Kamis, 23 Oktober 2014 06:47:17 | Home | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
Selamat kepada Jokowi-JK sebagai presiden terpilih. Kita doakan agar pelantikan tanggal 20 Oktober berlangsung baik..--Ingin kegiatan pelayanan anda diliput? silahkan kabari kami di 082139048191, 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Perspektif

Strategi Kebudayaan
Bagi sebuah bangsa yang miskin atau tertinggal, kemakmuran atau kesejahteraan merupakan tujuan yang hendak dicapai.

Catatan Ringan

Kaum Injili dan Politik
Keberadaan kelompok-kelompok Kristen dengan dinamikannya di negara-negara dunia ketiga cukup menarik perhatian untuk dijadikan bahan studi.

Agenda

Kamis, 25 September 2014
Ibadah Syukur Pilpres BAMAG Surabaya
Senin, 29 September 2014
Kongres XXXIV GMKI 2014 di Pontianak
Sabtu, 18 Oktober 2014
KKR Sekota “ON THE WAY”







10721
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Misi Penciptaan ( Pandangan Agama Kristen Protestan Terhadap Isu Kerusakan Lingkungan)
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 09 Januari 2006 00:00:00
Misi Penciptaan ( Pandangan Agama Kristen Protestan Terhadap Isu Kerusakan Lingkungan)
Pengantar



Saya menyambut dengan senang hati tema Jurnal STT

Intim yang terbit saat ini. Karena saya tak banyak waktu untuk menulis baru, saya mencoba menyumbangkan pemikiran tentang salah

satu misi Allah yaitu misi penciptaan, misi penebusan dan misi pemeliharaan Allah atas ciptaannya, dengan mencoba menyumbangkan

tulisan saya yang pernah dibahas dalam salah satu seminar yang diselenggarakan oleh LIPI.

Saya kira salah satu misi

penting dari Gereja adalah ikut serta menjaga dan memelihara bumi ciptaan Tuhan yang dikaruniakan dan dipercayakan kepada

gereja-gereja untuk dipertanggungjawabkan sebagai bagian dari ibadahnya kepada Tuhan.

Tulisan kecil ini akan mencoba

memaparkan pandangan atau sikap Agama Protestan terhadap isu kerusakan lingkungan sesuai pandangan-pandangan serta posisi yang

sudah diambil gereja-gereja Protestan, baik pada lingkup Dewan Gereja se Dunia (World Council of Churches) maupun Persekutuan

Gereja-gereja di Indonesia. Itu berarti bahwa pandangan yang akan dikemukakan di sini bukanlah sepenuhnya pandangan pribadi

penulis, walaupun akan diusahakan mengemukakan sikap teologis yang penting, yang sedikit banyak akan diwarnai oleh pandangan

penulis sendiri.

Tentu penulis tidak berpretensi bahwa pikiran-pikiran yang dikemukakan dalam tulisan ini sudah mewakili

seluruh pandangan Protestan. Selain karena penulis sendiri tidak mampu merangkum semua pemikiran protestan yang begitu banyak,

baik institusi maupun pribadi-pribadi; juga oleh karena pandangan Protestan sendiri tentu sangat kaya dan bervariasi, mungkin

juga di sana sini, berbeda. Apa yang saya coba kemukakan adalah garis besar yang sangat sedikit.



Saya juga harus

mencatat bahwa pandangan Kristen (Katolik dan Protestan) walaupun beraneka ragam, tetapi dalam garis besarnya adalah sama.

Salah satu isu gerakan ekumenis yang justru sangat merukunkan pandangan-pandangan gereja adalah isu kerusakan lingkungan. Semua

denominasi Kristen mengakui bahwa kerusakan lingkungan merupakan akibat dari perilaku manusia yang menyimpang atau bahkan

bertolak belakang dengan maksud Tuhan dengan penciptaan maupun penyelamatan. Bahkan saya yakin semua agama menganut pandangan

yang sama bahwa perilaku manusia yang menyimpang dari Firman Tuhan yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup.





Dalam semangat ekumenis itulah saya coba menuangkan tulisan ini dengan harapan bisa memberikan manfaat bagi upaya

semua umat manusia, khususnya bangsa Indonesia, dalam memulihkan, melestarikan dan mempertahankan lingkungan yang utuh dan

terintegrasi sepanjang masa.

Telah lama disadari bahwa peran etika dan agama (teologi) kurang mendapat tempat dan

perhatian dalam upaya memulihkan dan melestarikan lingkungan hidup kita. Walaupun demikian, para etikawan dan agamawan, secara

pribadi maupun melalui institusi masing-masing, telah berupaya secara optimal memberikan kontribusi bagi upaya-upaya bersama

umat manusia memulihkan lingkungan yang rusak dan melestarikannya. Barangkali persoalan peran agama terletak pada kenyataan

bahwa peran itu lebih bersifat mendorong dan tidak pada tatanan praktis. Namun peran itu amat penting karena menjadi jiwa dari

kegiatan praktis.

Pandangan Protestan terhadap Isu Kerusakan Lingkungan

Iman Kristen memahami kerusakan lingkungan

hidup sebagai bagian dan wujud dari perilaku manusia yang tidak sejalan dengan tujuan Tuhan menciptakan alam semesta. Alkitab

dengan jelas mengemukakan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta untuk tujuan-tujuan luhur, termasuk bagi manusia. Alam semesta

diciptakan baik untuk tujuan ekonomi (dipakai) maupun untuk tujuan ekumene (didiami/dihuni) oleh seluruh ciptaan secara

bersama.

Kedua istilah itu memang berasal dari akar kata yang sama yaitu oikos (rumah)yang berarti bumi atau dunia atau

kosmos, tempat seluruh makhluk ciptaan Tuhan bernaung dan mendapatkan sumber hidupnya. Ketika manusia semakin banyak dan

menguasai teknologi (mandat) yang didasarkan pada Kejadian 1:28)3, maka manusia semakin dominan dan menekan lingkungan (ciptaan

lain), sehingga terjadilah kerusakan lingkungan.

Jadi kerusakan lingkungan diakui sebagai akibat dari kesalahan dan ulah

manusia. Apakah memang ulah itu didukung atau dilegitimasi oleh teologi Yudeo-Kristen seperti yang dikemukakan oleh Lynn

White4, atau bahkan teologi Yudeo-Kristen dan Islam menurut Arnold Toynbee5, tentu sangat tergantung dari sudut pandang mana

hal itu dilihat dan mungkin memerlukan pengkajian yang lebih mendalam.

Namun dapat dikemukakan bahwa rupanya teologi

Kristen mengenai lingkungan yang berkembang di abad-abad yang lalu adalah teologi antroposentris, yaitu teologi yang berpusat

pada manusia. Pandangan ini terutama terkait dengan paham atau doktrin mengenai penciptaan, perjanjian dan

penebusan/keselamatan. Dari segi doktrin penciptaan, banyak teolog terlalu menekankan keunggulan dan dominasi manusia atas

ciptaan lain sesuai teks Kejadian 1-2, padahal dalam teks-teks itu jelas peran manusia hanyalah sebagai wali atau duta dari

Tuhan sendiri atas ciptaan.

Dari segi doktrin perjanjian, banyak teolog menafsirkannya sebagai bisnis antara Tuhan dengan

manusia padahal dalam Alkitab , misalnya dalam kejadian 8-9 jelas dikemukakan bahwa perjanjian Tuhan dengan Nuh adalah

perjanjian kosmik, perjanjian untuk seluruh ciptaan. Demikian juga dengan doktrin penebusan/keselamatan hanya untuk umat

manusia. Karena hanya manusia yang berdosa, maka keselamatan tentulah hanya untuk umat manusia.

Padahal dalam teks-teks

Perjanjian Baru‚ khususnya dalam Injil dan Surat Rasuli ditegaskan bahwa kedatangan Yesus Kristus ke dunia untuk

menebus/menyelamatkan seluruh dunia (Yohanes 3:16), dan bahwa pendamaian yang dilakukan Yesus Kristus di salib adalah untuk

seluruh dunia/ciptaan (II Korintus 5:19; Kolose 1:20). Masih menjadi diskusi yang hangat tentang penafsiran-penafsiran

antroposentrik itu. Banyak juga teolog yang berpendirian bahwa pandangan yang bersifat antroposentris di masa lampaupun tidak

secara otomatis mendorong manusia mengeksploitasi alam.

Kalaupun diakui bahwa telah terjadi penafsiran yang keliru

terhadap teks-teks Alkitab yang berbicara tentang hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya, tentu saja eksploitasi terhadap

lingkungan tidak didorong secara langsung oleh teologi Kristen. Oleh karena itu tugas teologi Kristen yang utama adalah

melakukan reinterpretasi teks-teks yang berbicara tentang hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya sehingga ditemukan

kembali kearifan-kearifan yang mendorong umat manusia memperlakukan lingkungan hidupnya sesuai dengan maksud Sang Pencipta. Hal

itulah yang sejak tahun 1960-an di abad yang lalu telah menjadi perhatian dari Dewan Gereja se Dunia maupun Persekutuan

Gereja-gereja di Indonesia.

Pandangan Dewan Gereja se Dunia

Gereja-gereja yang tergabung dalam Dewan Gereja-gereja

se Dunia sudah menggumuli masalah tugas gereja terhadap lingkungan sejak menyadari dampak dari maju pesatnya ilmu pengetahuan

dan teknologi. Dalam Sidang Raya ke IV Dewan Gereja-gereja se Dunia di Upsala, Swedia tahun 1968, telah dikaji dan disimpulkan

bahwa kerusakan lingkungan atau krisis ekologis merupakan dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam sidang

tersebut telah dibicarakan secara khusus masalah pengelolaan sumber-sumber bumi sehubungan dengan masalah kemiskinan dan

kelaparan, serta kesatuan ciptaan dalam hubungan dengan revolusi teknologi dan masalah keadilan sosial7.





Menyongsong Konferensi Dunia untuk Lingkungan Hidup di Stockholm tahun 1972, Dewan Gereja-gereja se Dunia

mengadakan studi tentang lingkungan tahun 1971 yang melahirkan dokumen bertajuk: “the global environment, responsible choice

and social justice”. Hasil studi tersebut menggaris bawahi ancaman yang dihadapi oleh lingkungan hidup akibat penggunaan

teknologi canggih mengeksploitasi sumber daya alam global dan juga masalah ketidakadilan dalam memanfaatkan dan mengakses

sumber daya alam8.

Istilah “sustainability” (berkelanjutan) yaitu masyarakat berkelanjutan diperkenalkan dalam Sidang

Raya tahun 1975 di Nairobi, tiga tahun setelah KTT Bumi I di Stockholm tahun 1972. Sidang Raya ini menekankan program untuk:

“Masyarakat Berkeadilan, Partisipatif dan Berkelanjutan”. Menurut Larry Rasmussen, istilah berkelanjutan tidak hanya mencakup

lingkungan tetapi juga manusia bersama seluruh ciptaan9.



Kemudian dalam Sidang Raya tahun 1983 di Vancouver, Dewan

Gereja-gereja se Dunia mencetuskan program yang disebut sebagai “keutuhan ciptaan” (integrity of creation), dalam tema besar

yang berjudul: “Justice. Peace and Integrity of Creation”. Judul itu menjadi tema pergumulan dan perjuangan gereja-gereja yaitu

bagaimana menanggulangi masalah ketidak-adilan, menghentikan perang dan mencegah penghancuran lingkungan. Sidang mengusulkan

agar seluruh gereja bertekad mengambil bagian dalam proses konsiliar untuk perdamaian, keadilan dan keutuhan ciptaan.



Tekad ini lahir dari pergumulan mendalam yang secara khusus memperhatikan masalah ketidakadilan, perang dan kehancuran

lingkungan hidup sebagai akibat dari kerakusan umat manusia10. Proses konsiliar ini menjadi agenda semua gereja di dunia selama

dekade 1980-an, termasuk di Indonesia. Bahkan tema ini mengilhami pertemuan raya gereja-gereja antar denominasi Eropa yang

pertama tahun 1989, yang menghimpun perutusan dari Dewan Uskup Eropa (Katolik), Dewan Gereja-gereja Eropa (Protestan dan

Ortodox) di Basel. Pertemuan raya itu menghimpun 700 delegasi utusan gereja + 900 peserta lainnya, termasuk pers. Pertemuan

mengambil tema: “Damai dengan Keadilan bagi Seluruh Ciptaan”11.



Tahun 1988, diselenggarakan secara khusus suatu

Konsultasi Teologi tentang Ekologi di Annecy, Prancis, di mana ditekankan bahwa penafsiran yang keliru atas naskah-naskah

tertentu dari Alkitab, khususnya cerita penciptaan yang sangat antroposentris, yang dikaitkan pula dengan keselamatan dari

Tuhan hanya untuk manusia, harus diluruskan karena penafsiran seperti itu mendukung sikap dan praktek mengeksploitasi dan

merusak lingkungan. Cerita yang sama menggaris bawahi bahwa manusia adalah makhluk yang tidak taat sehingga bertentangan dengan

tujuan penciptaan Allah dan berkecenderungan destruktif. Ia menjadi manusia berdosa12.

Tahun 1990, berlangsung Konferensi

Internasional tentang “Justice, Peace and Integrity of Creation” di Seoul. Proses konsiliar diperluas ke arah kepentingan

seluruh ciptaan yang terkait dengan tata ekonomi yang adil, keamanan, dan kultur yang sesuai dengan integritas ciptaan serta

menentang rasisme dan diskriminasi. Dokumen Seoul bertajuk: “Mengambil bagian dalam solidaritas perjanjian untuk Keadilan,

Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan” dengan mengambil dasar teologis pada Perjanjian Ekumenis dan Ekologis dari Perjanjian Nuh

dengan simbol Pelangi (Kejadian 9:12-13).

Disebutkan bahwa manusia mempunyai tanggung jawab etis untuk setia pada

perjanjian itu karena hanya kalau umat manusia memelihara perjanjian itu maka kehidupan akan terus berlangsung dengan baik dan

manusia akan menikmati kelimpahannya13.



Tahun 1991, Sidang Raya Dewan Gereja-gereja se Dunia di Canberra, yang

mengambil tema: “Come, Holy Spirit Renew the Whole Creation”, menjadi puncak dari pergumulan dan perjuangan gereja-gereja di

dunia mengenai upaya menyelamatkan lingkungan dan planet bumi. Dalam Sidang raya ini dirumuskan secara tegas pemikiran teologi

mengenai hubungan manusia dengan lingkungan, dalam mengahadapi krisis lingkungan global, yang garis besarnya dapat dikemukakan

sebagai berikut.14



1. Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Allah telah mencipta alam raya ini baik adanya

(Kejadian 1:31, band. I Timotius 4:4). Itu sebabnya seluruh ciptaan Allah dalam segala keindahan dan keagungannya memancarkan

kebesaran dan kemuliaan Sang Pencipta (Mazmur 19). Karena Allah adalah Pencipta maka Allah adalah pemilik yang berdaulat atas

seluruh ciptaan-Nya (Mazmur 24).

2. Di dalam dan melalui Yesus Kristus segala sesuatu telah diciptakan (Yohanes 1;

Kolose 1:16) dan segala sesuatu diperdamaikan dengan Allah (II Korintus 5:19; Kolose 1:20); serta seluruh ciptaan Allah

mencapai kepenuhannya (Kolose 1:19). Segala sesuatu, manusia dan ciptaan lain akan dipersatukan di dalam Kristus (Efesus 1:10)

dan akan diperbarui dalam langit dan bumi yang baru (Wahyu 21:5) Jadi karya penebusan Yesus Kristus telah membarui bukan hanya

kehidupan manusia tetapi kehidupan seluruh dunia (kosmos).

3. Kehadiran ilahi dari Roh Kudus dalam ciptaan mengikat

manusia dengan seluruh ciptaan lainnya. Roh Kudus terus menerus memelihara dan membarui ciptaan/bumi (Mazmur 104:30).

4.

Manusia diciptakan sebagai bagian dari seluruh ciptaan sekaligus sebagai penatalayan ciptaan Allah yang lain (Kejadian

1:26-27; 2:7); ditugaskan untuk memakai dan memelihara bumi/ciptaan lain (Kejadian 2:15), tidak semata-mata untuk menguasai dan

menaklukkannya. Aspek khusus dari penciptaan manusia sebagai Gambar Allah dinampakkan dalam tugas memelihara dan menjaga

ciptaan seperti Allah memelihara ciptaan-Nya.

5. Dosa manusia telah merusakkan hubungan Allah dengan manusia, termasuk

semua ciptaan lain (Kejadian 3) maka seluruh makhluk menantikan saat pembebasan dari kebinasaan (Roma 8: 19-22).

6.

Gereja selaku persekutuan orang-orang yang telah ditebus yang sekaligus menjadi tanda ciptaan baru dalam Kristus (II Korintus

5:7), dipanggil oleh Allah untuk berperan dalam pembaruan ciptaan. Dengan dikuatkan oleh Roh Kudus, orang-orang Kristen

dipanggil untuk bertobat dari penyalahgunaan dan perlakuan kejam terhadap alam. Gereja perlu merefleksikan apresiasi baru

tentang ciptaan sebagai dasar dan dorongan bertanggung jawab terhadap seluruh ciptaan.

7. Dalam masa sekarang kita

menghadapi dua masalah utama secara global yang saling terkait yaitu krisis ketidak adilan sosial dan krisis ekologi dan

lingkungan hidup. Untuk mewujudkan keadilan kita dituntut memberikan perhatian pada semua ciptaan: tanah, air, semua orang,

tumbuhan, dan semua bentuk kehidupan lainnya.

Visi baru ini akan mengintegrasikan kesaling-bergantungan

kebutuhan-kebutuhan ekologis, sosial, ekonomi, politik dan spiritual. Keadilan sosial untuk semua umat manusia and keadilan

ekologis kepada seluruh ciptaan harus berjalan bersama. Dalam Sidang Raya WCC 1998 di Harare, dirumuskan sebagai “keadilan

kepada seluruh ciptaan Allah”15.

Pandangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)



Gereja-gereja yang

tergabung Persekutuan gereja-gereja di Indonesia (sebagian besar adalah anggota WCC) juga telah dengan penuh kesadaran

memperhatikan masalah kerusakan lingkungan. Pendekatan PGI dimulai dari pemahaman tentang Injil dan tugas memberitakan Injil.

Dalam Sidang Raya PGI (waktu itu masih bernama Dewan Gereja-gereja di Indonesia-DGI, baru berubah menjadi PGI tahun 1984 di

Ambon), tahun 1971 di Pematangsiantar, dipahami bahwa Injil adalah berita kesukaan tentang kebebasan, keadilan, kebenaran dan

kesejahteraan yang dikehendaki Tuhan untuk seluruh dunia (Lukas 4:14-21) dan bahwa memberitakan Injil kepada seluruh makhluk

(Markus 16:15) mengandung makna tanggung jawab terhadap keutuhan ciptaan Tuhan16. Dasar teologis pemahaman mengenai tugas

memelihara ciptaan itu secara keseluruhan sejalan dengan pemikiran Dewan Gereja-gereja se Dunia (WCC), walaupun pelaksanaannya

tidak persis sama. Saya tidak perlu mengulangi dasar-dasar teologis mengenai alasan mengapa gereja perlu peduli terhadap

lingkungan hidup.

Bagi gereja-gereja di Indonesia, kepedulian kepada lingkungan hidup, selain dilihat sebagai tugas misi

gereja, juga dilihat sebagai peran serta gereja dalam pembangunan nasional. Jadi ada semacam usaha kontekstualisasi: “Tugas

panggilan gereja-gereja berpartisipasi dalam pembangunan nasional dapat dilihat dari beberapa segi yang saling memperkuat dan

saling memperkaya, antara lain dari segi tanggung jawab untuk mengelola, memelihara dan melestarikan ciptaan Allah” (Kejadian

1:26-28; 2:15; Mazmur 8)17.

Selanjutnya tugas itu dipahami pula sebagai salah satu cara mengamalkan Pancasila, khususnya

sila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Tugas itu dilaksanakan dengan berusaha menghilangkan jurang antara yang

kaya dan yang miskin dan melawan segala kecenderungan yang merusak lingkungan hidup18.



Pemahaman PGI tentang merusak

lingkungan disamakan dengan tindakan dosa karena dipandang sebagai tindakan melawan kehendak pencipta. Sebaliknya, tindakan

menjaga dan memelihara lingkungan dipandang sebagai ibadah19. Supaya pemahaman iman ini dapat diimplementasikan kepada

gereja-gereja, maka rumus-rumus pemahaman tersebut ditindak-lanjuti dalam kurikulum pendidikan warga gereja yaitu dalam buku

Pedoman Sekolah Minggu, buku Pendidikan Kristen di Sekolah dari SD sampai ke Perguruan Tinggi, buku Katekisasi dan Pembinaan

Teruna-Remaja-Pemuda dan dalam buku Pedoman Pembinaan Warga Gereja untuk pendidikan orang Dewasa.

Di tingkat nasional,

implementasi pemikiran-pemikiran gereja untuk peduli pada lingkungan hidup dilaksanakan oleh Departemen Partisipasi dalam

Pembangunan (Parpem PGI) dan kemudian sejak tahun 1996, sebagian diserahkan kepada Yayasan Tanggul Bencana yang dibentuk oleh

PGI.

Tugas lembaga nasional ini melakukan berbagai seminar, konsultasi, lokakarya dan pelatihan terhadap warga gereja

dari seluruh Indonesia agar sebagai upaya memberdayakan gereja-gereja agar peduli pada lingkungan hidup masing-masing. Juga

melakukan kerja sama dan membentuk jaringan baik dengan pemerintah maupun dengan LSM dalam berbagai kegiatan kepedulian

lingkungan hidup.

Dengan demikian, tiga langkah utama telah ditempuh sebagai usaha mengimplementasikan kepedulian kepada

lingkungan yang sedang rusak berat yaitu melalui pendidikan dan pelatihan, gerakan/aksi/advokasi dan membangun

jaringan.



Dalam rangka melaksanakan tugas jangka panjang, gereja-gereja di Indonesia sejak tahun 1989 telah

menggariskan beberapa pedoman sebagai berikut:20

Melakukan upaya-upaya pemahaman yang mendalam tentang teologi lingkungan

melalui ibadah-ibadah/liturgi, pemahaman Alkitab, khotbah, pendidikan di Sekolah Minggu, Katekisasi, Sekolah Umum dan Perguruan

Tinggi serta berbagai bentuk pendidikan normal lainnya.



Melakukan identifikasi dan inventarisasi masalah-masalah

yang menyangkut kerusakan lingkungan di lingkungan masing-masing dan menentukan sikap dan mengambil langkah penanggulangan

terhadap permasalahan-permasalahan tersebut.



Memanfaatkan mass media untuk turut dalam promosi pencegahan dan

penanggulangan kerusakan lingkungan sebagai bagian dari proses penyadaran masyarakat akan pentingnya memelihara dan

melestarikan lingkungan hidup karunia Tuhan.Melakukan studi dan publikasi mengenai masalah-masalah lingkungan hidup baik secara

teologis maupun sosiologis-antropologis-kultural. Studi-studi tersebut penting dilakukan dari berbagai sudut pandang karena

kerusakan lingkungan bersifat multi-dimensional.

Bekerja sama dengan kelompok agama-agama lain dalam pembinaan masyarakat

dan dengan pemerintah, LSM dan masayarakat luas, dalam dan luar negeri untuk upaya-upaya mencegah kerusakan lingkungan maupun

penanggulangan lingkungan yang terlanjur rusak, termasuk melakukan advokasi pada lingkungan dan masyarakat yang menjadi

korban.Mengambil prakarsa dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat dan asri baik di lingkungan masing-masing, maupun

untuk lingkungan hidup yang lebih luas.

Kesimpulan



Dengan mengemukakan pemikiran-pemikiran yang sudah sangat

teknis ini hendak dinyatakan bahwa secara konsepsional, sikap Kristen terhadap kerusakan lingkungan sudah sangat jelas yakni

melihat kerusakan lingkungan sebagai akibat dari ulah manusia dan karena itu menyebut perbuatan merusak lingkungan sebagai

dosa.

Sebaliknya, usaha memelihara lingkungan hidup dipahami sebagai kebajikan dan karena itu disebut sebagai ibadah

kepada Tuhan. Memelihara lingkungan adalah bagian dari misi Allah dalam mendatangkan Shalom Kerajaan Allah. Maka orang Kristen,

secara sendiri-sendiri atau sebagai institusi, wajib menjaga dan memelihara lingkungan hidup.



Ditinjau dari segi

doktrin atau pemahaman iman Kristen, maka kepedulian terhadap lingkungan hidup tidak lagi perlu dipertanyakan. Barangkali yang

menjadi persoalan adalah praktek dalam kehidupan sehari-hari setiap orang.

Menurut pendapat penulis ada berbagai faktor

yang menyebabkan masih kurangnya kepedulian terhadap krisis lingkungan hidup, antara lain:

Keyakinan iman belum

diimplementasikan dalam keseharian hidup. Agama masih bersifat seremoni atau baru pada tahap pengakuan iman. Semua orang

mengetahui dan meyakini bahwa lingkungan hidup adalah anugerah Tuhan yang harus dipelihara, tetapi perilaku hidup sehari-hari

tidak sejalan dengan pengetahuan dan keyakinan itu.



Pengaruh yang sangat kuat dari semangat konsumerisme,

materialisme dan hedonisme, sehingga masih lebih mengutamakan penikmatan hidup dan belum pada tahap penghargaan kehidupan

secara utuh. Pengetahuan masyarakat yang masih sangat kurang mengenai permasalahan kerusakan lingkungan, baik karena faktor

tingkat pendidikan maupun karena faktor kurangnya penyuluhan dan informasi.



Kurangnya penggerak (pemimpin yang

peduli lingkungan) di lapangan. Banyak pemimpin tidak konsisten sehingga masyarakat tidak punya panutan, sementara para

pemimpin agama memang terbatas pada kemampuan pembinaan (teori) dan kurang pada kemampuan lapangan (praktis).Kurangnya

koordinasi yang baik antar lembaga agama, lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah sehingga gerak bersama belum terwujud

sebagaimana yang diharapkan.



Kalau lima faktor ini saja sudah dapat ditanggulangi maka persoalan lingkungan hidup

akan dapat diminimalkan bahkan di atasi. Sekian dan terima kasih.

Dr. Robert P. Borrong adalah Ketua STT Jakarta dan

dosen di bidang Etika Kristen; pada tahun 1985-1987 mengajar di STT INTIM Makassar

Literatur:

Birch, Charles, et.al

(eds.), Liberating Life:Contemporary Approach to Ecological Theology, (Maryknool:Orbis Books, 1990)

Cox, Harvey et.al,

Economic Growth in the World Perspectives, (New York/London: Association Press/SCM Press, 1966).

Borrong, R.P, Etika Bumi

Baru(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999)

Borrong, R.P, Teologi dan Ekologi, (Jakarta: STT Jakarta, 1998)

Cox, Harvey

et.al, Economic Growth in the World Perspectives, (New York/London: Association Press/SCM Press, 1966).

Derr, Thomas

Sieger, Ecology & Human Liberation, (Geneva: WCC, 1973)

Ellul, Jacques, The Technological Society, (New York: Vintage,

1964)

Kessler, Diane (ed.), Together on the Way: Official Report of the Eighth Assembly of the WCC, (Geneva: WCC,

1999).

Kinnamon, Michael, Signs of the Spirit: offical report seventh assembly, (Geneva:WCC/Grand Rapids:Eerdmans,

1991)

Nababan, S.A.E, (ed.), Apa Kata Upsala, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1969)

Niles, Preman, (ed.), Between the

Flood and the Rainbow, (Geneva:WCC, 1992)

PGI, Lima Dokumen Keesaan Gereja, tahun 1984, 1989, 1994, (Jakarta: BPK Gunung

Mulia).

Rasmussen, Larry, Earth Community, Earth Ethic (New York: Orbis, 1996)

Toynbee, Arnold, The Toynbee-Ikeda

Dialog, (Tokyo: Kodansha International, 1976)

WCC, The Ecumenical Review, (Vol. 43, Nomor 2, April 1991)

WCC,

Vancouver to Canberra, (Geneva:WCC, 1990)

White, Lynn, “The Historical Roots of Our Ecological Crisis”, Science 10 Maret

1967

Berbagai Dokumen PGI yang tidak diterbitkan.

Catatan Kaki :

1 Disampaikan pada acara sarasehan tentang “

Agama dan Konservasi”, yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), c.q. Pusat Penelitian Biologi, pada

tanggal 18 Dsemeber 2002, di Café de Daunan, Kebun raya di Bogor

2 Dosen Etika Kristen STT Jakarta, Ketua STT Jakarta

periode 1999-2003, penulis buku: Etika Bumi Baru, Teologi dan Ekologi dan berbagai artikel mengenai Lingkungan Hidup

3

Jacques Ellull dan Harvey Cox, sama-sama mengakui bahwa perkembangan teknologi di Barat dipengaruhi secara dominant oleh

kekristenan, khususnya reformasi (Jacques Ellul, The Technological Society, New York: Vintage, 1964; Harvey Cox, et al,

Economic Growth in the World Perspective, New York/London: Association Press/SCM Press 1966)

4 Lynn White, sejarawan

Amerika Serikat menyampaikan pidato ilmiah didepan Academy for Advancement of Science, yang kemudian dimuat dalam majalah

Science 10 Maret 1967 dengan judul: “The Historical Roots of Our Ecological Crises”, di dalamnya ia antara lain mengemukakan

bahwa kekristenan Barat telah menafsirkan teks Kejadian 1:28 dengan kecenderungan memandang alam semata-mata bermakna untuk

tujuan manusia, untuk dipakai manusia. Maka alam dieksploitasi untuk tujuan kemakmuran manusia.

5 Arnold Toynbee, The

Toynbee-Ikeda Dialog, (Tokyo:Kodansha International, 1976), hlm. 39. Menurut Toynbee, krisis lingkungan hidup disebabkan oleh

agama-agama monoteis (Yahudi, Kristen, dan Islam) yang telah menghilangkan rasa hormat terhadap alam yang ilahi sehingga tidak

ada lagi yang menahan ketamakan manusia.

6 Diskusi tentang pandangan Kristen tentang Imago Dei dapat dibaca dalam Borrong,

Etika Bumi Baru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, khusus bab V). Banyak teolog menunjuk pada semangat imperialisme dan

kolonialisme sebagai stimulus utama dalam eksploitasi terhadap alam.

7 Lihat buku hasil SR IV DGD, Apa Kata Upsala,

Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1969), hlm. 43

8 Thomas Sieger Derr, Ecology and Human Liberation, (Geneva: WCC, 1973), hlm.

1ff

9 Larry Rasmussen, Earth Community, Earth Ethics, (New York: Orbis, 1996, khusus bab I)

10 WCC, Vancouver to

Canberra, (Geneva: WCC, 1990), hlm. 147 ff

11 Prman Niles, Between the Flood and the Rainbow, (Geneva: WCC, 1992), hlm.

5

12 Charles Birch, et. al (eds.), Liberating Life: Contemporary Approach to Ecological Theology, (Maryknoll: Orbis,

1990), hlm. 276

13 WCC, The Ecumenical Review, Vol. 43, Nomor 2, April 1991, hlm.270. Dokumen lengkap dimuat dalam Preman

Niles, op.cit.

14 Michael Kinnamon, Signs of the Spirit: official report seventh assembly, (Geneva: WCC/Grand rapids:

Eerdmans, 1991

15 Diane Kessler, (ed.), Together on the way: Official report of the Eighth Assembly of the WCC (Geneva:

WCC, 1999), hlm. 55

16 PGI, Lima Dokumen Keesaan Gereja 1984, 1989, 1994 (Jakarta: BPK Gunung Mulia)

17 Ibid,

hlm.5

18 Ibid, hlm. 30

19 Hal itu dapat dibaca dalam naskah pemahaman bersama Iman Kristen yang merupakan pokok-pokok

doktrin yang disepakati gereja-gereja di Indonesia, dirumuskan pada Sidang raya IX PGI tahun 1989 di Surabaya

20

Dirangkum dari berbagai sumber antara lain dari dokumen hasil Konsultasi nasional tentang KPKC yang diselenggarakan PGI tahun

1989 di Salatiga; Konferensi Gereja dan masyarakat di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor tahun 1989 dan di jayapura tahun 1994,

Musyawarah parpem PGI tahun 1990 di Jakarta dan 1994 di Denpasar dan Konsultasi Nasional tentang pengelolaan Sumber daya Alam

dan Penanggulangan bencana yang diselenggarakan Yayasan Tanggul Bencana PGI tahun 1999 di Denpasar dan Konsultasi Nasional

Pemeliharaan Lingkungan Hidup yang diselenggarakan Badan Litbang PGI tahun 2000 di Sukabumi.




   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by GIS IT Solution