Rabu, 26 September 2018 19:43:17 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 177
Total pengunjung : 423504
Hits hari ini : 1827
Total hits : 3902445
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Work, Death and Sickness






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 21 Desember 2005 00:00:00
Work, Death and Sickness
Menurut suku Indian yang

bermukim di Amerika Selatan, konon katanya saat

Tuhan pertama kali menciptakan manusia ; manusia tidak perlu bekerja.



Manusia tidak butuh tempat tinggal, pakaian termasuk makanan. Mereka bisa

hidup ratusan tahun dan mereka tidak

mengenal penyakit.



Namun satu ketika ; Tuhan ingin sekali melihat bagaimana ciptaannya tersebut

hidup satu

dengan yang lain. Alangkah terkejutnya Tuhan saat dia melihat

bagaimana mahluk ciptaannya hidup. Manusia yang

diharapkannya dapat hidup

bahagia ternyata jauh dari harapan Tuhan. Mereka bertengkar satu sama lain,

mereka hanya

memikirkan diri dan kesenangan masing - masing.



Lalu Tuhan berkata pada dirinya sendiri : "Kehidupan yang seperti

yang aku

lihat ini , bukanlah yang aku inginkan, manusia hidup hanya memikirkan

dirinya sendiri ". Hal ini harus

segera diubah demikian pikir Tuhan.

Manusia yang tadinya tidak perlu bekerja, sekarang harus bekerja. Tuhan yang



tadinya menciptakan manusia ; tanpa perlu makanan, pakaian sampai tempat

tinggal, sekarang tidak lagi. Manusia akan

menderita kelaparan yang akan

memaksanya untuk menanam buah - buahan untuk dimakanya sebagai pennghilang

rasa

lapar. Manusia akan merasa kedinginan dan kepanasan yang akan

memaksanya membuat rumah sebagai tempat

berlindung.



Dengan bekerjalah mereka akan menjadi satu dan tidak lagi hidup secara

individu. Karena tidak lah

mungkin manusia membuat alat - alat pertanian,

lalu memakainya untuk menanam buah-buahan, kemudian memanennya ,

membangun

rumahnya , membuat baju, hanya dikerjakan oleh satu orang. Tuhan berharap

manusia boleh mengerti dan

belajar; bahwa untuk mengatasi kesulitan

makanan, pakaian dan tempat tinggal , mereka harus bekerja bersama - sama.



Semakin banyak pekerjaan yang dikerjaan bersama maka kehidupan manusia akan

menjadi bahagia. Dan kelak manusia yang

hidup sendiri - sendiri akan bersatu

kembali. Demikianlah cara Tuhan untuk menghilangkan sikap egois manusia.

Maka

menusia diperkenalkan satu kata baru yaitu bekerja.



Waktu berjalan dan Tuhan ingin sekali melihat bagaimana

kehidupan manusia

sekarang apakah denngan bekerja kehidupan manusia akan bertambah bahagia ?.

Nyatanya Tuhan

mendapatkan kehidupan manusia tidak tambah baik. Memang semua

manusia saat itu bekerja bersama ,namun bukan dalam artian

tolong menolong.

Dan manusia bukannya menjadi satu , malah dengan pekerjaan manusia terpecah

belah menjadi group -

group kecil. Dimana tiap group berusaha untuk

merampas, menjegal pekerjaan dari group lainnya. Waktu yang diberikan

Tuhan

, bukan lagi digunakan untuk bersama tetapi malah untuk memperkuat groupnya

agar bisa merampok pekerjaan

group lainnya, manusia menggunakan waktunya

dengan sia - sia, demikian pikir Tuhan.



Melihat hal ini Tuhan

memutuskan hal yanng baru , manusia tidak boleh tahu

lagi kapan waktunya untuk mati, disamping itu manusia bisa mati

kapan saja ,

tidak harus sampai ratusan tahun. Tuhan berharap ; manusia boleh belajar

bahwa kematian manusia bisa

datang kapan saja, sehingga manusia tidak lagi

menggunakan waktunya secara sia - sia , untuk memikirkan diri atau



kelompoknya, namun menggunakan waktu nya untuk berbuat sebaliknya. Setelah

membuat keputusan ini Tuhan

pergi.



Namun saat Tuhan kembali lagi untuk melihat bagaimana manusia itu hidup,

yang didapati bukanlah

kehidupan manusia yang semakin baik, melainkan

sebaliknya, bertambah buruk. Kehidupan manusia dengan adanya "kematian "

ini

terbagi menjadi kelompok yang lemah dan kuat. Karena kematian manusia bisa

datang kapan saja, maka kelompok

yang kuat bisa seenaknya memakai kematian

untuk mengancam kelompok yang lemah, bahkan membunuhnya kalau perlu.



Kelompok yang kuat merasa diri mereka tidak perlu bekerja dan mereka hidup

dari cara memeras kelompok yang lemah

dengan ancaman kematian.



Melihat hal ini Tuhan membuat keputusan baru lagi untuk manusia yaitu ,

manusia

dikenalkan akan penyakit. Tuhan mengirimkan segala macam penyakit ke

manusia. Tuhan berharap dengan adanya penyakit pada

manusia , akan

menimbulkan rasa iba pada diri manusia. sehingga mereka bisa menolong satu

sama lain. Bagi yang

tidak sakit bisa menolong yang sakit dan kemudian bila

yang tidak sakit menjadi sakit akan ditolong oleh orang lain yang

tidak

sakit.



Dan lagi setelah mengirimkan penyakit pada manusia Tuhan pergi beberapa lama

, dan datang

untuk melihat bagaimana kehidupan manusia setelah mengenal

penyakit , apakah mereka menjadi satu atau masih tetap

individu ? Nyatanya

kehidupan manusia malah bertambah - tambah buruk, lebih buruk dari

sebelumnya. Penyakit yang

tadinya diharapkan Tuhan dapat mempersatukan

manusia dari kehidupan egoisnya malah yang terjadi sebaliknya. Kelompok yang



kuat bisa memaksa kelompok yang lemah bekerja termasuk memaksa mereka

merawat kelompok yang kuat jika jatuh sakit.

Namun tidak terjadi sebaliknya

saat yang lemah sakit, yang kuat tidak datang menolong. Kelompok yang kuat

semakin

menjadi kuat dan kaya, kelompok yang lemah menjadi semakin lemah ,

miskin, sakit dan cepat mati



Melihat hal

ini Tuhan pun berkata pada dirinya sendiri ; "jika sampai hari

ini manusia juga tidak pernah belajar untuk mengerti

dimana letak

kebahagiaan itu", maka aku akan meninggalkan manusia , dan biarlah mereka

belajar sendiri dari

penderitaan penderitaan mereka". Dan mulai saat itu

Tuhan pun mulai meninggalkan manusia.



Dan manusiapun hidup

jauh dari Tuhan. Pada akhirnya hanya sedikit manusia

yang mengerti dengan berjalannya waktu ; bahwa "hukuman " bekerja

yang

diturunkan oleh Tuhan sebenarnya mengingatkan manusia, kalau kehidupan

manusia bergantung satu sama lain,

bekerja tidak diartikan sebagai tuan dan

budak. Namun bekerja bisa dilihat sebagai menolong satu sama lain. Hanya



sedikit pula yang mengerti "hukuman" kematian dari Tuhan, menyadarkan

manusia , kalau manusia itu sebenarnya

sedang menghabiskan tahun, bulan,

minggu, hari, jam, menit, dan detik yang diberikan oleh Tuhan, alangkah

sayangnya

jika hal tersebut digunakan hanya untuk diri sendiri. Dan terakhir

hanya sedikit manusia yang mengerti kalau penyakit

yang diberikan Tuhan,

bukan untuk menjauhkan si pesakitan dari orang yang sehat , melainkan

sebagai satu kesempatan

untuk manusia menyatakan kasih terhadap sesama.



diterjemahkan bebas Surjo Abadi dari

Work, Death and Sickness

karya Lev Nikolayevich Tolstoy







dilihat : 254 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution