Selasa, 17 Juli 2018 05:11:45 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 175
Total pengunjung : 406111
Hits hari ini : 2290
Total hits : 3701960
Pengunjung Online : 6
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Meraih Sukacita
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Rabu, 27 Desember 2006 00:00:00
Meraih Sukacita
Meraih Sukacita



Oleh : Walsinur Silalahi



Karena tekanan ekonomi dan biaya anak-anak semakin meningkat, isteriku sering mengeluarkan kata-kata penyesalan. Kata-kata penyesalan ini muncul saat dia membayar kebutuhan anak-anak kami yang sedang kuliah.



Karena tekanan ekonomi dan biaya anak-anak semakin meningkat, isteriku sering mengeluarkan kata-kata penyesalan. Kata-kata penyesalan ini muncul saat dia membayar kebutuhan anak-anak kami yang sedang kuliah. Uang yang saya setor setiap bulan tidaklah mencukupi. Dia mencatat di atas kertas biaya anak-anak, kemudian dia membandingkan pendapatanku.



“Gajimu tidak cukup pa! Daripada bikin saya stress, mendingan saya mati sekalian!".



Sebagai suami, kata-kata itu membuatku risih mendengarnya.



"Sudahlah, daripada mama ngomel, doakan saja agar kiriman kita diberkati Tuhan". Begitulah saya memberi nasehat, agar dia kuat dan tabah menghadapi kenyataan hidup yang semakin sulit ini.



Tetapi aku kadang-kadang kesal mendengar cara isteriku bicara. Kadang dia mengeluarkan kata kutukan kepada anaknya seperti, "Biarlah mereka mampus semua, pusing aku mikirin mereka".



Emosiku langsung naik dan menyuruhku untuk membentaknya. Tapi aku sadar bahwa itu bukanlah suatu jalan keluar yang terbaik. Aku tahankan letupan emosiku dengan mengatupkan kedua bibirku, agar tidak keluar sepatah katapun dari mulutku.



Aku merenung, apakah sikap begini dapat mengakibatkan orang stroke, lumpuh mendadak, atau meninggal tiba-tiba?



Ada nasehat mengatakan, jangan simpan marah di dalam hati, karena bisa menimbulkan penyakit... Benarkah demikian?



Dalam perenungan demikian, sering timbul dalam pikiran saya, apakah isteriku ini menyesal menikah dengan aku yang tidak mampu memenuhi hasratnya dengan materi berkecukupan? Atau apakah dia menyesal mempunyai anak-anak yang banyak membutuhkan biaya dalam pendidikan?



Saya juga sering sakit hati atas jawaban-jawabannya yang ketus. Semuanya kupendam dalam hati demi keutuhan rumah tangga. Saya tidak mau piring yang beterbangan menyambut sikapnya yang tidak hormat kepada suami. Tapi berapa lama aku kuat?



Suatu ketika aku pulang dari kantor, badanku sdh letih bekerja seharian. Sampai di rumah aku minta bantuannya untuk membuatkan secangkir teh manis.



Tau gak teman, dia menjawabku demikian, "Aku bukan pembantumu, bikin sendiri saja minumanmu".



Aku diam, dan langsung rebahan di tempat tidur.



Aku bertanya dalam hati, "Beginikah terus saya alami sepanjang hidupku, Tuhan?" Karena materi yang kurang, rumah menjadi tidak nyaman bagiku? Tidak ada sukacita dan kedamaian.



Aku masih bekerja, sikapnya tidak menyenangkan bagiku. Bagaimana bila aku pengangguran? Bisa lebih parah lagi, atau menganggapku sampah. Suatu hari saya mengajaknya berdiskusi memecahkan masalah yang kami hadapi. Dia berkata:"Aku ingin mati saja!"



Diskusi tidak nyambung, langsung berhenti seketika.



Aku berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, Engkau telah menentukan dia menjadi pasanganku, tetapi saya tidak bersukacita dengan sikapnya. Saya tidak merasa damai bersamanya. Kalau ada rencana-rencana Iblis yang mau merusak hubungan kami sebagai suami/isteri, biarlah Tuhan singkirkan dari kami. Saya tahu Tuhan tidak menginginkan perceraian. Biarlah kehendakMu yang terjadi. Amin.”



Setelah selesai berdoa, saya merasa tenang. Saya percaya Tuhan akan ikut campur dalam menyelesaikan persoalan kami.



Waktu itu hari Minggu sore, saya melihat isteri saya ketiduran di kursi. Saya perhatikan telapak kakinya kotor. Saya ambil handuk kecil dan saya celupkan ke air dan melap kedua telapak kakinya dengan handuk tersebut hingga bersih. Dia diam saja waktu aku membasuh kakinya. Kubiarkan dia tidur lelap.



Pada saat saya meninggalkan rumah, dia terbangun dan menyapaku, “Papa mau kemana?



“Saya mau kegereja”, sahutku.



“Aku ikut pa... tunggu ya... aku ganti pakaian dulu”, pintanya.



Aku lega... dan puas.. angin sorga menyapa hatinya. Terima kasih Tuhan, bisikku dalam hati.



Setelah peristiwa tersebut, kehidupan keluarga kami berubah 100%. Suasana bahagia sewaktu menikah dulu kami raih kembali. Kami luput dari perpecahan. Saya ingat peristiwa mujizat pertama pada acara pernikahan di Kana. Disana Yesus mengatasi masalah tuan rumah yang kehabisan anggur yang disuguhkan kepada para tamu-tamunya. Tuan rumah gusar dan takut akan cemohan bila anggur tidak cukup. Kita lihat Maria ibunya sebagai undangan peduli akan kegusaran tuan rumah. Dia datang kepada Yesus mengutarakan masalah yang dihadapi tuan rumah. Dia ikut merasakan kesulitan tersebut.



Saudara lihat, Yesus memberikan solusi pada saat yang tepat. Dia malah membuat anggur dari air (Yoh 2:1-11). Pelayan hanya disuruh melakukan perintah Tuhan Yesus saja. Hasilnya malah lebih baik dari anggur pertama. Orang yang mau melakukan perintahNya, pasti diberkati! Masalahnya kita seringkali tidak setia melakukan perintahNya yang mengakibatkan kita tidak mampu meraih sukacita yang telah disediakanNya.



Ada saatnya kita jenuh melihat pasangan kita, suami maupun isteri karena kesulitan hidup yang kita alami. Solusinya, kita hanya datang dan mengeluh kepada Tuhan Yesus saja. Dia pasti menolong kesulitan anda. Semoga kesaksian ini berguna bagi yang membacanya, terutama pasangan yang bermasalah. Raih kembali sukacita dari Tuhan, Jangan biarkan keluarga anda hancur karena harta dunia.



Tuhan Yesus memberkati.



Walsinur Silalahi.

dilihat : 402 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution