Kamis, 19 Juli 2018 18:45:28 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 189
Total pengunjung : 406877
Hits hari ini : 1014
Total hits : 3709222
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -PUNAl DI TANGAN atau BURUNG DIUDARA? -- MENGAPA SAYA MEMILIH MEGA? – : Pdt. Ekadarmaputera - Artikel






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Kamis, 18 Agustus 2005 00:00:00
Pendahuluan

Mengapa saya memilih Mega? Saya akui, judul tersebut terdengar provokatif. Tapi pasti tidak

salah. Kita - sebagai bangsa dan sebagai gereja - telah tiba di satu titik, di mana kita mesti mempunyai pilihan yang jelas.

Tidak bias lagi main "netral-netralan. Di sini, terus terang, saya iri kepada gereja Roma Katolik.



Mengapa saya

memilih Mega? Apakah karena saya anggota PDIP? Tidak! Saya memang anggota PDIP. Tapi bukan karena itu, saya memilih pasangan

ini. Saya memilih Mega, demi Tuhan, bukan sebagai partisan partai politik tertentu. Bukan pula secara oportunistik Di mana

saya memilih yang paling populer dan kira-kira akan menang. Para konglomerat, khususnya yang "hitam", memang begitu. Tapi

pilihan saya ini, kita tahu, justru sedang merosot deras popularitasnya. Jadi mengapa saya memilih “dia”, sementara orang

banyak meliriknya pun tidak?



Saya memilih Mega, karena alas an-alasan (yang saya anggap) "obyektif” dan "realistis".

Obyektif, karena saya punya dasar-dasar yang rasional untuk itu. Dan "realistis", karena saya -seperti kita semua - mengetahui,

keduanya bukanlah calon-calon yang "ideal". Namun demikian, pasangan inilah yang "terbaik" di antara yang "buruk". The best

among the worst.



Toh, saya akui, tidak mungkin saya bias obyektif 100 persen. Tak seorang pun bisa. Bagaimanapun,

pilihan saya itu, pada akhirnya, tidak mungkin terlepas dari relitas dan perspektif saya sebagai seorang Kristen, sebagai

seorang keturunan Cina, sebagai seorang aktivis, sebagai seorang Pancasilais, dan karenanya seorang yang inklusif, pluralis,

dan "committed" kepada NKRI.



Pada waktunya saya akan menjelaskan lebih lanjut makna dari semua yang saya katakan

itu, Tapi sebelum itu, perkenankanlah saya menjawab dulu pertanyaan yang kemungkinan besar mengganjal di benak dan hati Anda.

Yaitu, pantaskah dalam forum seperti ini, kita menyebut nama? Sebagai “gereja”, khususnya gereja-gereja Protestan, ‘kan maunya

kita ini serba netral, serba aman-walau, sebagai konsekuensinya, kita lalu menjadi serba tidak jelas dan tidak tegas dan, yang

memrihatinkan, tidak terkoordinasi.



Jawab saya adalah, mengapa tidak?! Why not? Pertama, dengan sadar dan sengaja,

saya memberi judul presentasi saya ini, “Mengapa saya memilih Mega?". Maksudnya, saya tidak mengatas-namai siapa pun, kecuali

mewakili diri saya sendiri. Itu sebabnya saya tidak memilih judul, misalnya, “Mengapa GKI harus memilih Mega ?”. Atau, "Anda

cuma punyasatu pilihan: Mega!”. Tidak



Karenanya, seperti nampak pada judulnya, presentasi ini pada hakikatnya adalah

sebuah kesaksian; sebuah upaya berbagi (= sharing). Tidak lebih, tidak kurang. Bukan fatwa.Bukan

kampanye.



Saya

ingin bersaksi dan berbagi dengan Anda, hal-hal yang saya anggap benar, baik, penting, dan perlu untuk anda ketahui. Jadi

mengapa tidak boleh bersaksi dan berbagi? Kalau Slamet Rahardjo Djarot boleh bersaksi ditelevisi, mengapa ia memilih Amien

Rais, mengapa saya tidak

Boleh bersaksi didahadapan anda mengenai pilihan saya ?



Bahwa anda sudah punya pilihan

yang lain, itu sepenuhnya adalah hak dan kebebasan Anda. Tak sedikit pun saya bermaksud mengusiknya. Bahkan. bila berkenan.

saya ingin mengajak Anda bertukar pandangan dan berbagi argumentasi mengenai perbedaan tersebut. Siapa tahu, Anda lebih benar

daripada saya.



Presentasi saya ini tidak terutama saya tujukan kepada Anda yang telah mempunyai pilihan yang mantap

dan pasti. Melainkan dengan penuh kerendahan hati, saya tujukan bagi Anda –saudara-saudari saya seiman dan sebangsa -- yang:

(a) masih bingung dalam menentukan pilihan; atau (b) sudah mempunya pilihan, tapi sebenarnya berdasarkan pertimbangan yang

(saya saya anggap) salah dan/atau informasi yang kurang lengkap.



Strategi

Bagaimana saya tiba

pada pilihan saya? Pertama, saya mempunyai perhitungan matematis yang amat sederhana untuk tiba pada pilihan itu. Begini. Saya

tahu, banyak suadara-saudara saya seiman yang telah mantap memilih SBY. Mengenai ini saya tidak merasa terganggu, walau saya

mempunyai catatan dan penilaian sendiri tentang pasanganSBY-Kalla ini.

Perhitungan saya begini. Dengan atau tanpa suara

Anda, artinya Anda memilih dia atau tidak, pasangan ini akan lolos ke putaran kedua. Jadi yang harus menjadi concern utama kita

sekarang, menurut pendapat saya, adalah pasangan mana yang mesti kita perjuangkan untuk lolos ke 20 September nanti. Ada tiga

kemungkinan yang paling realistis, pasangan AR-SY, pasangan W-SW, dan pasangan M-HM.

Nah, pertanyaan kita menjadi sedikit

lebih sederhana. Apa anda ingin Amien Rais yang menang? Atau Wiranto? Atau Mega? Kalau saya, pertanyaan seperti ini mudah

sekali untuk kita jawab. Di antara tiga alternatif itu, pasangan M-HM tidak dapat tidak - dari perespektif kita - adalah

yang

paling kita kehendaki untuk lolos.

Tapi ini tidak mudah. Kans M-HM untuk lolos, sampai sekarang, adalah

fifty-fifty - atau malah kurang. Karena itu, kalau kita memang betul-betul yakin akan pilihan kita, kita harus berjuang,

bekerja keras, untuk mengusahakan tambahan suara. Bahkan, demi strategi kita, saya ingin Anda yang tclah mantap memilih SBY -

paling tidak untuk putaran ini - mengalihkan suaranya untuk M-HM. Bukan karena pilihan Anda itu salah, tapi agar 20 September

nanti yang maju adalah pasangan-pasangan yang paling kita kehendaki. Sementara itu, pilihan Anda - SBY-YK -- toh saya yakin

akan maju, walaupun kali ini suara Anda bukan untuk mereka.



Jadi strategi kita, menurut pendapat saya, adalah untuk

putaran pertama ini, paling jauh adalah pasangan yang kita kehendaki maju, dan paling tidak (sekiranya pun M-HM gagal) pasangan

yang tidak kita kehendaki jangan sampai maju. Menghadapi putaran kedua, kita akan memikirkan strategi yang lain lagi. Ini akan

kita lakukan pada waktunya.



Pasangan yang padu

Setelah strategi kita jelas, tentu saja saya harus

mempertanggungjawabkan mengapa saya memilih Mega. Pertanyaan ini ingin saya letakkan dalam kerangka pertanyaan yang lebih

substansial. Bagaimana sih gambaran kita mengenai siapa presiden dan wakil presiden yang "ideal" itu? Ini tidak sulit

dijawab.



Bagi saya, dan saya kira kita semua setuju, (a) keduanya - capres dan cawapres - itu harus merupakan sebuah

"simbiosis" yang baik. Mitra yang sejajar. Penolong yang sepadan. Maksud saya, mitra yang lain itu tidak boleh hanya "dicomot",

sekadar demi bisa meraup suara sebanyak-banyaknya. Misalnya, karena yang satu "Jawa" maka yang lain sebaiknya

"non-Jawa";

atau karena yang satu "militer" yang lain "sipil"; atau karena yang satu "islami" yang lain "nasionalis".

Sebab yang mesti lebih dipertimbangkan adalah: apakah, sekiranya terpilih, mereka berdua akan merupakan pasangan yang

benar-benar "padu".



Sebab itu menarik sekali mendengar Pak Hasyim Muzadi mengatakan, bahwa ia menerima "lamaran"

Megawati, Justru untuk menghilangkan dikotomi antara "nasionalis" dan "Islam", serta untuk mengintegrasikan pekik "Merdeka!"

dan "Allahhu Akbar". Menarik pula kesaksian pribadinya, mengapa ia menampik lamaran calon yang lain. Karena ia tidak mau

digulung tanpa daya oleh mesin politik yang telah keburu luar biasa kuat dari pelamarnya itu. Ia ingin menjadi uequal partner”

- yang aktif. saling mengisi dan saling menyempurnakan. Dan ini, ia lihat mungkin ia lakukan, bila berpasangan dengan Megawati

dan tidak dengan Wiranto.



Jadi, bila Anda mau menilai, mana di antara lima pasangan yang ada yang sebaiknya Anda

pilih, lihat dan nilailah mana di antara mereka yang betul-betui bisa menjadi sebuah "pasangan" yang harmonis, efeklif dan

produktif selama 5 tahun bekerja-sama nanti. Sebab kalau tidak, maka rakyatlah nanti yang harus menanggung "excess baggage"

dibebani untuk memecahkan persoalan antar-mereka, bukan mereka yang memecahkan masalah rakyat. Megawati dan Hasyim Muzadi,

sepanjang saya mengenal mereka. memiliki nilai-nilai dasar (= basic values) yang sama. Misalnya dalam mereka melihat dan

menyikapi masalah kemajemukan. kesatuan dan persatuan, perlakuan terhadap kelompok minoritas, dan

lain-lain.



Kemudian, masih ada tiga persyaratan pokok lagi yang harus dipenuhi oleh presiden dan wakil presiden yang

"ideal". Tapi mengenai ini, rasanya saya tidak perlu berbicara panjang lebar, sebab telah dimuat dalam "Surat Penggembalaan

BPMS GKI Menjelang Pemilu Presiden 2004", yang diberi judul "Jangan Salah Pilih!". Saya akan mengutip yang pokok-pokok

saja.



Akseptabilitas dan Kredibiltas,

Dua syarat ini dibutuhkan, khususnya dalam hubungan

fungsi presiden sebagai "kepala negara". Dengan "akseptabilitas", saya maksudkan, yang bersangkutan diterima oleh rakyat dengan

ikhlas

sebagai presiden mereka, secara lintas etnis, lintas suku, lintas ras, lintas daerah, lintas agama,

dan

sebagainya.



Konsekuensinya, yang bersangkutan haruslah orang yang berkepribadian inklusif, punya komitmen nasional,

serta menghargai dengan sepenuh hati realitas kemajemukan masyarakat kita. Dan "kredibel", artinya: tidak boleh mempunyai cacat

di bidang pelanggaran HAM berat, serta tindakan-tindakan diskriminatif baik yang bersifat primordial, sosio-ekonomis, maupun

ideologis.



Kapabilitas

Syarat ini mutlak dipenuhi oleh setiap pemimpin, apa lagi oleh seorang

presiden. Khususnya. dalam hubungan dengan fungsi yang ditentukan dalam UUD kita bahwa presiden adalah "kepala pemerintahan"

(berbeda dengan Singapura, misalnya).



Karena itu, yang patut kita pilih adalah calon yang kita yakini punya visi

kenegarawanan, kemampuan kepemimpinan, serta keterarnpilan manajerial yang memadai. Kalau pun kualitas ini tidak dapat dipenuhi

secara optimal oleh yang bersangkutan - tidak dapat kita jadikan tuntutan mutlak, sebab bagaimapun jabatan presiden adalah

jabatan politis, bukan profesi. Bnd. Ronald Reagan - , kekosongan ini harus diisi dengan membentuk sebuah tim kerja, yaitu

kabinet yang kompak dan terdiri dari tenaga-tenaga ahli.



Sayas sangat setuju bahwa Indonesia membutuhkan sebuah

pemerintahan yang kuat dan efektif. Tapi mesti diingat, bahwa pemerintahan yang kuat sama sekali tidak identik dengan

kekerasan. Juga tidak ada hubungannya dengan figur militer atau sipil. Pemerintahan yang kuat dan efektif akan lahir secara

alamiah melalui legitimitas - bukan sekadar legalitas - dari rakyat, karena keteguhan prinsipnya, integritas moralnya dan

keberhasilannya membangun semangat kebersamaan. Latar belakang yang kuat dari Hasyim Muzadi dalam "Gerakan Moral Nasional",

menurut saya/sangat membantu.



Dalam hubungan ini perlu pula saya sebutkan, betapa vitalnya sebuah pemerintahan yang

demokratis dan bersih itu. Karenanya, calon yang kita pilih wajib mempunyai komitmen, keberanian dan kemampuan untuk

memberantas segala bentuk korupsi dan penyelewengan. Kita harus mewaspadai calon yang patut kita duga mempunyai kepentingan

melindungi diri dari kemungkinan tindakan hukum karena perbuatannya di masa lalu!



Simpati

Internasional


Syarat yang ketiga tidak kurang pentingnya khususnya dalam realitas politik global dewasa ini.

Dalam era globalisasi ini, kita betul-betui membutuhkan seorang presiden yang diterima dan memperoleh simpati dunia

internasional. Paling sedikit, tidak berpotensi menghadapi masalah dalam hal ini. '



Saya ingat apa yang

pernah terjadi pada seorang presiden terpilih Austria, Ia terpilih secara demokratis. Tapi beberapa negara Eropa dan AmeriKa

menolaknya, karena ia dianggap punya latar-belakang hitam sewaktu pemerintahan Nazi. Negara-negara ini tentu tidak berhak

menolak hasil pemilu. Tapi mereka mengancam bahwa presiden terpilih ini tidak pernah akan diberi visa masuk ke negara-negara

tersebut.



Hanya beberapa bulan, presiden terpilih itu akhirnya terjungkal. Ya, faktor presepsi serta apresiasi dunia

internasional tidak dapat lagi kita pandang remeh.atau kita nafikan dengan mengobar-ngobarkan sentimen-sentimen

nasionalisme.yang sempit!



Semua Perlu Kita Cermati

Menurut pengamatan saya, yang sangat

mengkhawatirkan adalah bahwa banyak sekali dari antara kita yang menentukan pilihannya, "hanya" berdasarkan dukungan serta

simpati kepada si "calon presiden" semata-mata. Ini jelas tidak memadai dan bisa membuat kita kecele. Sebab kita tahu, bahwa si

capres itu nanti, bila terpilih, tidak akan bekerja sendiri. Dan yang tidak boleh kita lupakan adalah, bahwa yang bersangkutan

bisa menjadi "capres" atau "cawapres", setelah melalui proses "deal-deal" dan transaksi politikyang panjang yang terjadi di

balik pintu tertutup. Dengan perkataan lain, yang bersangkutan bisa menjadi "capres" karena memberikan konsesi-konsesi politik.

Konsesi-konsesi ini, karena tersembunyi, hanya bisa kita tebak-tebak. Tapi jelas sekali, inilah yang nanti akan menentukan

secara praktis kebijakan-kebijakan yang diambil. Konsesi-konsesi inilah yang akan "mencencang" kaki dan tangan si presiden

terpilih. Dalam tahapan demokrasi di Indonesia sekarang ini, faktor ini justru jauh lebih penting ketimbang, misalnya, platform

atau janji-janji rnanis para calon. Saudara percaya bahwa Hamzah Haz akan berhasil membebaskan biaya pendidikan dari SD sampai

ke SMA? Amien Rais akan berhasil membersihkan korupsi dalam waktu 5 tahun?



Jadi apa-apa saja yang perlu sekali kita

cermati dan analisis di samping figur capresnya? Tak pelak lagi. adalah cermati figur "cawapres"nya (di samping memperhatikan

apakah keduanya

benar-benar dapat menjalin sinergi.yang harmonis). Kemudian, yang juga tak boleh dilupakan

adalah:

cermati partai-partai apa saja yang diajak berkoalisi. Ingatlah, partai-partai ini tak akan

memberi dukungan, bila mereka

tak memperoleh keuntungan apa-apa.



Dan, last but not least, periksa pula "Tim Sukses"nya. Mcngapa Tim Sukses

penting? Karena "tim sukses" ini - paling tidak beberapa di antara mereka - itulah nanti yang akan membentuk "inner circle" -

menjadi orang-orang terdekat - pembisik-pembisik - di sekitar presiden.



Jadi, misalnya, saya dapat mengenal siapa

Wiranto lebih jelas, bukan terutama karena Partai

Golkarnya, atau karena Solahudin Wahid-nya, tapi antara lain berdasarkan

partai-partai mana saja yang mendukungnya (a.l PKPB), dan orang-orang yang ada di Tim Suksesnya (a.l. Jendral Fahurozy dan

Letjen. Suadi Marasabesy). SBY more than alright, tapi kenalkah kita siapa YK atau PBB dengan YM-nya?



Sekiranya

semua ini kita lakukan, maka bagaimana kira-kira hasil yang akan kita peroleh? Berdasarkan semua kriteria yang saya sebutkan

itu, saya mengemukakan hasil penilaian ("obyektif”) saya atas semua calon. Angka yang akan saya berikan ada tiga macam, yaitu:

- angka 3 untuk kategori "baik sekali"; -- angka 1 unluk kalegori "sedang-sedang saja"; dan angka 0 untuk "kurang/diragukan".

Inilah hasilnya:









CapresCawapres.Aksepta./Kredibi.Kapabi.Internasional Partai

Pendu.
Tim

Sukses
Wiranto101000
Mega
td>
331301
SBY1133
>0
1
Amien313101
Hamzah
>1
11100


Rasional dan

Proporsional


Hasil di atas menunjukkan. bahwa pasangan Mega-Hasyim memperoleh angka tertinggi Pertanyaannya

adalah: apakah hasil ini sesuai dengan kenyataan yang kita lihat? Saya tahu ada banyak sekali ketidak-puasan - bahkan

kekecewaan -- terhadap prestasi dan kinerja Megawati seiama 3 tahun ia menjadi presiden. Bahkan banyak yang sudah "patah arang"

sehingga tiba pada kesimpulan, "siapa saja asal jangan Mega lagi". Ini dapat saya mengerti.



Saya pun menyimpan amat

banyak kekecewaan, dan dalam pelbagai kesempatan dan forum mengemukakannya secara terbuka Kelambanannya bergerak. "Human dan

Public Relation”nya yang amat buruk. Ketidak-pekaannya memanfaatkan kesempatan. Dan yang paling mengecewakan, tentu saja adalah

dibiarkannya korupsi kian meluas dan mengakar menggerogoti hampir semua sektor dan aras kehidupan. Saya juga gemas karena

keluguannya dan kekakuannya. Mbok ya bisa acting sedikit seperti SBY atau AR. Sebagai orang kristen tentu kita juga amat kecewa

dengan lolos dan diundangkannya SISDIKNAS yang kontroversial itu, walau jelas ini berada di luar kontrolnya. Dengan jujur saya

kemukakan, bahwa sekiranya saja dalam pemilu ini ada pilihan lain yang lebih baik, pasli saya tidak akan memilih Mega!

Pasti!



Kalau kita memilih, tentu saja kita akan memilih yang terbaik, yang ideal. Tapi ketika kita diperhadapkan

pada pilihan antara "yang buruk" dan "yang buruk", maka - apa boleh buat - pilihan kita lalu jadi terbatas pada memilih "yang

lebih kurang buruk"nya. Dan itulah situasi yang kita hadapi sekarang.



Pertanyaan yang paling pokok adalah: Apakah

memilih Mega tidak berarti sama dengan melanggengkan keadaan sekarang? Apakah tidak lebih baik bila - demi perubahan - kita

memberi kesempatan kepada yang lain? Tanggapan saya adalah: cara berfikir seperti ini hanya benar, apabila kita memang berada

dalam situasi Jalan buntu yang benar-benar buntu. Bila Anda berada di persimpangan jalan, dan diperhadapkan pada pilihan: ke

kanan mati, ke kiri juga mati tapi masih ada kemungkinan hidup - walau amat kecil - maka. benar, pilihan kita tentu adalah

belok kiri. Tapi apakah keadaan kita sekarang dapat digambarkan seperti itu? Di sini, kita dapat mempunyai pendapat yang

berbeda. Tapi anjuran dan imbauan saya adalah: marilah kita -- secara kristiani - bersedia lebih rasional dan proporsional

menilai pemerintahan sekarang.



Punai di tangan

Pertama-tama perlu saya tekankan, bahwa saya

sendiri merasa amat tidak puas dengan prestasi dan kinerja pemerintahan Mega-Hamzah. Banyak hal yang seharusnya dilakukan,

tidak dilakukan. Kalau saya harus memberi nilai antara 1-10, maka nilai yang akan saya berikan untuk pemerintahan ini paling

banter adalah "5". Merah.



Namun demikian, ini belum cukup bisa menjadi alasan, untuk kita mengatakan tentang Mega,

"Enough is enough". Alasan saya sebagai berikut: (a) prestasi pemerintahan ini sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Memberi kesan

buruk, karena "public relation" Mega yang amat buruk. Dan masyarakat lebih banyak dicekoki dengan informasi-informasi negatif,

ketimbang kenyataan yang sebenarnya. Fondasi ekonomi, stabililas politik dan keamanan sebenarnya telah berhasil dibangun cukup

mantap. (b) Tentu saja, yang belum baik masih jauh lebih banyak. Ya! Tapi jangan kita lupakan, pemerintahan ini baru berjalan

3,5 tahun. Dan ia dimulai dari situasi kemelut politik yang luar biasa pada waktu itu. Naiknya Mega adalah hasil kompromi

politik, sehingga baik susunan kabinetnya maupun kebijakan-kebijakannya tidak dapat lain ya mesti dijalankan secara

kompromistis. Jadi, pemerintahan sekarang ini sebenarnya "bukan”lah pemerintahan Mega, melainkan pemerintahan "koalisi pelangi"

yang terbangun secara oportunistis pada waktu .itu. Kegagalan pemerintahan ini sebenarnya adalah kegagalan bersama. (c) Dalam

suasana kekecewaan ini, yang agak sering kita lupakan adalah sekiranya saja bukan Mega, tapi SBY atau Wiranto atau Amien Rais

yang jadi presiden selama ini, pastikah mereka akan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang kini mereka limpahkan tangung

jawabnya kepada Mega - soal pendidikan, pengangguran, KKN, hukum, dan sebagainya? Situasi Indonesia kita ini telah demikian

parah dan kompleksnya sehingga saya yakin, tak satu malaikat pun sanggup menyelesaikan masalah Indonesia dalam 3 tahun! (d)

Jangan mudah percaya kepada janji-janji sorga! Kalau ada sinshe atau obat yang menjanjikan kesembuhan untuk semua penyakit, ini

justru alasan yang kuat unluk tidak mempercayainya! Yang kita hadapi sekarang ini adalah, memilih antara "janji-janji" manis

yang sama sekali belum terbukti, dan, "kenyataan-kenyataan" yang walau mengecewakan tapi sebenarnya tidak buruk-buruk arnat,

yang kita alami selama ini. Menurut saya, karena toh Mega tidak buruk-buruk amat, dan ada tanda-tanda bahwa kelemahan itu akan

dapat diisi kalau tidak oleh Hasyim Muzadi, oleh suatu susunan kabinet yang tepat, maka jauh lebih bijaklah bila kita berpikir

sederhana seperti nasihat orang-orang tua kita: "Jangan melepaskan punai di tangan, karena mengharapkan burung terbang tinggi

di angkasa". Kalau salah pilih RT atau RW atau Lurah, masih okelah. Tapi kalau salah pilih presiden. pertaruhannya sungguh

sangat besar.



Kini perkenankanlah saya mengakhiri tulisan ini dengan sebuah permintaan yang sederhana,

tetapi

sebenarnya inti yang paling hakiki dan paling penting dari semua.

• JANGANLAH BERHENTI BERDOA, MEMOHON AGAR TUHAN

SENDIRI YANG MENETAPKAN HAMBA-NYA UNTUK MEM1MPIN NEGERI TERCINTA;

• JANGANLAH BERHENTI BERDOA, MEMOHON AGAR KITA

PEKA DAN DENGAR-DENGARAN TERHADAP KEHENDAK TUHAN, BETAPA PUN MUNGKIN BERLAWANAN DENGAN JALAN PIKIRAN ATAU KEPENTINGAN KITA

PRIBADI;

• JANGANLAH BERHENTI BERDOA, MEMOHON AGAR KITA TIDAK SALAH PILIH, DAN AGAR RAKYAT INDONESIA JUGA TIDAK SALAH

PILIH!



Tanpa bermaksud mengklaim apa-apa, apa lagi menyampaikan "fatwa", saya hendak bersaksi bahwa saya tiba pada

pilihan saya itu, tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan-pertimbangan akaliah saya, tetapi juga setelah melalui pergumulan

doa yang panjang dan sungguh-sungguh. Baru kemudian saya diberi tahu oleh beberapa kawan, bahwa banyak saudara-saudara seiman

yang juga menggumuli ini dalam doa dan puasa mereka, dan .... tiba pada pencerahan yang sama.



Bagaimana bila ada

saudara yang lain yang juga berdoa, tapi "mendengar" jawaban yang berbeda? Mungkin saja! Allah kita maha bebas, maha berdaulat,

dan maha kuasa! Bebas, berdaulat dan berkuasa untuk berbuat apa saja. Yang penting, Anda berdoa. Mohon agar Roh Kudus

memampukan Anda memanfaatkan akal sehat serta hati nurani Anda untuk mengenali

kehendak Allah!



Pdt. Eka

Dharmaputera

Jakarta, medio Juni 2004


dilihat : 211 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution