untuk tetap di sistem utama guna pencaharian kebenaran yang cotumize sesuai kondisi, tempat

dan waktu tsb. Sistem pencaharian mitologi utama yaitu; 1. Observasi dari nol. 2. Experimen dengan realitas yang

costumise

sesuai kondisi, tempat dan waktu tsb. 3. Korelasi / perbandingan antar kesimpulan / teori / kebenaran akhir yang

ditemukan oleh ilmuan / individu berbeda.



LETAK KOMPATIOLOGI ala Vincent Liong adalah pada aliran mitologi sebelum

terpecah menjadi mitos dan logos. Maka dari itu yang terpenting adalah proses 1. Observasi dari nol. 2. Experimen dengan

realitas yang costumise sesuai kondisi, tempat dan waktu tsb. 3. Korelasi / perbandingan antar kesimpulan / teori / kebenaran

akhir yang ditemukan oleh ilmuan / individu berbeda. Maka dari itu masing-masing praktisi bisa membuat kesimpulan dan teori

sendiri-sendiri tanpa saya (Vincent Liong) sebagai pendiri turut ambil pusing. Yang penting, kesimpulan itu diambil melalui

proses observasi dan experimen individual sebelumnya, tidak nyontek dari keyakinan / believe sistem orang

lain lalu

diambil mentah-mentah.





Vincent Liong (pemerhati psikologi dan filsafat)

dilihat : 289 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution