Senin, 16 Juli 2018 02:10:03 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 182
Total pengunjung : 405925
Hits hari ini : 3108
Total hits : 3698932
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Ruth Rahel (2 th), Radang otak (encephalitis) Berangsur-ansur Sembuh
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 12 November 2006 00:00:00
Ruth Rahel (2 th), Radang otak (encephalitis) Berangsur-ansur Sembuh
Pada bulan Juni 2005, kami memeriksakan Ruth ke dokter. Dokter melakukan berbagai pemeriksaan atas Ruth dan dokter menyaksikan sendiri bagaimana Ruth sudah dapat berjalan sendiri, jika namanya dipanggil ia bisa menjawab dan ketika diajukan pertanyaan kepadanya ia dapat menjawabnya dengan benar.



Dokter berkata, “Belum pernah ada anak yang menderita penyakit seperti ini yang bisa menjadi normal kembali. Ini benar-benar luar biasa !” Tuhan Yesus ajaib ! Sebagaimana diceritakan oleh Umi Evelina Siagian, ibu dari Ruth Rahel :



Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Suami saya, Horas Butar-Butar, bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik sepatu di daerah Tangerang.



Pada usia 1 tahun, sebelum jatuh sakit, Ruth telah dapat duduk dan berbicara walaupun masih terpatah-patah. Contoh : jika ia memanggil kakaknya yang bernama Sondang, maka ia akan mengatakan : ”Dang”.



Pada tanggal 5 Desember 2004, ketika ia berusia 1 tahun 3 bulan, ia mengalami sakit panas dan diare. Ketika badannya mulai menjadi lemas, saya membawanya ke klinik. Ia diberi obat berupa puyer untuk menurunkan panas dan menghentikan diare. Setelah minum obat, panasnya turun tetapi ia masih mengalami diare. Bahkan, sampai dengan tanggal 10 Desember 2004, ia masih mengalami diare, sehingga kami membawanya ke Puskesmas. Obat-obat yang kami terima dari Puskesmas, tidak membawa perubahan yang berarti.



Pada tanggal 10 Desember 2004, sekitar jam 10.00 WIB, tiba-tiba, panas badannya naik menjadi 38,6 derajat Celcius. Ia kejang-kejang, tangannya mengepal dan mukanya pucat. Saya segera membawanya ke sebuah RS Umum di daerah Tangerang. Kami tiba di RS jam 11.30 WIB. Perawat segera memasang masker oksigen, selang makanan di hidungnya dan memasukkan jarum infus di kakinya.



Sekitar jam 17.00 WIB, ia tidak sadarkan diri. Hal ini berlangsung selama 4 hari.



Pada hari ke lima, ia dapat membuka matanya, tetapi bola matanya tidak berkedip dan kelopak matanya kaku. Dokter yang menanganinya melakukan serangkaian pemeriksaan untuk melihat reaksi tubuhnya, yaitu dengan mengarahkan sinar senter ke matanya, tetapi matanya hanya melotot saja.



Ketika dokter menepukkan tangannya di depan mata anak saya, maka matanya tidak berkedip sedikitpun. Setelah itu, dokter mencubit perutnya keras-keras, tetapi ia tidak menangis. Kemudian, dokter mengetok lututnya, tetapi tidak ada reaksi sama sekali.



Akhirnya, dokter mengambil cairan otak (Liquid Cerebro Spinal) dari tulang belakangnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, Ruth dinyatakan mengalami sakit Radang Otak (Encephalitis). Penyakit ini disebabkan oleh virus dan menyerang susunan syaraf pusat yang mengakibatkan terganggunya syaraf sensorik (penglihatan) dan syaraf motorik (gerakan). Penyakit ini termasuk penyakit langka dan kemungkinan untuk sembuh total adalah 1 : 5.000. (artinya : hanya satu orang yang dapat sembuh total dari 5.000 penderita penyakit ini). Gejala-gejala penyakit ini adalah :



1. Panas tinggi

2. Diare

3. Kejang-kejang

4. Tidak sadarkan diri



Berdasarkan tanda-tanda fisik yang diperkuat dengan hasil laboratorium, dokter memvonis bahwa Ruth mengalami kelumpuhan total pada seluruh anggota tubuhnya. Saya sangat panik mendengar keterangan dokter itu. Saya menjadi marah. Pada saat itu juga, saya berkata kepada dokter yang ada di hadapan saya bahwa saya memiliki dokter di atas segala dokter, yaitu Tuhan Yesus dan saya percaya bahwa Dia sanggup melakukan mujizat dan menyembuhkan anak saya. Dokter itu hanya berkata, “Ya, ibu berserah saja kepada Dia.”



Pada tanggal 15 Desember 2004, 2 orang hamba Tuhan dari GPPI Pondok Daud datang dan mendoakan Ruth di RS. Saya dan suami saya sangat percaya bahwa Tuhan telah mengirimkan hamba-hambaNya untuk menolong kami. Kami sangat bersyukur atas pelayanan mereka dan kami semakin percaya bahwa Ruth pasti sembuh.



Setelah didoakan oleh hamba-hamba Tuhan, keesokan harinya, mujizat demi mujizat terjadi pada anak saya : pada tanggal 16 Desember 2004, jam 04.30 BBWI, Ruth mulai menangis dengan suara lirih, semakin lama semakin keras. Tangisan Ruth menambah keyakinan saya bahwa ia pasti dapat sembuh total. Sebelumnya, ia tidak dapat menangis sama sekali. Saya terus menerus mengucap syukur kepada Tuhan. Pada pukul 08.00 BBWI, dokter yang memeriksa anak saya terkejut ketika melihat kedua tangannya sudah dapat bergerak perlahan-lahan.



Dokter itu berkata, “Sungguh benar perkataan ibu bahwa ibu mempunyai dokter yang ajaib, dokter yang penuh mujizat.” Setelah itu, dokter mulai memeriksa mata anak saya dengan cara mengarahkan sinar senter ke mata anak saya dan menggerak-gerakkannya ke kiri, kanan, atas dan bawah. Puji Tuhan ! Ke dua mata anak saya dapat bergerak mengikuti sinar senter itu. Padahal, sebelum didoakan oleh hamba-hamba Tuhan itu, ke dua mata anak saya hanya dapat melotot dan tidak bisa berkedip sama sekali.



Pada tanggal 17 Desember 2004, semua alat bantu medis yang terpasang di tubuh anak saya mulai dilepaskan satu persatu karena kondisinya semakin membaik. Pertama-tama, masker oksigen-nya dicabut karena Ruth sudah kuat untuk bernapas sendiri. Setelah itu, selang untuk makan dan minum yang terpasang di hidungnya dicabut, karena ia sudah dapat makan dan minum melalui mulutnya. Terakhir, jarum infus di kakinya dilepaskan oleh perawat.



Pada tanggal 20 dan 21 Desember 2004, ia menjalani terapi selama 10 menit di RS.



Pada tanggal 22 Desember 2004, setelah dirawat selama 12 hari, kami diperbolehkan membawanya pulang ke rumah untuk merayakan Natal.



Mulai tanggal 27 Desember 2004, Ruth mulai berobat jalan setiap minggu. Kondisinya pada saat itu, belum bisa duduk dan berjalan. Ia hanya terbaring lemah di tempat tidur.



Pada tanggal 25 Januari 2005, ada seorang hamba Tuhan datang ke rumah dan mengundang kami ke KPPI. Hamba Tuhan ini mengetahui alamat rumah saya dari hamba Tuhan yang pernah melayani anak saya di RS.



Pada hari Kamis, tanggal 27 Januari 2005, saya dan Ruth datang ke KPPI. Setelah didoakan, belum terjadi perubahan apa-apa pada anak saya.



Pada tanggal 10 Februari 2005, saya, suami saya dan Ruth kembali datang ke KPPI untuk ke dua kalinya. Setelah selesai didoakan oleh hamba-hamba Tuhan di KPPI, Ruth mulai bisa duduk dan berdiri walaupun masih harus dipegangi. Haleluya !



Pada awal bulan Mei 2005, saya diundang ke acara Kebaktian Follow Up KPPI di Pamulang. Saya membawa Ruth ke sana. Setelah didoakan oleh hamba-hamba Tuhan, Ruth sudah bisa duduk sendiri, kakinya sudah kuat untuk berdiri dan berjalan, walaupun masih tertatih-tatih.



Pada hari Kami, tanggal 12 Mei 2005, kami kembali datang ke KPPI untuk ketiga kalinya. Hamba Tuhan yang mendoakan anak saya meminta saya untuk mendudukkannya di pangkuan saya dan meletakkan tangan saya pada kedua kakinya. Pada saat berdoa, saya merasakan ada aliran panas mengalir dan saya percaya bahwa anak saya pasti disembuhkan. Sepulang KPPI, ketika turun dari mobil, Ruth dapat berjalan sendiri. Haleluya !



Pada bulan Juni 2005, kami memeriksakan Ruth ke dokter. Dokter melakukan berbagai pemeriksaan atas Ruth dan dokter menyaksikan sendiri bagaimana Ruth sudah dapat berjalan sendiri, jika namanya dipanggil ia bisa menjawab dan ketika diajukan pertanyaan kepadanya ia dapat menjawabnya dengan benar. Dokter berkata, “Belum pernah ada anak yang menderita penyakit seperti ini yang bisa menjadi normal kembali. Ini benar-benar luar biasa !” Tuhan Yesus ajaib !



Pada hari Kamis, tanggal 11 Agustus 2005, kami membawa Ruth kembali ke KPPI untuk bersaksi atas mujizat kesembuhan yang telah dialaminya. Tuhan Yesus sungguh sangat baik ! Saya sangat bersyukur atas mujizat kesembuhan yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup anak saya.



Saat ini, jika kakaknya memuji-muji Tuhan, maka ia pun ikut menyanyi. Jika ia melihat saya sedang menyapu rumah atau mengepel, maka ia akan mengambil sapu dan lap dan mengikuti apa yang saya lakukan. Ia bertumbuh menjadi anak yang lucu dan menyenangkan. Puji Tuhan !

dilihat : 834 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution