Senin, 14 Oktober 2019 21:20:49 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.



Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 520138
Hits hari ini : 1697
Total hits : 5022282
Pengunjung Online : 1
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Pelaku Pedofilia Incar Anak-anak Asia






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 18 Mei 2019 08:05:25
Pelaku Pedofilia Incar Anak-anak Asia

Surabaya - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Terre des Homes di Thailand memperingatkan bahwa negara-negara di Asia Tenggara berada dalam cengkeraman gelombang baru dari kegiatan para pelaku pedofil.

Dengan tingkat kemiskinan yang meluas, hukum dan sistem peradilan yang lemah maka Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, dan Filipina telah lama dipandang sebagai titik lemah oleh para pelaku pedofil asing dan lokal yang mencari layanan seks dari anak-anak bawah umur secara pribadi.

Menurut lembaga yang menangani isu hak asasi anak dan kemanusiaan tersebut, para pelaku pedofil sekarang telah bertindak untuk mengatur dan menyaksikan tindakan pelecehan pada situs-situs layanan streaming langsung serta melalui kamera-kamera web (webcam). Bahkan, para predator itu melakukan pembayaran layanan situs laman menggunakan mata uang digital (cryptocurrency) seperti Bitcoin, yang hampir sulit dilacak.

Meskipun kekuatan polisi sudah lebih tegas dan adanya kesadaran lebih besar dapat mencegah beberapa pelaku pelanggaran, tetapi teknologi telah mengubah pola-pola pelecehan di suatu wilayah dengan meningkatnya akses ke internet broadband dan teknologi terenkripsi.

Para ahli mengingatkan bahwa sekarang para pelaku pedofil bisa menggunakan berbagai perangkat mobile dan online – termasuk jaringan media sosial, situs berbagi video, dan dark web – untuk mengarahkan dan menonton pemerkosaan serta pelecehan seksual terhadap anak, tanpa diketahui indentitasnya.

“Para predator menonton perkosaan di platform besar yang tidak mungkin ditutup. Ini langsung, bukan yang direkam. Semuanya terenkripsi. Mereka membayar lebih banyak dengan menggunakan Bitcoin. Uang terenkripsi itu membuat transaksi mereka dalam keadaan seaman mungkin,” ujar François Xavier Souchet dari Terre des Hommes.

Sebelumnya, Terre des Hommes sempat mengeluarkan laporan yang menarik perhatian di mana mereka menciptakan gadis rekayasa – yang dihasilkan komputer – bernama "Sweetie" yang sedang berbincang-bincang di chatroom. Dalam hitungan minggu saja, gadis rekayasa itu telah didekati oleh sekitar 20.000 orang yang kebanyakan adalah kaum laki-laki.

Menurut laporan, pada pekan ini, raksasa perusahaan online termasuk Apple, Google, Microsoft, dan Facebook memberikan bukti kepada penyelidikan independen tentang pelecehan seksual anak atau Independent Inquiry into Child Sexual Abuse (IICSA), yang diadakan di London, Inggris dan akan melihat bagaimana pencegahan kejahatan seks secara online sebagai bagian dari kewenangannya.

Bulan lalu, kelompok advokasi dan bantuan hukum International Justice Mission (IJM) memperingatkan bahwa anak-anak di Filipina berisiko dipaksa masuk ke dalam tindakan pelecehan seks secara langsung, di mana para pelaku pedofil membayar untuk mengarahkan mereka dalam sebuah “pertunjukkan” online.

“Akses yang mudah ke layanan web dan transfer uang telah menjadikan negara ini sebagai hotspot global untuk masalah ini,” demikian laporan IJM, seraya mencatat bahwa seringkali orang tua atau anggota keluarga ikut mengatur atau bahkan melakukan pelecehan.

Tahun lalu, Internet Watch Foundation melaporkan temuan gambar-gambar tentang pelecehan anak di online telah meningkat sepertiga pada 2017.b1/red

dilihat : 41 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution