Rabu, 17 Juli 2019 19:29:59 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520045
Hits hari ini : 2113
Total hits : 4812528
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Tujuh Perguruan Tinggi Indonesia Jalin Kerjasama Dengan Perguruan Tinggi Eropa






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Jum'at, 21 Juni 2019 11:33:00
Tujuh Perguruan Tinggi Indonesia Jalin Kerjasama Dengan Perguruan Tinggi Eropa

Surabaya - Tujuh perguruan tinggi (PT) di Indonesia bekerja sama dengan empat perguruan tinggi dari Eropa, untuk mencetak lulusan yang andal berwirausaha. PT dari Indonesia yang akan kerja sama dengan empat PT asing yakni Universitas Presiden, Universitas Padjajaran, Universitas Negeri Semarang, Universitas Islam Indonesia (Yogyakarta), Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Brawijaya, dan STIE Malangkucecwara.

Sementara empat PT asing yang terlibat dalam kerja sama antara lain University of Gloucestershire (UK), Dublin Institute of Technology (Irlandia), Fachhochschule des Mittelstandes (Jerman),dan University of Innsbruck (Austria).

Khusus untuk kerja sama ini, dikatakan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Belmawa Ristekdikti) Ismunandar, Kamis (20/6/2019), akan dibentuk konsorsium lewat sebuah proyek yang disebut growing Indonesia a triangular approach (GITA).

Proyek ini akan didanai oleh Erasmus, sebuah komisi di Uni Eropa yang mendukung berbagai kegiatan dalam bidang pendidikan, pelatihan, pemuda dan olahraga di berbagai negara.

Ditegaskan Ismunandar, latar belakang kolaborasi PT Indonesia dan Eropa berkaca pada data Kementerian Perindustrian yang saat ini jumlah pengusaha di Indonesia sudah mencapai rasio 3,1% dari seluruh penduduknya. Rasio ini sudah melampaui standar internasional yang menetapkan angka 2%. Namun,untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara maju jumlah tersebut belum cukup. Maka, perlu dukungan dari perguruan tinggi untuk meningkatkan rasio pengusaha.

Sementara negara-negara tetangga punya rasio yang lebih tinggi dari Indonesia. Misalnya, Singapura ada 7% dari seluruh penduduknya yang menjadi pengusaha. Malaysia mencapai 5%. Di negara-negara kaya lainnya, seperti Jepang dan Amerika Serikat, ada lebih dari 10% penduduknya yang menjadi pengusaha.

Berkaca dari Inggris, misalnya, ada 27% dari lulusan Oxford University yang menjadi pengusaha. Kampus lainnya, London Business School, ada 25% lulusannya yang memilih berwirausaha. Upaya semacam itulah yang tengah dilakukan oleh tujuh perguruan tinggi di negara ini guna mewujudkan visinya mencetak pengusaha-pengusaha baru.

“Kalau dari GITA secara pengawasan kewirausahaan itu menjadi pendidikan yang harus didorong. Itu harus dilakukan perguruan tinggi agar kampus tidak mencetak pengangguran,” kata Ismunandar saat diskusi bertajuk "Pendidikan dan Kewirausahaan dan Usulan Kebijakan bagi Perguruan Tinggi Indonesia", di Gedung Kemristekdikti, Jakarta.

Menurut dia, adanya keterlibatan pihak lain untuk mengubah ekosistem pendidikan kewirausahaan tak bisa berjalan hanya di universitas saja. Harus ada pengawasan dari pemerintah dan keterlibatan komunitas.

Pada kesempatan sama, ketua untuk proyek GITA, Profesor Neil Towers mengatakan, sesuai namanya, kata triangular merujuk pada tiga pendekatan yang dipakai dalam proyek GITA. Pendekatan tersebut mencakup pengembangan hubungan kerja sama yang efektif antara perguruan tinggi dan perusahaan, menanamkan jiwa kewirausahaan pada seluruh pemangku kepentingan di universitas, serta membangun perusahaan baru dari ide-ide dan inovasi yang berkontribusi pada ekonomi lokal maupun daerah.B1/red

dilihat : 15 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution