Rabu, 18 Juli 2018 15:12:13 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 157
Total pengunjung : 406551
Hits hari ini : 1124
Total hits : 3706205
Pengunjung Online : 5
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Aku Ingin Melihat iblis Menangis
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 01 Januari 2006 00:00:00
Aku Ingin Melihat iblis Menangis
Biasanya aku akan marah besar kalau suamiku "lelet" [red : telat, lambat kayak keong] atau kalau dia lupa pada janjinya, sementara kami sudah membuat kesepakatan. Tapi sore itu, pengalaman yang luar biasa bagiku, aku tidak marah, tidak melotot atau tidak cemberut, justru aku memberikan senyuman manis padanya, dan aku tau dia bingung melihat sikapku yang diluar dari kebiasaanku ^_ ^



Sekitar jam 13:00 siang, aku kirim sms pada suamiku, "bang, apa hari ini bisa pulang lebih cepat dan masak buat buka puasa kita ? biar tidak terburu-buru ke gereja, pulang kerja aku langsung mandi dan kita buka puasa". [bukan hal yang aneh bagi kami untuk gantian memasak], dengan cepat suamiku membalas smsku, "Ok, sayang . . . .beres itu, i love you donk ! ! ".



Dengan tergopoh-gopoh aku pulang dari kantor menuju rumah, betapa terkejutnya aku saat melihat rumah masih dalam kondisi terkunci, tidak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya. Aku menghibur diriku sendiri, "mungkin suamiku ada urusan mendadak, tapi sudah memasak untuk buka puasa", tapi setibanya didapur, aku tidak menemukan ada tanda-tanda ada makanan yang bisa dimakan.



Sesaat aku diam, menenangkan diriku! biasanya aku langsung mengambil telpon dan tampa basa-basi langsung ngomel-ngomel karena dia tidak menepati janjinya, dan hasil nya sudah jelas kami PERANG ! tapi sore itu aku coba untuk tenang, aku coba untuk menyanyi dan berkata pada diriku sendiri, "hidup ini bukan hanya soal makan dan minuman". Dan aku teringat Firman Tuhan yang kami bahas kemarin malam saat kami Saat Teduh, bahwa tak jarang Iblis memakai orang yang dekat dengan kita untuk mencobai kita, dan ini 'kisah lama dari dunia per IBLISan, dan aku tidak mau melakukan kebodohan, apalagi disaat aku sedang berpuasa.



Sebelum pikiranku berubah, aku langsung mandi, dan mengingat waktu sudah mempet aku memutuskan hanya makan Mie rebus untuk buka puasa. Saat menikmati mie rebus, suamiku datang, dari mimik wajahnya aku bisa membaca dia sudah siap siaga untuk memberikan beribu-ribu alasan kenapa dia tidak masak, kenapa dia pulang telat. Tapi sore itu aku ingin sekali melihat IBLIS MENANGIS, sambil tersenyum aku menyapanya, "hai sayang, baru datang ya .. . . maaf, mama ngak sempat masak, dan mama makan duluan nih, habis waktunya mepet banget".



Melihat aku tersenyum manis, dia mendekatiku dan ikutan memakan mie rebus. Sepanjang makan aku tidak bertanya apapun juga, aku menanti dia yang bicara duluan dan akhirnya aku mendengar kata penyesalan darinya "Maaf Ma, tadi ada teman datang membicarakan proyek ".



"Ngak apa-apa sayang, makan yang cepat ya .. . . entar kita telat pergi kegereja", aku menjawab penjelasannya sambil mencuci piring.



Sebenarnya dalam hati aku ketawa sendiri, pikirku, "begitu galakkah aku selama ini, sehingga suamiku begitu takut dengan kesalahan yang dia buat sore ini ?".. ha. .ha.h.ah.ah.



Dalam perjalanan menuju gereja aku lihat dia sudah merasa aman, aku mulai bertanya, "sayang, emang apa sih yang dibicarakan ? sampai tidak sempat mengirim sms ? ". Aku melihat dia tersentak kaget, aku yakin dia berpikir bahwa aku akan menyerangnya, dan dia langsung menjawab, "Papa lupa, mau dibilang apa lagi. . . kalau mau marah papa terima".



Kembali aku ingin melihat Iblis menangis, aku katakan, "jangan panik gitu donk .. . . ngak apa-apa koq, tapi lain kali ngomong ya .. . .".



Dan Puji Tuhan, sampai tiba waktunya istirahat malam tidak ada pertengkaran diantara kami, coba kalau aku marah-marah sore itu, banyak hal yang tidak menguntungkan akan terjadi dalam hubungan kami, 1) Puasa kami jadi sia-sia, marah untuk hal-hal yang sepele, hanya karena makanan untuk buka puasa ; 2) kami tidak sejahtera beribadah di Gereja ; 3) Aku tidak menjadi berkat buat suamiku yang baru mengenal Kristus. 4) Saat teduh kami menjadi KERING . . .



Amsal 15:1 Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.



(Written by, Sari Tarigan)



dilihat : 467 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution