Sabtu, 15 Desember 2018 16:59:50 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 171
Total pengunjung : 450774
Hits hari ini : 1103
Total hits : 4152541
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Thanksgiving
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Selasa, 11 Desember 2007 00:00:00
Thanksgiving
Saat itu adalah hari

sebelum Thanksgiving - anak ketiga baru lahir dan saya akan merayakan hari Thanksgiving tanpa ayah mereka yang meninggal

beberapa bulan sebelumnya. Sekarang dua kakaknya sakit parah karena flu, dimana yang tertua harus istirahat di tempat tidur

selama satu minggu.



Hari sangat dingin, cuaca di luar kelabu, dan hujan gerimis turun. Saya sangat letih karena

sibuk merawat anak-anak: memeriksa panas tubuh, memberikan merka jus dan mengganti pempers. Sementara itu susu untuk mereka

juga mulai habis. Ketika saya memeriksa dompet, hanya tersisa 2,5 dollar - dan itu satu-satunya yang saya miliki sampai akhir

bulan nanti.



Saat sedang kebingungan, telpon berbunyi.



Telpon itu dari sekretaris gereja. Dia berkata

bahwa mereka sangat prihatin dengan musibah yang saya hadapi dan ada bantuan dari gereja untuk saya. Saya berkata bahwa saya

akan pergi membeli susu dan sup untuk anak-anak, dan akan mampir ke gereja dalam perjalanan ke supermarket.



Saya

sampai di gereja sebelum makan siang. Ibu sekretaris telah menunggu saya di pintu gereja dan mengulurkan sebuah amplop. "Kami

selalu memikirkan ibu dan anak-anak," dia meneruskan, "Ibu selalu ada dalam hati dan doa kami. Kami mengasihi ibu." Saat saya

membuka amplop, di dalamnya ada dua voucer belanja dari gereja, masing-masing senilai dua puluh dollar. Saya sangat terharu,

dan mulai menangis tersedu-sedu.



"Terima kasih banyak," saya berkata sambil memeluk ibu sekretaris. "Tolong

sampaikan terima kasih kami kepada semua jemaat." Saya segera memacu mobil ke toko dekat rumah dan membeli semua kebutuhan

untuk merawat anak-anak.



Di kasir, barang-barang dihitung seharga 14 dollar, dan saya memberikan satu voucer belanja

dari gereja kepada wanita yang bertugas. Setelah menerima voucer itu, dia membalikkan badannya cukup lama. Saya berpikir

mungkin ada yang salah dengan voucer itu.



Akhirnya dia berkata, "Voucer belanja dari gereja ini benar-benar

merupakan sebuah anugerah. Saya juga pernah menerimanya dari gereja, ketika saya menjadi orang tua tunggal dan harus memenuhi

semua kebutuhan keluarga seorang diri."



Wanita petugas di kasir itu berbalik, dan terlihat air mata mengalir di

matanya, dan meneruskan, "Sayang, ini baik sekali. Apakah kamu punya ayam kalkun?"



"Tidak bu. Tapi tidak apa-apa,

karena anak-anak saya sedang sakit flu parah."



Dia bertanya lagi, "Apakah kamu punya makanan atau kue-kue untuk

merayakan Thanksgiving? "



Saya menjawab, "Tidak bu."



Setelah memberikan uang kembalian dari voucer yang

saya berikan, dia memandang wajah saya, "Sayang, saya tidak bisa memberitahumu sekarang ini. Tetapi saya ingin kamu kembali

lagi ke toko untuk membeli ayam kalkun, saus kranberi, pai labu atau apa saja yang kamu inginkan untuk merayakan Thanksgiving.

"



Saya terkejut dan mata mulai sembab. "Apa ibu bersungguh-sungguh? " saya bertanya.



"Tentu saja sayang !

Ambillah apa yang kamu inginkan. Dan beli juga permen dan minuman ringan untuk anak-anak."



Saya merasa canggung saat

harus kembali masuk lagi untuk berbelanja. Saya memilih sebuah ayam kalkun yang segar, kentang dan kue-kue, serta minuman untuk

anak-anak. Kemudian saya mendorong kereta belanja ke kasir yang sama. Saat saya meletakkan barang-barang di kasir, wanita

penjaga itu memandang saya sekali lagi dengan air mata yang mengalir dan mulai bercerita.



"Sekarang saya akan

menceritakan sesuatu. Pagi ini saya berdoa supaya hari ini saya bisa menolong seseorang, dan sekarang kamu berdiri di depan

saya." Dia mengambil dompetnya dan mengambil bon senilai 20 dollar. Dia membayar semua barang-barang itu dan masih memberikan

uang kembaliannya pada saya. Sekali lagi air mata haru mengalir di pipi saya.



Wanita penjaga kasir yang baik itu

kemudian berkata, "Saya orang Kristen. Ini nomer telpon saya yang bisa dihubungi jika kamu membutuhkan bantuan apa pun." Dia

mencium pipi saya dan berkata, "Tuhan memberkatimu, sayang."



Ketika berjalan ke mobil, saya sangat bersyukur karena

kasih orang asing itu. Saya menyadari bahwa itu semua adalah cinta Tuhan kepada keluarga saya, yang dinyatakan melalui wanita

penjaga kasir dan ibu sekretaris gereja.



Walaupun masih menderita flu, anak-anak merayakan Thanksgiving penuh

sukacita. Keadaan mereka semakin membaik, dan kami semua menikmati semua makanan yang merupakan hadiah yang diberikan oleh

Tuhan - dan kasih dari orang-orang di sekitar kami. Hati kami benar-benar penuh dengan ucapan syukur.



(Oleh Andrea

Nannette Mejia)

dilihat : 515 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution