Kamis, 19 Juli 2018 18:53:44 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 191
Total pengunjung : 406879
Hits hari ini : 1069
Total hits : 3709277
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Untuk Janin Tercinta...
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 25 Mei 2008 00:00:00
Untuk Janin Tercinta...
Deteksi dr. Tjong



Jumat, 16 Mei 2008 kami

mendapat bantuan dari Kak Henny untuk melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Family, Pluit. Bagi istriku, ini

adalah dokter terakhir yang akan kami datangi untuk lebih meyakinkan lagi dalam pengambilan keputusan untuk melakukan

terminasi.



Kami pun berangkat ke RSIA Family, Pluit, bersama Kak Henny. Di sana, kami bertemu dengan DR. MED, dr.

Calvin Tjong, SpOG. Dia adalah seorang dokter spesialis deteksi kelainan janin lulusan Berlin, Jerman, dan telah banyak menulis

artikel tentang kelainan janin.



Awalnya dr. Tjong hanya melakukan pemeriksaan USG biasa. Meski begitu, ia sangat

ditail dan teliti dalam melakukan pemeriksaan. Kepada kami, ia menunjukkan janin dalam rahim istriku secara lebih ditail mulai

dari telapak kakinya hingga ke jari-jari tangannya.



Dr. Tjong juga memperdengarkan suplai darah dari istriku ke

janin serta denyut jantung janin.



Awal pemeriksaan rasanya dr. Tjong tidak menemukan masalah apa-apa pada janin,

apalagi kita dia dengan penuh semangat menjelaskan ditail janin kami.



Namun, ketika tiba pada bagian perut dan

kepala janin, aku merasakan keheningan di ruangan itu. Dr. Tjong tidak lagi menjelaskan apa yang sedang ia tunjukkan kepada

kami di layar monitor, yang berupa layar TV LCD 30 inch.



Sesekali ia menyorot jantung janin, memperdengarkan denyut

jantung itu dan mengetikkan beberapa catatan di layar USG.



Aku mulai merasakan bahwa dr. Tjong telah mendeteksi

adanya masalah pada janin, tetapi ia enggan untuk mengomentari langsung sembari melakukan pemeriksaan.



Akhirnya aku

pun menyadarinya ketika ia mengetikkan tulisan "omphalocele" di layar monitor. Aku ingat hasil pemeriksaan dr. Bambang Kartono,

SpOG di RSCM, yang menyatakan bahwa salah satu kelainan pada janin istriku adalah "omphalocele", dimana ada organ pencernaan

yang tumbuh di luar tubuh.



Tak berapa lama kemudian, dr. Tjong melakukan USG 4D. Gambar yang muncul di monitor kini

jauh lebih jelas dibanding USG biasa. Kami bisa melihat bentuk janin itu dalam wujud sebenarnya dalam tampilan berwarna di

layar monitor.



Sungguh menyedihkan melihat janin yang terbentuk tidak sempurna. Ada beberapa lubang besar di

tubuhnya bahkan kami tidak bisa melihat wajahnya. Betul-betul hancur dan tak menampakkan bentuk manusia.



Selesai

pemeriksaan, dr. Tjong pun mulai menjelaskan. Dalam deteksi dr. Tjong, ia menemukan adanya amniotic membrane rupture (robeknya

selaput ketuban).



"Akibat robeknya selaput ketuban, janin yang tadinya normal teriris-iris oleh selaput yang robek

itu sehingga struktur tubuh janin itu hancur." Kata dr. Tjong.



"Apa penyebabnya dok? Apakah karena aktivitas yang

terlalu berat ataukah karena makanan?" Tanya Kak Henny yang juga ikut melihat hasil USG 4D itu.



"Oh, tidak!" Jawab

dr. Tjong, "Kami tidak tahu apa penyebabnya, tetapi hal seperti ini memang bukan baru sekarang terjadi."



"Jadi

bagaimana selanjutnya, dok?" Tanyaku.



"Bisa dilakukan terminasi dengan obat atau infus, tetapi saya rasa itu tidak

perlu. Lagipula kan dosa membunuh janin seusia ini." Jawab dr. Tjong. "Dibiarkan dalam rahim juga tidak apa-apa. Janin ini akan

mati dengan sendirinya sekitar 2 sampai 3 minggu lagi."



"Apa itu tidak berbahaya bagi istriku?" Tanyaku

lagi.



"Tidak! Tidak akan berpengaruh pada istri Bapak. Nanti kalo istri Bapak mengeluarkan bercak darah, langsung

saja ke rumah sakit." Jawab dr. Tjong.



Hasil ini sungguh memuaskan kami. Dengan melihat langsung janin secara 4D

serta mendengarkan berkali-kali detak jantungnya, membuat kami sepakat dengan dr. Tjong, yaitu membiarkan janin itu tetap hidup

dalam rahim.



TUHAN yang memberi janin kami kehidupan, DIA juga yang telah menjaga janin itu tetap hidup hingga saat

ini, maka selayaknya biarkan DIA sendiri menentukan akhir kehidupan janin itu.



Banyak orang dengan mudahnya mendesak

kami untuk segera melakukan terminasi. Tapi, jika mereka ikut bersama-sama kami melihat langsung bentuk janin itu, dan

mendengarkan denyut jantungnya, mungkin mereka juga akan berubah pikiran.



Janin tak berdosa itu dalam keadaan

sekarat. Ia betul-betul tak berdaya. Satu-satunya cara agar dia tetap hidup adalah tetap berada dalam rahim istriku. Maka,

untuk menunjukkan betapa besarnya cinta kami padanya, kami pun memutuskan untuk membiarkan dia bertahan hidup sampai batas

dimana ia tidak sanggup lagi.



Meski usianya masih 21 minggu (5 bulan 1 minggu), tapi dia sudah layak disebut manusia

dan dihargai selayaknya manusia.



Untuk janin yang kami cintai, kami pun memutuskan untuk memberi dia nama, "NATHAN

ZEFANYA RORIMPANDEI." "NATHAN" artinya "anugerah" dan "ZEFANYA" artinya "yang dilindungi TUHAN."



Dia layak

menyandang nama itu. Sebab hanya karena anugerah dan perlindungan dari TUHAN, ia bisa tetap hidup, dan hanya karena anugerah

dan perlindungan TUHAN, aku dan istriku bisa menghadapi realita ini.





Oleh : Octafred Yosi R



Sumber

: http://nama.oyr79.com/index.php?do=profil&act=bacach&id=8



Diambil dari milis

www.pustakalewi.net

http://groups.yahoo.com/group/pustakalewi

dilihat : 2419 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution