Rabu, 18 Juli 2018 13:35:13 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 136
Total pengunjung : 406530
Hits hari ini : 903
Total hits : 3705984
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Dari Misi Penaklukan (Misi Imperial) ke Arah Misi Pembebasan dan Pendamaian






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 11 Januari 2006 00:00:00
Dari Misi Penaklukan (Misi Imperial) ke Arah Misi Pembebasan dan Pendamaian
A.

Beberapa Pertanyaan

Suatu hal yang menarik bahwa di tengah kelompok masyarakat lainnya tengah marak berkampanye politik

dan paling tidak memilih tema politik yang sementara hangat saat ini yakni tema Pemilu dalam seminar atau kegiatan diskusinya,

Ikatan Alumni STT Intim Makassar wilayah Luwu Timur mengundang kita untuk membicarakan tentang misi agama (agama Kristen) bagi

bangsa ini.

Dipilihnya tema pada situasi politik seperti saat ini adalah sebuah langkah yang lahir dari pergumulan

panjang dan kegelisahan berhadapan dengan keprihatinan, ketegangan dan konflik bahkan tragedi kemanusiaan yang berlangsung

belakangan ini di tanah air. Dengan demikian, saya memahami bahwa upaya ini dibangun atas dasar kesadaran transformatif yakni

kesadaran teman-teman di Luwu Timur akan panggilannya untuk memberi kontribusi yang lebih berarti bagi kehidupan dan

kemanusiaan di wilayah ini.



Bercermin dari realitas sosial belakangan ini, dimana agama sering dijadikan legitimasi

pembenaran tujuan dan tindakan-tindakan nir-manusiawi, muncul pertanyaan yang kedengarannya sederhana: Ada apa dengan agama?

Dalam banyak kasus di tanah air, agama dijadikan alasan oleh manusia untuk memusnahkan sesamanya manusia. Ketegangan-ketegangan

dan sejumlah konflik yang berlangsung belakangan ini di tanah air tidak jarang mengusung simbol agama.

Secara khusus,

muncul pula pertanyaan-pertanyaan praktis namun esensial dikalangan umat Kristen, misalnya: kalau inti ajaran Kristen adalah

kasih dan pembebasan, seperti yang diajarkan oleh Yesus Kristus, mengapa orang Kristen dimusuhi, mengapa gedung gerejanya

dibakar (juga membakar rumah ibadah agama lain?), mengapa di banyak tempat terdapat kesulitan untuk membangun gedung gereja?

Ada apa dengan misi agama (Kristen)? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini juga yang menggelisahkan teman-teman di Luwu Timur,

sehingga perlu dibahasakan melalui sebuah seminar sehari.

Untuk menjawab persoalan diatas tentu saja dapat di lihat dari

banyak faktor, namun saya akan menekankan 2 faktor yang menurut pendapat saya, sangat berperan dalam memberi warna keberadaan

umat Kristen atau gereja di Indonesia dewasa ini, yakni faktor historis dan faktor teologis. Introspeksi diri dengan menelusuri

catatan sejarah misi Kristen di Indonesia secara kritis dan melihat warna teologis yang bagaimana yang membentuk pemahaman misi

Kristen selama ini –sebagaimana yang kita lakukan melalui seminar ini- merupakan suatu upaya penting dan langkah yang dewasa

untuk melakukan transformasi cara beragama dalam masyarakat plural kearah beragama yang dialogis, menghidupkan dan

membebaskan.

Sejarah Misi Kristen sebagai Sejarah Penaklukan (kristenisasi, protestanisasi)

Catatan sejarah misi

Kristen di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari catatan sejarah penaklukan atau sejarah imperialis bangsa asing seperti

Portugis, Inggris, Spanyol dan Belanda di Indonesia, karena misi Kristen mula-mula di Indonesia hadir bergandengan tangan

dengan kekuatan imperial asing yang ingin menaklukan wilayah nusantara melalui penaklukan sumber-sumber ekonomi, maupun

penaklukan budaya dan agama-agama yang sudah ada di wilayah Nusantara pada masa itu, baik menaklukan agama Islam maupun

agama-agama lokal.

Harus diakui bahwa didatangkannya badan zending atau misi ke Indonesia pada awalnya memiliki interest

politik yang sangat kuat dari pemerintahan kolonial yakni untuk membantu keberhasilan (melicinkan jalan) penetrasi kekuasaan

kolonial di wilayah Indonesia. Itu berarti: menjadi Kristen secara tidak langsung diartikan menjadi seseorang yang taat kepada

gereja dan dengan sendirinya taat kepada penguasa (pemerintah kolonial), sehingga ia akan gampang diatur untuk kemudian dengan

mudah dikuasai serta ditaklukkan.2

Sementara agama Islam dilihat sebagai penghambat proses penaklukan sehingga misi

Kristen dipakai sebagai alat peredam gerakan Islam di Nusantara. Salah seorang Misionaris Katolik, Ordo Yesuit yang sangat

terkenal: Fransiscus Xaverius dalam kegiatan misinya di Maluku pada tahun 1546 berkata: “(jika) setiap tahunnya selusin saja

pendeta datang kesini (Maluku) dari Eropa, maka gerakan Islam tidak akan bertahan lama dan semua penduduk kepulauan ini

(Maluku) akan menjadi pengikut agama Kristen3” . Dengan demikian pada awalnya agama Kristen diperkenalkan dengan pola

berhadap-hadapan dengan (sebagai lawan dari) agama lain, khususnya agama Islam.

Pola berhadap-hadapan seperti ini

diperkuat oleh analisis sebagian ahli seperti ahli sosiologi B. Schierke bahwa perjumpaan misi Kristen dengan agama lain dalam

hal ini agama Islam di Nusantara pada era Kolonial adalah sebuah adu kekuatan atau balapan (race with christianity): a contest

for supremacy between the Portuguese and the Moslem princes” (sebuah adu supremasi atau kekuasaan antara Portugis dan raja-raja

Muslim – Sultan)4.

Pola misi dengan pola “Adu kekuasaan” seperti ini bukan hanya antara misi Katolik (Portugis) dengan

agama Islam yang diwakili oleh para sultan di wilayah tersebut melainkan juga “adu kekuasaan” antara sesama orang Kristen,

yakni: antara orang Kristen Protestan (Belanda) dengan orang Kristen Katolik (Portugis). Ketika Belanda (Kristen Protestan)

berhasil mengalahkan Portugis di Maluku maka orang-orang Kristen Katolik di Maluku dipaksa untuk menjadi Kristen Protestan.

Harga dari misi Kristen seperti ini adalah agama Kristen menjadi alat kekerasan politik dan penindasan bagi manusia.



Tidaklah berlebihan jikalau seorang Afrika, seperti Frantz Fanon yang mewakili suara bangsa-bangsa yang tertindas oleh

kekuasaan kolonial bangsa Eropa melihat sejarah misi Kristen sangat kritis: “gereja pada masa kolonial adalah gereja orang

putih dan pemanggilan orang-orang untuk menjadi Kristen pada masa itu bukanlah pemanggilan ke jalan Allah melainkan pemanggilan

ke jalan orang berkulit putih, ke jalan yang berkuasa, ke jalan si penakluk (si penindas)5.”



Jika dibandingkan

dengan sejarah awal penyebaran agama Islam di Indonesia yang memiliki warna asimilatif yang tinggi, maka sejarah penyebaran

agama Kristen di Indonesia adalah sejarah segregasi. Islam hadir di Indonesia bukan sebagai sebuah “kekuatan dan kekuasaan

penakluk “ meskipun dibawah oleh kaum Muslim yang berbangsa asing seperti Arab, Persia dan India, namun karena pola pendekatan

kekeluargaan –melalui pembentukan sebuah keluarga Arab-Indo atau India-Indo atau Persia-Indo- dan adaptasi serta asimilasi

budaya yang sangat tinggi sehinga pada akhirnya melahirkan sebuah masyarakat plural namun memiliki satu identitas baru yakni

Islam.

Disana tidak terdapat segregasi sosial bahkan sebaliknya terjadi simbiose. Meskipun dalam fase berikutnya, ketika

agama Islam menjadi agama di Istana-Istana kerajaan-kerajaan di Nusantara, agama Islam tidak jarang digunakan untuk tujuan

politik dalam hal ini perluasan kekuasaan.

Sejarah Misi Kristen di Indonesia adalah sebuah sejarah segregasi -sejarah

pemisahan secara sistematis, bukan saja melahirkan stratifikasi sosial dalam masyarakat tetapi juga menanam sejumlah bom waktu

bagi relasi antarumat beragama di Indonesia yang telah meledak belakangan ini, karena pada masa kolonial umat Kristen

memperoleh sejumlah prevelese-prevelese hampir di segala bidang. Sistim penganaktirian dan penganakemasan terjadi dalam

masyarakat. Gereja-gereja atau orang Kristen dalam banyak hal menikmati keistimewaan dan perlindungan dari penguasa. Kondisi

“terlindungi” tersebut pada akhirnya menumbuhkembangkan sikap dan mentalitas “ingin terus-menerus berada dibawah `ketiak`

penguasa”.

Sikap dan mentalitas seperti ini masih tumbuh subur hingga dewasa ini. Disamping itu, pola segregasi pun

nampak dalam pembentukan wilayah atau desa-desa Kristen yang biasa dikenal dengan “sistim Benteng” bandingkan yang terjadi di

Maluku, dimana di banyak wilayah di Maluku, sebuah komunitas harus terbagi ke dalam dua desa yakni desa Kristen dan desa Islam.

Konsekuensi dari pola segregasi seperti ini telah dibayar oleh masyarakat Maluku sendiri dengan konflik dan perang saudara yang

berkepanjangan kurun waktu 5 tahun belakangan ini.

Konsekuensi dari pola dan pemahaman misi penaklukan



Fakta

bahwa sejarah misi Kristen di Indonesia pada awalnya adalah sejarah penaklukan yakni menjadikan seseorang Kristen

(Kristenisasi) dalam pengertian nominal bukan eksistensial, membawa konsekuensi-konsekuensi tersendiri baik itu bagi keberadaan

gereja itu sendiri maupun dalam relasi gereja/umat Kristen dengan umat beragama lainnya, khususnya umat Islam hingga dewasa

ini.



Secara internal, gereja yang lahir dari pola misi seperti itu melahirkan gereja yang introvert dan narzist

yakni gereja yang berjuang untuk dirinya sendiri dan mengurus dirinya sendiri. Misi dipahami oleh gereja sebagai “alat” untuk

mencapai kepentingan (interest) gereja itu sendiri baik untuk memperbanyak jumlah (kuantitas) anggota maupun untuk memperkokoh

posisi-posisi sosialnya. Misi Allah menjadi objek bagi gereja untuk “mempercantik” diri, melayani diri sendiri bahkan tidak

jarang untuk pelayanan kelompok –kelompok primordialnya yakni denominasi atau jemaat.

Konsekuensi lain dari pola misi yang

introvert ini adalah kepuasan nominal dan beribadah secara simbolik. Gereja yang lahir dari pola misi seperti ini meletakkan

kepuasannya pada jumlah jiwa yang diperolehnya: “yang penting banyak yang datang beribadah hari minggu” dan bukan pada

kegelisahan akan sejauh mana nilai dan ajaran Kristen telah terinternalisasi dan telah menjadi way of life (jalan hidup)

seorang Kristen.

Pola misi seperti diatas melahirkan orang Kristen hari minggu yaitu orang Kristen yang ke-Kristenannya

dilihat pada “ibadah hari minggu” tetapi bukan pada sikap dan cara hidup kesehariannya, sehingga dalam kehidupan kesehariannya

di rumah dan dalam interaksi sosialnya dengan orang lainnya ia akan mampu dan berani melakukan apa saja termasuk yang

bertentangan dengan nilai-nilai kristiani.

Karena gereja/umat Kristen pada masa zending memperoleh “perlindungan” dari

penguasa, maka muncul mentalitas “kerdil” yang biasa disebut dengan minority complex: Mentalitas seperti ini membuahkan

ketergantungan pada perlindungan penguasa/pemerintah: pada masa kolonial gereja berlindung di bawah “ketiak” pemerintahan

kolonial Belanda, kemudian di masa Orde Baru gereja berlindung pada rezim Orde Baru, -bdg. isu ttg. pemberian emas kepada

Suharto oleh PGI-, dst.

Sebagai harga dari ketergantungan seperti itu lahir pula sebuah mentalitas nir-kritik, menjadi

takut untuk menyuarakan suara kenabian yakni kebenaran, keadilan dan pembebasan. Memilih sikap diam terhadap pelecehan hak-hak

kemanusiaan disekitarnya dan bentuk ketidakadilan lainnya. Ini nampak bukan hanya pada era kolonial, ketika gereja diam dalam

menghadapi penindasan kaum penjajah terhadap rakyat Indonesia secara menyeluruh misalnya tragedi kemanusiaan yang cukup serius

pada masa berlangsungnya proyek tanam paksa (cultursteelsel) di Jawa, tetapi juga gereja diam ketika rezim Orde Baru melakukan

pembasmian secara sistematis dan keji jutaan manusia, perempuan dan laki-laki yang didaulat oleh rezim tersebut sebagai

golongan komunis yang bertanggungjawab atas kondisi chaos bangsa ini.

Gereja bahkan menutup pintu bagi mereka yang

meminta suaka/perlindungan dan turut mendukung rezim Suharto antara lain dalam turut memberlakukan larangan “anak-anak PKI”

untuk menjadi pendeta. Sikap diam seperti ini berlangsung hingga saat ini, kita bertanya dimana suara kenabian gereja ketika

menyaksikan pembantaian sesama manusia di Aceh, Papua dan di tempat lainnya?. Gereja-gereja kemudian tenggelam dengan urusannya

sendiri (narzist).

Secara Eksternal, pola misi penaklukan yakni kristenisasi atau protestanisasi sangat mempengaruhi

relasi umat Kristen dengan umat beragama lainnya. Umat Kristen menganggap umat beragama lain sebagai “objek” penginjilan dengan

alasan “menyelamatkan jiwa-jiwa yang sesat” .Yang anehnya adalah seorang yang belum tentu selamat sampai ke surga memberi

jaminan keselamatan bagi yang lain!!! Umat beragama lain diklaim sebagai “domba yang sesat”. Penggunaan kata seperti orang

percaya memiliki konotasi langsung pada kata “kita” yaitu umat Kristen untuk membedakan dengan “mereka” yakni umat non-Kristen,

yang tidak percaya.

Pemahaman misi seperti ini menjadikan makna hakiki kehadiran orang Kristen di dunia sebuah

kontraproduktif sebab bukan damai dan cinta kasih yang dituai melainkan kebencian dan kecurigaan. Setiap gerak dan pelayanan

sosial selalu saja diterjemahkan sebagai upaya propaganda dan Kristenisasi: Tidak heran kalau sebuah rumah biasa yang digunakan

sebagai tempat ibadah mendapat “serangan fajar” dari tetangga non-Kristen. Umat beragama lain menjadi takut untuk berinteraksi

dengan orang Kristen.

Tidak dapat kita sangkali bahwa dalam sejarah misi Kristen, tidak jarang kelemahan orang lain

dimanfaatkan melalui bujukan material, janji-janji tentang pendidikan dan kesempatan kerja yang lebih baik, sehingga pernah

berkembang apa yang disebut dengan “Kristen supermi”. Metode seperti ini merupakan bagian dari praktek-praktek gelap dalam

sejarah misi.

Teologi Misi: eksklusivisme dan imperialisme



Faktor kedua yang melatarbelakangi keberadaan

gereja dewasa ini adalah faktor teologis yakni teologi misi. Ajaran gereja yang dibawa oleh para misionar pada era Zending

mula-mula di Indonesia adalah sangat eksklusif baik itu berhadapan dengan budaya lokal terlebih lagi dengan agama-agama

lainnya. Superioritas budaya dan agama merupakan mentalitas kaum penjajah dan para misionar mula-mula.

Budaya dan agama

non-Barat dilihat sebagai sesuatu yang kafir, yang perlu di-Kristen-kan. Bukan saja agama-agama non-Kristen (Islam dan agama –

agama lokal) yang menjadi sasaran pengKristenan tetapi juga budaya setempat. Pemahaman bahwa budaya setempat adalah budaya

kafir sangat mempengaruhi pendekatan misi pada masa Zending mula-mula sehingga menjadi Kristen, secara otomatis seseorang

diasingkan (teralienasi) dari budayanya. Dengan kata lain, misi Kristen menjadi sebuah proses pencabutan akar budaya seseorang:

bukan sarung melainkan celana atau rok panjang –seperti pakaian orang Belanda pada masa itu– yang digunakan jika beribadah.



Amanat Agung menjadi Harga Mati dan pengganti Hukum yang Terutama



Semangat imperialisme sangat mendominasi

teologi gereja pada masa itu. Salah satu bagian Alkitab yang selalu dijadikan pembenaran dan legitimasi Kristenisasi adalah

bagian akhir dari Injil Matius yang biasa disebut dengan “Amanat Agung”: Matius 28: 19-20 “ Karena itu pergilah, jadikanlah

semua bangsa muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang

telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu sampai kepada akhir zaman.” (terjemahan LAI).

Yang

menarik untuk diperhatikan adalah ayat-ayat terakhir dalam Injil Matius ini mendapat penekanan yang sangat kuat justru pada era

Kolonialisme bangsa-bangsa Barat ke Asia, Afrika dan Amerika Latin, tepatnya era pasca Reformasi (abad ke-19)6 sebagai

pembenaran religius atas kegiatan misi Kristen dengan cara dan keinginan untuk menaklukan seluruh dunia. Kemudian ayat-ayat ini

diberi sebutan Amanat Agung yang menjadikan ayat-ayat ini seolah-olah lebih tinggi hukumnya dari pada ayat-ayat dalam Alkitab

lainnya.

Penamaan ayat-ayat ini sebagai “Amanat Agung” ini pun merupakan taktik politik untuk melanggengkan

praktek-praktek ekspansionis gereja- gereja di Barat pada masa kejayaan imperialisme Barat. Sekali lagi sebutan atau julukan

bahwa ayat-ayat ini adalah Amanat Agung bukanlah pemberian penginjil Matius apalagi pemberian Yesus sendiri, tetapi menarik

bahwa, ayat-ayat ini telah diberi stempel yang sangat kuat sebagai Amanat Agung sehinga tidak jarang membutakan mata kita bahwa

ada hukum yang terutama dan yang utama yang diucapkan oleh Yesus sendiri. yakni hukum kasih yang juga terdapat dalam injil

Matius 22: 37-40: kasih kepada Allah dan sesama manusia.

B. Arah Baru Misi Kristen: Misi Pembebasan dan

Pendamaian



Kegagalan gereja dalam menjalankan tugas misionernya di tengah-tengah dunia melalui sejumlah warisan

negatif yang tercatat dalam sejarah misi Kristen, melahirkan kesadaran baru untuk melakukan transformasi arah pemahaman misi

Kristen. Misi seharusnya tidak lagi dijadikan alat politik atau pembenaran teologis untuk keuntungan bagi diri gereja sendiri

melainkan misi Kristen harus menjadi Misio Dei (Misi Allah) yang bertujuan keluar dan untuk semua orang. Bukan misi Allah

menjadi alat gereja melainkan sebaliknya gereja menjadi salah satu dan bukan satu-satunya alat Allah untuk mewujudkan misiNya

yakni Syalom Allah ditengah-tengah dunia.

Artinya, gereja adalah salah satu alat Allah, dalam mewujudkan perdamaian

dunia, dalam membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan, di dalam upaya untuk kecukupan hidup manusia secara materi dan

spiritual, dalam mewujudkan kemanusiaan yang berharkat serta keramahan lingkungan. Itu juga berarti kita mengakui bahwa

gereja/umat Kristen tidak sendirian bekerja untuk menjalankan tugas ini karena tugas ini sangat berat, melainkan gereja

bersama-sama dengan alat Allah yang lainnya di dalam mengupayakan pemulihan dunia.

Karena Syalom Allah adalah karya Allah

untuk memulihkan dunia ini yang adalah ciptaanNya sendiri, untuk itu adalah wewenang Allah sendiri untuk memanggil seluruh

ciptaanNya (Kristen atau non-Kristen) untuk terlibat aktif di dalam proses pemulihan dunia. Adalah sebuah kekeliruan dan

arogansi untuk mengklaim, bahwa Allah hanya memanggil sekelompok manusia saja (mis. umat Kristen) dalam rangka pemulihan dan

pendamaian dunia. Sebab Allah yang kita kenal dalam Yesus Kristus adalah Allah yang berkarya bagi semua manusia dan seluruh

ciptaanNya, Allah yang melampaui segala batas-batas dan sekat-sekat yang dibangun oleh manusia, Allah yang bekerja tanpa batas.

Manusia tidak dapat dan tidak boleh membatasi ruang gerak dan kerja Allah, sehingga kalau Allah memanggil umat yang lain untuk

misiNya bagi dunia, siapakah kita, umat Kristen yang mau memagari kehendak bebas Allah.



Kesadaran bahwa Allah

melibatkan umat beragama lainnya dalam barisan misiNya, diperkuat dengan pengalaman bersama teman-teman non-Kristen dalam aksi

dan kerja sosial yang berbasis volunter melalui Forum Lintas Agama di Makassar. Mengalami sendiri kesungguhan dan komitmen

kerja yang luar biasa dari teman-teman non-Kristen, misalnya ketika mereka dengan penuh cinta kasih mau menjadi bagian dalam

kehidupan keseharian dan berjuang bersama dengan manusia yang dipinggirkan, dimiskinkan dan memperoleh stigma sosial seperti

masyarakat penderita kusta di daerah Jongaya atau mendampingi anak-anak jalanan bersama keluarga mereka di daerah-daerah kumuh,

karya sosial ini menjadi cermin untuk mengaca diri: Mengapa orang Kristen masih merasa benar sendiri, dimana batasan “kita”

sebagai orang yang percaya dan “mereka” sebagai orang yang tidak percaya atau “sesat”?. Apakah kerja mulia seperti ini bukan

lahir dari penghayatan iman atas ajaran agama yang dikehendaki Allah Yang Esa itu? Bukankan pola hidup seperti ini, yakni pola

hidup yang memberi diri tanpa pamrih kepada sesama adalah pola hidup yang diajarkan dan dipraktekkan sendiri oleh

Yesus?

Rekonstruksi penafsiran Amanat Agung Mat 28:20

Diatas telah kita lihat bahwa Matius 28 atau “Amanat Agung”

telah menjadi legitimasi misi mengKristenkan bangsa-bangsa. Warisan teologis ini masih sangat kuat dipegang oleh sebagian besar

umat Kristen secara khusus kelompok pertumbuhan gereja (kelompok karismatik). Persoalannya sekarang adalah bagaimana membaca

ayat – ayat Alkitab seperti Matius 28 yang telah terdistorsi penafsirannya?

Salah satu akibat dari distorsi penafsiran

adalah penerjemahan yang bias. Menarik untuk diperhatikan bagaimana LAI menerjemahkan kedua ayat dalam Matius 28 sehingga

memiliki muatan imperialis yakni tugas untuk mengKristenkan bangsa-bangsa di dunia: Karena itu pergilah, jadikanlah semua

bangsa muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah

Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu sampai kepada akhir zaman.” (terjemahan LAI).

Yang lebih

fatalnya lagi adalah LAI memberi judul perikop ini: “Perintah untuk Pekabaran Injil”, sementara tidak ada satu katapun dalam

perikop tersebut yang menunjuk pada “pekabaran injil”. Terjemahan LAI cenderung untuk dimengerti dalam penekanan objek perintah

itu yakni mereka (segala bangsa). Disini seolah-olah yang dikedepankan adalah hasil yang akan dicapai yakni “mereka”.



Yang menarik untuk diperhatikan bahwa dari keseluruhan ayat-ayat ini dalam bahasa aslinya (Yunani) hanya satu yang

menggunakan bentuk kata imperatif yakni jadikanlah murid atau muridkanlah (maqhteusate) semua bangsa, sementara LAI

menterjemahkan semua kata kerja di dalam ayat-ayat ini dalam bentuk imperatif atau perintah.

Kalau kita mau terjemahkan

dia secara harafiah sesuai dengan bahasa aslinya (Yunani), nampak perbedaan yang cukup mendasar dengan terjemahan LAI:



Telah diberikan kepada saya (Yesus) seluruh kuasa di Surga dan di bumi. Sebagai orang-orang yang berada dalam perjalanan,

muridkanlah semua bangsa, sebagai orang-orang yang membaptis mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, sebagai orang-orang

yang mendidik mereka untuk melakukan segala hal yang telah Aku amanatkan kepada kalian. Dan lihat, Aku bersama kalian setiap

hari sampai pada akhir zaman (sampai penggenapan zaman)

Dengan terjemahan ulang ini, saya dapat membayangkan bagaimana

ketika Yesus mengucapkan perkataan-perkataan ini kepada murid-muridNya. Yesus yang bangkit dan tidak lama lagi akan naik ke

Surga berhadapan dengan murid-murid yang hendak Ia tinggalkan dan yang akan melanjutkan misiNya. Ini adalah ucapan perpisahan

yang tidak hanya berisi wejangan sang Guru kepada para murid, bagaimana mereka menjalankan tugas/misi yang diembankan kepada

mereka tetapi juga bermuatan penguatan. Yesus menguatkan para murid, bahwa mereka tidak berjalan sendiri melainkan berjalan

bersama Allah, Si pemberi mandat tersebut.



Dari ucapan Yesus ini, saya memahami bahwa pada dasarnya yang menjadi

penekanan dari ucapan Yesus ini adalah mereka yang dipersiapkan untuk melanjutkan misiNya yakni para murid: Bagaimana sikap

mereka dalam melanjutkan misi Yesus (mengabarkan Injil:kabar baik). Ada 3 sikap para murid yang teridentifikasi dalam perkataan

Yesus yakni sebagai orang-orang yang berjalan, sebagai orang-orang yang membaptis dan sebagai orang-orang yang mendidik. Dan

ada satu tugas yang diberikan karena hanya kata ini dalam bentuk imperatif yakni muridkanlah

(maqhteusate).



Pertama-tama, para murid Yesus didefenisikan dengan sebutan “sebagai orang-orang yang berada dalam

perjalanan”(poreuqentes): bentuk partisip plural, bdg. terj. LAI: pergilah). Itu berarti para murid diingatkan bahwa mereka

adalah orang-orang yang berada dalam perjalanan, bahwa misi Allah yang mereka emban adalah sebuah proses terus menerus dan

tidak berhenti pada para murid Yesus saja melainkan ada kontinuitas pemuridan. Para murid diberi amanat untuk memuridkan (murid

memuridkan: bentuk kontinuitas atau tongkat estafet). Ini berhubungan dengan kata berikutnya yakni muridkanlah semua

bangsa(maqhteusate panta ta eqnh). Bandingkan terjemahan LAI: “jadikanlah segala bangsa muridKu”. Dalam bahasa aslinya kata

kepunyaan “KU” ini tidak ada (muridku). LAI menambahkan kata “KU” pada terjemahannya.Tambahan kata kepunyaan “ku” akan

memperoleh makna kepemilikian seseorang atau kelompok yang mengarah pada tugas keanggotaan. Tambahan ini cenderung menyesatkan

karena membelokkan arti yang menekankan kualitas murid kepada keanggotaan (kuantitatif) agama Yesus. Adalah sesuatu yang dapat

dimengerti kalau umat Kristen memahami ayat ini berangkat dari terjemahan LAI sebagai perintah untuk mengristenkan segala

bangsa: jadikanlah Kristen (Kristenkanlah) segala bangsa bahkan jadikanlah anggota gereja (denominasi tertentu) segala

bangsa!.



Bahwa kata muridkanlah adalah satu-satunya dalam kedua ayat dalam Mat. 28 yang berbentuk imperatif, hal

ini memuat indikasi bahwa penginjil Matius mengidentifikasikan misi sebagai “menjadikan murid” bukan dalam pengertian

kuantitatif yakni menambahkan jumlah anggota-anggota baru kedalam jemaat atau gereja tertentu7, melainkan murid dalam

pengertian mengikuti keteladanan (bdg. bahasa Jerman: Nachfolge).

Artinya menjadikan hidup orang-orang yang ditemui dalam

perjalanan untuk mengikuti pola hidup dan pelayanan Yesus, yang meneladani hidup Yesus dari Betlehem sampai Golgota, dari lahir

sampai kematianNya, yakni hidup yang memberikan diri untuk orang lain, hidup yang menjadikan kasih sebagai hukum utama dan

terutama, hidup dengan nir-kekerasan, hidup yang berpihak dan melayani orang yang termarginalkan akibat kemiskinan dan

penyakit, sebuah hidup yang memulihkan dan mendamaikan, sebagai garam dan terang bagi dunia.

Jadi tugas para murid Yesus

ialah menjadikan seseorang untuk hidup meneladani Yesus. Tugas ini tidak dapat dilaksanakan jikalau para murid Yesus sendiri

tidak memiliki pola hidup seperti Yesus. Ini bukan tugas yang sederhana. Dalam tugas ini ada prasyarat yang harus dimiliki

terlebih dahulu oleh para murid Yesus, yakni sekali lagi teladan hidup Yesus.

Kalau kita mau terjemahkan ke dalam konteks

kita masa kini, bahwa para murid Yesus adalah gereja-gereja, maka prasyarat yang harus dimiliki oleh gereja/umat Kristen dalam

melaksanakan dan melanjutkan misiNya tidak lain adalah pola hidup dan pelayanan Kristus. “Menjadikan murid” bagi gereja-gereja

dewasa ini berarti: menjadikan seluruh manusia –dari latar belakang apapun dia- sadar untuk peduli terhadap sesamanya, berani

menyuarakan suara keadilan dan kebenaran, berani untuk memberi dirinya untuk orang lain –siapapun dia, dari manapun dia, agama

apapun dia.

Kata menjadikan memiliki aspek pemberdayaan dan bukan menjadikan manusia objek misi. Itu berarti gereja

memberdayakan manusia, bukan saja umatnya untuk menjadi penolong bagi sesamanya. Gereja menyediakan ruang bagi proses

pemuridan, bagi proses terbentuknya karakter manusia yang meneladani Yesus.



Perintah muridkanlah segala bangsa harus

dilihat dalam kerangka keseluruhan injil Matius yang menekankan misi sebagai proses pemuridan yaitu proses menjadikan hidup

manusia yang bersedia melayani sesamanya manusia yang paling hina sekalipun karena dengan demikian ia telah melakukan untuk

Tuhan (Mat 25: 40 “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah

melakukannya untuk Aku”). Penekanan pada perintah ini bukan pada mengupayakan segala sesuatu supaya semua bangsa menjadi

Kristen (prosiletisme) karena “bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan ! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,

melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 7:21). Penekanan pada pembentukan diri manusia yang melakukan

kehendak Allah.



Sikap kedua yang dimiliki oleh para murid Yesus adalah “sebagai orang-orang yang membaptis”

(baptizontes), bentuk partisip plural?8. Tradisi membaptis pada masa Yesus mempunyai makna pemberiaan anugerah Allah yang

membebaskan, sebagai tanda pertobatan manusia dan pembaharuan hidup dalam Roh Kudus. Dengan kata lain membaptis –sebagaimana

yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis- bukan sebuah tindakan inagurasi atau registrasi, bukan tanda masuk ke sebuah lembaga

yang sifatnya formalitas, karena ketika Yesus bersedia dibaptis oleh Yohanes pembaptis, Yesus pun tidak diinagurasi atau tidak

dimasukkan kedalam anggota kelompok Yohanes. Tradisi membaptis dengan makna inagurasi dan registrasi sebagaimana yang dilakukan

gereja-gereja dewasa ini adalah tradisi yang muncul kemudian.



Kalau Yesus dalam pembekalan para muridNya mengatakan

bahwa para murid sebagai orang-orang yang membaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus , berarti bahwa dalam menjalankan misi

Allah, para murid Yesus memperkenalkan pada dunia tentang anugrah Allah bagi manusia yang mau datang untuk melakukan pertobatan

(metanoia) atau pembaharuan hidup. Melalui tugas pemuridan, dunia dibaharui ke arah hidup yang dikehendaki oleh Allah. Dengan

demikian makna membaptis disini bukanlah tindakan formalitas atau tindakan Kristenisasi, melainkan tindakan memperkenalkan

anugrah Allah bagi dunia. Tindakan ini berhubungan dengan sikap ketiga yang terdapat dalam ucapan perpisahan Yesus ini yakni

“sebagai orang-orang yang mendidik” (didaskontes) partisip plural)9.



Penekanan pada sikap “sebagai orang-orang yang

mendidik” tidak hanya diletakkan pada sikap akademis dan tindakan verbal (berkata-kata atau berkhorbah) belaka, melainkan

dalam hubungan dengan proses pemuridan dalam pengertian menjadi teladan - penekanan disini lebih pada tindakan (orrtopraksi)

dan menghasilkan buah, agar murid-murid yang dididik melakukan dan mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Sang Guru Agung,

yakni Yesus Kristus.



Dengan membaca kembali Injil Matius 28 seperti diatas kita akan menemukan pemahaman baru

tentang misi. Bahwa titik berat yang diletakkan oleh penginjil Matius dalam pemahamannya mengenai misi terletak pada esensi

kehadiran umat Kristen bagi dunia: bagaimana menjadi orang-orang yang melanjutkan misi Allah, bagaimana menjadi garam dan

terang dunia, bagaimana menjadi teladan (murid) yang memperkenalkan Anugrah Allah.

Dengan demikian, penginjil Matius

meletakkan titik berat pada pemahaman misi bukan pada hasil atau objek misi, atau bagaimana mencapai target misi secara

kuantitas (result oriented), melainkan bagaimana menjadi orang yang melakukan pola hidup dan meneladani (Nachfolge)

Yesus.

C. Aksi Pembebasan dan Pendamaian

Pola misi yang bagaimana yang seharusnya mewarnai keberadaan

gereja/masyarakat Kristen yang hidup di tengah-tengah umat beragama lainnya? Saya mencoba memberi usulan aksi konkrit. Yang

pertama adalah belajar dari sejarah untuk menjadikan misi sebagai tugas bersama dalam hubungan dialogis dengan umat beragama

lainnya.



Kalau sejarah misi telah mewariskan pola beragama yang menindas dan mengotak-ngotakkan manusia, maka

dibutuhkan sebuah langkah berani untuk menunjukkan bahwa misi Allah adalah misi yang membebaskan dan mendamaikan manusia.

Langkah berani ini dapat berupa pemahaman teologis maupun sikap dan aksi konkrit umat Kristen yang merobohkan sekat-sekat

pemisah, baik itu sekat budaya, sosial dan agama. Umat Kristen harus keluar dari “wilayah aman”-nya untuk menyuarakan suara

kenabiannya ketika berhadap-hadapan dengan praktek ketidakmanusiaan dan ketidakadilan. Bukan hanya gelisah ketika gedung gereja

dibakar.

Langkah berani ini bukanlah langkah “one man show” (seorang diri) melainkan langkah bersama. Karena pada

hakekatnya agama-agama lain pun mengemban misi mulia bagi kemanusiaan maka aksi sosial antar umat beragama dapat menjadi bentuk

perwujudan langkah berani ini untuk secara bergandengan tangan membebaskan mereka yang tertindas, memulihkan mereka yang

menderita - baik karena kemiskinan, penyakit maupun yang termarginalisir - berpihak kepada mereka yang di zolimi - yang

dijadikan korban ketidakadilan -, serta untuk memilih jalan tanpa kekerassan demi kehidupan yang berharkat.



Itu

berarti, umat Kristen tidak perlu mengerjakan tugas misi yang besar ini sendirian, melainkan dalam kebersamaan dengan umat

beragama lainnya untuk terus menerus peduli dan gelisah menghadapi tantangan dan persoalan. Nilai-nilai luhur yang diajarkan

oleh tiap-tiap agama hendaknya menjadi spirit/semangat transformatif bagi setiap penganutnya dan dengan demikian menjadi dasar

yang kuat bagi kerjasama antar umat beragama untuk melakukan tindakan pendamaian dan pemulihan dunia ini yang penuh dengan

praktek-praktek nir-kemanusiaan.



Hal yang kedua yang dapat dilakukan adalah membaca ulang dan reinterpretasi

ayat-ayat Alkitab. Dari jelajah akademik disadari bahwa penerjemahan dan interpretasi sejumlah ayat-ayat Alkitab sarat dengan

nilai-nilai eksklusif (dan juga bias gender) dan tidak membebaskan manusia sehingga menghambat interaksi kita dengan sesama

dalam masyarakat yang memiliki perbedaan (mis. agama, jenis kelamin). Untuk itu dalam kerangka upaya untuk memahami ulang misi

Kristen secara kontekstual, hal yang telah populer dikalangan aktivis atau teolog kaum perempuan seperti Membaca Alkitab Dengan

Mata baru, menjadi langkah alternatif yang dapat ditempuh.

Pdt. Aguswati Hildebrandt Rambe, M.A. adalah dosen bidang

Agama-agama di STT INTIM Makassar

Daftar Acuan, a.l:

Bosch, David, Transformasi Misi Kristen, BPK Gunung Mulia,

1999,

Ludwih, Frieder, Mission und Kolonialismus, dalam: Christoph Dahling, dkk (eds), Leitfaden oekumenische

Missionstheologie, Ch Kaiser 2003,

Schierke, B., Indonesian Sociological Studies, II (1957)

Shihab, Alwy, Membendung

Arus. Respons Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, Mizan 1998,

Singgih, E. G., Berteologi

dalam Konteks. Pemikiran-pemikiran mengenai Kontekstualisasi Teologi di Indonesia. Yogyakarta/Jakarta:Kanisius/BPK Gunung Mulia

2000

Catatan Kaki::

1 Revisi pengantar diskusi pada Seminar Ikatan Keluarga Alumni STT INTIM Makassar Wilayah Luwu

Timur, “ MISI KRISTEN DI TENGAH – TENGAH MASYARAKAT MAJEMUK. Malili, 3 Maret 2004

2 Tanpa harus memberi gambaran hitam

putih atas sejarah misi Kristen dan bukan untuk menafikan kontribusi positif misi Kristen (baik secara institusional maupun

individual) bagi masyarakat Indonesia. Tetapi penekanan pada pembelajaran sejarah berangkat dari “kesalahan” untuk sebuah upaya

pembaharuan pola misi yang kontekstual

3 lihat. Alwy. Shihab, Membendung Arus. Respons Gerakan Muhammadiyah Terhadap

Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, Mizan 1998, hal. 31

4 Schierke, B., Indonesian Sociological Studies, II (1957), p.

236

5 Frieder Ludwih, Mission und Kolonialismus, dalam: Christoph Dahling, dkk (eds), Leitfaden oekumenische

Missionstheologie, Ch Kaiser 2003, hal. 81

6 E. G. Singgih, Berteologi dalam Konteks. Pemikiran-pemikiran mengenai

Kontekstualisasi Teologi di Indonesia. Yogyakarta/Jakarta:Kanisius/BPK Gunung Mulia 2000, hal. 148

7 David Bosch,

Transformasi Misi Kristen, BPK Gunung Mulia, 1999, hal. 128

8 LAI menterjemahkannya dengan menggunakan bentuk perintah

(imperatif): “baptislah”

9 LAI menterjemahkannya dengan menggunakan bentuk perintah (imperatif):“ajarlah”





dilihat : 295 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution