Sabtu, 21 Juli 2018 05:24:39 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 261
Total pengunjung : 407220
Hits hari ini : 2374
Total hits : 3712774
Pengunjung Online : 4
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Hubungan Yang Retak Masih Bisa Dipulihkan?
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 30 Juni 2007 00:00:00
Hubungan Yang Retak Masih Bisa Dipulihkan?
Kejadian 43:34, "Lalu disajikan kepada mereka hidangan dari meja Yusuf, tetapi yang diterima Benyamin adalah lima kali lebih banyak dari pada setiap orang yang lain. Lalu minumlah mereka dan bersukaria bersama-sama dengan dia."



Yang menarik di sini adalah bagaimana mungkin Yusuf berhasil menerima saudara-saudaranya, mengampuni mereka dan makan minum, bersukaria bersama mereka. Saya menemukan nomor satu mengampuni hal yang sangat susah, tapi Yusuf bukan saja dia berhasil mengampuni tapi berhasil memulihkan hubungan bukan saja seperti semula, tapi lebih baik dari semula.



Ada beberapa langkah atau cara untuk memulihkan relasi. Yaitu :



Supaya bisa terjadi sebuah pemulihan, harus ada kejelasan akan letak kesalahan. Dalam hal ini kita harus berani bertanya siapa yang bersalah dan dalam hal apakah saya atau dia bersalah. Di Indonesia mengenal satu istilah dua-dua sama-sama salah, ini bukan prinsip yang tepat. Prinsip ini hanya berguna untuk meredam munculnya konflik tapi tidak menyelesaikan masalah. Dalam hal Yusuf, Yusuf tahu siapa yang bersalah dan apa kesalahannya, Yusuf tidak pernah bingung, dia tahu dengan jelas bahwa yang bersalah adalah saudara-saudaranya.



Izinkan diri untuk marah dan terluka, marah dan terluka tidak berarti membalas dendam. Contoh Yusuf tidak menghubungi keluarganya sampai 9 tahun setelah ia menjadi penguasa di Mesir. Kejadian 45:6, "Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai." Tuhan sudah menetapkan akan ada 7 tahun masa kemakmuran dan 7 tahun masa kekurangan. Berarti kalau sudah ada 2 tahun melewati masa kekurangan sudah ada 9 tahun yang dilalui oleh Yusuf sebagai penguasa Mesir. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Yusuf tidak buru-buru menghubungi keluarganya, meski dia mempunyai kesempatan untuk itu. Kadang-kadang kita tidak bisa memaksakan penyembuhan, kadang-kadang memang luka itu harus melewati proses waktu dan nggak bisa dalam waktu sehari, dua hari kita berkata saya akan lupakan. Secara rasional kita bisa berkata saya lupakan, saya maafkan, tetapi secara emosional, perasaan kita itu tidak mudah diatur seperti pikiran kita jadi memerlukan waktu yang lebih panjang untuk sembuh.



Harus ada pengakuan bersalah atau sikap penyesalan dari pihak yang bersalah.



Kejadian 42:21, "Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita." Ini adalah kata-kata yang diucapkan oleh saudara Yusuf, sebuah pengakuan yang tidak dibuat-buat, keluar penyesalan-penyesalan.



Ada dua sikap ektrim dalam menghadpi kemarahan yaitu:



Ada orang karena tidak nyaman maka mengumbar-umbar kemarahan. Meskipun setelah kemarahan dia merasa bersalah namun rasa bersalahnya harus dia obati dengan keyakinan bahwa selayaknyalah saya marah.



Karena tidak nyaman dengan perasaan marah, kita senantiasa menyangkali kemarahan itu, kalau sampai muncul juga kemarahan itu ya kita merasa sangat bersalah.



Perubahan sikap atau yang kita sebut pertobatan. Kata bertobat sebetulnya mengandung arti berubah arah, berganti arah jadi ada sesuatu yang lain yang dilakukan sekarang. Apa yang saudara-saudara Yusuf lakukan, sewaktu mereka menemukan uang itu, mereka mengembalikannya dan juga waktu Yusuf berpura-pura ingin menahan Benyamin, mereka menolak dan mereka justru berkata mereka saja yang ditangkap, mereka bersedia menggantikan Benyamin. Dengan kata lain Yusuf dengan jelas melihat perubahan nyata pada saudara-saudaranya.



Selama 9 tahun Yusuf menunggu tidak mengunjungi keluarganya saya kira dia masih bisa menantikan beberapa hari atau beberapa minggu lagi itulah yang Yusuf lakukan. Dengan tujuan yang sangat jelas, waktu relasi dipulihkan memang relasi itu sudah siap untuk dipulihkan bahwa memang saudara-saudaranya telah berubah.



Demikianlah respon ini saya tulis bersumber pada Acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga), bersama Sdr. Gunawan Santosa dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, Ibu Esther Tjahja, S. Psi. dan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang.



Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati.





Best Regards,



~ Elly ~

System & Internal Controller

PT. Putra Sumber Utama Timber

Mobile : 08888740073

E-mail & Friendster : Elly@hasko.co.id



"Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9)

dilihat : 525 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution