Jum'at, 19 April 2019 14:18:48 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Pendakian Kerinci
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini diselenggarakan oleh GMKI dari ketinggian 3805 mdpl di atap Sumatera



Pengunjung hari ini : 150
Total pengunjung : 493559
Hits hari ini : 976
Total hits : 4537959
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Siapa Juga Yang Tidak Ingin Menikah?
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Senin, 22 Januari 2007 00:00:00
Siapa Juga Yang Tidak Ingin Menikah?
Siapa Juga Yang Tidak Ingin Menikah?



Itu adalah pernyataan teman sekantorku. Sebut saja Mia. Ia anak tertua dari tiga bersaudara. Dua adiknya perempuan masih kuliah dan laki-laki kelas satu SMA. Akhir- akhir ini mia di pusingkan desakan sang ibu untuk menikah! Aku jadi teringat ketika persoalan yang sama kuhadapi dua puluh tahun lalu.



Sekolah sudah selesai, sudah bekerja dan punya pacar. Tiga alasan itu kelihatannya yang menjadi pertimbangan ibuku untuk mendesaku menikah. Mulanya aku tidak ambil pusing tapi ketika hal itu terus dibicarakan, lama-lama aku bosan juga. Seingatku, hal yang kukatakan, menikah bukan masalah kecil dan bukan untuk dijalani sesaat tapi akan menjadi komitmen seumur hidup. Dan aku belum mau mengikatkan diri.



Makanya waktu Mia "curhat" aku menanggapi dengan tenang-tenang saja.

"Lama-lama aku bosan Mba, di suruh menikah terus!"

"Sama seperti ibumu, aku juga ingin tahu mengapa kamu belum menikah?" ujarku tenang-tenang.

"Mba, jangan pojokkan aku dong!"

"Enggak lah, sekarang saja kamu sudah di pojok!" jawabku sambil tertawa. Saat itu memang Mia sudah duduk dibagian pojok dan belakangnya dinding.



"Mba...!" rengek Mia

"Aku serius, apa alasan kamu sampai hari ini belum menikah. Menurutku, Sony memenuhi kriteria suami idaman!" kataku menyebut nama pacarnya dua tahun terakhir ini.

"Aku juga tidak tahu, rasanya tidak siap saja!’ jawab Mia

"Mia...Mia, semua orang kalau ditanya pasti akan menjawab seperti itu. Tapi coba kita bicarakan satu-persatu’ tawarku

"Maksud mba?" tanya Mia bingung

"Niat tidak menikah dengan Sony?"

"Niatlah Mba!" jawab Mia

"Sony sendiri, pernah membicarakan kemana arah hubungan kalian" tanyaku

"Pernah tapi tidak sekarang!"

"Ok. Pernah membicarakan kira-kir kapan?" tanyaku lagi.

"Perlukah di kasih date line?" tanya Mia

"Tadi aku tanya, niat menikah, jawab iya. Sama Sony, jawabnya Iya. Loh kalau tidak ada batas waktunya, memang klian tidak ingin punya anak?" tanyaku

"Aku belum membayangkan jadi ibu-ibu mba!"

"Apakah kalau sudah menikah otomatis kamu menjadi ibu-ibu?" tanyaku

"kalau nanti punya anak?’"

"Ya di tunda sampai kalian siap! Ada keluarga Berencana!" kataku

"Nanti aku tidak bebas lagi!"

"Bebas untuk melakukan apa? Menikah bukan berarti terikat tapi lebih bertanggung jawab." kataku



"Aku masih ingin mengembangkan potensi diri!" ujar Mia sambil menghembuskan nafas.

"Apa kamu melihat, Sony sebagai penghalang?"

"Enggak juga sih!"

"Lalu?"

"Aku masih ingin menikmati diriku sendiri. Aku masih ingin mengurus ibu dan ayah juga kedua adikku." jawab Mia

"Mengapa hal itu tidak kamu sampaikan sebagai alasan kepada ibu?" tanyaku

"Ibu selalu membicarakan sepupu-sepupuku yang sudah menikah dan punya anak. Dan berkata, aduh senangnya bisa gendong cucu!" keluh Mia dengan mulut di monyongkan. Aku tertawa.



Pusing juga kalau di desak untuk menikah apalagi kalau alasannya, "ibu ingin gendong cucu". Aku tidak tahu apakah itu alasan yang sebenarnya dari para orang tua? Terutama ibu-ibu? Memang hal itu sebuah keinginan yang wajar, tapi hari gini, anak di suruh cepat-cepat menikah, rasanya lucu juga. Di saat kesempatan terbuka untuk menunjukan eksistensi diri, para ibu semacam ini memang harus di reformasi mind set-nya.



Aku hanya mengatakan pada Mia, untuk bersabar dan menjelasan perlahan-perlahan pada sang ibu, alasannya belum mau menikah sekarang ini. Aku yakin setiap orang pasti ingin menikah dan para perempuan pasti ingin memiliki anak yang dilahiran dari rahimnya. Persoalannya terletak pada prioritas dan tujuan hidup.



Selain itu, komunikasi anak dan ibu perlu di bina karena dengan komunikasi yang baik pasti saling pengertian dapat diciptakan. Hal lain yang juga aku yakini, Setiap ibu ingin melihat anaknya bahagia, melihat sang anak menikah. Karena kebanyakan para ibu di masyarakat kita percaya, tugas orang tua salah satunya mengantarkan anak sampai ke gerbang pernikahan. Jika hal itu belum terjadi, rasanya tugas orang tua belum usai. Hal inilah yang harus dimengerti Mia. Dengan memahami pemikiran sang ibu, aku percaya Mia bisa mengatasi perasalahan ini.



Hal terakhir yang kukatakan pada Mia, sebgai perempuan kalau memang niat menikah harus ingat umur bukan soal perawan tua tapi fungsi reproduksi dipengaruhi usia. Walau teknologi kedokteran sudah canggih, tetap yang disarankan usia melahirkan sebelum 35 tahun. Bahkan kalau memungkinkan di bawah 30 tahun.



Selain fungsi reproduksi dan kesehatan si ibu secara keseluruhan, para perempuan harus berpikir sampai kapan akan mendampingi anak. Semakin jauh rentang usia anak dan orang tua, makin tinggi tingat kesulitan yang harus dibangun. Bayangkan kalau ibu usia 50 tahun baru punya anak usia 10 tahun setara kelas 5.



Itu berarti si ibu melahirkan di usia 40 tahun. Kalau asumsinya begitu menikah langsung hamil, berarti si ibu menikah usia 39 tahun lebih sedikit. Memang pada usia itu, banyak wanita yang karirnya sudah mantap. Tapi menikah di usia yang lebih muda tidak berarti para perempuan tidak akan sukses di karir. Karena sukses atau tidaknya seorang perempuan menikah bukan pada usia atau dengan siapa ia menikah, tapi bagaimana ia komit mewujudkan perencanaan hidupnya.



Memang dengan meningkatnya kesadaran di bidang pendidikan (Orang semakin pandai), orientasi nya juga berubah. Setelah menyelesaikan sekolah baik perempuan maupun laki-laki berpikir bekerja. Baik mencari uang maupun untuk aktualisasi diri. Dan dalam situasi seperti inilah, menikah terkadang di rasa sebagai hambatan.



Menikah adalah sebuah langkah yang harus diperhitungan masak-masak bukan sekedar saling mencinta dan restu orang tua. Selain kesiapan fisik dan mental, kesiapan ekonomi juga harus diperhitungkan. Karena biaya hidup tidak bisa di bayar dengan cinta. Menghindari desakan orang tua, boleh-boleh saja, namun perencanaan untuk membentuk rumah tangga tetap harus diperhitungan.



Dan jangan lupa, menikah juga bukan keluar dari persoalan (Desakan orang tua) karena sesungguhnya menikah adalah membuka persoalan baru. Jadi jangan beranggapan dengan menikah persoalan sudah selesai. Tepatnya satu persoalan terselesaikan karena selanjutnya akan ada persoalan baru. Bukankah hidup ini penuh dengan persoalan dan karena adanya persoalan kita merasa hidup. Persoalan bisa tidak lagi menyertai kita saat kita tidak hidup. Jadi persoalan yang kita hadapi, adalah bukti kita masih hidup. Bersyukurlah untuk itu. (Lily Putih, 19 Januari 2007)



Senyum_ibu ( )

sehangat mentari pagi

dilihat : 428 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution