Sabtu, 21 Juli 2018 08:40:20 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 29
Total pengunjung : 407254
Hits hari ini : 153
Total hits : 3713092
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Melawan Drug dan HIV di atas Kursi Roda
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 12 Februari 2007 00:00:00
Melawan Drug dan HIV di atas Kursi Roda
Melawan Drug dan HIV di atas Kursi Roda



"Silahkan masuk,..maaf saya sedang berbaring." Sapaan hangat itu menyapa The Jakarta Post, ketika mengunjungi Irwanto, Ph.D, di kamar 1015 Shangri La Hotel Surabaya, di sela-sela acara Pertemuan Nasional ke-3, 4-8 Pebruari ini 2007. Di atas spring bed, laki-laki berusia 50 tahun itu melakukan terapi pemijatan. Kedua tangannya diangkat tegak lurus, saling memijat. "Ini adalah terapi yang biasa saya lakukan setiap hari," katanya.



Berbicara soal penanggulangan HIV&AIDS di Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dari kiprah Irwanto, Ph.D. Laki-laki kelahiran Purwodadi-Grobogan, Jawa Tengah 28 Pebruari 1957 lalu itu adalah aktivis generasi pertama penanggulangan HIV&AIDS di Indonesia. "Bagi saya, penanggulangan drug dan HIV sudah menjadi persoalan personal," kata Irwanto pada The Post.



Keterlibatan Irwanto dalam persoalan HIV&AIDS diawali dengan keberangkatan bapak dua anak itu ke Purdue University Amerika Serikat pada tahun 1988. Di Negara Paman Sam itu, kehidupan Irwanto dikelilingi oleh orang-orang yang terinfeksi HIV. Awalnya saya tidak tahu kalau mereka positif HIV, tapi lama-lama semua terungkap, orang-orang di sekeliling saya adalah orang yang hidup dengan HIV," kenangnya.



Berada di tengah-tengah pengidap HIV positif menyadarkan Irwanto betapa penting memperlakukan pengidap HIV dengan kewajaran. Apalagi di tahun-tahun itu, Amerika sedang dipusingkan dengan isu HIV&AIDS Ryan White yang berjuang menghapus diskriminasi. "Ryan White benar-benar menjadi pembelajaran, di Indonesia isu HIV&AIDS dan penyakit menular lain seperti Hepatitis A dan B belum direspon positif," kata lulusan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta jurusan psikologi tahun 1979 itu.



Kembali ke Indonesia, cobaan menerpa keluarga Irwandi dan istrinya, Irene Indrawati Raman. Kelahiran anak ke 2 mereka, Indy Irwanto divonis dokter terjangkit Hepatitis B. Bahkan diperkirakan, umur anaknya tidak sampai satu tahun. "Setelah dicheck, ternyata semua anggota keluarga terjangkit Hepatitis B," kenangnya. Padahal semua itu isapan jempol belaka. Hepatitis tidak separah yang diperkirakan.



Di sisi lain, problem besar kembali mengancam. Salah satu adik Irwandi menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Hampir setiap hari, Irwanto dipusingkan dengan adiknya yang terjerat narkoba. Tidak terhitung berapa kali Irwanto diancam bunuh oleh bandar dan rentenir yang menagih hutang. "Adik saya sempat sembuh dan hidup normal, tapi semua hal buruk yang dialami adik saya tidak pernah saya lupakan," jelas lulusan Child Development and Family Studies, Purdue University, USA tahun 1992 ini. Meskipun pada pertengahan tahun 1993, sang adik kembali terjerat narkoba, hingga meninggal dunia.



Ketidakpahaman mayoritas masyarakat Indonesia pada penyakit menular, ditambah lagi dengan terjeratnya keluarga dengan narkoba, membuat Irwandi sangat "dendam" dengan narkoba dan semua problem turunannya. HIV adalah salah satunya. Pertemanannya dengan

Dr.Syamsu Rizal Jauhari dan Dr. Zubirin Djoerban menyadarkan alumni Drug counseling, Life Education Foundation, Sydney, Australia tahun 1986 ini tentang kedekatan narkoba dengan HIV.



Didukung beberapa aktivis HIV&AIDS lain, Irwanto memprakarsai pertemuan di Cipanas, Jawa Barat pada tahun 1998. Dalam forum itu terungkap, kondisi yang tidak berbeda dengan di Australia dan Thailand. "Yaitu kedekatan antara narkoba dan HIV yang seringkali berada dalam wilayah anak muda," katanya. Forum itu juga yang memprakarsai terbentuknya Badan Koordinasi Narkoba Nasional (BKNN).



BKNN itu sempat bertemu dengan Mantan Presiden BJ Habibie untuk berbicara strategi program penanggulangan narkoba secara nasional. Meski akhirnya program dengan pemerintah tidak terealisasi, justru pemerintah membuat institusi baru bernama Badan Narkotika Nasional (BNN) yang dikendalikan oleh Kepolisian RI. "Seluruh aktivis menarik diri dari program nasional itu, dan bergerak sendiri-sendiri melalui LSM atau NGO," katanya.



Tahun 2002, Irwanto mendirikan Kios Atma Jaya. NGO yang bernaung di bawah Lembaga Penelitian Atma Jaya itu memperkenalkan bagaimana melakukan proses penyuntik dengan aman kepada injection drug user (IDU). "Kami memilih untuk mengurus para drug user karena masyarakat sudah membuang mereka," kata Irwanto. Berinteraksi dengan drug user, bukan hal yang mudah. Terutama bagaimana cara meyakinkan pengguna narkoba suntik itu untuk bisa percaya pada aktivis Kios Atma Jaya.



Di satu sisi, polisi dan masyarakat pun menjadi ancaman. Mereka berpikir Kios Atma Jaya melegalkan narkoba. Ancaman dan caci maki bagai sarapan sehari-hari. "Padahal sama sekali tidak, kami hanya ingin para drug user diperlakukan secara manusiawi," katanya. Tidak adanya tempat bagi aktivis Kios Atma Jaya melakukan aktivitas di luar sekretariat membuat aktivis Kios Atma Jaya sering memberikan pelatihan di emperan toko.



Beruntung, pelan-pelan akhirnya masyarakat sadar, bahwa yang dilakukan aktivis Kios Atma Jaya justru berdampak positif. Saat ini ada 3000 IDU yang terlibat aktif di Kios Atma Jaya. Sesuai perkembangannya, Kios Atma Jaya melebarkan bidang garapnya. Mulai program bleaching hingga Homecare bagi pengidap HIV.



Irwanto menilai, menangani drug user dan HIV&AIDS memang bukan program singkat. Karena pengguna narkoba seringkali mengalami relaps/kambuh beberapa kali. "Sembilan puluh persen pengguna narkoba selalu mengalami relaps, dan hal itu bisa berlangsung hingga tujuh kali relaps," ungkap pengajar aktif di Health Consequences of Illicit Drug Use ini.



Sayangnya, seluruh perjuangan Irwanto dalam bidang IDU dan HIV&AIDS ini sempat menghadapi cobaan berat ketika tahun 2003, dirinya mengalami malpraktek. Saat itu Irwanto yang mengalami sakit di dada kiri divonis mengalami penyumbatan darah. Dokter di salah satu RS di Jakarta memberikan obat streptokinase yang disuntikkan melalui infus. "Dua jam setelah Obat itu diberikan saya lumpuh, pembuluh darah di tengkuk pecah," kata Irwanto.



Ironisnya, beberapa dokter di Jakarta yang ditemui pun salah salah diaknosa dengan mengatakan Irwanto terserang Cyto Megalo Virus atau CMV. Aktivis Family Health International Advisor on Injecting Drug Use ini pun divonis tidak akan berumur panjang. "Keluarga saya tidak menyerah, saya memutuskan untuk berobat di Singapura, ketika itu semua terungkap, hasil diagnosa dokter di Indonesia salah total," katanya. Nasi sudah menjadi bubur. Irwanto pun menjalani hari-harinya di atas kursi roda.



Show must go on. Meski berada di kursi roda, kesibukan sebagai aktivis terus dilakukan. Berbagai penghargaan pun diraih. Termasuk Aktivis Generasi Pertama Penanggulangan HIV AIDS dari Pertemuan Nasional ke-3 HIV&AIDS di Surabaya. "Saya harap masyarakat terus melawan drug dan HIV, apapun keadaannya," katanya.***



dilihat : 513 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution