Minggu, 16 Desember 2018 01:53:47 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 30
Total pengunjung : 450855
Hits hari ini : 100
Total hits : 4153285
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Linh Dao
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 03 Juni 2008 00:00:00
Linh Dao
Empat petugas polisi tiba-tiba mendobrak memasuki rumah Linh Dao yang berusia

sepuluh tahun. Mereka memaksa ayahnya, seorang pendeta bawah tanah di Vietnam Utara untuk tetap duduk, sementara pihak berwajib

mengobrak-abrik rumah mencari Alkitab-Alkitab.



”Aku ingat ketika para polisi datang,” kenang Linh

Dao.



“Mereka menggeledah ke seluruh rumah sepanjang pagi dan menanyakan berbagai macam pertanyaan. Berbicara dengan

para polisi menakutkan, tetapi aku tahu apa yang sedang mereka cari, jadi aku berkonsentrasi untuk tidak takut atau gugup."

Sementara polisi menanyai orangtuanya, Linh dengan berani menyembunyikan beberapa Alkitab di dalam ransel

sekolahnya.



Ketika polisi bertanya kepadanya mengenai isi dari ransel itu, Linh hanya menjawab, “Ini adalah buku

untuk anak-anak.”



Ayah Linh Dao ditangkap pada hari itu juga dan ia dijatuhi hukuman tujuh tahun pendidikan ulang

melalui kerja paksa.



”Ketika para polisi memutuskan untuk membawa pergi ayahku, seluruh keluarga kami berlutut dan

berdoa. Aku berdoa terlebih dahulu, kemudian saudara perempuanku, kemudian ibuku, dan yang paling akhir, ayahku. Aku berdoa

supaya ayahku akan memperoleh kedamaian dan tetap sehat dan supaya keluargaku bisa selamat dalam masa-masa sulit itu. Kami

semua menangis, tetapi aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku harus menghadapi apa yang sedang terjadi saat

ini.”



Berita dengan cepat tersebar mengenai penangkapan itu, dan anak-anak tetangga mulai menanyai Linh tindakan

kriminal apakah yang telah dilakukan ayahnya. Ia mengatakan kepada teman-temannya, “Ayahku bukanlah seorang kriminal. Ia

adalah orang Kristen, dan aku bangga padanya karena tidak goyah dalam imannya!”



Sementara hari berlalu, Linh Dao

membuat tanda pada sampul buku kayunya, sementara ia berdoa bagi ayahnya. Ia ingat, “Aku menangis hampir setiap malam karena

aku kuatir bagaimana keadaan ayahku di penjara dan bagaimana para polisi memperlakukannya.”



”Sebelum ayahku

dimasukkan ke dalam penjara, aku hanyalah seorang anak. Aku tidak perlu kuatir atas apa pun juga. Banyak yang berbeda setelah

ayahku pergi. Pikiranku menjadi lebih dewasa dengan cepat. Aku mengatakan kepada saudara perempuanku bahwa kita harus membantu

ibu melakukan pekerjaan di sekitar rumah, supaya ia dapat melanjutkan untuk melakukan pekerjaan ayahku di dalam

gereja.”



”Aku berdoa setiap hari dan setiap malam. Imanku bertumbuh amat pesat. Aku tahu satu hal dimana aku harus

berkonsentrasi adalah menghabiskan waktu untuk belajar dari Alkitab, supaya ketika aku dewasa, aku bisa menjadi seperti ayahku,

membagikan dan berkotbah. Ketika aku berpikir mengenai hal ini, aku merasakan hatiku membara di dalamku, mendorongku,

mengatakan kepadaku bahwa hal ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.”



Akhirnya, setelah lebih dari setahun,

Linh, ibu, dan adiknya dapat mengunjungi ayah mereka di penjara. Ketika mereka tiba di halaman berpagar, mereka dipisahkan oleh

gerbang yang dirantai. Linh dengan cepat mendapati bahwa ia dapat menyelusup melewati sebuah gerbang yang dirantai. Ia berlari

kepada ayahnya dan memeluknya dengan erat.



Para penjaga mengamati gadis kecil itu, tetapi secara mengejutkan,

membiarkannya. Kejahatan apakah yang dapat dilakukan oleh seorang gadis kecil? Pasti mereka berpikir

demikian.



Sedikit yang mereka ketahui! Bersenjatakan kepolosan dan iman anak kecil, anak-anak adalah senjata rahasia

melawan kerajaan Iblis. Selama kunjungan pertamanya ke penjara ayahnya, Linh berhasil menyelundupkan kepadanya sebuah pena,

yang ia pergunakan untuk menulis ayat-ayat dan khotbah-khotbah pada kertas rokok. “Khotbah rokok” ini berkeliling dari sel ke

sel dan merupakan alat untuk membawa banyak tahanan kepada Kristus.



Doa-doa Linh Dao dijawab. Ayahnya dibebaskan

lebih cepat, sebelum ia menjalani tujuh tahun dari masa hukumannya. “Sungguh kejutan yang besar, pada satu hari ketika aku

pulang dari sekolah, dan melihat ayahku telah dibebaskan dari penjara. Aku berlari dan kemudian memberikan kepadanya pelukan

yang erat. Kami amat bersukacita. Aku bangga akan keluargaku dan ingin berteriak, dan membiarkan seluruh dunia tahu bahwa aku

tidak takut akan apa pun karena Allah selalu melindungi tiap langkah yang kuambil dalam hidupku.”



Kini Linh Dao

sudah remaja. Ia rindu untuk mengikuti jejak ayahnya dan menjadi pengkhotbah Injil dari Yesus Kristus. Ia tahu dari tangan

pertama, bahaya-bahaya karena membagikan imannya di Vietnam Komunis dan tetap berkemauan untuk lebih menaati Kristus daripada

manusia. Walau terdapat "masa depan yang suram,” ia menghabiskan waktunya dengan mempelajari Alkitab secara

intensif.



(sumber: Salib/kontribusi oleh: Dessy/dari Lin Dao, Vietnam- dari buku “Jesus Freaks)



Pengirim

: Tiny Ribka

dilihat : 624 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution