Senin, 19 November 2018 06:42:53 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 290
Total pengunjung : 441369
Hits hari ini : 3119
Total hits : 4075099
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -KAJIAN YESUS SEJARAH DAN SUMBANGANNYA BAGI KEHIDUPAN KRISTEN MASA KINI (Bagian 1)






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 24 Agustus 2005 00:00:00
KAJIAN YESUS SEJARAH DAN SUMBANGANNYA BAGI KEHIDUPAN KRISTEN MASA KINI (Bagian 1)
1. Pendahuluan



Kajian-kajian tentang “Yesus sejarah” memusatkan

penelitian-penelitiannya jelas pada Yesus sebagai seorang manusia Yahudi yang giat mengajar dan berkarya di antara rakyat

Yahudi di Palestina pada akhir tahun 20-an dan awal tahun 30-an di abad pertama. Pemusatan perhatian pada Yesus yang manusia

jelas berbeda dari pemusatan yang diarahkan pada “keilahiannya” seperti yang menjadi isi dari kredo-kredo atau

pengakuan-pengakuan iman yang dirumuskan pada abad-abad keempat dan kelima. Karena “sang Firman itu telah menjadi

manusia/daging dan diam di antara kita” (Yohanes 1:14), dan karena kriterion iman yang benar itu ditumpukan pada suatu

pengakuan mutlak bahwa “Sang Firman” yang adikodrati itu telah tampil dalam tubuh yang dapat “dilihat dan disaksikan dengan

mata” dan dapat “didengar” dan dapat “diraba dengan tangan” (1 Yohanes 1:1-4) dan penolakan atas pengakuan ini menjadikan

seseorang itu “anti-Kristus” dan “penyesat” (1 Yohanes 4:2-3; 2 Yohanes 7), maka penelitian atas Yesus sejarah itu memiliki

dasar teologis skriptural yang kokoh. Suatu komunitas Kristen yang bukan anti-Kristus dan bukan penyesat adalah suatu komunitas

yang memberi tempat penting pada sosok Yesus sebagai seorang manusia dalam kehidupan beriman komunitas ini. Penekanan pada

kesejarahan Yesus juga mendapat dasar skriptural yang kokoh pada bentuk Injil-injil Kristen intrakanonik (Markus, Matius, Lukas

dan Yohanes) sebagai narasi-narasi teologis biografis historis tentang Yesus yang hidup dalam dunia ini, tentang ajaran-ajaran

dan karya-karyanya dalam dunia nyata ini semasa ia hidup. Narasi-narasi biografis historis tentang Yesus yang menjadi bagian

dari kanon Kitab Suci Kristen ini telah diabaikan begitu saja oleh kredo-kredo Kristen yang disusun pada masa patristik

itu.



Dalam Injil-injil intrakanonik itu (yang ditulis dalam rentang waktu tahun 70 sampai akhir abad pertama)

terkandung teologi masing-masing penulis Kitab Injil atau teologi yang berasal dari tradisi-tradisi pra-Injil (pra-Markus), dan

elemen-elemen sejarah yang dapat diasalkan pada (attributable to) Yesus dari Nazareth. Penelitian Yesus sejarah, dengan

demikian, berusaha untuk memanfaatkan seefektif mungkin dan seilmiah mungkin bahan-bahan sejarah yang tersedia tentang Yesus

untuk menghasilkan gambaran-gambaran atau potret-potret alternatif tentang Yesus, selain yang telah diberikan oleh para penulis

Kitab Injil atau penulis-penulis lainnya dalam Perjanjian Baru. Dengan demikian, frasa “Yesus sejarah” adalah suatu istilah

teknis yang mengacu pada Yesus dari Nazareth yang berhasil direkonstruksi dari bahan-bahan sumber yang tersedia, dengan memakai

metode penelitian ilmiah yang dapat diandalkan.



Dalam metode untuk merekonstruksi Yesus sejarah ini, tercakup

unsur-unsur berikut: penentuan awal bahan-bahan tulisan apa saja yang dapat digunakan; kriteria (atau tolok-tolok ukur) untuk

menentukan keaslian atau otentisitas bahan-bahan tulisan tentang Yesus (the Jesus material); pemakaian disiplin-disiplin ilmu

yang saling mengisi (antara lain: kritik teks, sejarah, antropologi dan arkeologi) untuk menghasilkan suatu potret tentang

Yesus yang tajam fokusnya; penentuan epistemologi yang digunakan, yakni, penegasan apakah suatu gambaran sejarah itu bisa

betul-betul obyektif seratus persen (epistemologi positivis atau obyektivis atau historisis), atau malah subyektif seratus

persen (epistemologi subyektivis atau fenomenalis atau narcissis atau solipsisme historis), atau merupakan hasil interaksi

berimbang antara obyektivitas faktual dan subyektivitas si perekonstruksi fakta sejarah (epistemologi interaktivis);

pengidentifikasian teologi si sejarawan peneliti Yesus sejarah yang pasti berperan dalam ia merekonstruksi siapa Yesus dari

Nazareth itu sebenarnya. Unsur-unsur metodologis ini akan diuraikan; lalu setelahnya usaha-usaha menemukan relevansi kajian

Yesus sejarah bagi kehidupan Kristen di masa kini akan juga diketengahkan.





2. Sumber-sumber

Sastra




2.1. Sumber-sumber Kristen



Sumber utama bagi pengkajian Yesus sejarah

adalah ketiga Injil Sinoptik (Markus, Matius, Lukas) dalam Perjanjian Baru. Dari pembandingan antar ketiga Injil Sinoptik ini,

dapat diketahui adanya tiga sumber lain: yakni Injil “Q”(note 1); sumber “M” (sumber yang khusus dipakai Matius); dan sumber

“L” (sumber yang khusus dipakai Lukas). Di luar Injil-injil intrakanonik, tulisan-tulisan rasul Paulus juga dipakai sebagai

sumber. Karena sorotan utama teologi Paulus adalah kematian dan kebangkitan Yesus, maka dari dalam tulisan-tulisannya ditemukan

tidak banyak bahan yang dapat dikaitkan dengan ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Yesus.(note 2) Ada sejumlah tradisi

parenetis/wejangan di dalam surat Yakobus (misalnya 5:12; bdk. Matius 5:34-37) dan surat 1 Petrus yang kurang lebih paralel

dengan ucapan-ucapan Yesus.(note 3) Ada sedikit rujukan kepada Yesus di dalam surat Ibrani (7:14; juga 5:7-8; bdk. Markus

14:32-34 par.; juga Yohanes 12:27-36a). Di dalam Wahyu Yohanes ditemukan gambaran-gambaran apokaliptik yang sudah muncul di

dalam ucapan-ucapan eskatologis apokaliptis Yesus di dalam Injil-injil (lihat Wahyu 3:3; 16:15; dan Q 12:39 [Matius

24:43]).(note 4)



Sejenis dengan Injil “Q” adalah Injil Thomas (disusun paling telat tahun 140 M) yang berisi 114

ucapan yang diasalkan pada Yesus, yang susunannya dibuat berdasarkan asosiasi kata. Injil ini adalah salah satu dari sejumlah

besar tulisan (52 traktat) gnostik Koptik yang ditemukan tahun 1945 di Nag Hammadi.(note 5) Separuh dari 114 ucapan ini,

meskipun di antaranya ada yang bercorak gnostik, paralel dengan ucapan-ucapan Yesus yang ditemukan dalam Injil-injil Sinoptik.

Meskipun paralel, ucapan-ucapan di dalam Injil Thomas ini tidak memperlihatkan ketergantungan pada Injil-injil intrakanonik,

bahkan beberapa di antaranya tampak lebih tua. Ada juga sedikit ucapan Yesus lainnya di dalam Injil ini (seperti logia 97, 98,

113) yang tidak terdapat di dalam Injil-injil intrakanonik, tetapi dipandang sebagai ucapan-ucapan otentik Yesus.





Injil Thomas jelas menjadi salah satu sumber sangat penting bagi studi Yesus sejarah.(note 6) Bahkan sekelompok

pakar internasional peneliti Yesus sejarah di Amerika Utara yang dikenal sebagai the Jesus seminar (didirikan 1985 oleh Robert

W. Funk, dengan mula-mula didukung tiga puluh pakar; kini sudah mencapai dua ratus orang) telah menyatukan Injil Thomas dengan

keempat Injil intrakanonik lainnya (Markus, Matius, Lukas, Yohanes) sehingga menjadi lima Injil, dan menerbitkan kelimanya

sekaligus dalam satu buku dalam terjemahan baru dalam bahasa Inggris yang disebut terjemahan Scholars Version. Terbitan

inovatif ini diberi judul The Five Gospels: The Search for the Authentic Words of Jesus.(note 7) Orang tidak perlu tersentak

kaget dengan penempatan Injil Thomas ini sederajat dengan Injil-injil kanonik, sebab bagi suatu kajian sejarah tentang Yesus,

semua sumber yang tersedia, baik yang ada di dalam kanon Kitab Suci (= sastra-sastra intrakanonik) mau pun yang ada di luar

kanon Kitab Suci (= sastra-sastra ekstrakanonik), dipandang memiliki nilai historis yang sama dan berkedudukan setara dan

diperlakukan sederajat.



Sastra-sastra ekstrakanonik lainnya dari kepustakaan gnostik Koptik yang juga dapat

digunakan sebagai sumber pengkajian Yesus adalah kitab Yakobus Apokrif (note 8) (awal abad kedua), kitab Dialog Sang

Penyelamat (note 9) (abad kedua), dan Injil Orang-orang Mesir (paruhan pertama abad dua).(note 10) Ketiga tulisan gnostik

Koptik ini tidak menunjukkan ketergantungan pada Injil-injil Sinoptik.



Injil kanonik yang dapat dikaitkan dengan

pandangan (anti-)gnostik adalah Injil Yohanes. Injil ini umumnya tidak dipandang sebagai sumber utama bagi pengkajian Yesus

sejarah; bahkan ada yang menyingkirkannya sama sekali, seperti yang dilakukan the Jesus seminar. Tetapi, seperti dicatat Gerd

Theissen dan Annette Merz,(note 11) ada sejumlah data di dalam Injil ini yang berbeda dari yang disajikan Injil-injil Sinoptik,

tetapi dapat merupakan tradisi-tradisi yang tua, yakni: tradisi tentang murid-murid pertama Yesus yang berasal dari murid-murid

Yohanes Pembaptis (Yohanes 1:35-42); tradisi tentang Petrus, Andreas dan Filipus yang berasal dari Betsaida (1:44);

catatan-catatan tentang pengharapan-pengharapan politis yang dibangkitkan Yesus di antara orang banyak dan motif-motif politis

yang menyeretnya kepada kematian diungkapkan dengan lebih jelas di dalam Injil Yohanes ketimbang di dalam Injil-injil Sinoptik

(bdk. Yohanes 6:15; 11:47-53; 19:12); sebagai ganti suatu pengadilan Yahudi terhadap Yesus, di dalam Yohanes 18:19-24

dilaporkan berlangsungnya suatu pemeriksaan yang dilakukan Sanhedrin terhadap Yesus yang mendahului pengadilan Romawi oleh

Pilatus; menurut kronologi dalam Injil Yohanes, Yesus mati sebelum perayaan Paskah (18:28; 19:31), dan ini dipandang kebanyakan

pakar sebagai lebih mungkin ketimbang penyaliban pada hari perayaan itu sendiri.



Terdapat juga fragmen-fragmen

tulisan yang berbentuk Injil, yang memuat suatu kombinasi tradisi-tradisi Yohanes dan Sinoptik, yang dapat digunakan dalam

pengkajian Yesus sejarah, yakni: Papyrus Egerton 2 (ditulis sekitar tahun 200) yang memuat suatu debat antara Yesus dan para

ahli Taurat dan para pemuka Yahudi yang menuduh Yesus telah melanggar Taurat, dan debat ini berakhir dengan suatu usaha yang

gagal untuk melempari Yesus dengan batu; Injil Markus Rahasia; Injil Petrus (disusun paruhan pertama abad kedua); Papirus

Oxyrhynchus 840 (dari abad pertama).(note 12)



Ada tiga Injil Kristen Yahudi yang juga dapat dimanfaatkan bagi

usaha-usaha menelusuri Yesus sejarah (note 13) Injil Orang-orang Nazareth yang isinya kurang lebih sama dengan Injil Matius,

tetapi ditulis dalam bahasa Aram atau bahasa Syria, pada awal abad kedua (antara 80-180); Injil Orang-orang Ebion (abad kedua)

yang merupakan suatu revisi atas Injil Matius, tetapi juga memakai dan menyunting bahan-bahan dari Injil Markus dan Injil

Lukas, tetapi membuang kisah kelahiran Yesus sehingga pengisahan kehidupan Yesus dimulai dari tampilnya Yohanes Pembaptis dan

pembaptisan Yesus yang melaluinya Yesus diangkat menjadi anak Allah; Injil Orang-orang Ibrani (disusun dalam paruhan pertama

abad kedua) yang isinya dekat dengan pandangan gnostik, antara lain menggambarkan bahwa Yesus Kristus dan Ibunya sudah ada

sebelum tampak di muka bumi dalam wujud manusia; pada waktu Yesus dibaptis, Yesus disebut sebagai anak, bukan oleh Allah,

tetapi oleh Roh (Ruakh) yang ternyata adalah ibunya sendiri.(note 14)



Bahan-bahan Kristen lainnya yang berasal dari

paruhan pertama abad kedua dan yang dapat dipakai untuk menelusuri tradisi-tradisi tentang ajaran-ajaran dan kehidupan Yesus

ditemukan dalam tulisan-tulisan para “Bapak Apostolis.”(note 15) Papias, Bishop dari Hieropolis di Asia Kecil, misalnya, pada

permulaan abad kedua (sekitar 100-150) menyatakan dirinya sedang mengumpulkan tradisi-tradisi lisan tentang Yesus, dengan cara

menanyai orang-orang yang masih mengenal murid-murid perdana Yesus. Tradisi-tradisi yang sedang dikumpulkannya ini dikatakan

“berasal dari suara yang hidup dan menetap” yang diturunalihkan dari “para penatua”, yang telah ia “pelajari” dan “ingat.”

Hasil penyelidikannya ini disajikannya dalam lima jilid buku yang dinamakan “Tafsiran atas Ucapan-ucapan Tuhan” (logiōn

kuriakōn eksēgēsis); tetapi semuanya ini kini telah hilang, dan yang ada pada kita adalah kutipan-kutipan dari

buku-buku ini yang ditemukan di dalam tulisan-tulisan Irenaeus dan Eusebius (Historia ecclesiastica III. 39. 1-17).(note

16)



Di dalam 1 Klement 13:1b, 2 kita temukan tujuh ucapan Yesus yang dijadikan satu sebagai bahan pelajaran

katekisasi, yang kelihatan dekat dengan sebagian isi Kotbah di Bukit, tetapi tidak memperlihatkan ketergantungan pada Injil

Matius, Lukas atau pun Injil Q; bunyinya: “... khususnya kita ingat kata-kata Tuhan Yesus yang disampaikannya ketika ia

mengajar tentang kelemah-lembutan dan penderitaan panjang. Sebab ia telah berkata demikian: “Hendaklah kamu rakhmani, supaya

kamu beroleh rakhmat. Ampunilah, supaya kamu diampuni. Apa yang kamu lakukan kepada orang lain, itulah juga yang akan dilakukan

kepadamu. Apabila kamu memberi, maka kamupun akan diberi. Sebagaimana kamu menghakimi, maka begitu juga kamu akan dihakimi.

Jika kamu berbaik hati, maka kebaikan akan juga diperlihatkan kepadamu. Ukuran yang kamu pakai, itu juga yang akan dikenakan

kepadamu.”(note 17)



Di dalam suratnya, Kepada Jemaat di Smyrna 3.2, Ignatius melaporkan perjumpaan Yesus yang sudah

bangkit dengan murid-muridnya dalam suatu bentuk yang dekat dengan Lukas 24:36-43, tetapi tidak menunjukkan ketergantungan:

“Dan ketika ia datang kepada mereka bersama Petrus, ia berkata kepada mereka: ‘Peganglah, sentuhlah aku dan lihatlah bahwa aku

bukanlah hantu tanpa tubuh.’ Maka mereka segera menyentuhnya dan percaya, bahwa ia tampil utuh sebagai daging dan roh... Dan

setelah kebangkitannya, ia makan dan minum bersama mereka sebagai suatu makhluk berjasad, meskipun ia dipersatukan dalam roh

dengan sang Bapa.”



Dalam 2 Klement terdapat kutipan-kutipan gabungan dari Matius dan Lukas atau dari suatu sumber

ucapan-ucapan independen; di antaranya ada yang berbunyi demikian, “Karena itulah, jika kamu mengerjakan hal-hal ini, Tuhan

katakan, ‘Jika kamu berada dalam dekapan aku, tetapi kamu tidak melakukan perintah-perintahku, maka aku akan mencampakkan kamu,

dan akan berkata kepadamu, ‘Enyahlah dariku, aku tidak tahu darimana asalmu, kamu pelaku kejahatan.’” (2 Klement 4:5; bdk. 2

Klement 5:2 dyb.; 8:5; 12:2).



Dalam tulisan-tulisan para “Bapak Apostolis”, ada sekian ucapan yang tidak diklaim

berasal Yesus, tetapi dikutip dalam Injil-injil Sinoptis sebagai ucapan-ucapan Yesus: tentang perintah rangkap dua untuk

mengasihi (Surat Barnabas 19:2,5; bdk. Markus 13:30 dyb); Hukum Emas (Didakhe 1:2b; bdk. Matius 7:12; Lukas 6:31; 1 Klement

13:2); tentang kuasa doa (Ignatius, Kepada Jemaat di Efesus 5:2; Gembala Hermas VI, 3, 6b; bdk. Matius 18:19 dyb; Markus

11:22-24 dan par.); tentang dosa melawan Roh Kudus (Didakhe 11:7; bdk. Markus 3:28-29); dan formula baptisan trinitarian

(Didakhe 7:1; bdk. Matius 28:19).



2.2. Sumber-sumber Non-Kristen



Sumber non-Kristen

pertama yang bermanfaat untuk pengkajian Yesus sejarah adalah rujukan-rujukan pendek dari seorang sejarawan Yahudi, Flavius

Josephus (Joseph ben Matthias; hidup 37/38–setelah tahun 100), kepada Yesus, di dalam bukunya yang selesai ditulis tahun 93/94,

Antiquitates Judaicae atau Jewish Antiquities (18.63-64; 20.200). Di dalam Antiquities 20.200, Josephus menyebut perajaman

dengan batu atas diri Yakobus dan orang-orang lain yang telah melanggar Taurat setelah mereka melewati suatu pemeriksaan

Sanhedrin di bawah pimpinan imam besar Ananus di tahun 62. Di situ, Josephus memperkenalkan Yakobus sebagai “saudara dari Yesus

yang disebut Kristus”, dan dengan demikian mengidentifikasinya sebagai saudara seorang yang bernama Yesus yang mungkin lebih

dikenal, atau karena nama Yesus sudah disebut sebelumnya.



Di dalam buku yang sama, memang sebelum penyebutan pada

Yakobus ini, Josephus sudah memuat catatan-catatan pendek tentang Yesus, yakni dalam 18:63-64 yang dikenal sebagai Testimonium

Flavianum (= kesaksian atau testimoni Flavius Josephus tentang Yesus). Isi testimoni ini selengkapnya berikut ini (dengan

bagian-bagian yang ditempatkan dalam dua tanda kurung sebagai bagian-bagian yang ditambahkan belakangan pada teks

semula):



“Kira-kira pada waktu ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana, (jika memang orang harus menyebutnya

seorang manusia). Sebab dia adalah seorang yang telah melakukan tindakan-tindakan luar biasa, dan seorang guru bagi orang-orang

yang telah dengan senang menerima kebenaran darinya. Ia telah memenangkan banyak orang Yahudi dan banyak orang Yunani. (Ia

adalah sang Messias). Setelah mendengar dia dituduh oleh orang orang-orang terkemuka dari antara kita, maka Pilatus menjatuhkan

hukuman penyaliban atas dirinya. Tetapi orang-orang yang mula-mula telah mengasihinya itu tidak melepaskan kasih mereka

kepadanya. (Pada hari ketiga ia menampakkan diri kepada mereka dan membuktikan dirinya hidup. Nabi-nabi Allah telah menubuatkan

hal ini dan hal-hal ajaib lainnya tentang dirinya yang tidak terhitung banyaknya). Dan bangsa Kristen ini, disebut demikian

dengan mengikuti namanya, sampai pada hari ini tidak lenyap.”(note 18)



Sumber-sumber non-Kristen lainnya adalah

tulisan-tulisan para rabbi/guru Yahudi. Berbeda dari Josephus yang memberi catatan-catatan simpatik tentang Yesus,

sumber-sumber rabbinik (yang ditulis dalam periode Tannaitik, sampai dengan tahun 220) tentang Yesus berisi catatan-catatan

penolakan sebagai reaksi Yahudi terhadap provokasi-provokasi yang dibuat orang-orang Kristen terhadap Yudaisme. Sejumlah pakar

menilai ada tradisi-tradisi tua dan dapat dipercaya sebagai sumber sejarah tentang Yesus di dalam Talmud (note 19) Babilonia,

di antaranya bSanhedrin 43a yang bunyinya demikian: (note 20) “Pada Sabat perayaan Paskah, Yeshu orang Nazareth digantung.

Sebab selama empat puluh hari sebelum eksekusi dijalankan, muncul seorang pemberita yang mengatakan: ‘Inilah Yesus orang

Nazareth, yang akan dirajam dengan batu sebab ia telah mempraktekkan sihir dan mejik [bdk. Markus 3:22] dan mempengaruhi orang

Israel untuk murtad. Barangsiapa yang dapat mengatakan sesuatu untuk membelanya, hendaklah tampil dan membelanya.’ Tetapi

karena tidak ada sesuatu pun yang tampil untuk membelanya, ia pun digantung sehari sebelum Paskah [sejalan dengan kronologi

dalam Injil Yohanes]..... Rabbi-rabbi kami mengajarkan: Yeshu memiliki lima murid, Matthai, Nakai, Nezer, Buni dan Toda. Ketika

Matthai dibawa [ke hadapan pengadilan], ia berkata kepada mereka [para hakim]: Akankah Matthai dihukum mati? Bukankah ada

tertulis: [matthai] Kapankah aku akan datang dan tampil di hadirat Allah!? [Mazmur 42:3]. Maka mereka pun berkata, Ya, Matthai

akan dieksekusi, sebab ada tertulis: Kapankah [matthai], kapankah dia akan dibunuh dan namanya dilenyapkan? [Mazmur 41:6]

(permainan kata-kata yang serupa seterusnya muncul untuk empat murid Yesus lainnya).



Seorang filsuf stoik

kebangsaan Syria, yang berasal dari Samosata, bernama Mara bar Sarapion, menulis surat kepada anaknya, Sarapion, dari tempatnya

di sebuah penjara Roma, mungkin segera setelah tahun 73. Di dalamnya ia menegaskan bahwa satu-satunya yang paling berharga

untuk dimiliki dan diperjuangkan adalah kebijaksanaan, dan bahwa kendati pun orang bijak itu dapat dianiaya, kebijaksanaan itu

tetap kekal. Sebagai model orang-orang bijak, ia mengutip Sokrates dan Phytagoras, dan juga Yesus meskipun nama Yesus tidak

disebutnya: “Perbuatan baik apa yang dilakukan orang-orang Athena ketika ia membunuh Sokrates, yang mengakibatkan mereka

dihukum dengan bahaya kelaparan dan penyakit menular? Manfaat apa yang diperoleh orang-orang Samian ketika mereka membakar

Phytagoras, karena kemudian negeri mereka seluruhnya dikubur pasir dalam sekejap saja? Atau apa keuntungannya ketika

orang-orang Yahudi membunuh raja mereka yang arif, karena kerajaan mereka setelah itu direnggut dari mereka [mengacu ke Perang

Yahudi I tahun 66-73/74]? Allah telah dengan adil membalas perbuatan-perbuatan jahat yang telah dilakukan kepada tiga orang

bijaksana ini. Orang-orang Athena mati kelaparan; bangsa Samian dilanda banjir dari laut; orang-orang Yahudi dibunuh dan diusir

dari kerajaan mereka, lalu tinggal di tempat-tempat lain dalam perserakan. Sokrates itu tidak mati; tetapi tetap hidup melalui

Plato; begitu juga Phytagoras, karena patung Hera. Begitu juga raja yang bijak itu tidak mati, karena setelah dia tidak ada

muncul hukum baru yang ia telah berikan.”



Ada catatan-catatan pendek sekilas tentang Yesus buah tangan tiga penulis

Roma dari periode antara 110 sampai 120, yakni: senator Pliny yang Lebih Muda (61-c.120); Cornelius Tacitus (55/56-c.120), dan

C. Suetonius Tranquillus (70-c.130).(note 21) Ketiganya menampilkan Yesus dan kekristenan dalam nada-nada yang sangat negatif,

sebagai orang dan gerakan yang mempercayai tahyul dan berbahaya buat negara.



Pliny yang pada tahun 111 diangkat

sebagai gubernur provinsi Bithynia dan Pontus di Asia Kecil, sedang menangani kasus orang-orang Kristen di sana yang diadukan

orang kepadanya, dan, untuk meminta nasihat dari kaisar Trajanus (98-117) ia mengirim surat resmi (Pliny, Surat-surat, Buku X).

Di dalam suratnya ini ia menyebut nama “Kristus” dua kali, dan menjuluki kekristenan sebagai suatu bentuk “tahyul yang sangat

berlebihan.” Sebagai metodenya menangani orang-orang Kristen, dikatakannya dalam suratnya itu bahwa barangsiapa yang telah

dengan keliru dituduh sebagai seorang Kristen, dapat menolak tuduhan ini dengan cara memberi hormat kepada patung-patung

dewa-dewa dan gambar sang kaisar, dengan mempersembahkan kemenyan dan menuangkan anggur kepada patung-patung dan gambar ini

sambil menghujat nama “Kristus” (Christo male dicere), sebab masyarakat telah tahu bahwa orang-orang Kristen sejati tidak dapat

dipaksa untuk melakukan hal-hal ini. Pliny juga mencatat bahwa “ ... adalah kebiasaan mereka [orang-orang Kristen itu] untuk

pada hari yang sudah ditetapkan berkumpul bersama sebelum fajar dan di saat itu mereka mengulangi kata-kata pengakuan kepada

Kristus sebagai suatu allah (Christo quasi deo dicere); dan mereka mengikat diri dengan sumpah, untuk tidak melakukan tindakan

kejahatan apa pun, untuk tidak mencuri atau merampok atau berzina, untuk tidak melanggar kata-kata mereka sendiri, ....”





Dengan bantuan Pliny yang Lebih Muda, C. Suetonius Tranquillus diangkat menjadi seorang pejabat tinggi

administratif dalam pemerintahan Trajanus dan Hadrianus; dan jabatan ini memungkinkannya untuk mengakses segala arsip yang

tersedia untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukannya dalam menyusun karyanya tentang biografi duabelas kaisar, dari

Yulius Kaisar sampai Domitianus, dalam delapan jilid (De vita Caesarum), yang ditulis antara 117-122. Dalam konteks peristiwa

pengusiran orang-orang Yahudi dari kota Roma di bawah pemerintahan Klaudius (41-54), peristiwa mana disebut juga dalam Kisah

Para Rasul 18:2, Suetonius menyebut Kristus: “Karena orang-orang Yahudi itu telah terus-menerus, di bawah pengaruh Krestus

[Chresto], menimbulkan keresahan, maka ia [Klaudius] mengusir mereka dari kota Roma.” (Klaudius 25.4).





Cornelius Tacitus adalah seorang senator dan sejarawan Roma yang termasyur karena dua karya sejarahnya, Histories

(c.105-110) dan Annals (c.116/117). Untuk membelokkan kecurigaan dan dakwaan terhadap dirinya sendiri atas terbakarnya kota

Roma selama sembilan hari dalam tahun 64 (seperti dilaporkan Tacitus dalam Annals 15.38-44), Nero (54-68) menjadikan

orang-orang Kristen di sana sebagai “kambing hitam.” Dalam konteks inilah Tacitus menyebut nama “Kristus” sebagai pendiri

gerakan Kristen yang dihukum mati: “Karena itu, untuk menepis kabar angin itu, Nero menciptakan kambing-kambing hitam dan

menganiaya orang-orang yang disebut “orang-orang Kristen” [Chrestianos], yaitu sekelompok orang yang dibenci karena

tindakan-tindakan kriminal mereka yang memuakkan. Kristus, dari mana nama itu berasal, telah dihukum mati (supplicio adfectus)

dalam masa pemerintahan Tiberius [14-37] di tangan salah seorang prokurator kita, Pontius Pilatus [26-36], dan tahyul yang

paling merusak itu karenanya untuk sementara dapat dikendalikan, tetapi kembali pecah bukan saja di Yudea, sumber pertama dari

kejahatan ini, tetapi juga di Roma, di mana segala sesuatu yang buruk, menjengkelkan dan yang menimbukkan kebencian dari segala

tempat di dunia ini bertemu dan menjadi populer.” (Annals 15.44).



Selain tiga nama di atas, seorang satiris yang

bernama Lucian dari Samosata (c.115-c.200) perlu juga disebut; orang ini dalam tulisannya The Passing of Peregrinus mengisahkan

tentang orang-orang Kristen yang sangat terpikat pada Peregrinus sehingga mereka menyembahnya sebagai suatu allah; selanjutnya

ia menulis: “... sesungguhnya, selain dia, juga orang yang disalibkan di Palestina karena memperkenalkan kultus baru ini ke

dalam dunia, kini masih mereka sembah.” Lucian juga menggambarkan orang-orang Kristen sebagai orang-orang “yang menyembah sofis

yang disalibkan itu sendiri dan hidup di bawah hukum-hukumnya.”(note 22)



Dikutip dari situs STT Jakarta,

dengan ijin kemudian.

dilihat : 353 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution