Minggu, 22 Juli 2018 04:17:36 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  
--Ingin kegiatan anda kami liput? silahkan hubungi kami di 082139840290, twitter @pustakalewi atau email ke redaksi @pustakalewi.net. Kami siap melayani!

Catatan Ringan

Nasakom dan Masyarakat Jejaring
Prolog revolusi Bung Karno, membangun infrastruktur kemerdekaan bangsa Indonesia, demi terciptanya kehidupan yang bermartabat



Pengunjung hari ini : 157
Total pengunjung : 407383
Hits hari ini : 2416
Total hits : 3715355
Pengunjung Online : 3
Situs Berita Kristen PLewi.Net -STTI Efrata, Cermin Sekolah Teologi Yang Membumi






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 14 Agustus 2005 00:00:00
STTI Efrata, Cermin Sekolah Teologi Yang Membumi

Kesan pertama yang tertangkap ketika mengunjungi Sekolah Tinggi Teologi Injili Efrata (STTIE) yang terletak di perbatasan Surabaya dengan Sidoarjo-- tepatnya dibilangan Wage Sidoarjo--adalah terbersitnya rasa penasaran, mengapa sebuah sekolah teologia ada ditengah-tengah kampung yang dikenal dengan umat muslimnya yang taat. Rasa penasaran semakin menjadi-jadi ketika salah seorang kru pustakalewi.com bertanya kepada pedagang bakso yang sedang melintas tentang dimana persisnya letak alamat STTIE yang kami cari. Yang mengejutkan, walau masih jauh, sang pedagang dapat dengan rinci menjelaskan rute yang harus kami lalui. "Kok bisa yah tukang bakso-pun tahu kalau di situ ada sekolah teologi ".gumannya sambil menggelengkan kepala.



Untuk mengenal lebih dalam tentang kiprah sekolah teologia yang telah berdiri sejak tahun 1975 ini pustakalewi.com anjangsana kekampus STTIE yang terlihat anggun dan asri ini. Di kampus yang luasnya lebih kurang 1 hektar itu terdapat satu gedung utama berlantai dua berwarna kuning persis menghadap jalan. Di sebelah kiri gedung terdapat lorong yang berfungsi sebagai jalan untuk masuk ke gedung lainnya. Ketika berjalan kedalam, tampak asrama mahasiswa putri yang letaknya persis dibelakang gedung utama. Asrama putri ini tampaknya didisain berlantai dua, Namun belum selesai. Disisi sebelah kanan asrama putri terdapat gedung berlantai dua dimana lantai dasarnya berfungsi sebagai rumah dinas staf pengajar dan lantai atas berfungsi sebagai asrama pria. Didepan asrama putri juga ada satu bangunan rumah berbentuk cottage yang juga sebagai rumah staf pengajar. “Disinilah aktifitas mahasiswa berlangsung”, ujar bapak Hari salah seorang staf pengajar yang tinggal di kampus.



“Berdasarkan visinya, STTIE dibangun sebagai institusi pelatihan pelayanan yang mengedepankan keseimbangan antara pengetahuan, iman dan skill sehingga setiap mahasiswa dibentuk untuk menjadi pribadi yang dapat membumi di tengah-tengah pelayanan”, ujar pendeta Sapto Harsoyo, D.Min, ketua STTIE, saat menyambut pustakalewi.com di kantornya.



"Kami memang berusaha untuk menjadi berkat bagi semua orang sehingga berita keselamatan yang kami sampaikan tidak terhalang oleh penampilan dan keberadaan kami. Secara akademik kami mengakui kami belum seberapa bagus dibanding STT yang lain, tetapi pembentukan karakter mahasiswa dalam keseimbangan aspek kerohanian dengan skill akademiknya menjadi konsentrasi utama dalam pembentukan mahasiswa disini " tambah Pdt. Sapto, panggilan akrab ketua STTIE ini.



Dalam pengajaran kepada mahasiswa, STTIE menekankan falsafah “…Bagiku hidup adalah Kristus. Dengan demikian makna dan tujuan hidup ialah mengenal dan mengasihi Dia dan melakukan pekerjaan Allah yang dipersiapkan Allah dalam kekekalan bagiku, supaya dengan demikian aku memuliakan Dia" tambah bapak Ranto, MA, staf pengajar STTIE yang turut mendampingi Pdt. Sapto ketika diwawancarai.



Untuk mengoperasionalkan falasafahnya, setiap mahasiswa STTIE, untuk peningkatan kualitas pelayanannya kelak, oleh pengajar dikenalkan dengan slogan 3S yaitu Senyum, Segan dan Sembada, dimana melalui ketiga slogan tersebut setiap komponen STTIE harus menjadi surat kristus yang terbuka dengan keramahtamahan kristiani, memiliki kewibawaan rohani sebagai seorang pelayan Tuhan dan memiliki kesiapan dalam segala keadaaan dan situasi apapun juga dalam tugas pelayanan yang diemban.



Konsep yang "Mendhitani" (pola laku seorang pendeta,-Red) sangat ditonjolkan oleh kampus yang dirintis oleh sending WEC ini. “ Benar mas. Di STTIE ini saya merasakan pembentukan karakter sangat ditonjolkan. Kami dididik untuk menjadi pribadi pelayan Tuhan yang benar-benar memiliki wibawa rohani yang murni dan dapat menjadi berkat bagi jemaat demi kemuliaan Kristus ” , ujar Yusak Pramudya, S.Th, salah seorang alumni STTIE yang saat ini telah melayani di salah satu gereja di Surabaya.





Rasa penasaran yang diungkap diawal tulisan ini mulai terjawab ketika pustakalewi.com diminta mengikuti acara wisuda mahasiswa STTIE yang diadakan di Aula Depag Jawa Timur beberapa saat yang lalu (6/8). Yang menarik, dan ini tentu jarang ada di kampus teologi lainnya, seorang kepala desa diminta memberi sambutan. Setelah diawali sambutan Ketua STTIE, Pdt. Sapto Harsoyo, D.Min, kepala desa Wage Samsu Hadi SH diminta maju untuk memberi sepatah dua kata. “STTIE merupakan bagian dari komunitas masyarakat Desa Wage. Sebagai saudara sebangsa yang memegang teguh pancasila, kita harus mengembangkan sikap toleransi. Dan untuk itu budaya rukun antar umat beragama merupakan suatu yang sangat kita jaga dan hargai”, ujarnya dengan tenang dan mantap dihadapan para wisudawan. Menarik bukan? (ner/yos/ps)

dilihat : 467 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution