Sabtu, 21 Juli 2018 05:21:36 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 260
Total pengunjung : 407219
Hits hari ini : 2358
Total hits : 3712758
Pengunjung Online : 7
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Abah, kembalikan tangan Ita....
SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 16 September 2006 00:00:00
Abah, kembalikan tangan Ita....
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar

meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja. Anak

tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun.

Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja

bermain diluar, tetapi pintu pagar tetap dikunci. Bermainlah dia sama

ada berayun-ayun di atas buaian yang dibeli bapanya ataupun memetik

bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.



Suatu hari dia melihat sebatang paku karat.

Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi kerana

lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada

mobil baru ayahnya.



Ya...kerana mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi

kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari

itu bapak dan ibunya bermotor ke tempat kerja kerana macet ada perayaan

Thaipusam.



Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri

mobil.

Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam,

kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya.



Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah. Pulang petang

itu, terkejut pasangan itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan

bayaran angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus

menjerit, "Kerjaan siapa ini?"



Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia

juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah

bengis tuannya.



Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan

'Tak tahu...!"

"kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri

lagi.



Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari

kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu

abahhh...cantik kan!" katanya sambil memeluk abahnya ingin bermanja

seperti biasa.



Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari

pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak

tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong

kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah

memukul pula belakang tangan anaknya.Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah

merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.



Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa ???

Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri

anaknya.



Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah

menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak

tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu

rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut

menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat

luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak

kecil itu.



Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.

Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu

rumah mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya, bapak si anak. Pulang

dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan

waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya.



Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si

ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah.

"Ita demam..." jawab pembantunya ringkas.

"Kasih minum panadol," jawab si ibu.



Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat

dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu

kamar pembantunya.



Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu

badan Ita terlalu panas.

"Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap" kata majikannya itu.

Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter

mengarahkan ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius. Setelah

seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu.



"Tidak ada pilihan.." katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak

itu dipotong kerana gangren yang terjadi sedah terlalu parah.

"Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu

dipotong dari siku ke bawah" kata doktor.



Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu.

Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu

meraung merangkul si anak.



Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak

terketar-ketar madandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari

bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak

menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut

kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu

rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.



Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

"Abah...Mama. ..Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau ayah pukul.

Ita tak mau jahat. Ita sayang abah...sayang mama." katanya berulang kali

membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.

"Ita juga sayang Kak Narti..." katanya memandang wajah pembantu rumah,

sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris.



"Abah...kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil...Ita janji tdk akan

mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita

mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi," katanya

berulang-ulang. Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya.

Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia

dapat menahannya.



Ingatlah :

* jika tidak dapat apa yang kita suka...belajarlah utk menyukai apa yg

kita dapat.



* Semarah apapun, janganlah bertindak keterlaluan, apalagi kepada anak

yg masih kecil.



Shalom,

~ Elly ~



~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~

http://www.friendst er.com/ellyamote

*) Elly_Tjoa@yahoo. com

dilihat : 416 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution