Sabtu, 21 Juli 2018 12:52:27 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 79
Total pengunjung : 407305
Hits hari ini : 716
Total hits : 3713655
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -LAKI-LAKI YANG SENDIRIAN - Cerpen karya Julius Syaranamual






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 07 Agustus 2005 00:00:00
LAKI-LAKI YANG SENDIRIAN - Cerpen karya Julius Syaranamual
Ia meniduri perempuan itu pada suatu hari menjelang subuh. Waktu itu, ia terkejut bangun lantaran ada sesuatu yang jatuh dan pecah. Dan ketika ia tiba di ruang tengah, perempuan itu sedang menjongkok memungut pecahan-pecahan piring yang berserakan di lantai.

"Kucing, Tuan."



la menggumam tidak jelas, memaki-maki karena tidurnya yang terganggu, lalu masuk ke kamar mandi. Walaupun sudah terlalu siang untuk kembali tidur, hari terasa masih terlalu pagi untuk mandi. la cuma berkumur-kumur sebentar sesudah buang air kecil, lalu keluar dan mengambil rokok yang ditaruhnya di atas bufet. Lalu berjalan ke bagian belakang rumahnya. Mulanya bermaksud untuk sekedar menghirup udara yang terbuka. Tetapi ketika lewat di depan kamar pembantunya itu ia berhenti. Tanpa ragu-ragu la membuka pintu kamar pembantunya, dan temyata tidak terkunci. Perempuan itu sedang menyuruk di bawah tempat tidumya. Lalu merangkak mundur dengan memegang tangkai penahan obat nyamuk.



Lalu perempuan itu menegakkan tubuhnya. la memandang sebentar ke arah laki-laki itu. "Banyak nyamuk," ujar perempuan itu, dan sambil terus berlutut berusaha menjangkau obat nyamuk yang baru dari dalam dos yang terletak di atas rneja, kemudian dengan hati-hati memasangkan pada tiang penyangga dari kaleng itu.



“Tuan punya api?"

la merogoh saku kimononya, lalu menyerahkan sekotak korek api. Perempuan itu menerima lalu membakar ujung obat nyamuk yang hijau melingkar. Sesudah itu, ia menggoyangkan tangannya yang memegang batang korek api sampai nyalanya padam, sementara mana ia meniup nyala di ujung obat nyamuk. Asap yang tipis kebiruan nampak melingkar naik.



Perempuan itu menyerahkan kembali korek api, lalu kembali menyurukkan tubuhnya ke bawah tempat tidur untuk menempatkan obat nyamuk. Sedang laki-laki itu cuma berdiri bersandar di tiang pintu, sambil diam-diam merokok.



Kemudian perempuan itu keluar dari kolong tempat tidur, lalu naik ke atas tempat tidur dan setelah memandang sejenak ke laki-laki yang masih berdiri di celah pintu yang sedikit terbuka itu, ia memperbaiki letak bantal kemudian membaringkan dirinya lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke tembok.



Laki-laki itu berdiri sejenak di situ, mengisap dalam-dalam rokoknya sebelum melemparkan puntungnya ke lantai lalu memijaknya. Kemudian ia mendorong daun pintu dan masuk ke kamar yang terang benderang itu. Sudah itu ia menutupkan pintu. Tanpa ragu-ragu sedikit pun, ia naik ke atas tempat tidur dan setelah menarik badan perempuan itu agar membalik, ia membaringkan dirinya dan langsung memeluk perempuan itu.



Ketika ia terbangun lagi, hari sudah sangat siang. Perempuan itu rupanya sudah keluar. Mungkin sekali ke pasar atau entah ada keperluan lain entah di mana. la bangun dengan malas, menyeret sandalnya menuju ke ruang tengah, lalu menuju ke tempat tilpun. Ia mengabarkan kantomya bahwa hari itu ia sakit besar kemungkinan kena flu, begitu katanya, atau bisa juga cuma pilek biasa. Dan setelah menjelaskan apa-apa yang harus dikerjakan sekretaris yang ditilpunnya itu, ia berjalan ke ruang depan. la mematikan rokok yang sisa puntung itu di asbak, dan langsung mengambil yang baru. Pada saat mana perempuan itu membuka pintu dari luar, lalu masuk dengan keranjang belanjaan. Dan seperti yang sudah terjadi dalam sepuluh tahun ini, perempuan itu tidak berkata apa-apa ketika berpapasan dengan laki-laki itu di ruang depan.



Laki-laki itu merasakan kegelisahan yang mulai menyerang dirinya. Sudah lama sekali ia menjalani hidup yang nyaris tak berubah, dan sekarang tiba-tiba saja ia tidak tahu hendak melakukan apa lagi ketika ia mengubah kebiasaan itu tanpa direncanakan sama sekali. Tidak ada koran di rumah, tidak ada apa-apa untuk dikerjakan.



Lalu ia berjalan ke ruang tengah. Kopi yang tadi belum disentuhnya sudah diganti dengan yang panas. Dan ada sarapan - nasi goreng dengan telur dadar - sesuatu yang juga sudah terlalu lama tidak dikecapinya di rumah ini.



la cuma menghirup kopinya. Lalu duduk diam-diam. la bangun untuk mengusir rasa gelisahnya. Sebuah lukisan yang tergantung di ruang tengah didekatinya. Lukisan matahari dari Affandi. la tidak tahu lagi semenjak kapan lukisan itu ada di situ. Entah dia atau adiknya yang membeli lukisan itu, ia pun sudah tak ingat.



la mencoba menegakkan kembali lukisan itu, tanpa tahu apakah letak lukisan itu memang miring atau tidak. Lalu kembali duduk. Sekali lagi ia membuka penutup makanan di atas meja. Tetapi tetap saja dorongan untuk mau makan tidak ada. Jadi ia bangun. Kali ini terus berjalan ke belakang.



Perempuan itu sedang menjemur pakaian yang baru dicucinya. la berdiri saja memperhatikan diam-diam, melemparkan pandangannya ke halaman rumah yang bersih dan terasa dijaga dengan baik oleh perempuan itu. Ketika ia mengeluarkan rokok ketiga dari kantongnya, perempuan itu keluar dari kamar mandi, dan masuk ke kamamya.



Ketika laki-laki itu ikut masuk ke kamar, perempuan baru saja menanggalkan pakaiannya dan sedang mengeluarkan pakaian yang hendak dikenakannya dari dalam lemari. la memeluk perempuan itu, lalu dibawanya pelan-pelan ke tempat tidur. Tidak ada percakapan yang terjadi kecuali rintihan-rintihan kecil perempuan itu yang terdengar. Dan ketika selesai, ia bangun tanpa mengatakan apapun, lalu berjalan ke kamamya. la masuk ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya lalu mandi, dan sudah itu dalam keadaan tidak berpakaian sama sekali ia naik ke tempat tidumya dan tertidur nyenyak di situ.



la bangun ketika hari sudah menjelang malam. Langit nampaknya berawan, dan satu dua bintang yang pudar nampak mengintip dari celah-celah tumpukan awan. la mengenakan kimononya lalu keluar ke halaman belakang rumahnya, berdiri diam-diam di situ bahkan sampai ketika air mulai menetes dan kemudian mengguyur dari langit. Hujan sudah cukup lama tidak turun.



* * *

SEPULUH tahun yang lampau ia memutuskan untuk menghentikan usahanya mencari seorang istri, yaitu ketika ibunya yang setiap saat memaksanya untuk segera menikah, meninggal dunia. Di tengah seluruh kesibukannya membangun perusahaannya yang semakin kuat, ia semakin tersisih dari keinginannya untuk mempunyai seorang istri, yang benar-benar bisa ia yakini akan mau mencintainya.



la semakin percaya bahwa kedudukannya dalam perusahaan itu yang membuat ia mudah memperoleh seorang perempuan tetapi bukan seorang istri. Memiliki segala sesuatu yang dipedukan seseorang yang ingin menikmati hidup yang enak dan nikmat, membuat ia tak pernah bisa melepaskan diri dari rasa curiga terhadap setiap wanita yang dengan mudah ia gauli. Dan dalam keadaan seperti itu, ia mencoba menikmati hidup yang sendiri.



Lalu adiknya yang perempuan membawa seorang anak perempuan yang baru berusia tiga belas tahun. Orangtua anak itu entah masih hidup atau sudah mati, dianggap terlibat partai terlarang. Dan anak itu yang mengatur rumah itu bersama adiknya sampai ketika adiknya menikah tiga tahun lalu.



la tidak pemah memperhatikan anak itu sama sekali. Bahkan hampir tidak pernah mereka berbicara lebih dan dua menit Setiap bulan ia memberikan uang yang cukup, baik untuk belanjaan maupun untuk tabungan dan pakaian anak itu. Dan tidak pemah ada keluhan kurang dan ia pun menaikkan jumlah uang yang diberikannya sesuai dengan pertimbangannya tentang kenaikan harga di pasar.



Apa yang dilakukan anak itu pun tidak dipedulikannya, bahkan juga ketika suatu hari ketika ia pulang lebih cepat dari biasanya dan menemukan ada laki-laki, entah tukang becak entah pengangguran mana, yang berada di kamar perempuan itu.



Memang ada sekali perempuan itu datang bersama seorang laki-laki (bukan yang pernah ia temukan di kamar perempuan itu) dan berbicara dengan dia. Laki-laki itu yang banyak bicara. "Kami bermaksud kawin, Tuan," ujar laki-laki itu. Ia cuma menatap perempuan itu dan berkata, "iya?" Perempuan itu mengangguk. "Kami sating mencintai, Tuan."



la sungguh terkejut atas pemyataan perempuan itu yang seperti biasanya penuh dengan kepastian diri. "Bagus kalau begitu," ujamya pendek. la tidak tahu bagaimana kalau perempuan itu menikah dan meninggalkan rumahnya. Dan itulah yang sekarang mengganggu pikirannya. Perempuan itu yang berbicara lagi.



"Saya akan tetap membantu di rumah ini, Tuan." la berusaha tidak mendengar ucapan perempuan itu yang terasa hanya mau berupaya tidak membuat ia terlampau kecewa.



"Kapan kalian merencanakan pemikahan kalian?"

Dalam minggu ini," sahut laki-laki teman pembantunya itu. la mencoba menyelidik dengan pendangannya, tidak ada kesan yang kurang baik tentang diri laki-laki itu, kecuali sangat kuat mengandalkan kekuatan tubuhnya.



"Di mana?"

"Di kampung saya saja, Tuan," sahut laki-laki itu sesudah bertukar pandang sejenak dengan calon istrinya.



Lalu ia menyerahkan uang yang cukup banyak, kemudian tanpa mengucapkan apa-apa ia masuk ke kamamya. Mulanya mencoba untuk tidur, tetapi tidak bisa. 'tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang hilang. la tidak bisa menepis rasa hampa dalam dirinya, kendati ia sudah berhasil meyakinkan dirinya bahwa lebih baik ia membiarkan perempuan itu pergi.



Dan sesudah mereka menghilang selama seminggu, suatu hari perempuan itu kembali dengan menangis. la begitu gembira, sehingga tidak menanyakan apa yang membuat perempuan itu menangis.



"Mana suamimu?"

“Hilang, Tuan.”

"Hilang?" la cuma bisa mengernyitkan alisnya.



"la lari. Kami tak jadi menikah. Mula-mula ia membawa saya ke rumahnya, lalu ia bawa saya ke sebuah desa yang saya tidak kenal. Kemudian ia membawa saya ke sebuah warung, lalu ia pergi menghubungi familinya dan tidak kembali-kembali. Saya ditinggalkan begitu saja. Tidak ada seorang pun di desa itu yang mengenalnya. Untung tidak semua uang yang Tuan berikan saya kasih kepadanya."



'Ya sudah. Jangan menangis lagi. Lain kali mbok hati-hati."

Dan sejak saat itu ia tak pernah melihat ada laki-laki yang datang ke rumahnya untuk bertemu dengan perempuan itu, atau mungkin juga datang ketika ia kebetulan tak ada. Juga kalau ia pulang lebih cepat dari biasanya.



* * *



HIDUPNYA kini menjadi sedikit berubah. Apa yang ia lakukan dengan perempuan pembantunya itu terjadi begitu saja.



Walaupun ia tak pernah mengajak perempuan itu tidur di kamamya, tetapi ia selalu melakukan hubungan, hampir setiap hari. Dan perempuan itu tak pemah sekali pun menunjukkan sikap menolak atau mendorong. Dan sesudah hampir setiap hari setelah lebih dari sebulan mereka melakukan hubungan, tiba-tiba ia sadar ada sesuatu yang sedang terjadi. la merasa begitu bodoh untuk tidak menjaga agar hal ini terjadi walaupun seharusnya ia mampu melakukannya.



"Kau hamil, ya?" tanyanya suatu hari.

Perempuan itu diam saja.

"Selama ini kau tidak pemah datang bulan ya?"

Perempuan itu mengangguk. Lalu, "Saya sudah tanya Mbok Asih di sebelah, katanya kalau saya mau menggugurkan, bisa saja dia bantu. Katanya ada orang di kampungnya yang biasa membantu orang-orang dari kota ini, bahkan dari Jakarta untuk urusan seperti ini."



"Dan kau bilang saya yang lakukan itu?"

"Sama sekali tidak. Saya bilang si Warto."

"Siapa lagi si Warto ini?"

"Yang itu, Tuan, yang dulu mau kawin dengan saya tetapi tidak jadi."

"Lho, apa dia masih suka ke sini?"

“Tidak pemah, Tuan. Itu ada clurit di kamar saya, berani saja dia datang langsung saya robek perutnya."



"Hei. Jangan jadi pembunuh," ujamya. lalu ia menatap perempuan itu dengan tatapan yang tajam. "Kalau begitu kita kawin, ya?"



Perempuan itu terkejut Nampak bahwa ia sungguh-sungguh terkejut

"Ada apa, kok kamu pucat sekali?"

"Mmm, maaf Tuan. Saya berterima kasih Tuan begitu baik dengan saya. Tetapi saya tak mungkin kawin dengan Tuan."

"Lho. kenapa? Banyak orang - saya bukan sombong - dengan senang hati mau kawin dengan saya."



“Tidak Tuan. Entah Tuan atau saya, tetapi kita pasti menderita. Dan saya tidak mau menderita. Seperti sekarang, saya bahagia bisa melayani Tuan. Tetapi bukan sebagai istri. Saya tidak sanggup menerima tanggungjawab seberat itu, Tuan."



Kini giliran laki-laki itu yang terkejut.

"Kalau cara berpikirmu sudah seperti itu, kau justru orang yang tepat untuk menjadi istri saya."



"Tidak, Tuan. Saya lebih bahagia bisa menjadi pembantu Tuan. Saya senang sekali kok. Dan saya juga merasa tidak perlu mencari suami lagi. Saya takut sesudah kejadian dengan si Warto itu."



* * *

KETIKA SAATNYA melahirkan, perempuan itu suatu malam pergi ke terminal bus. la sendiri yang mengantar perempuan itu dengan mobilnya, lalu memberikan uang yang cukup banyak. Dan dua bulan kemudian perempuan itu kembali. Agak kurus dan pucat. Selebihnya tak ada perubahan yang nampak.



"Kebetulan ada orang yang tidak punya anak di desa, anak itu saya serahkan kepadanya dengan uang yang banyak."



"Apa kau bilang itu anak saya?"

“Tidak, Tuan. Nanti dia terus menerus datang minta uang ke sini, saya bilang saja anak si Warto."



Dan sebulan kemudian, tanpa menunggu ada piring yang pecah karena ada kucing yang menjatuhkannya, ia masuk ke kamar perempuan itu.



Ketika ia memeluk perempuan itu ia sempat bertanya, "Apa kau tidak takut hamil lagi?"

"Tidak, Tuan. Waktu pulang dan melahirkan, saya ke rumah sakit dan meminta agar dioperasi. Jadi saya tak mungkin hamil lagi, Tuan."



Perempuan itu tidak ditidurinya di situ. Untuk pertama kalinya ia mengajak perempuan itu tidur di kamarnya. la mencoba untuk menjadikan hal itu sesuatu yang lebih resmi, mungkin, dan bukan sesuatu yang sekadar menyalurkan keinginan seks.



"Kau menjadi istriku tanpa kita harus kawin. Mungkin salah menurut peraturan yang ada, tetapi inilah jalan yang paling baik. Untuk saya dan juga untukmu. Toh selama ini kau yang mengurus saya."



Perempuan itu tidak berkata apa-apa. Ketika selesai, dengan menenteng pakaiannya, perempuan itu berjalah kembali ke kamamya sendiri ***



Julius Syaranamual

dilihat : 265 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution