Sabtu, 15 Desember 2018 18:08:01 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 180
Total pengunjung : 450783
Hits hari ini : 1227
Total hits : 4152665
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -PERICLES GOTTFRIED KATOPPO : SEMUA TERJEMAHAN HARUS MENAFSIR DULU !






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 15 Juli 2005 00:00:00
PERICLES GOTTFRIED KATOPPO : SEMUA TERJEMAHAN HARUS MENAFSIR DULU !
JIKA ada orang yang selalu hadir dalam sejarah LAI,

tak pelak lagi, adalah Pericles "Perry" Gottfried Katoppo M.A. Lahir di Tomohon 24 Juli 1936 sebagai anak

kelima dari sembilan bersaudara, Perry mulai bekerja di LAI sejak usia 30 tahun.




width="160" height="120" align="left">"Saya merasa terpanggil bekerja di Lembaga Alkitab," katanya. Boleh jadi, ini hasil

"tuaian" ayahnya, Elvianus Kartoppo, salah seorang tokoh pendiri dan wakil ketua Badan Pengurus Yayasan LAI

saat didirikan tanggal 9 Febuari 1954.



"Mula-mula," tuturnya saya tidak berminat bekerja di bidang ini. Saya

sebenamya wartawan Associated Press di Jakarta, lalu bekerja di radio Australia (ABC). Setelah itu kerja di LAI. Karena tidak

memiliki pendidikan teologi, saya belajar dari buku-buku. Kemudian LAI menyarankan agar saya sekolah teologi." Untuk itu dia

pergi ke New Zealand, meraih sarjana teologi di Melbourne College of Divinity. Gelar Master bidang Biblika (PB),

diperoleh tahun 1983 dari Trinity Evangelical School, Amerika.



Di perpustakaan LAI, dikelilingi ratusan

versi Alkitab dan jilid-jilid tebal tafsiran, yang memang menjadi "dunia" sehari-hari pria ramah ini -- KAIROS

berbincang-bincang seputar dunia yang digulatinya. Berikut petikan obrolan itu :



Pengalaman bekerja di LAI?



Pertama kali di Departemen Penerjemahan sebagai manuscript supervisor, yaitu penyuntingan naskah-naskah

Alkitab. Kemudian sebagai Kepala Kantor Terjemahan, istilah LAInya "Sekretaris Penerjemah" dari tahun 1980 sampai November

tahun lalu. Kemudian pensiun, tapi LAI mengontrak saya selama setahun sebagai pembina penerjemah. Tugas saya

sekarang

seputar proyek-proyek penerjemahan di daerah-daerah.



Kesulitan yang dialami sebagai sekretaris

penerjemah?


Cukup banyak. Saya biasanya sibuk di daerah terpencil yang tidak ada listrik, air serta transportasi

minim. Lainnya, saat memeriksa terjemahan ada bahasa yang tidak saya mengerti. Jadi para penerjemah saya minta menerjemahkan

kembali ke bahasa Indonesia. Juga, mereka sering salah mengerti teks dasarnya hingga salah menerjemahkan. Atau, walau mengerti,

kadang dalam bahasa mereka tidak ada kata-kata untuk mengungkapkan hal itu.



Apa kiat membina penerjemah

untuk mengatasi masalah itu?


Kami memberi tafsir dari teks yang diterjemahkan. Jika tidak ada kosa kata yang

tepat, kami cari kata yang cocok dalam kebudayaan bahasa yang dituju. Misalnya, kalau tidak ada kata "roti", kita dapat memakai

kata "makanan".



Dapat bercerita tentang rekrutmen tenaga penerjemah?

Biasanya dimulai jika ada

proyek penerjemahan Alkitab atas permintaan suatu gereja. Kami mengawalinya dengan surat menyurat, lalu kami pergi ke daerah

dan mengadakan lokakarya terjemahan untuk para calon penerjemah. Calon-calon diajukan oleh gereja bersangkutan, sekitar 10

sampai 12 orang, dan kami latih dua minggu. Kemudian dipilih yang terbaik, umumnya para pendeta, atau sedang belajar

teologi.



LAI sekarang akan menerbitkan Alkitab untuk anak-anak?

Semboyan LAI adalah

"God's Word Hope For All” (Firman Allah harapan bagi semua orang). Karena itu kami membuat Alkitab terjemahan dalam

bahasa sehari-hari untuk kaum muda/awam. Ini memakai metode terjemahan yang lain sekali dengan terjemahan harafiah, yang

disebut cara terjemahan dinamis. Jadi bukan bentuk dari teks sumber, tetapi artinya yang diungkapkan, hingga bisa bembah sama

sekali kalimatnya. Bentuknya berubah, tetapi artinyayang dipertahankan. Agar Alkitab dapat terbuka bagi anak-anak, kami membuat

Alkitab untuk anak-anak. Mungkin tahun ini selesai.



Apa melibatkan disiplin ilmu yang berkait dengan dunia

anak-anak?


Kami selalu melibatkan orang-orang yang berkecimpung dalam dunia anak-anak. Mereka

membaca teksnya, lalu memberi saran-saran.



Darimana LAI mengambil teks sumber

terjemahannya?


Kami mengambil PB dari bahasa Yunani dan PL dari bahasa Ibrani, serta sebagian kecil dari bahasa

Aram. Tetapi, seperti, Irian Jaya atau di daerah-daerah terpencil, di sana penerjemahnya berpendidikan rendah sekali, tetapi

mereka butuh Alkitab. Maka mereka menggunakan AIkitab bahasa Indonesia, baik TB maupun BIS sebagai dasar, lalu

membanding-bandingkan kedua terjemahan itu.



Sedang terjemahan dinamis?

Kami selalu mencoba

melihat bagaimana pembaca semula menangkap itu. Ini tentu tidak mudah, karena banyak hal yang kita tidak tahu. Lalu kita

mencoba bagaimana pembaca kita di zaman modem ini menganggapi teks yang sama. Dalam terjemahan dinamis kita sering harus

mengambil keputusan bagaimana meaerjemahkan suatu teks, bahkan kata-kata tertentu.



Apa yang dimaksud Bahasa

Indonesia Sehari-hari?


Yang disebut Alkitab BIS adalah terjemahan dari bahasa Yunani yang sebanyak mungkin

menghindari istilah-istilah teologi, dan memakai bahasa umum -- lebih tepat disebut "bahasa umum" dan bukan "bahasa

sehari-hari", mengingat BIS bukan bahasa percakapan, tetapi tetap bahasa buku.



Berarti sudah ada proses

penafsiran?


Ya. Orang kadang-kadang takut dengan penafsiran. Tetapi semua terjemahan itu harus menafsir dulu

baru menerjemahkan. Juga terjemahan harafiah. Malah terjemahan yang paling harifiah pun, yang disebut terjemahan interlinear

harus menafsir, karena memang kita tidak dapat melepaskan diri dari proses menafsir.



Tetapi kalau penafsir

menjadi bagian dari teologi tertentu, sementara LAI lebih bersifat interdenominasi?


Itu benar. Kami melayam

semua denominasi dan semua konfesi, termasuk Katolik Roma. Jadi, dalam tafsiran, kami hanya menggali dari teks sumbemya, tanpa

memberi warna teologi tertentu agar semua gereja dapat memakainya. Dan itu, antara lain, tugas dari pembina penerjemah agar

para penerjemah tidak membuat terjemahan sesuai teologinya masing-masing.



Bagaimana kalau ada pihak atau

kelompok yang tidak setuju dengan terjemahan LAI?


Prinsip LAI dan semua lembaga Alkitab lainnya, adalah tidak

boleh menerjemahkan teks dengan memberi warna teologi tertentu. Kalau kelompok lain ingin membuat terjemahan lain untuk

kelompoknya, itu urusan mereka. Tetapi itu berarti sudah ada warna teologi tertentu di dalamnya karena terjemahan mereka memang

untuk kepentingan kelompok tertentu. Saksi Yehova, misalnya juga menerjemahkan Alkitab sendiri. Kadang banyak yang terperangkap

dalam hal itu. Teologi mereka yang muncul di dalam terjemahannya, bukan Alkitabnya. Itu dihindari oleh

LAI.



Untuk menjangkau seluruh Indonesia, berapa lama kira-kira yang dibutuhkan LAI?

Saat ini

LAI tengah mengerjakan sekitar 60 proyek terjemahan. Juga dari badan-badan lain, ada sekitar 100 proyek. Ini semua jika

dihitung secara kasar, baru sekitar setengah dari apa yang harus kita kerjakan.



Umumnya berapa lama waktu

yang dibutuhkan untuk menerjemahkan?


PB rata-rata dua sampai tiga tahun. PL bisa sampai empat tahun. Jadi satu

Alkitab lengkap, sekitar enam sampai tujuh tahun.



Suka duka sebagai pener

Kepuasannya jika

terjemahan kita terbit, dan hasil yang dikerjakan oleh satu tim selesai. Apalagi kalau mendengar orang-orang terberkati oleh

terjemahan kami. Juga banyak masukan untuk edisi revisi. Ini 'kan perhatian dari jemaat, yang membuat kami

puas.



TS/Ida/DJR/Roed – KAIROS Maret ‘94

dilihat : 464 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution