Sabtu, 01 November 2014 01:59:03 | Home | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
Selamat kepada Jokowi-JK sebagai presiden terpilih. Kita doakan agar pelantikan tanggal 20 Oktober berlangsung baik..--Ingin kegiatan pelayanan anda diliput? silahkan kabari kami di 082139048191, 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Perspektif

Strategi Kebudayaan
Bagi sebuah bangsa yang miskin atau tertinggal, kemakmuran atau kesejahteraan merupakan tujuan yang hendak dicapai.

Catatan Ringan

Kaum Injili dan Politik
Keberadaan kelompok-kelompok Kristen dengan dinamikannya di negara-negara dunia ketiga cukup menarik perhatian untuk dijadikan bahan studi.

Agenda

Sabtu, 18 Oktober 2014
KKR Sekota “ON THE WAY”
Selasa, 28 Oktober 2014
Konser Doa Anak Muda Malang
Selasa, 04 November 2014
Doa Pagi BAMAG Surabaya di GKJW Wiyung
Selasa, 11 November 2014
Sidang Raya PGI XVI Nias







9728
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Penyaliban Yesus: Sebuah Peristiwa Sejarah Tak Terbantahkan! - Iones Rahmat - Artikel
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 29 Juli 2005 00:00:00
Penyaliban Yesus: Sebuah Peristiwa Sejarah Tak Terbantahkan! - Iones Rahmat - Artikel

Dalam hal ini, suatu "kriterion otentisitas" penting dalam mengevaluasi Yesus diterapkan: bahwa bahan-bahan bukti

otentik -- authentic literary evidence -- tentang Yesus harus ditemukan di lebih dari satu sumber, dan sumber-sumber yang

multiple ini harus independen; ini adalah kriterion yang diberi nama "the criterion of multiple and independent attestation"

(yang juga dipakai dalam kasus-kasus pembuktian fakta-fakta di dalam suatu pengadilan negara atas perkara-perkara pidana dan

perdata).



Bukti literer pertama (tertua) adalah dokumen-dokumen Kristen Perjanjian Baru yang seluruhnya dengan solid

memberitakan penyaliban Yesus. Jika penyaliban Yesus hanya diberitakan oleh penulis-penulis Kristen, kita bisa menyatakan bahwa

peristiwa penyaliban Yesus itu bisa saja ciptaan para penulis Kristen sendiri untuk menunjang suatu teologi Kristen tentang

penebusan melalui salib Yesus. Tetapi, masalahnya adalah: Apa perlunya para penulis Kristen perdana merekayasa tulisan-tulisan

yang menyaksikan penyaliban Yesus, sementara penyaliban Yesus itu sendiri merupakan suatu peristiwa yang memalukan kekristenan

perdana, memalukan karena sang Pemimpin rohani mereka dihukum mati dengan cara yang sangat aib, yakni dihukum dengan penyaliban

sebagai seorang kriminal menurut hukum Romawi. Dus, penyaliban Yesus sebagai suatu peristiwa sejarah memenuhi suatu kriterion

otentisitas lainnya: "the criterion of embarrassment" : jika suatu peristiwa dalam hidup Yesus memalukan atau menjatuhkan pamor

kekristenan perdana, maka pengisahan/pelaporan peristiwa ini pastilah bukan dibuat-buat (kalau dibuat-buat, namanya bunuh diri

dan bodoh sendiri!), melainkan pelaporan suatu peristiwa sejarah yang tidak bisa ditutup-tutupi. Dus, tidak ada alasan lain,

selain alasan sejarah, kalau para penulis Kristen perdana sampai melaporkan penyaliban Yesus. Selain itu, hukuman penyaliban

adalah sesuatu yang sudah umum dan sering dilakukan oleh otoritas Romawi terhadap para revolusioner Yahudi, dengan tatacara

yang tampaknya sudah dibakukan. Masuk akal, jika Yesus dari Nazareth akhirnya dihukum mati melalui penyaliban mengingat ia

memang telah menimbulkan gangguan yang cukup berarti, baik terhadap otoritas Yahudi mau pun terhadap otoritas Romawi. Ia

dihukum mati dengan suatu tuduhan bahwa ia mengklaim takhta Daud sebagai raja Yahudi di suatu kawasan yang dijajah Romawi.

Tuduhan ini dituliskan pada titulus yang dipancang pada balok/kayu salibnya.



Bukti-bukti literer lainnya berasal

dari dokumen-dokumen non-Kristen, yakni dokumen-dokumen Yahudi dan non-Yahudi, serta dokumen-dokumen Romawi. Karena para

penulis dokumen-dokumen ini adalah orang-orang non-Kristen, maka tidak ada kepentingan atau alasan apa pun dalam diri mereka,

selain alasan melaporkan suatu peristiwa sejarah, ketika mereka memberitakan Yesus telah mati disalibkan.



Dokumen

Yahudi yang pertama adalah tulisan seorang sejarawan Yahudi yang bernama Flavius Josephus (atau Joseph ben Matthias [hidup

37/38-setelah tahun 100]). Di dalam suatu karya besarnya, Antiquitates Judaicae (Jewish Antiquities) 18.63-64 (bagian ini,

biasa disebut sebagai "Testimonium Flavianum" = kesaksian atau testimoni Flavius Josephus tentang Yesus) kita baca kesaksian

berikut: "Kira-kira pada waktu ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana, (jika memang orang harus menyebutnya seorang

manusia). Sebab dia adalah seorang yang telah melakukan tindakan-tindakan luar biasa, dan seorang guru bagi orang-orang yang

telah dengan senang menerima kebenaran darinya. Ia telah memenangkan banyak orang Yahudi dan banyak orang Yunani. (Ia adalah

sang Messias). Setelah mendengar dia dituduh oleh orang orang-orang terkemuka dari antara kita, maka Pilatus menjatuhkan

hukuman penyaliban atas dirinya. Tetapi orang-orang yang mula-mula telah mengasihinya itu tidak melepaskan kasih mereka

kepadanya. (Pada hari ketiga ia menampakkan diri kepada mereka dan membuktikan dirinya hidup. Nabi-nabi Allah telah menubuatkan

hal ini dan hal-hal ajaib lainnya tentang dirinya yang tidak terhitung banyaknya). Dan bangsa Kristen ini, disebut demikian

dengan mengikuti namanya, sampai pada hari ini tidak lenyap."



Berbeda dari Flavius Josephus yang memberi

catatan-catatan simpatik tentang Yesus, sumber-sumber rabbinik Yahudi (yang ditulis dalam periode Tannaitik, sampai dengan

tahun 220) tentang Yesus berisi catatan-catatan penolakan sebagai reaksi Yahudi terhadap provokasi-provokasi yang dibuat

orang-orang Kristen perdana terhadap Yudaisme. Sejumlah pakar menilai ada tradisi-tradisi tua dan dapat dipercaya sebagai

sumber sejarah tentang Yesus di dalam Talmud Babilonia, di antaranya bSanhedrin 43a, yang bunyinya demikian: "Pada Sabat

perayaan Paskah, Yeshu orang Nazareth digantung. Sebab selama empat puluh hari sebelum eksekusi dijalankan, muncul seorang

pemberita yang mengatakan: 'Inilah Yesus orang Nazareth, yang akan dirajam dengan batu sebab ia telah mempraktekkan sihir dan

mejik [bdk. Markus 3:22] dan mempengaruhi orang Israel untuk murtad. Barangsiapa yang dapat mengatakan sesuatu untuk

membelanya, hendaklah tampil dan membelanya.' Tetapi karena tidak ada sesuatu pun yang tampil untuk membelanya, ia pun

digantung sehari sebelum Paskah [ini sejalan dengan kronologi dalam Injil Yohanes]...."



Seorang filsuf stoik

kebangsaan Syria, yang berasal dari Samosata, bernama Mara bar Sarapion, menulis surat kepada anaknya, Sarapion, dari tempatnya

di sebuah penjara Roma, mungkin segera setelah tahun 73. Di dalamnya ia menegaskan bahwa satu-satunya yang paling berharga

untuk dimiliki dan diperjuangkan adalah kebijaksanaan, dan bahwa kendati pun orang bijak itu dapat dianiaya, kebijaksanaan itu

tetap kekal. Sebagai model orang-orang bijak, ia mengutip Sokrates dan Phytagoras, dan juga Yesus meskipun nama Yesus tidak

disebutnya: "Perbuatan baik apa yang dilakukan orang-orang Athena ketika ia membunuh Sokrates, yang mengakibatkan mereka

dihukum dengan bahaya kelaparan dan penyakit menular? Manfaat apa yang diperoleh orang-orang Samian ketika mereka membakar

Phytagoras, karena kemudian negeri mereka seluruhnya dikubur pasir dalam sekejap saja? Atau apa keuntungannya ketika

orang-orang Yahudi membunuh raja mereka yang arif, karena kerajaan mereka setelah itu direnggut dari mereka [mengacu ke Perang

Yahudi I tahun 66-73/74]? Allah telah dengan adil membalas perbuatan-perbuatan jahat yang telah dilakukan kepada tiga orang

bijaksana ini. Orang-orang Athena mati kelaparan; bangsa Samian dilanda banjir dari laut; orang-orang Yahudi dibunuh dan diusir

dari kerajaan mereka, lalu tinggal di tempat-tempat lain dalam perserakan. Sokrates itu tidak mati; tetapi tetap hidup melalui

Plato; begitu juga Phytagoras, karena patung Hera. Begitu juga raja yang bijak itu tidak mati, karena setelah dia tidak ada

muncul hukum baru yang ia telah berikan."



Seorang satiris yang bernama Lucian dari Samosata (c.115-c.200), dalam

tulisannya "The Passing of Peregrinus" mengisahkan tentang orang-orang Kristen yang sangat terpikat pada Peregrinus sehingga

mereka menyembahnya sebagai suatu allah; selanjutnya Lucian menulis: "... sesungguhnya, selain dia, juga orang yang disalibkan

di Palestina karena memperkenalkan kultus baru ini ke dalam dunia, kini masih mereka sembah." Lucian juga menggambarkan

orang-orang Kristen sebagai orang-orang "yang menyembah sofis yang disalibkan itu sendiri dan hidup di bawah

hukum-hukumnya."



Cornelius Tacitus (55/56- c. 120) adalah seorang senator dan sejarawan Roma yang termasyur karena

dua karya sejarahnya, Histories (c.105-110) dan Annals (c.116/117). Seperti dilaporkan Tacitus dalam Annals 15.38-44, untuk

membelokkan kecurigaan dan dakwaan terhadap dirinya sendiri atas terbakarnya kota Roma selama sembilan hari dalam tahun 64,

Kaisar Nero (54-68) menjadikan orang-orang Kristen di sana sebagai "kambing hitam." Dalam konteks inilah Tacitus menyebut nama

"Kristus" sebagai pendiri gerakan Kristen yang dihukum mati: "Karena itu, untuk menepis kabar angin itu, Nero menciptakan

kambing-kambing hitam dan menganiaya orang-orang yang disebut 'orang-orang Kristen' [Chrestianos], yaitu sekelompok orang

yang dibenci karena tindakan-tindakan kriminal mereka yang memuakkan. Kristus, dari mana nama itu berasal, telah dihukum mati

(supplicio adfectus) dalam masa pemerintahan Tiberius [14-37] di tangan salah seorang prokurator kita, Pontius Pilatus [26-36],

dan tahyul yang paling merusak itu karenanya untuk sementara dapat dikendalikan, tetapi kembali pecah bukan saja di Yudea,

sumber pertama dari kejahatan ini, tetapi juga di Roma, di mana segala sesuatu yang buruk, menjengkelkan dan yang menimbukkan

kebencian dari segala tempat di dunia ini bertemu dan menjadi populer." (Annals 15.44).



Nah, beragam sumber

independen yang telah dikutip di atas (sumber-sumber Kristen, dan sumber-sumber Yahudi maupun non-Yahudi) dengan bulat

menyatakan bahwa Yesus dari Nazareth telah mati disalibkan oleh otoritas Romawi, yang melibatkan juga otoritas Yahudi. Tidak

ada alasan lain yang masuk akal, selain alasan sejarah, kalau para penulis dokumen-dokumen di atas itu, secara independen,

sampai melaporkan/menyebut tentang penyaliban Yesus.



Tetapi ada suatu pertanyaan penting yang tersisa: Lalu, dari

mana datangnya tradisi yang melaporkan bahwa Yesus dari Nazareth tidak mati disalibkan, atau bahwa bukan Yesus, tetapi orang

lain yang diserupakan dengannya, yang mati disalibkan? Dokumen-dokumen tertua yang memuat tradisi tandingan semacam ini

bukanlah Alquran, melainkan beberapa tulisan gnostik Kristen perdana yang mendahului Alquran. Dokumen-dokumen gnostik ini akan

saya kutipkan dalam suatu posting lainnya, tunggu saja.



Kesimpulannya: Tradisi-tradisi yang menyatakan Yesus tidak

mati disalibkan adalah tradisi-tradisi belakangan, yang tidak memiliki pijakan historis dan melawan tradisi-tradisi yang lebih

tua yang bulat dan independen menyatakan bahwa ia mati disalibkan. Yesus tidak pernah pergi ke India, dan juga tidak pernah ke

Perancis bersama Maria Magdalena untuk membangun sebuah dinasti rajani rahasia di sana. Yang sudah sangat jelas adalah: Yesus

pergi ke rumah Bapanya, di sorga, melalui jalan salib yang lurus ke atas: Allah-ku, Allah-ku, mengapa Kau tinggalkan

aku?



Salam,

Ioanes Rakhmat


Sumber : STT Jakarta Discussion Forum

   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by GIS IT Solution